Share

110. “Di sini?”

Author: TIZZZ
last update publish date: 2026-04-05 19:13:33

Peringatan: berisi adegan r18, mohon agar bijaksana menyesuaikan bahan bacaan dengan usia.

Dillard ada di sampingku sebelum aku sadar dia sudah bergerak.

Tidak bilang apa-apa. Hanya duduk. Bahunya menyentuh bahuku.

Kami duduk di ruang sidang yang hampir kosong. Hakim sudah pergi. Jaksa sudah pergi. Kerumunan sudah bubar.

Hanya kami.

"Sudah selesai," katanya akhirnya.

"Ya."

"Bagaimana rasanya?"

Aku berpikir sebentar. Benar-benar berpikir.

"Seperti sudah lama berlari," kataku akhirnya. "Dan akhir
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   (S2) 142. Batas Jam Malam

    Hari-hari di dalam istana terasa sangat melelahkan. Waktu berjalan dengan begitu cepat dan padat. Agenda kami selalu dipenuhi oleh rapat demi rapat. Tumpukan laporan terus datang silih berganti. Kami harus melakukan analisis mendalam setiap saat. Belum lagi perencanaan taktik yang menguras banyak energi.Namun, ada satu hal yang berbeda dari Dillard. Ada satu rutinitas yang selalu ia lakukan tanpa gagal. Ia melakukannya dengan sangat disiplin setiap malam.Tepat pada pukul sembilan malam, apa pun yang sedang terjadi, Dillard akan berhenti. Ia tidak peduli seberapa genting situasi saat itu. Ia akan langsung menutup semua dokumen di atas mejanya. Setelah itu, ia meniup lilin kerja hingga padam. Ruangan pun seketika menjadi lebih temaram."Tidur," katanya dengan suara berat.Kalimat itu tidak diucapkan kepada siapa pun secara khusus. Nada suaranya terdengar datar. Namun, matanya selalu bergerak setelah itu. Ia pasti melirik ke arahku dengan tatapan yang penuh arti.Pada malam pertama rut

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   (S2)141. Rahasia Paling Rapuh Saat Ini

    Aku menundukkan kepala sejenak. Aku mengalihkan pandangan dari ketegangan di antara kedua pria itu. Mataku tertuju pada lembaran catatan di tanganku. Catatan itu kubuat dengan tergesa-gesa selama rapat dewan tadi.Jari-jariku meraba permukaan kertas yang agak kasar. Di sepanjang pinggiran halaman yang buram, aku telah mencoret-coret beberapa nama bangsawan tinggi.Aku menghubungkan satu nama dengan nama lainnya. Garis-garis tipis yang saling silang membentuk sebuah peta labirin yang rumit.Itu adalah peta dari ambisi rahasia mereka."Mungkin saya bisa meminta izin untuk melihat daftar hadir seluruh acara sosial di istana?" kataku memecah keheningan. "Khususnya untuk dua bulan terakhir."Kalimatku langsung mengalihkan perhatian dari perdebatan buntu mereka. Ruangan yang sempat membeku itu mendadak sunyi.Kedua pria itu seketika menghentikan argumen mereka. Theodore dan Dillard berbalik secara bersamaan. Sepasang mata mereka tertuju lurus ke arahku.Ruang tunggu kecil yang temaram itu

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   (S2) Bab 140. Hanyalah Sebuah Bidak

    Suara derap langkah kaki yang tergesa-gesa di atas lantai marmer koridor yang dingin itu bergaung, memecah kesunyian yang sempat tercipta sesaat setelah aula rapat utama dikosongkan. Theodore muncul dari belokan koridor dengan jubah resminya yang sedikit berkibar, seolah-olah mempertegas ketegangan dan atmosfer berat yang dibawanya keluar dari ruangan tadi. Ia melangkah cepat, langsung memotong jalur berjalan kami yang searah, memaksa Dillard untuk menghentikan langkahnya secara mendadak.Secara otomatis, aku segera mengambil posisi setengah langkah di belakang Dillard. Berdiri tepat di sampingnya, namun tetap menjaga jarak formal yang semestinya—sebuah posisi yang belakangan ini seakan-akan telah menjadi tempat permanen dan tak tergantikan bagiku sejak badai politik di dalam istana ini mulai memanas dan mengancam kami semua.Theodore tidak langsung membuka suara. Tatapannya bergerak dinamis dan penuh selidik. Sepasang matanya yang tajam itu melirik ke arahku, beralih pada Dillard

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   (S2) Bab 139. Selisih

    Pena bulu di tangan Dillard tidak sekadar menggores perkamen. Benda itu mengetuk permukaan meja kayu ek dengan satu hentakan tunggal yang tegas. Suaranya kecil. Namun, di tengah ruang rapat yang berpenele kayu gelap dan minim sirkulasi itu, bunyinya terdengar seperti vonis mati.Theodore sengaja mengambil posisi di ujung meja terjauh. Jarak itu cukup aman untuk mengamati situasi tanpa harus langsung berhadapan dengan napas dingin sang Duke. Dia segera menegakkan punggungnya. Sepasang matanya yang jeli tidak melewatkan gerakan Dillard. Ujung jemari sang Duke berhenti tepat di atas peta topografi wilayah barat. Peta itu tergelar di antara tumpukan laporan keuangan."Duke Donoughoe," suara Theodore memecah keheningan. Suara itu memantul di antara langit-langit tinggi yang berdebu. "Ada yang ingin disampaikan?"Dillard tidak langsung mendongak. Dia membiarkan keheningan menggantung selama beberapa detik. Hal itu menciptakan ketegangan yang cukup pekat. Beberapa pria paruh baya di ruan

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   (S2) Bab 138. Pertemuan Anggota Dewan

    Aku menelan ludah, mencoba menguasai diri sebelum senyum penuh kemenangan terbit di bibirku."Baik," kataku, nada suaraku sengaja dibuat santai untuk menutupi debaran dada. "Tapi aku mau jendela itu."Dillard mengalihkan lirikan matanya menuju jendela besar yang dimaksud. Sudut yang sudah jelas-jelas awalnya akan menjadi tempat mejanya sendiri berada."Jendela itu menghadap langsung ke taman," kilahnya, mencoba mempertahankan posisinya. "Lebih baik untuk konsentrasi—""Aku suka pemandangan," potongku cepat, melangkah melewatinya dengan gerakan anggun. "Dan cahaya matahari pagi dari sana pasti sangat bagus untuk melukis."Dillard mengerutkan dahi, menatapku tidak habis pikir. "Ini ruang kerja, Juliet. Bukan studio seni."

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   (S2) Bab 137. Sayap Barat

    "Orang yang terlihat paling berhati-hati dan hemat bicara saat audiensi resmi," sahut Dillard pelan. Nada suaranya mendatar, namun ada ketegangan yang berbahaya di sana. Matanya perlahan terangkat, menatapku lurus-lurus.Aku mengangguk kecil, membalas tatapannya. Aku ingat betul pria itu. Tatapannya yang tajam, pembawaannya yang tenang, dan bagaimana dia mengamati sekelilingnya seperti seekor predator yang sedang menghitung peluang."Itu artinya ada dua kemungkinan," Theodore mengetuk-ngetuk jarinya di pinggiran meja mahoni, otaknya bekerja cepat. "Brennan mungkin sudah dikontak dan sedang dalam proses negosiasi, atau dia adalah target besar Cavendish berikutnya. Atau..." Dia mendadak ragu, kalimatnya menggantung di udara saat sebuah realitas yang lebih kelam melintasi pikirannya. "...atau dia bukan target sama sekali. Dia menjadi titik akhir dari rantai ini karena dia memang sudah berada di pihak Cavendish sejak awal."Keheningan yang mencekam kembali menyergap ruangan kerja itu. A

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   90. Bukti Pertama Terungkap

    Hening total di ballroom.Semua mata tertuju pada buku kecil di tangan Celestine.Diary Putri Elara.Viktor wajahnya berubah. Dari merah ke putih dalam sekejap. "Dari mana kau dapat itu?""Dari kamar Putri Elara. Sebelum semua barang-barangnya dibakar." Celestine pegang diary erat. "Aku menyimpanny

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   89. Celestine Brieris

    Viktor menatapku dengan mata menyipit. Waspada sekarang."Kalau begitu—" Raja batuk lagi. Lebih parah kali ini. Sapu tangan penuh darah. "Kalau begitu audiensi dimulai. Duke Donoughoe dan Duchess Juliet—presentasikan bukti kalian."Dia duduk kembali di tahta. Napas tersengal.Dillard menatapku. Ada

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   88. Audensi Formal

    "Aku tidak tahu. Tapi kita harus siap." Aku lirik tas dokumen di tangan Lincoln. "Kau bawa semuanya?""Semua ada di sini." Dia menepuk tas. "Tapi Juliet—ini terlalu cepat. Kita belum siap—""Tidak ada pilihan." Aku menatap Dillard yang sudah sampai di depan tahta. "Kita lakukan sekarang atau tidak

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   87. Panggilan Tak Terduga

    Carmen wajahnya merah. Entah malu atau marah."Aku mengerti." Suaranya kaku sekarang. "Maafkan aku kalau kata-kataku menyinggung. Aku hanya... aku hanya ingin tahu apa yang membuatmu memilih dia dibanding... pilihan lain yang ada.""Aku memang tidak memilih Juliet," kata Dillard. Menatap aku sekara

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status