Beranda / Zaman Kuno / Pengantin Pengganti Sang Jenderal / Hasutan Perdana Menteri Hong

Share

Hasutan Perdana Menteri Hong

Penulis: Nona Lee
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-29 20:52:43

Aula Utama Kekaisaran Jin malam itu terasa lebih dingin daripada puncak gunung bersalju. Obor-obor yang terpasang di dinding batu besar berderak, memantulkan bayangan panjang yang menari-nari di atas lantai marmer yang mengilap. Di tengah aula, seorang pelayan pria muda bersujud dengan tubuh gemetar hebat. Dahinya menempel erat pada lantai, seolah-olah ia sedang memohon agar bumi menelannya hidup-hidup.

Long Yuan berdiri di depan pelayan itu. Jubah hitamnya menyapu lantai, dan tangan kanannya sudah bertumpu pada gagang pedang Naga Hitam miliknya. Sorot matanya tidak lagi menunjukkan kemarahan; yang tersisa hanyalah kekosongan yang mematikan.

"Sebutkan namamu, dan katakan siapa yang memerintahkanmu masuk ke kamarku untuk menukar botol arak itu," suara Yuan terdengar tenang, namun setiap kata yang keluar memiliki beban maut yang nyata.

Pelayan itu tidak menjawab. Ia hanya terus bersujud, napasnya terdengar tersengal-sengal di tengah kesunyian aula yang mencekik. Tidak ada pembelaan, tidak ada teriakan minta tolong. Ia hanya mematung, seolah-olah lidahnya sudah dipotong sebelum ia sempat tertangkap.

Kaisar Jin duduk di takhtanya dengan wajah mengeras, sementara Ibu Suri berdiri di sampingnya dengan tangan yang saling menggenggam erat, menundukkan kepalanya seolah tidak sanggup melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Kau pikir kesetiaanmu pada tuan rahasiamu akan menyelamatkan nyawamu?" Yuan menarik pedangnya perlahan. Bunyi gesekan logam yang tajam itu merobek kesunyian. "Di istana ini, hanya aku yang memegang kendali atas napasmu."

Dalam satu gerakan yang sangat cepat hingga mata sulit mengikutinya, Yuan mengayunkan pedangnya. Sinar perak berkilat membelah udara.

Crassh!

Darah segar menyembur ke udara, membasahi lantai marmer dan menciprati jubah hitam serta sebagian wajah Long Yuan. Kepala pelayan itu terpisah dari tubuhnya dalam satu tebasan bersih, menggelinding beberapa langkah sebelum akhirnya berhenti di dekat pilar. Tubuhnya yang tanpa kepala jatuh lunglai, menciptakan genangan merah yang semakin melebar.

Shu Mei, yang berdiri di barisan pelayan istana bersama para penjaga, memejamkan matanya rapat-rapat. Jantungnya berdegup kencang hingga ia merasa sesak napas. Tangannya yang tersembunyi di balik lengan baju yang lebar bergetar hebat. Ia melihat bintik-bintik darah merah tua di wajah Yuan—pria yang baru saja ia selamatkan, kini berdiri seperti iblis di tengah hujan darah.

Long Yuan menyeka bercak darah di pipinya dengan punggung tangan, lalu menoleh ke arah kerumunan dengan tatapan yang sanggup membekukan nyawa siapa pun.

"Siapa lagi yang ingin mencoba?" tanyanya dingin.

Di tengah keheningan yang mengerikan itu, Perdana Menteri Hong melangkah maju. Ia membungkuk hormat pada Kaisar dan Long Yuan, namun senyum tipis yang penuh muslihat tersungging di bibirnya.

"Keadilan yang sangat luar biasa, Pangeran Long Yuan," ucap Perdana Menteri Hong dengan nada suara yang halus namun berbisa. "Namun, hamba merasa ada sesuatu yang janggal dalam kejadian ini. Selama bertahun-tahun, istana Jin adalah tempat yang paling aman bagi anda. Tidak pernah ada celah bagi pengkhianat rendahan untuk menyelinap ke ruang pribadi anda..."

Perdana Menteri Hong menjeda kalimatnya, lalu perlahan menoleh ke arah Shu Mei. Matanya menyipit penuh kecurigaan.

"Hingga kedatangan orang asing dari Kekaisaran Shu ini. Tidakkah aneh jika tiba-tiba terjadi upaya peracunan tepat setelah putri musuh ini menginjakkan kaki di sini? Dan betapa beruntungnya dia, bisa menjadi pahlawan yang menemukan racun itu tepat sebelum anda meminumnya. Seolah-olah... dia sudah tahu apa yang akan terjadi."

Bisikan-bisikan mulai terdengar di antara para pejabat istana. Tuduhan itu bagaikan api yang menyambar rumput kering. Semua mata kini tertuju pada Mei, bukan lagi sebagai penyelamat, melainkan sebagai tersangka utama.

Kaisar Jin mengelus janggutnya, matanya menatap Mei dengan tajam. "Perdana menteri ada benarnya. Bagaimana seorang putri buangan yang baru berada di sini beberapa hari bisa begitu jeli melihat botol yang salah, kecuali jika dia sendiri yang merencanakan sandiwara ini untuk mendapatkan kepercayaan putraku?"

Mei mendongak, matanya bertemu dengan mata Long Yuan. Ia berharap menemukan secercah pembelaan di sana, namun yang ia temukan hanyalah keraguan yang gelap. Long Yuan, yang tadi sempat merasa berhutang nyawa, kini teringat kembali pada status Mei, dia adalah putri dari seorang pengkhianat.

"Jika benar wanita ini mencoba bermain api, maka dialah yang harus menelan apinya sendiri," ucap Kaisar Jin dengan suara yang berwibawa dan tak terbantahkan. "Mulai saat ini, aku memerintahkan. Segala makanan, minuman, bahkan air mandi yang akan diterima oleh Long Yuan, harus dicicipi dan dicoba terlebih dahulu oleh Shu Mei. Jika ada racun di sana, maka dialah yang akan mati pertama kali sebagai bukti kesetiaannya."

Mei merasa dunianya runtuh. Posisi sebagai pencicip makanan adalah hukuman mati yang ditunda. Setiap suapan makanan bisa menjadi napas terakhirnya. Ia kini terjepit di antara pengkhianat yang sebenarnya dan kecurigaan keluarganya sendiri.

Long Yuan melangkah mendekati Mei. Ia berdiri begitu dekat hingga Mei bisa mencium aroma darah segar yang menempel pada tubuh suaminya itu. Yuan menjepit dagu Mei dengan jarinya yang masih ternoda darah, memaksanya menatap wajahnya yang tanpa emosi.

"Kau mendengar perintah Ayahanda, bukan?" bisik Yuan, suaranya terdengar seperti ancaman maut. "Jangan berpikir aku sudah mempercayaimu, Shu Mei. Jika ini memang bagian dari rencanamu untuk menjilat kakiku, maka kau telah membuat kesalahan besar. Sekarang, kau hanyalah seekor kelinci yang bertugas memastikan naga ini tidak mati. Jika kau mati karena racun, setidaknya aku tahu bahwa kau memang pengkhianat yang pantas berakhir seperti itu."

Yuan melepaskan cengkeramannya dan berbalik pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan Mei yang berdiri mematung di tengah aula. Di bawah tatapan benci seluruh istana, Mei menyadari bahwa perjuangannya untuk bertahan hidup baru saja menjadi jauh lebih mematikan. Ia bukan lagi sekadar pengantin pengganti, ia adalah tameng hidup bagi seorang pria yang lebih memilih melihatnya mati daripada mempercayai ketulusannya.

"Bawa Shu Mei ke paviliun. Dan jangan biarkan siapapun berani menemuinya tanpa ijin dariku," perintah Yuan dingin.

Ia kemudian melirik sekilas ke arah Perdana Menteri Hong dengan tatapan yang sulit diartikan, sebelum akhirnya berkata pelan namun tajam, "Dan kau, Perdana Menteri Hong.. ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu. Bagaimana kau yakin jika pelayan rendahan ini adalah orang yang meracuniku? Dan.. kenapa kau tampak begitu mencurigai Shu Mei?"

​Perdana Menteri Hong memucat. Tangannya yang semula tenang kini mulai bergetar di balik jubahnya.

"Hamba... hanya..."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pengantin Pengganti Sang Jenderal   Luka Di Balik Zirah Hitam

    Keheningan malam di istana Jin terasa lebih berat dari biasanya. Pangeran Long Yuan berjalan dengan langkah yang masih tampak kokoh menuju kamar pribadinya, namun jika seseorang memperhatikan dengan sangat teliti, bahu kanannya sedikit turun dan langkahnya tidak seimbang. Di belakangnya, ia menyeret Shu Mei dengan cengkeraman yang tidak menyisakan ruang untuk melawan. Begitu pintu jati besar itu tertutup dan terkunci, Yuan melepaskan tangan Mei dengan sentakan kasar. Ia segera membuka jubah beludru merahnya yang telah koyak dan melemparkannya ke lantai begitu saja. Aroma besi dari darah kering segera menyerbak di ruangan itu. "Siapkan peralatanmu. Cepat!" perintah Yuan dengan suara parau yang menahan nyeri. Mei tidak membantah. Ia segera mengambil kotak herbal yang selalu ia bawa. Saat ia berbalik, ia melihat Yuan sudah menanggalkan zirah besinya. Di balik pakaian dalam sutra putih yang kini berubah menjadi merah pekat, terlihat luka robek yang cukup panjang di bahu hingga ke pungg

  • Pengantin Pengganti Sang Jenderal   Melindungi Tahanan Berharga

    Rombongan besar Kekaisaran Jin baru saja meninggalkan gerbang perbatasan Shu, melintasi lembah sempit yang diapit oleh tebing-tebing tinggi yang curam. Di dalam kereta, suasana kembali membeku setelah perdebatan kecil Mei dan Yuan. Ia duduk dengan mata terpejam, namun tangannya tidak pernah lepas dari hulu pedangnya. Ketajaman instingnya sebagai seorang jenderal perang mulai menangkap sesuatu yang tidak beres di udara,keheningan yang terlalu sunyi, bahkan untuk hutan sejauh ini."Jika kau tidak mau mengatakannya, maka aku-"Tiba-tiba, suara siulan anak panah membelah kesunyian.Jleb! Jleb!Dua orang prajurit kavaleri yang mengawal kereta jatuh tersungkur dengan leher tertembus panah. Detik berikutnya, jeritan perang bergema dari atas tebing. Sekelompok pembunuh bayaran berpakaian hitam, yang diduga merupakan sisa-sisa pemberontak yang membenci aliansi Jin-Shu, melompat turun dengan senjata terhunus."Serangan!" teriak komandan pasukan Jin.Di dalam kereta, Shu Mei tersentak, namun seb

  • Pengantin Pengganti Sang Jenderal   Pelukan Di Ambang Kehancuran

    Aula perjamuan Kekaisaran Shu yang biasanya dipenuhi dengan musik kecapi yang mendayu, kini terasa seperti medan perang yang sunyi. Aroma dupa yang mahal berbaur dengan ketegangan yang menyesakkan paru-paru. Di meja utama, Pangeran Long Yuan duduk dengan gagah, tangannya yang kekar sesekali memutar cawan emas berisi arak, sementara matanya yang tajam mengawasi setiap gerak-gerik pelayan Shu seolah-olah mereka adalah mata-mata yang siap menyerang.Di sampingnya, Shu Mei duduk dengan punggung tegak, meskipun hatinya terasa remuk. Sesuai tugasnya, ia harus mencicipi setiap hidangan yang disajikan sebelum Yuan menyentuhnya. Namun, di tengah proses itu, Kaisar Shu yang duduk di sisi lain meja membungkuk sedikit, berpura-pura hendak menawarkan hidangan tambahan, namun sebenarnya ia membisikkan kata-kata yang tajam ke telinga Mei. Kata-kata terus ia ucapkan setelah pembicaraan singkat mereka tadi, jika ia harus bersikap manis."Bersikaplah manis, Mei," desis Kaisar Shu, suaranya hampir tidak

  • Pengantin Pengganti Sang Jenderal   Pengadilan Di Tanah Kelahiran

    Gerbang besar Kekaisaran Shu terbuka dengan derit yang memilukan, seolah-olah kayu tua itu pun merasakan beban kengerian yang dibawa oleh kavaleri Jin. Di sepanjang jalan menuju istana, rakyat Shu berdiri dengan kepala menunduk, tidak berani menatap panji Naga Hitam yang berkibar pongah. Di dalam kereta, Shu Mei merasakan jemarinya mendingin. Setiap jengkal tanah yang mereka lalui adalah ingatan akan pengabaian yang ia terima selama belasan tahun. Saat pintu kereta dibuka di depan aula utama, pemandangan yang menyambut mereka adalah kemewahan yang dipaksakan. Kaisar Shu berdiri di puncak tangga, dikelilingi oleh para menterinya yang berpakaian serba sutra, namun wajah mereka sepucat kain kafan. Long Yuan melangkah turun terlebih dahulu. Denting zirahnya yang berat menghantam lantai batu istana, menciptakan gema yang mengintimidasi. Ia tidak menunggu protokol istana, ia justru meraih tangan Mei dan menariknya dengan kasar namun posesif untuk berdiri di sampingnya. "Selamat datang, M

  • Pengantin Pengganti Sang Jenderal   Putri Yang Tidak Berharga

    "Siapkan semua yang menantuki butuhkan! Jangan ada yang terlewat. Buat putriku itu secantik mungkin."Pagi itu, paviliun utama Kekaisaran Jin disibukkan oleh para pelayan yang berlalu-lalang membawa nampan berisi perhiasan giok dan kain sutra bermutu tinggi. Atas perintah khusus dari Ibu Suri, Shu Mei tidak diperbolehkan mengenakan pakaian linen sederhananya. Hari ini adalah hari keberangkatan mereka menuju Kekaisaran Shu, dan Ibu Suri bersikeras bahwa Mei harus tampil dengan martabat seorang Permaisuri Jin, terlepas dari status aslinya.Ibu Suri sendiri yang mengawasi riasan wajah Mei. Ia memulas bibir Mei dengan pemerah dari sari bunga mawar dan menyapukan bedak tipis yang membuat kulit pucat Mei tampak bersinar seperti porselen. Rambut hitam panjang Mei yang biasanya dibiarkan jatuh lurus, kini disanggul rumit dengan tusuk konde emas berbentuk sayap phoenix."Kau sangat cantik, Mei," bisik Ibu Suri lembut, menatap pantulan Mei di cermin. "Tunjukkan pada ayahmu bahwa kau bukan lagi

  • Pengantin Pengganti Sang Jenderal   Surat Dari Naga Hitam

    Langit di atas ibukota Kekaisaran Shu tampak muram, diselimuti kabut tipis yang seolah membawa firasat buruk. Di dalam istana yang megah namun rapuh, Kaisar Shu duduk di singgasananya yang berhias ukiran emas. Di depannya, tersaji berbagai hidangan mewah dan arak terbaik, namun selera makannya telah lenyap sejak seorang utusan dari Kekaisaran Jin tiba beberapa jam yang lalu.Tangan sang Kaisar gemetar saat ia kembali membaca gulungan surat yang tergeletak di atas meja gioknya. Surat itu memiliki segel lilin merah darah dengan lambang Naga Hitam. Simbol pribadi Long Yuan. Kata-kata yang tertulis di dalamnya tidaklah panjang, namun setiap goresan tintanya terasa seperti mata pedang yang siap menyayat lehernya."Kami telah mengetahui kebusukan di balik kerudung merah itu. Pengantin yang kau kirim bukanlah Shu Lian. Minggu depan, aku akan membawa putri selirmu kembali ke hadapanmu untuk menuntut penjelasan yang setimpal."Kaisar Shu meremas pinggiran jubah suteranya hingga kuku-kukunya me

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status