LOGINAula Utama Kekaisaran Jin malam itu terasa lebih dingin daripada puncak gunung bersalju. Obor-obor yang terpasang di dinding batu besar berderak, memantulkan bayangan panjang yang menari-nari di atas lantai marmer yang mengilap. Di tengah aula, seorang pelayan pria muda bersujud dengan tubuh gemetar hebat. Dahinya menempel erat pada lantai, seolah-olah ia sedang memohon agar bumi menelannya hidup-hidup.
Long Yuan berdiri di depan pelayan itu. Jubah hitamnya menyapu lantai, dan tangan kanannya sudah bertumpu pada gagang pedang Naga Hitam miliknya. Sorot matanya tidak lagi menunjukkan kemarahan; yang tersisa hanyalah kekosongan yang mematikan. "Sebutkan namamu, dan katakan siapa yang memerintahkanmu masuk ke kamarku untuk menukar botol arak itu," suara Yuan terdengar tenang, namun setiap kata yang keluar memiliki beban maut yang nyata. Pelayan itu tidak menjawab. Ia hanya terus bersujud, napasnya terdengar tersengal-sengal di tengah kesunyian aula yang mencekik. Tidak ada pembelaan, tidak ada teriakan minta tolong. Ia hanya mematung, seolah-olah lidahnya sudah dipotong sebelum ia sempat tertangkap. Kaisar Jin duduk di takhtanya dengan wajah mengeras, sementara Ibu Suri berdiri di sampingnya dengan tangan yang saling menggenggam erat, menundukkan kepalanya seolah tidak sanggup melihat apa yang akan terjadi selanjutnya. "Kau pikir kesetiaanmu pada tuan rahasiamu akan menyelamatkan nyawamu?" Yuan menarik pedangnya perlahan. Bunyi gesekan logam yang tajam itu merobek kesunyian. "Di istana ini, hanya aku yang memegang kendali atas napasmu." Dalam satu gerakan yang sangat cepat hingga mata sulit mengikutinya, Yuan mengayunkan pedangnya. Sinar perak berkilat membelah udara. Crassh! Darah segar menyembur ke udara, membasahi lantai marmer dan menciprati jubah hitam serta sebagian wajah Long Yuan. Kepala pelayan itu terpisah dari tubuhnya dalam satu tebasan bersih, menggelinding beberapa langkah sebelum akhirnya berhenti di dekat pilar. Tubuhnya yang tanpa kepala jatuh lunglai, menciptakan genangan merah yang semakin melebar. Shu Mei, yang berdiri di barisan pelayan istana bersama para penjaga, memejamkan matanya rapat-rapat. Jantungnya berdegup kencang hingga ia merasa sesak napas. Tangannya yang tersembunyi di balik lengan baju yang lebar bergetar hebat. Ia melihat bintik-bintik darah merah tua di wajah Yuan, pria yang baru saja ia selamatkan, kini berdiri seperti iblis di tengah hujan darah. Long Yuan menyeka bercak darah di pipinya dengan punggung tangan, lalu menoleh ke arah kerumunan dengan tatapan yang sanggup membekukan nyawa siapa pun. "Siapa lagi yang ingin mencoba?" tanyanya dingin. Di tengah keheningan yang mengerikan itu, Perdana Menteri Hong melangkah maju. Ia membungkuk hormat pada Kaisar dan Long Yuan, namun senyum tipis yang penuh muslihat tersungging di bibirnya. "Keadilan yang sangat luar biasa, Pangeran Long Yuan," ucap Perdana Menteri Hong dengan nada suara yang halus namun berbisa. "Namun, hamba merasa ada sesuatu yang janggal dalam kejadian ini. Selama bertahun-tahun, istana Jin adalah tempat yang paling aman bagi anda. Tidak pernah ada celah bagi pengkhianat rendahan untuk menyelinap ke ruang pribadi anda..." Perdana Menteri Hong menjeda kalimatnya, lalu perlahan menoleh ke arah Shu Mei. Matanya menyipit penuh kecurigaan. "Hingga kedatangan orang asing dari Kekaisaran Shu ini. Tidakkah aneh jika tiba-tiba terjadi upaya peracunan tepat setelah putri musuh ini menginjakkan kaki di sini? Dan betapa beruntungnya dia, bisa menjadi pahlawan yang menemukan racun itu tepat sebelum anda meminumnya. Seolah-olah... dia sudah tahu apa yang akan terjadi." Bisikan-bisikan mulai terdengar di antara para pejabat istana. Tuduhan itu bagaikan api yang menyambar rumput kering. Semua mata kini tertuju pada Mei, bukan lagi sebagai penyelamat, melainkan sebagai tersangka utama. Kaisar Jin mengelus janggutnya, matanya menatap Mei dengan tajam. "Perdana menteri ada benarnya. Bagaimana seorang putri buangan yang baru berada di sini beberapa hari bisa begitu jeli melihat botol yang salah, kecuali jika dia sendiri yang merencanakan sandiwara ini untuk mendapatkan kepercayaan putraku?" Mei mendongak, matanya bertemu dengan mata Long Yuan. Ia berharap menemukan secercah pembelaan di sana, namun yang ia temukan hanyalah keraguan yang gelap. Long Yuan, yang tadi sempat merasa berhutang nyawa, kini teringat kembali pada status Mei, dia adalah putri dari seorang pengkhianat. "Jika benar wanita ini mencoba bermain api, maka dialah yang harus menelan apinya sendiri," ucap Kaisar Jin dengan suara yang berwibawa dan tak terbantahkan. "Mulai saat ini, aku memerintahkan. Segala makanan, minuman, bahkan air mandi yang akan diterima oleh Long Yuan, harus dicicipi dan dicoba terlebih dahulu oleh Shu Mei. Jika ada racun di sana, maka dialah yang akan mati pertama kali sebagai bukti kesetiaannya." Mei merasa dunianya runtuh. Posisi sebagai pencicip makanan adalah hukuman mati yang ditunda. Setiap suapan makanan bisa menjadi napas terakhirnya. Ia kini terjepit di antara pengkhianat yang sebenarnya dan kecurigaan keluarganya sendiri. Long Yuan melangkah mendekati Mei. Ia berdiri begitu dekat hingga Mei bisa mencium aroma darah segar yang menempel pada tubuh suaminya itu. Yuan menjepit dagu Mei dengan jarinya yang masih ternoda darah, memaksanya menatap wajahnya yang tanpa emosi. "Kau mendengar perintah Ayahanda, bukan?" bisik Yuan, suaranya terdengar seperti ancaman maut. "Jangan berpikir aku sudah mempercayaimu, Shu Mei. Jika ini memang bagian dari rencanamu untuk menjilat kakiku, maka kau telah membuat kesalahan besar. Sekarang, kau hanyalah seekor kelinci yang bertugas memastikan naga ini tidak mati. Jika kau mati karena racun, setidaknya aku tahu bahwa kau memang pengkhianat yang pantas berakhir seperti itu." Yuan melepaskan cengkeramannya dan berbalik pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan Mei yang berdiri mematung di tengah aula. Di bawah tatapan benci seluruh istana, Mei menyadari bahwa perjuangannya untuk bertahan hidup baru saja menjadi jauh lebih mematikan. Ia bukan lagi sekadar pengantin pengganti, ia adalah tameng hidup bagi seorang pria yang lebih memilih melihatnya mati daripada mempercayai ketulusannya. "Bawa Shu Mei ke paviliun. Dan jangan biarkan siapapun berani menemuinya tanpa ijin dariku," perintah Yuan dingin. Ia kemudian melirik sekilas ke arah Perdana Menteri Hong dengan tatapan yang sulit diartikan, sebelum akhirnya berkata pelan namun tajam, "Dan kau, Perdana Menteri Hong.. ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu. Bagaimana kau yakin jika pelayan rendahan ini adalah orang yang meracuniku? Dan.. kenapa kau tampak begitu mencurigai Shu Mei?" Perdana Menteri Hong memucat. Tangannya yang semula tenang kini mulai bergetar di balik jubahnya. "Hamba... hanya..."Hening malam itu terasa begitu berat, seolah udara di sekitar taman Paviliun Kediaman Pelayan telah membeku. Shu Mei berdiri dengan napas tersengal, jemarinya mencengkeram erat kantong hitam berisi daun Labah Merah yang baru saja ia gali dari tanah. Di hadapannya, Lin yang selama ini menjadi sandaran hidupnya, berdiri dengan ketenangan yang mengerikan. "Kenapa?" suara Mei bergetar, pecah oleh rasa sakit yang tak terlukiskan. "Selama ini aku menganggapmu lebih dari sekadar pelayan. Kau adalah ibuku! Kau yang memegang tanganku saat aku menangis karena perlakuan Lian di Shu. Kau juga yang berkata bahwa aku beruntung mendapatkan pria seperti Yuan... Kau bilang kau bahagia melihatku dicintai olehnya! Kenapa kau tega meracuninya?!" Lin tidak menunduk. Ia tidak bersimpuh memohon ampun seperti biasanya. Wanita tua itu justru tersenyum tipis, sebuah senyuman dingin yang mengejek setiap tetes air mata Mei. "Bahagia?" Lin tertawa rendah, suara yang biasanya terdengar lembut itu kini terdeng
Udara malam di sekitar barak elit Jin terasa semakin pekat oleh aroma kematian dan kecurigaan. Di tengah kekacauan itu, suara Long Yuan menggelegar, memberikan instruksi tegas untuk mengunci seluruh gerbang istana. Para prajurit berlarian, obor-obor menari liar menciptakan bayangan raksasa di dinding batu. Di bawah cahaya yang berkedip itu, Shu Mei berdiri mematung, namun matanya tidak tertuju pada suaminya yang sedang murka. Fokusnya terkunci pada sebuah jejak samar di tanah yang sedikit becek, tak jauh dari genangan darah hitam salah satu jenazah. Jejak kaki itu kecil, terlalu ramping untuk ukuran seorang prajurit pria. Dengan jantung yang berdegup kencang, Mei memutuskan untuk melangkah mundur secara perlahan, menjauh dari kerumunan tanpa menarik perhatian Yuan yang sedang sibuk mengintimidasi para perwira. Ia mengikuti jejak itu dengan langkah seringan bulu. Jejak tersebut mengarah menjauhi keramaian barak, menyusup ke jalan setapak yang ditumbuhi semak-semak hias menuju area pa
Suasana di dalam kamar yang tadinya dipenuhi kehangatan gairah kini berubah menjadi sedingin makam. Long Yuan mencengkeram hulu pedangnya hingga buku jarinya memutih, sementara Shu Mei sudah bergerak cepat menyambar kotak medis besarnya. Kabar tentang kematian mendadak para prajurit elit adalah serangan langsung ke jantung pertahanan Naga Hitam. "Yuan... biarkan aku ikut," tegas Mei, suaranya tidak lagi menunjukkan keraguan. "Tidak! Kau tetap di sini, Mei! Ini adalah pembunuhan, dan aku tidak tahu siapa yang masih bersembunyi di balik bayang-bayang!" bentak Yuan sembari mengenakan jubah hitamnya dengan gerakan kasar. Namun, Mei tidak mendengarkan. Ia justru melangkah lebih dulu, melewati Yuan dan prajurit yang masih bersimpuh di lantai. Jubah tidurnya yang tipis kini ia lapisi dengan jubah luar yang tebal, dan langkah kakinya terdengar mantap di koridor kayu. "Mei! Aku bilang jangan ikut campur!" raung Yuan, berusaha mengejar istrinya. "Wanita itu, keras kepala sekali..." Mei ber
Kemarahan Long Yuan meledak seketika setelah mendengar penjelasan Shu Mei. Sang Naga Hitam tidak terbiasa menjadi mangsa, apalagi di dalam sarangnya sendiri. Dengan wajah yang menggelap dan mata yang berkilat haus darah, Yuan menyambar jubahnya yang tergeletak di lantai, berniat untuk langsung menuju barak militer meski malam sudah larut. "Aku akan memenggal setiap kepala yang menyentuh zirahku hari ini!" geram Yuan, suaranya parau oleh amarah. "Siapa pun dia, pengkhianat itu tidak akan melihat matahari terbit besok pagi!" Namun, baru saja kakinya melangkah satu tindak menuju pintu, sebuah tangan mungil namun kuat mencengkeram lengannya. "Kau tidak akan pergi ke mana pun, Yuan!" pekik Mei. Ia menarik lengan suaminya dengan seluruh tenaga yang ia punya, memaksanya untuk berhenti. "Lepaskan, Mei! Ini masalah kedaulatan militer. Jika pengkhianat itu melarikan diri—" "Jika kau melangkah keluar dari pintu ini dan memacu kudamu, racun itu akan mengalir lurus ke jantungmu karena detak j
Suasana di dalam kamar utama Paviliun Naga terasa begitu kontras dengan dinginnya angin dari luar. Hanya ada suara deru napas yang saling berburu dan gemertak kayu bakar dari perapian yang mulai meredup. Begitu pintu kamar tertutup rapat dan terkunci, Long Yuan tidak lagi memberikan ruang bagi Shu Mei untuk menghindar. Ia menyudutkan istrinya ke dinding sutra, menciumnya dengan rasa lapar yang telah ia pendam selama berhari-hari. Mei, yang awalnya berniat hanya memberikan pelukan singkat, perlahan luluh dalam kehangatan dekapan suaminya. Tangannya yang mungil merambat naik, meremas bahu kokoh Yuan saat bibir lelaki itu menjelajahi lehernya dengan tuntutan yang mendalam. Aroma maskulin bercampur debu peperangan dari tubuh Yuan terasa begitu memabukkan. "Aku menagih janjimu, Mei," bisik Yuan serak di sela-sela ciumannya. Dengan gerakan yang tidak sabar namun penuh perasaan, Yuan mulai menanggalkan jubah perangnya yang berat, membiarkannya jatuh ke lantai dengan suara dentingan logam
Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, meninggalkan semburat warna jingga kemerahan yang perlahan ditelan kegelapan malam. Di barak Jin, Long Yuan tidak lagi bisa memegang kuas strateginya dengan tenang. Pikirannya sudah melesat jauh menuju desa perbatasan. Meski ia telah mengirimkan pasukan elitnya, rasa tidak tenang itu tetap berdenyut di bawah kulitnya. Dengan geraman rendah, ia menyambar jubah hitamnya, menaiki kuda perangnya, dan memacu hewan itu seperti iblis yang mengejar mangsa. Sesampainya di desa, suasana yang tadinya kacau mulai sedikit lebih teratur, namun kedatangan Yuan seketika mengubah atmosfer. Derap kaki kuda hitamnya yang besar dan suara dentingan zirahnya menciptakan aura dominasi yang menyesakkan. Saat Yuan berjalan melewati tenda-tenda darurat, rakyat yang tadinya berbisik-bisik langsung bungkam. Mereka menundukkan kepala sedalam mungkin, tidak berani menatap wajah sang Jenderal yang terkenal tanpa ampun itu. Bahkan anak-anak kecil yang tadi sempat bermain di







