Share

Racun Dalam Arak

Author: Nona Lee
last update Last Updated: 2026-01-29 19:36:15

Pagi itu, embun masih memeluk pilar-pilar batu Kekaisaran Jin yang perkasa. Dari balkon lantai atas yang menghadap langsung ke lapangan latihan prajurit, Long Yuan berdiri mematung. Jubah hitamnya berkibar pelan ditiup angin pegunungan yang tajam. Matanya yang sedingin es tidak tertuju pada barisan infanteri yang sedang berlatih pedang, melainkan pada sosok wanita berpakaian sederhana di sudut lapangan.

Di sana, Shu Mei sedang berlutut di tanah. Ia tidak sedang memohon ampun, melainkan sedang membalut luka seorang prajurit rendahan yang baru saja kembali dari patroli perbatasan dengan kaki yang berdarah. Yuan memperhatikan bagaimana jemari Mei bergerak cekatan, bagaimana wanita itu tidak sedikit pun menunjukkan rasa jijik saat membersihkan nanah dan kotoran dari kulit prajurit tersebut. Ada ketenangan yang aneh pada dirinya, sebuah ketenangan yang tidak dimiliki oleh Shu Lian yang manja.

Apakah kepala secerdas itu pantas dipisahkan dari tubuhnya? batin Yuan. Perintah ayahnya untuk menghukum mati sang pengantin pengganti masih terngiang, namun logika militernya mulai menimbang. Seorang tabib yang memiliki nyali sebesar Mei adalah aset yang terlalu berharga untuk sekadar dijadikan tumbal perang.

"Pemandangan yang menarik, bukan?" sebuah suara lembut namun penuh nada godaan mengusik lamunannya.

Yuan tidak perlu menoleh untuk mengetahui bahwa ibunya, Ibu Suri, telah berdiri di sampingnya. "Ibunda seharusnya sedang beristirahat," jawab Yuan pendek, suaranya tetap datar.

Ibu Suri tertawa kecil, matanya ikut menatap Mei di bawah sana. "Aku sudah jauh lebih sehat berkat menantuku itu. Dan sepertinya, kau pun sudah mendapatkan pengobatan darinya semalam di kamarmu. Aku melihat ciuman yang cukup... panas semalam."

Rahang Yuan mengeras. Ia memalingkan wajah, menatap lurus ke cakrawala. "Ibunda mungkin sudah terlalu tua hingga penglihatannya mulai kabur. Tidak ada hal seperti itu terjadi. Aku hanya sedang memberikan hukuman padanya karena kelancangannya."

"Hukuman yang melibatkan bibir?" Ibu Suri kembali menggoda, lalu ekspresinya berubah menjadi lebih serius. Ia meletakkan tangannya di bahu berbaju zirah putranya. "Pangeran Long Yuan, dengarkan aku. Tidak semua masalah di dunia ini harus kau selesaikan dengan pedang dan pertumpahan darah. Terkadang, penawar yang paling ampuh adalah kedamaian. Ayahmu maisar Jin menuntut kepala, tapi kau yang memegang pedangnya. Pikirkanlah matang-matang sebelum kau menyesal."

Yuan terdiam. Ia tidak menjawab sepatah kata pun, namun matanya terus mengikuti gerak-gerik Mei hingga wanita itu bangkit dan berjalan menjauh meninggalkan lapangan. Ada sesuatu yang mengusik pikirannya, sesuatu yang lebih berbahaya daripada sekadar nafsu atau rasa kasihan.

Malam harinya, suasana di kamar Long Yuan kembali mencekam. Lilin-lilin besar menyala dengan cahaya remang, menciptakan bayangan-bayangan panjang di dinding. Shu Mei baru saja selesai mengoleskan salep pada luka di punggung Yuan, luka yang didapat sang Jenderal saat peperangan terakhir. Selama proses itu, tidak ada percakapan. Yuan duduk memunggungi Mei dengan tubuh tegapnya yang penuh otot, sementara Mei bekerja dalam kesunyian yang penuh kehati-hatian.

Setelah merapikan peralatan herbalnya ke dalam kotak kayu, Mei hendak berpamitan. Namun, ia melihat Yuan meraih sebuah botol porselen berwarna hijau tua yang terletak di atas meja kerja di samping tempat tidurnya. Yuan tampak ingin membasuh rasa penatnya dengan arak setelah hari yang melelahkan.

Mei menghentikan langkahnya. Matanya yang tajam mengamati botol itu. Selama hari-harinya di istana ini, ia sering membantu di dapur bersama para pelayan rendahan. Ia tahu dengan pasti jenis botol dan porselen yang digunakan untuk menyajikan minuman bagi keluarga kerajaan. Botol hijau tua itu tampak tidak familiar. Pola sulurnya sedikit berbeda dari yang biasa dikirim oleh pelayan dapur.

Yuan mencabut penyumbat botol itu dan hendak meneguknya langsung.

"Jangan minum itu," ucap Mei, suaranya kecil namun tegas.

Yuan berhenti, tangannya yang memegang botol menggantung di udara. Ia menoleh dengan tatapan menghina. "Kau sekarang berani memerintahku, Shu Mei? Urusi saja tanaman obatmu dan jangan mencampuri urusanku."

Yuan kembali mengarahkan botol itu ke mulutnya. Ia tidak peduli. Rasa haus dan emosinya yang sedang tidak stabil membuatnya abai. Namun, sebelum cairan itu menyentuh bibirnya, Mei bergerak cepat. Dengan keberanian yang nekat, ia menerjang maju dan merampas botol itu dari tangan Yuan.

Prang!

Mei melemparkan botol porselen itu ke lantai batu. Cairan arak yang bening tumpah berceceran, mengeluarkan aroma tajam yang aneh, aroma yang menyerupai sesuatu yang busuk.

"Kau!" Yuan bangkit dari kursinya dengan amarah yang meledak. Ia mencengkeram bahu Mei dengan sangat keras hingga wanita itu merintih. "Berani sekali kau membuang arakku! Apa kau pikir dengan menyelamatkan ibuku kau sudah menjadi penguasa di sini?"

"Lihatlah lantainya, Jenderal!" teriak Mei sambil menunjuk ke arah tumpahan arak.

Yuan menunduk. Matanya menyipit saat melihat cairan arak itu mulai berbuih tipis di atas lantai batu, dan seekor serangga kecil yang kebetulan merayap di dekat sana langsung mati seketika setelah menyentuh cairan tersebut. Asap tipis yang berbau menusuk mulai menguar.

Yuan melepaskan cengkeramannya pada Mei. Tubuhnya mendadak kaku. Ia adalah seorang pejuang; ia tahu persis apa arti dari reaksi kimia di depannya. Itu bukan arak biasa. Itu adalah racun tingkat tinggi yang dikenal sebagai Napas Kematian.

"Itu bukan botol dari dapur istana," ucap Mei dengan napas tersengal, wajahnya pucat karena ketakutan sekaligus tegang. "Aku mengenal semua botol yang biasa digunakan untukmu. Seseorang telah menukar minumanmu, Jenderal. Jika kau meneguknya sedikit saja, kau tidak akan sempat melihat matahari terbit esok hari."

Wajah Long Yuan berubah dari kemarahan menjadi kegelapan yang mengerikan. Aura membunuh terpancar dari tubuhnya, jauh lebih kuat daripada saat ia berada di medan perang. Ia menatap sisa-sisa botol hijau di lantai, lalu menatap Mei dengan pandangan yang sulit dibaca.

"Seseorang..." desis Yuan, suaranya terdengar seperti asahan pedang yang haus darah. "Seseorang berani bermain dengan maut di dalam kamarku sendiri."

Yuan melangkah menuju pintu, berteriak memanggil penjaga pribadinya dengan suara yang sanggup menggetarkan seisi paviliun. Ia sadar, pengkhianat itu bukan berasal dari luar, melainkan seseorang yang memiliki akses ke dalam ruang pribadinya.

Namun di balik kemurkaannya, satu pemikiran menghantam kepalanya dengan keras. Wanita di depannya ini, putri selir yang ia anggap pengkhianat baru saja menyelamatkan nyawanya untuk kedua kalinya.

"Siapa yang masuk ke sini sebelum aku kembali?" raung Yuan pada prajurit yang bersujud di depan pintunya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pengantin Pengganti Sang Jenderal   Luka Di Balik Zirah Hitam

    Keheningan malam di istana Jin terasa lebih berat dari biasanya. Pangeran Long Yuan berjalan dengan langkah yang masih tampak kokoh menuju kamar pribadinya, namun jika seseorang memperhatikan dengan sangat teliti, bahu kanannya sedikit turun dan langkahnya tidak seimbang. Di belakangnya, ia menyeret Shu Mei dengan cengkeraman yang tidak menyisakan ruang untuk melawan. Begitu pintu jati besar itu tertutup dan terkunci, Yuan melepaskan tangan Mei dengan sentakan kasar. Ia segera membuka jubah beludru merahnya yang telah koyak dan melemparkannya ke lantai begitu saja. Aroma besi dari darah kering segera menyerbak di ruangan itu. "Siapkan peralatanmu. Cepat!" perintah Yuan dengan suara parau yang menahan nyeri. Mei tidak membantah. Ia segera mengambil kotak herbal yang selalu ia bawa. Saat ia berbalik, ia melihat Yuan sudah menanggalkan zirah besinya. Di balik pakaian dalam sutra putih yang kini berubah menjadi merah pekat, terlihat luka robek yang cukup panjang di bahu hingga ke pungg

  • Pengantin Pengganti Sang Jenderal   Melindungi Tahanan Berharga

    Rombongan besar Kekaisaran Jin baru saja meninggalkan gerbang perbatasan Shu, melintasi lembah sempit yang diapit oleh tebing-tebing tinggi yang curam. Di dalam kereta, suasana kembali membeku setelah perdebatan kecil Mei dan Yuan. Ia duduk dengan mata terpejam, namun tangannya tidak pernah lepas dari hulu pedangnya. Ketajaman instingnya sebagai seorang jenderal perang mulai menangkap sesuatu yang tidak beres di udara,keheningan yang terlalu sunyi, bahkan untuk hutan sejauh ini."Jika kau tidak mau mengatakannya, maka aku-"Tiba-tiba, suara siulan anak panah membelah kesunyian.Jleb! Jleb!Dua orang prajurit kavaleri yang mengawal kereta jatuh tersungkur dengan leher tertembus panah. Detik berikutnya, jeritan perang bergema dari atas tebing. Sekelompok pembunuh bayaran berpakaian hitam, yang diduga merupakan sisa-sisa pemberontak yang membenci aliansi Jin-Shu, melompat turun dengan senjata terhunus."Serangan!" teriak komandan pasukan Jin.Di dalam kereta, Shu Mei tersentak, namun seb

  • Pengantin Pengganti Sang Jenderal   Pelukan Di Ambang Kehancuran

    Aula perjamuan Kekaisaran Shu yang biasanya dipenuhi dengan musik kecapi yang mendayu, kini terasa seperti medan perang yang sunyi. Aroma dupa yang mahal berbaur dengan ketegangan yang menyesakkan paru-paru. Di meja utama, Pangeran Long Yuan duduk dengan gagah, tangannya yang kekar sesekali memutar cawan emas berisi arak, sementara matanya yang tajam mengawasi setiap gerak-gerik pelayan Shu seolah-olah mereka adalah mata-mata yang siap menyerang.Di sampingnya, Shu Mei duduk dengan punggung tegak, meskipun hatinya terasa remuk. Sesuai tugasnya, ia harus mencicipi setiap hidangan yang disajikan sebelum Yuan menyentuhnya. Namun, di tengah proses itu, Kaisar Shu yang duduk di sisi lain meja membungkuk sedikit, berpura-pura hendak menawarkan hidangan tambahan, namun sebenarnya ia membisikkan kata-kata yang tajam ke telinga Mei. Kata-kata terus ia ucapkan setelah pembicaraan singkat mereka tadi, jika ia harus bersikap manis."Bersikaplah manis, Mei," desis Kaisar Shu, suaranya hampir tidak

  • Pengantin Pengganti Sang Jenderal   Pengadilan Di Tanah Kelahiran

    Gerbang besar Kekaisaran Shu terbuka dengan derit yang memilukan, seolah-olah kayu tua itu pun merasakan beban kengerian yang dibawa oleh kavaleri Jin. Di sepanjang jalan menuju istana, rakyat Shu berdiri dengan kepala menunduk, tidak berani menatap panji Naga Hitam yang berkibar pongah. Di dalam kereta, Shu Mei merasakan jemarinya mendingin. Setiap jengkal tanah yang mereka lalui adalah ingatan akan pengabaian yang ia terima selama belasan tahun. Saat pintu kereta dibuka di depan aula utama, pemandangan yang menyambut mereka adalah kemewahan yang dipaksakan. Kaisar Shu berdiri di puncak tangga, dikelilingi oleh para menterinya yang berpakaian serba sutra, namun wajah mereka sepucat kain kafan. Long Yuan melangkah turun terlebih dahulu. Denting zirahnya yang berat menghantam lantai batu istana, menciptakan gema yang mengintimidasi. Ia tidak menunggu protokol istana, ia justru meraih tangan Mei dan menariknya dengan kasar namun posesif untuk berdiri di sampingnya. "Selamat datang, M

  • Pengantin Pengganti Sang Jenderal   Putri Yang Tidak Berharga

    "Siapkan semua yang menantuki butuhkan! Jangan ada yang terlewat. Buat putriku itu secantik mungkin."Pagi itu, paviliun utama Kekaisaran Jin disibukkan oleh para pelayan yang berlalu-lalang membawa nampan berisi perhiasan giok dan kain sutra bermutu tinggi. Atas perintah khusus dari Ibu Suri, Shu Mei tidak diperbolehkan mengenakan pakaian linen sederhananya. Hari ini adalah hari keberangkatan mereka menuju Kekaisaran Shu, dan Ibu Suri bersikeras bahwa Mei harus tampil dengan martabat seorang Permaisuri Jin, terlepas dari status aslinya.Ibu Suri sendiri yang mengawasi riasan wajah Mei. Ia memulas bibir Mei dengan pemerah dari sari bunga mawar dan menyapukan bedak tipis yang membuat kulit pucat Mei tampak bersinar seperti porselen. Rambut hitam panjang Mei yang biasanya dibiarkan jatuh lurus, kini disanggul rumit dengan tusuk konde emas berbentuk sayap phoenix."Kau sangat cantik, Mei," bisik Ibu Suri lembut, menatap pantulan Mei di cermin. "Tunjukkan pada ayahmu bahwa kau bukan lagi

  • Pengantin Pengganti Sang Jenderal   Surat Dari Naga Hitam

    Langit di atas ibukota Kekaisaran Shu tampak muram, diselimuti kabut tipis yang seolah membawa firasat buruk. Di dalam istana yang megah namun rapuh, Kaisar Shu duduk di singgasananya yang berhias ukiran emas. Di depannya, tersaji berbagai hidangan mewah dan arak terbaik, namun selera makannya telah lenyap sejak seorang utusan dari Kekaisaran Jin tiba beberapa jam yang lalu.Tangan sang Kaisar gemetar saat ia kembali membaca gulungan surat yang tergeletak di atas meja gioknya. Surat itu memiliki segel lilin merah darah dengan lambang Naga Hitam. Simbol pribadi Long Yuan. Kata-kata yang tertulis di dalamnya tidaklah panjang, namun setiap goresan tintanya terasa seperti mata pedang yang siap menyayat lehernya."Kami telah mengetahui kebusukan di balik kerudung merah itu. Pengantin yang kau kirim bukanlah Shu Lian. Minggu depan, aku akan membawa putri selirmu kembali ke hadapanmu untuk menuntut penjelasan yang setimpal."Kaisar Shu meremas pinggiran jubah suteranya hingga kuku-kukunya me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status