LOGIN"Aku..."
Keheningan di dalam kamar itu terasa mencekik. Setetes darah merah segar merembes dari luka kecil di leher Shu Mei, mengotori kerah gaun pengantinnya yang bersih. Pedang di tangan Long Yuan tidak bergetar sedikit pun. Jenderal itu menatap Mei seolah-olah wanita itu adalah kotoran yang merusak kesucian lantai istananya. "Katakan padaku," suara Yuan rendah, namun menggelegar seperti guntur di kejauhan. "Di mana Shu Lian? Dan mengapa mereka mengirim pelacur kecil sepertimu untuk menggantikannya?" Mei memejamkan mata sesaat, merasakan dinginnya logam pedang yang menempel di nadinya. Ia tahu, satu kebohongan lagi akan membuat kepalanya terpisah dari tubuhnya. Dengan sisa keberanian yang ia miliki, Mei berlutut. Suara gesekan gaun suteranya di lantai terdengar sangat keras di ruangan yang sunyi itu. "Namaku... Shu Mei," ucapnya dengan suara gemetar namun jelas. "Aku adalah putri dari mendiang Selir rendah Kekaisaran Shu. Kakakku, Putri Shu Lian, telah melarikan diri sehari sebelum keberangkatan karena ketakutannya padamu, Jenderal. Ayahandaku... Kaisar Shu, tidak memiliki pilihan selain mengirimku agar perjanjian damai ini tetap berjalan." Tawa Long Yuan meledak, namun itu bukan tawa kegembiraan. Itu adalah tawa penuh penghinaan. Ia menarik pedangnya, lalu dengan kasar menendang meja di sampingnya hingga hancur berkeping-keping. "Pilihan?" Yuan berteriak. "Kaisar tua itu berani menganggapku bodoh! Dia mengirim seorang anak selir tak bernama untuk bersanding di sisiku? Ini bukan perjanjian damai, ini adalah pernyataan perang! Aku akan memimpin pasukanku malam ini juga, menghancurkan gerbang Shu, dan memenggal kepala ayahmu di depan matamu sendiri!" "Tunggu!" Mei bersujud hingga dahinya menyentuh lantai dingin. "Jika kau menyerang sekarang, ribuan rakyatmu akan ikut mati sia-sia demi harga diri yang terluka. Perang hanya membawa bencana. Jenderal, aku memang bukan Shu Lian. Aku tidak memiliki kecantikan yang dipuja dunia atau dukungan menteri. Tapi aku memiliki kesetiaan yang tidak akan pernah kau dapatkan dari seorang putri yang manja. Beri aku waktu untuk membuktikan bahwa aku lebih pantas menjadi permaisurimu daripada wanita yang melarikan diri itu!" Yuan menatap punggung Mei yang gemetar dengan mata menyipit. "Waktu? Untuk apa? Untuk kau meracuniku saat aku tidur?" "Taruhannya nyawaku," bisik Mei. "Jika dalam tiga puluh hari aku tidak terbukti berguna bagimu atau Kekaisaran Jin, kau boleh memenggal kepalaku sendiri di hadapan seluruh rakyatmu. Aku tidak akan melawan." Kegaduhan itu segera mencapai telinga Kaisar Jin. Tak lama kemudian, Mei diseret ke aula utama istana, di mana Kaisar Jin yang sudah tua namun masih tampak perkasa duduk dengan wajah murka. Di sampingnya, Ibu Suri, seorang wanita dengan wajah anggun namun pucat, menatap Mei dengan tatapan yang sulit diartikan. "Pengkhianatan ini tidak bisa dimaafkan!" Kaisar Jin menggebrak takhta emasnya. "Bawa putri haram ini ke alun-alun. Kita akan menunjukkan pada Kekaisaran Shu apa yang terjadi pada mereka yang menipu Naga Jin!" Seorang algojo melangkah maju, menghunus pedang besar yang berkilat. Mei hanya bisa menunduk, memasrahkan nasibnya pada langit. Namun, sebelum pedang itu terayun, sebuah suara lembut namun tegas menghentikannya. "Tunggu, Yang Mulia," ucap Permaisuri. Ia menyentuh lengan suaminya. "Wanita ini telah jujur saat maut berada di depannya. Shu Lian melarikan diri karena dia lemah, tetapi gadis ini... dia datang ke sini tahu bahwa dia akan dibunuh. Keberanian seperti itu jarang ditemukan pada seorang putri. Berikan dia satu kesempatan yang ia minta. Jika dia gagal, hukuman mati itu tetap menunggunya." Kaisar Jin menatap putranya, Long Yuan, yang berdiri dengan tangan bersedekap dan wajah gelap. Yuan mendengus. "Satu bulan, Ayah. Setelah itu, jika dia terbukti sampah, aku sendiri yang akan mengakhiri hidupnya." Malam itu, tidak ada upacara megah. Tidak ada pesta rakyat, tidak ada kembang api, dan tidak ada ucapan selamat. Di sebuah kuil kecil di dalam istana, hanya dengan disaksikan oleh beberapa pelayan dan prajurit yang menjaga ketat, Shu Mei dan Long Yuan melakukan sumpah pernikahan. Bagi Mei, ini terasa seperti upacara pemakaman. Setelah sumpah selesai, Yuan menyeret Mei kembali ke kamar tanpa sepatah kata pun. Begitu pintu tertutup, suasana berubah menjadi mencekam. Yuan melepaskan mahkota perangnya dan menatap Mei dengan kebencian yang murni. "Jangan berpikir karena Ibuku membelamu, kau benar-benar istriku," desis Yuan. Ia menunjuk ke arah lantai di sudut ruangan yang dingin, jauh dari ranjang besarnya yang mewah. "Kau tidak sudi aku sentuh. Putri dari seorang pengkhianat tidak pantas tidur di atas ranjang yang sama denganku. Kau akan tidur di sana, di lantai." Mei terdiam. Ia melihat lantai batu yang tidak beralas apa pun. Namun, ia tidak membantah. Ia berjalan perlahan menuju sudut ruangan dan duduk di sana dengan gaun pengantinnya yang berat. Yuan melangkah mendekatinya, membungkuk hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa inci. Mei bisa merasakan napas Yuan yang panas dan tajam. "Ingat satu hal, Shu Mei," Yuan menyebut namanya untuk pertama kali, namun dengan nada yang menjijikkan. "Satu bulan adalah waktu yang singkat. Jika kau tidak bisa membuktikan dirimu pantas, atau jika kau melakukan kesalahan sekecil apa pun... lehermu akan menjadi taruhannya. Dan jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu atau memberimu kasih sayang. Bagiku, kau hanyalah tawanan yang memakai gaun merah." Yuan berbalik, mematikan lampu minyak, dan membiarkan kamar itu tenggelam dalam kegelapan. Mei meringkuk di sudut lantai yang dingin, memeluk dirinya sendiri. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh membasahi pipinya. Di luar, angin malam Jin melolong kencang, seolah menertawakan nasib sang pengantin pengganti yang kini memulai hidupnya sebagai tawanan di istana suaminya sendiri. Mei memejamkan mata, memikirkan rencana. Ia harus bertahan hidup. "Kau harus tahu Long Yuan.." bisiknya pelan. "Jika bunga yang tumbuh di pavilium buangan pun, memiliki duri yang bisa melindungi dirinya."Hening malam itu terasa begitu berat, seolah udara di sekitar taman Paviliun Kediaman Pelayan telah membeku. Shu Mei berdiri dengan napas tersengal, jemarinya mencengkeram erat kantong hitam berisi daun Labah Merah yang baru saja ia gali dari tanah. Di hadapannya, Lin yang selama ini menjadi sandaran hidupnya, berdiri dengan ketenangan yang mengerikan. "Kenapa?" suara Mei bergetar, pecah oleh rasa sakit yang tak terlukiskan. "Selama ini aku menganggapmu lebih dari sekadar pelayan. Kau adalah ibuku! Kau yang memegang tanganku saat aku menangis karena perlakuan Lian di Shu. Kau juga yang berkata bahwa aku beruntung mendapatkan pria seperti Yuan... Kau bilang kau bahagia melihatku dicintai olehnya! Kenapa kau tega meracuninya?!" Lin tidak menunduk. Ia tidak bersimpuh memohon ampun seperti biasanya. Wanita tua itu justru tersenyum tipis, sebuah senyuman dingin yang mengejek setiap tetes air mata Mei. "Bahagia?" Lin tertawa rendah, suara yang biasanya terdengar lembut itu kini terdeng
Udara malam di sekitar barak elit Jin terasa semakin pekat oleh aroma kematian dan kecurigaan. Di tengah kekacauan itu, suara Long Yuan menggelegar, memberikan instruksi tegas untuk mengunci seluruh gerbang istana. Para prajurit berlarian, obor-obor menari liar menciptakan bayangan raksasa di dinding batu. Di bawah cahaya yang berkedip itu, Shu Mei berdiri mematung, namun matanya tidak tertuju pada suaminya yang sedang murka. Fokusnya terkunci pada sebuah jejak samar di tanah yang sedikit becek, tak jauh dari genangan darah hitam salah satu jenazah. Jejak kaki itu kecil, terlalu ramping untuk ukuran seorang prajurit pria. Dengan jantung yang berdegup kencang, Mei memutuskan untuk melangkah mundur secara perlahan, menjauh dari kerumunan tanpa menarik perhatian Yuan yang sedang sibuk mengintimidasi para perwira. Ia mengikuti jejak itu dengan langkah seringan bulu. Jejak tersebut mengarah menjauhi keramaian barak, menyusup ke jalan setapak yang ditumbuhi semak-semak hias menuju area pa
Suasana di dalam kamar yang tadinya dipenuhi kehangatan gairah kini berubah menjadi sedingin makam. Long Yuan mencengkeram hulu pedangnya hingga buku jarinya memutih, sementara Shu Mei sudah bergerak cepat menyambar kotak medis besarnya. Kabar tentang kematian mendadak para prajurit elit adalah serangan langsung ke jantung pertahanan Naga Hitam. "Yuan... biarkan aku ikut," tegas Mei, suaranya tidak lagi menunjukkan keraguan. "Tidak! Kau tetap di sini, Mei! Ini adalah pembunuhan, dan aku tidak tahu siapa yang masih bersembunyi di balik bayang-bayang!" bentak Yuan sembari mengenakan jubah hitamnya dengan gerakan kasar. Namun, Mei tidak mendengarkan. Ia justru melangkah lebih dulu, melewati Yuan dan prajurit yang masih bersimpuh di lantai. Jubah tidurnya yang tipis kini ia lapisi dengan jubah luar yang tebal, dan langkah kakinya terdengar mantap di koridor kayu. "Mei! Aku bilang jangan ikut campur!" raung Yuan, berusaha mengejar istrinya. "Wanita itu, keras kepala sekali..." Mei ber
Kemarahan Long Yuan meledak seketika setelah mendengar penjelasan Shu Mei. Sang Naga Hitam tidak terbiasa menjadi mangsa, apalagi di dalam sarangnya sendiri. Dengan wajah yang menggelap dan mata yang berkilat haus darah, Yuan menyambar jubahnya yang tergeletak di lantai, berniat untuk langsung menuju barak militer meski malam sudah larut. "Aku akan memenggal setiap kepala yang menyentuh zirahku hari ini!" geram Yuan, suaranya parau oleh amarah. "Siapa pun dia, pengkhianat itu tidak akan melihat matahari terbit besok pagi!" Namun, baru saja kakinya melangkah satu tindak menuju pintu, sebuah tangan mungil namun kuat mencengkeram lengannya. "Kau tidak akan pergi ke mana pun, Yuan!" pekik Mei. Ia menarik lengan suaminya dengan seluruh tenaga yang ia punya, memaksanya untuk berhenti. "Lepaskan, Mei! Ini masalah kedaulatan militer. Jika pengkhianat itu melarikan diri—" "Jika kau melangkah keluar dari pintu ini dan memacu kudamu, racun itu akan mengalir lurus ke jantungmu karena detak j
Suasana di dalam kamar utama Paviliun Naga terasa begitu kontras dengan dinginnya angin dari luar. Hanya ada suara deru napas yang saling berburu dan gemertak kayu bakar dari perapian yang mulai meredup. Begitu pintu kamar tertutup rapat dan terkunci, Long Yuan tidak lagi memberikan ruang bagi Shu Mei untuk menghindar. Ia menyudutkan istrinya ke dinding sutra, menciumnya dengan rasa lapar yang telah ia pendam selama berhari-hari. Mei, yang awalnya berniat hanya memberikan pelukan singkat, perlahan luluh dalam kehangatan dekapan suaminya. Tangannya yang mungil merambat naik, meremas bahu kokoh Yuan saat bibir lelaki itu menjelajahi lehernya dengan tuntutan yang mendalam. Aroma maskulin bercampur debu peperangan dari tubuh Yuan terasa begitu memabukkan. "Aku menagih janjimu, Mei," bisik Yuan serak di sela-sela ciumannya. Dengan gerakan yang tidak sabar namun penuh perasaan, Yuan mulai menanggalkan jubah perangnya yang berat, membiarkannya jatuh ke lantai dengan suara dentingan logam
Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, meninggalkan semburat warna jingga kemerahan yang perlahan ditelan kegelapan malam. Di barak Jin, Long Yuan tidak lagi bisa memegang kuas strateginya dengan tenang. Pikirannya sudah melesat jauh menuju desa perbatasan. Meski ia telah mengirimkan pasukan elitnya, rasa tidak tenang itu tetap berdenyut di bawah kulitnya. Dengan geraman rendah, ia menyambar jubah hitamnya, menaiki kuda perangnya, dan memacu hewan itu seperti iblis yang mengejar mangsa. Sesampainya di desa, suasana yang tadinya kacau mulai sedikit lebih teratur, namun kedatangan Yuan seketika mengubah atmosfer. Derap kaki kuda hitamnya yang besar dan suara dentingan zirahnya menciptakan aura dominasi yang menyesakkan. Saat Yuan berjalan melewati tenda-tenda darurat, rakyat yang tadinya berbisik-bisik langsung bungkam. Mereka menundukkan kepala sedalam mungkin, tidak berani menatap wajah sang Jenderal yang terkenal tanpa ampun itu. Bahkan anak-anak kecil yang tadi sempat bermain di







