Share

Perjanjian Di Atas Darah

Penulis: Nona Lee
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-22 08:37:34

Keheningan di dalam kamar itu terasa mencekik. Setetes darah merah segar merembes dari luka kecil di leher Shu Mei, mengotori kerah gaun pengantinnya yang bersih. Pedang di tangan Long Yuan tidak bergetar sedikit pun. Jenderal itu menatap Mei seolah-olah wanita itu adalah kotoran yang merusak kesucian lantai istananya.

"Katakan padaku," suara Yuan rendah, namun menggelegar seperti guntur di kejauhan. "Di mana Shu Lian? Dan mengapa mereka mengirim pelacur kecil sepertimu untuk menggantikannya?"

Mei memejamkan mata sesaat, merasakan dinginnya logam pedang yang menempel di nadinya. Ia tahu, satu kebohongan lagi akan membuat kepalanya terpisah dari tubuhnya. Dengan sisa keberanian yang ia miliki, Mei berlutut. Suara gesekan gaun suteranya di lantai terdengar sangat keras di ruangan yang sunyi itu.

"Namaku... Shu Mei," ucapnya dengan suara gemetar namun jelas. "Aku adalah putri dari mendiang Selir rendah Kekaisaran Shu. Kakakku, Putri Shu Lian, telah melarikan diri sehari sebelum keberangkatan karena ketakutannya padamu, Jenderal. Ayahandaku... Kaisar Shu, tidak memiliki pilihan selain mengirimku agar perjanjian damai ini tetap berjalan."

Tawa Long Yuan meledak, namun itu bukan tawa kegembiraan. Itu adalah tawa penuh penghinaan. Ia menarik pedangnya, lalu dengan kasar menendang meja di sampingnya hingga hancur berkeping-keping.

"Pilihan?" Yuan berteriak. "Kaisar tua itu berani menganggapku bodoh! Dia mengirim seorang anak selir tak bernama untuk bersanding di sisiku? Ini bukan perjanjian damai, ini adalah pernyataan perang! Aku akan memimpin pasukanku malam ini juga, menghancurkan gerbang Shu, dan memenggal kepala ayahmu di depan matamu sendiri!"

"Tunggu!" Mei bersujud hingga dahinya menyentuh lantai dingin. "Jika kau menyerang sekarang, ribuan rakyatmu akan ikut mati sia-sia demi harga diri yang terluka. Perang hanya membawa bencana. Jenderal, aku memang bukan Shu Lian. Aku tidak memiliki kecantikan yang dipuja dunia atau dukungan menteri. Tapi aku memiliki kesetiaan yang tidak akan pernah kau dapatkan dari seorang putri yang manja. Beri aku waktu untuk membuktikan bahwa aku lebih pantas menjadi permaisurimu daripada wanita yang melarikan diri itu!"

Yuan menatap punggung Mei yang gemetar dengan mata menyipit. "Waktu? Untuk apa? Untuk kau meracuniku saat aku tidur?"

"Taruhannya nyawaku," bisik Mei. "Jika dalam tiga puluh hari aku tidak terbukti berguna bagimu atau Kekaisaran Jin, kau boleh memenggal kepalaku sendiri di hadapan seluruh rakyatmu. Aku tidak akan melawan."

Kegaduhan itu segera mencapai telinga Kaisar Jin. Tak lama kemudian, Mei diseret ke aula utama istana, di mana Kaisar Jin yang sudah tua namun masih tampak perkasa duduk dengan wajah murka. Di sampingnya, Ibu Suri, seorang wanita dengan wajah anggun namun pucat, menatap Mei dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Pengkhianatan ini tidak bisa dimaafkan!" Kaisar Jin menggebrak takhta emasnya. "Bawa putri haram ini ke alun-alun. Kita akan menunjukkan pada Kekaisaran Shu apa yang terjadi pada mereka yang menipu Naga Jin!"

Seorang algojo melangkah maju, menghunus pedang besar yang berkilat. Mei hanya bisa menunduk, memasrahkan nasibnya pada langit. Namun, sebelum pedang itu terayun, sebuah suara lembut namun tegas menghentikannya.

"Tunggu, Yang Mulia," ucap Ibu Suri. Ia menyentuh lengan suaminya. "Wanita ini telah jujur saat maut berada di depannya. Shu Lian melarikan diri karena dia lemah, tetapi gadis ini... dia datang ke sini tahu bahwa dia akan dibunuh. Keberanian seperti itu jarang ditemukan pada seorang putri. Berikan dia satu kesempatan yang ia minta. Jika dia gagal, hukuman mati itu tetap menunggunya."

Kaisar Jin menatap putranya, Long Yuan, yang berdiri dengan tangan bersedekap dan wajah gelap. Yuan mendengus. "Satu bulan, Ayah. Setelah itu, jika dia terbukti sampah, aku sendiri yang akan mengakhiri hidupnya."

Malam itu, tidak ada upacara megah. Tidak ada pesta rakyat, tidak ada kembang api, dan tidak ada ucapan selamat. Di sebuah kuil kecil di dalam istana, hanya dengan disaksikan oleh beberapa pelayan dan prajurit yang menjaga ketat, Shu Mei dan Long Yuan melakukan sumpah pernikahan.

Bagi Mei, ini terasa seperti upacara pemakaman.

Setelah sumpah selesai, Yuan menyeret Mei kembali ke kamar tanpa sepatah kata pun. Begitu pintu tertutup, suasana berubah menjadi mencekam. Yuan melepaskan mahkota perangnya dan menatap Mei dengan kebencian yang murni.

"Jangan berpikir karena Ibuku membelamu, kau benar-benar istriku," desis Yuan. Ia menunjuk ke arah lantai di sudut ruangan yang dingin, jauh dari ranjang besarnya yang mewah. "Kau tidak sudi aku sentuh. Putri dari seorang pengkhianat tidak pantas tidur di atas ranjang yang sama denganku. Kau akan tidur di sana, di lantai."

Mei terdiam. Ia melihat lantai batu yang tidak beralas apa pun. Namun, ia tidak membantah. Ia berjalan perlahan menuju sudut ruangan dan duduk di sana dengan gaun pengantinnya yang berat.

Yuan melangkah mendekatinya, membungkuk hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa inci. Mei bisa merasakan napas Yuan yang panas dan tajam.

"Ingat satu hal, Shu Mei," Yuan menyebut namanya untuk pertama kali, namun dengan nada yang menjijikkan. "Satu bulan adalah waktu yang singkat. Jika kau tidak bisa membuktikan dirimu pantas, atau jika kau melakukan kesalahan sekecil apa pun... lehermu akan menjadi taruhannya. Dan jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu atau memberimu kasih sayang. Bagiku, kau hanyalah tawanan yang memakai gaun merah."

Yuan berbalik, mematikan lampu minyak, dan membiarkan kamar itu tenggelam dalam kegelapan. Mei meringkuk di sudut lantai yang dingin, memeluk dirinya sendiri. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh membasahi pipinya. Di luar, angin malam Jin melolong kencang, seolah menertawakan nasib sang pengantin pengganti yang kini memulai hidupnya sebagai tawanan di istana suaminya sendiri.

Mei memejamkan mata, memikirkan rencana. Ia harus bertahan hidup.

"Kau harus tahu Long Yuan.." bisiknya pelan. "Jika bunga yang tumbuh di pavilium buangan pun, memiliki duri yang bisa melindungi dirinya."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pengantin Pengganti Sang Jenderal   Luka Di Balik Zirah Hitam

    Keheningan malam di istana Jin terasa lebih berat dari biasanya. Pangeran Long Yuan berjalan dengan langkah yang masih tampak kokoh menuju kamar pribadinya, namun jika seseorang memperhatikan dengan sangat teliti, bahu kanannya sedikit turun dan langkahnya tidak seimbang. Di belakangnya, ia menyeret Shu Mei dengan cengkeraman yang tidak menyisakan ruang untuk melawan. Begitu pintu jati besar itu tertutup dan terkunci, Yuan melepaskan tangan Mei dengan sentakan kasar. Ia segera membuka jubah beludru merahnya yang telah koyak dan melemparkannya ke lantai begitu saja. Aroma besi dari darah kering segera menyerbak di ruangan itu. "Siapkan peralatanmu. Cepat!" perintah Yuan dengan suara parau yang menahan nyeri. Mei tidak membantah. Ia segera mengambil kotak herbal yang selalu ia bawa. Saat ia berbalik, ia melihat Yuan sudah menanggalkan zirah besinya. Di balik pakaian dalam sutra putih yang kini berubah menjadi merah pekat, terlihat luka robek yang cukup panjang di bahu hingga ke pungg

  • Pengantin Pengganti Sang Jenderal   Melindungi Tahanan Berharga

    Rombongan besar Kekaisaran Jin baru saja meninggalkan gerbang perbatasan Shu, melintasi lembah sempit yang diapit oleh tebing-tebing tinggi yang curam. Di dalam kereta, suasana kembali membeku setelah perdebatan kecil Mei dan Yuan. Ia duduk dengan mata terpejam, namun tangannya tidak pernah lepas dari hulu pedangnya. Ketajaman instingnya sebagai seorang jenderal perang mulai menangkap sesuatu yang tidak beres di udara,keheningan yang terlalu sunyi, bahkan untuk hutan sejauh ini."Jika kau tidak mau mengatakannya, maka aku-"Tiba-tiba, suara siulan anak panah membelah kesunyian.Jleb! Jleb!Dua orang prajurit kavaleri yang mengawal kereta jatuh tersungkur dengan leher tertembus panah. Detik berikutnya, jeritan perang bergema dari atas tebing. Sekelompok pembunuh bayaran berpakaian hitam, yang diduga merupakan sisa-sisa pemberontak yang membenci aliansi Jin-Shu, melompat turun dengan senjata terhunus."Serangan!" teriak komandan pasukan Jin.Di dalam kereta, Shu Mei tersentak, namun seb

  • Pengantin Pengganti Sang Jenderal   Pelukan Di Ambang Kehancuran

    Aula perjamuan Kekaisaran Shu yang biasanya dipenuhi dengan musik kecapi yang mendayu, kini terasa seperti medan perang yang sunyi. Aroma dupa yang mahal berbaur dengan ketegangan yang menyesakkan paru-paru. Di meja utama, Pangeran Long Yuan duduk dengan gagah, tangannya yang kekar sesekali memutar cawan emas berisi arak, sementara matanya yang tajam mengawasi setiap gerak-gerik pelayan Shu seolah-olah mereka adalah mata-mata yang siap menyerang.Di sampingnya, Shu Mei duduk dengan punggung tegak, meskipun hatinya terasa remuk. Sesuai tugasnya, ia harus mencicipi setiap hidangan yang disajikan sebelum Yuan menyentuhnya. Namun, di tengah proses itu, Kaisar Shu yang duduk di sisi lain meja membungkuk sedikit, berpura-pura hendak menawarkan hidangan tambahan, namun sebenarnya ia membisikkan kata-kata yang tajam ke telinga Mei. Kata-kata terus ia ucapkan setelah pembicaraan singkat mereka tadi, jika ia harus bersikap manis."Bersikaplah manis, Mei," desis Kaisar Shu, suaranya hampir tidak

  • Pengantin Pengganti Sang Jenderal   Pengadilan Di Tanah Kelahiran

    Gerbang besar Kekaisaran Shu terbuka dengan derit yang memilukan, seolah-olah kayu tua itu pun merasakan beban kengerian yang dibawa oleh kavaleri Jin. Di sepanjang jalan menuju istana, rakyat Shu berdiri dengan kepala menunduk, tidak berani menatap panji Naga Hitam yang berkibar pongah. Di dalam kereta, Shu Mei merasakan jemarinya mendingin. Setiap jengkal tanah yang mereka lalui adalah ingatan akan pengabaian yang ia terima selama belasan tahun. Saat pintu kereta dibuka di depan aula utama, pemandangan yang menyambut mereka adalah kemewahan yang dipaksakan. Kaisar Shu berdiri di puncak tangga, dikelilingi oleh para menterinya yang berpakaian serba sutra, namun wajah mereka sepucat kain kafan. Long Yuan melangkah turun terlebih dahulu. Denting zirahnya yang berat menghantam lantai batu istana, menciptakan gema yang mengintimidasi. Ia tidak menunggu protokol istana, ia justru meraih tangan Mei dan menariknya dengan kasar namun posesif untuk berdiri di sampingnya. "Selamat datang, M

  • Pengantin Pengganti Sang Jenderal   Putri Yang Tidak Berharga

    "Siapkan semua yang menantuki butuhkan! Jangan ada yang terlewat. Buat putriku itu secantik mungkin."Pagi itu, paviliun utama Kekaisaran Jin disibukkan oleh para pelayan yang berlalu-lalang membawa nampan berisi perhiasan giok dan kain sutra bermutu tinggi. Atas perintah khusus dari Ibu Suri, Shu Mei tidak diperbolehkan mengenakan pakaian linen sederhananya. Hari ini adalah hari keberangkatan mereka menuju Kekaisaran Shu, dan Ibu Suri bersikeras bahwa Mei harus tampil dengan martabat seorang Permaisuri Jin, terlepas dari status aslinya.Ibu Suri sendiri yang mengawasi riasan wajah Mei. Ia memulas bibir Mei dengan pemerah dari sari bunga mawar dan menyapukan bedak tipis yang membuat kulit pucat Mei tampak bersinar seperti porselen. Rambut hitam panjang Mei yang biasanya dibiarkan jatuh lurus, kini disanggul rumit dengan tusuk konde emas berbentuk sayap phoenix."Kau sangat cantik, Mei," bisik Ibu Suri lembut, menatap pantulan Mei di cermin. "Tunjukkan pada ayahmu bahwa kau bukan lagi

  • Pengantin Pengganti Sang Jenderal   Surat Dari Naga Hitam

    Langit di atas ibukota Kekaisaran Shu tampak muram, diselimuti kabut tipis yang seolah membawa firasat buruk. Di dalam istana yang megah namun rapuh, Kaisar Shu duduk di singgasananya yang berhias ukiran emas. Di depannya, tersaji berbagai hidangan mewah dan arak terbaik, namun selera makannya telah lenyap sejak seorang utusan dari Kekaisaran Jin tiba beberapa jam yang lalu.Tangan sang Kaisar gemetar saat ia kembali membaca gulungan surat yang tergeletak di atas meja gioknya. Surat itu memiliki segel lilin merah darah dengan lambang Naga Hitam. Simbol pribadi Long Yuan. Kata-kata yang tertulis di dalamnya tidaklah panjang, namun setiap goresan tintanya terasa seperti mata pedang yang siap menyayat lehernya."Kami telah mengetahui kebusukan di balik kerudung merah itu. Pengantin yang kau kirim bukanlah Shu Lian. Minggu depan, aku akan membawa putri selirmu kembali ke hadapanmu untuk menuntut penjelasan yang setimpal."Kaisar Shu meremas pinggiran jubah suteranya hingga kuku-kukunya me

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status