LOGINMatahari pagi di Kekaisaran Jin tidak sehangat di Shu. Udara pegunungan yang tajam menusuk kulit saat Shu Mei melangkah keluar dari paviliun utama. Sesuai perintah Long Yuan, ia dipindahkan. Bukan ke kamar selir, melainkan ke sebuah paviliun terbengkalai di ujung taman istana yang nyaris runtuh. Para pelayan istana menatapnya dengan pandangan merendahkan, berbisik tentang Putri Buangan yang tidak diinginkan oleh suaminya sendiri.
Namun, saat Mei menginjakkan kaki di paviliun tua itu, matanya justru berbinar. Bangunan itu memang kusam, tetapi lokasinya berbatasan langsung dengan hutan kecil dan taman yang ditumbuhi semak liar. Bagi orang awam, itu hanyalah rumput pengganggu. Namun bagi Mei, itu adalah harta karun. "Letakkan barang-berangku di sana," perintah Mei lembut kepada dua pelayan yang membawakan peti kayunya. Selama beberapa hari berikutnya, Mei tidak berperilaku seperti seorang permaisuri. Ia menanggalkan gaun suteranya, menggantinya dengan pakaian linen sederhana, dan mulai menyingsingkan lengan baju. Ia ikut menyapu halaman, mencangkul tanah, dan memilah tanaman liar bersama para pelayan rendahan. Di bawah sinar matahari, keringat membasahi dahi dan lehernya yang jenjang, namun ia tampak lebih hidup daripada saat berada di istana Shu. Di kejauhan, di atas balkon istana yang tinggi, dua sosok memperhatikan. "Lihatlah istrimu, Yuan," ucap Ibu Suri dengan senyum tipis. "Dia tidak mengeluh. Dia justru tampak menikmati pengasingannya." Long Yuan mendengus kasar, tangannya mencengkeram pagar batu dengan kencang. Matanya yang tajam mengamati bagaimana Mei tertawa kecil bersama seorang pelayan tua saat mereka menemukan akar tanaman tertentu. "Dia hanya berpura-pura, Ibu. Dia mencoba menarik simpati dengan bertingkah rendah hati. Sepertinya aku harus memindahkan dia ke penjara bawah tanah agar dia tahu di mana tempat yang pantas bagi seorang penipu." Ibu Suri tertawa pelan, sebuah suara yang terdengar sedikit parau. "Kau ini bicara apa, Yuan? Dia istrimu. Biarkan saja, kita lihat bagaimana cara uniknya membuktikan diri." Long Yuan memutar bola matanya, merasa muak dengan obrolan yang menurutnya membuang-buang waktu. "Lakukan sesuka Ibu. Aku punya urusan di barak militer." Namun, baru saja Yuan berbalik untuk pergi, sebuah suara dentuman keras terdengar. Ia menoleh cepat dan jantungnya seolah berhenti berdetak. Ibu Suri telah ambruk di lantai balkon. Wajahnya pucat pasi, napasnya tersengal-sengal dengan bibir yang mulai membiru. "Ibunda!" Yuan menerjang maju, menangkap tubuh ibunya sebelum menghantam lantai. "Panggil tabib! Sekarang!" Suasana di kamar Ibu Suri mencekam. Tabib Utama istana berkali-kali menyeka keringat di dahinya. Setelah memeriksa denyut nadi dan lidah sang Ibu Suri, ia menggeleng lemah. "Ini... ini adalah penyakit dingin Mengalir. Cairan di dalam jantungnya membeku. Aku bisa memberinya pemanas, tapi aku takut jantungnya tidak akan kuat bertahan lebih dari dua malam." Yuan berdiri seperti patung, tangannya terkepal kuat hingga urat-uratnya menonjol. Kemarahan dan ketakutan bercampur di matanya. Di ambang pintu, Shu Mei berdiri di antara kerumunan pelayan. Ia memperhatikan napas Ibu Suri yang pendek-pendek dan bintik ungu kecil di bawah kukunya. Itu bukan penyakit 'Dingin Mengalir'. Itu adalah penyumbatan energi akibat tanaman Aconitum yang salah diolah menjadi teh. Racun yang bekerja perlahan namun mematikan jika salah didiagnosa. "Itu bukan penyakit dingin," suara Mei memecah keheningan, tenang namun tegas. Yuan menoleh, tatapannya membunuh. "Tutup mulutmu, Putri Shu! Jangan berani kau mencampuri urusan ini!" Mei melangkah maju, tidak gentar sedikit pun. "Tabib Utama, jika anda memberikan obat pemanas, suhu tubuhnya akan naik terlalu cepat dan pembuluh darahnya akan pecah. Beliau tidak sakit, beliau teracuni secara tidak sengaja oleh herbal penenang yang sering ia minum. Aku bisa mengobatinya." Yuan bergerak secepat kilat. Dalam sekejap, tangannya sudah mencengkeram leher Mei, mengangkat tubuh mungil itu hingga kakinya berjinjit. "Kau ingin meracuni ibuku juga? Setelah kau menipu pernikahan ini, sekarang kau ingin menghabisi nyawa satu-satunya orang yang membelamu?" Mei tercekik, namun matanya tetap menatap lurus ke dalam mata Yuan. "Bunuh aku... jika aku gagal. Tapi biarkan aku mencoba sekarang. Atau kau akan kehilangan dia selamanya." "Yuan... lepaskan dia..." sebuah suara lemah terdengar dari ranjang. Ibu Suri membuka matanya sedikit, menatap Mei dengan kepercayaan yang aneh. "Beri... beri dia kesempatan." Yuan melepaskan cengkeramannya. Mei jatuh terduduk, terbatuk-batuk mencari udara. Yuan berdiri di sampingnya dengan pedang terhunus. "Lakukan. Tapi ingat, jika setetes saja keringat ibuku berubah jadi dingin karena ulahmu, kepalamu akan jatuh sebelum kau sempat meminta ampun." Mei tidak membuang waktu. Ia berlari ke paviliunnya, mengambil kotak kayu berisi jarum akupunktur dan botol-botol kecil berisi ekstrak herbal yang ia racik sendiri dari taman. Sepanjang waktu, Yuan mengikuti di belakangnya seperti bayangan maut. Ia mengawasi setiap gerak tangan Mei saat wanita itu menumbuk akar dan mencampur cairan. Kembali ke kamar, Mei mulai menusukkan jarum perak ke titik-titik nadi di lengan dan dada Ibu Suri. Tangannya sangat stabil, kontras dengan kegelisahan orang-orang di sekitarnya. Setelah itu, ia meminumkan ramuan pahit yang berbau tajam ke mulut Ibu Suri. Dua hari berlalu. Mei tidak tidur, ia terus berada di samping ranjang Ibu Suri, menyeka keringatnya dan memantau nadinya. Yuan pun tidak beranjak, ia duduk di kursi kayu dengan pedang di pangkuannya, menatap Mei dengan kecurigaan yang belum pudar. Pada fajar hari ketiga, keajaiban terjadi. Warna kulit Ibu Suri kembali normal. Ia duduk di ranjangnya, meminta minum, dan merasa tubuhnya jauh lebih ringan dari sebelumnya. Tabib Utama bersujud, menyebutnya sebagai mukjizat. Ibu Suri menggenggam tangan Mei. "Terima kasih, Shu Mei. Kau telah menyelamatkan nyawaku." Mei hanya tersenyum tipis dan membungkuk hormat. "Ini adalah kewajibanku, Ibu Suri." Sore harinya, Mei kembali ke paviliunnya untuk merapikan peralatan medisnya. Ia sedang mengumpulkan sisa-sisa akar herbal yang berantakan ketika ia menyadari langkah kaki berat di belakangnya. Ia tahu itu siapa. Long Yuan berdiri di sana, mengawasinya dalam diam. Gengsinya terlalu tinggi untuk mengucapkan kata terima kasih, namun ia tidak bisa memungkiri kenyataan bahwa wanita yang ia benci ini baru saja menyelamatkan jantung kekaisarannya. Yuan maju selangkah, menarik tangan kanan Mei. Mei tersentak, mengira akan disakiti lagi. Namun, Yuan hanya menatap jari telunjuk Mei yang terluka, teriris pisau saat menyiapkan obat tadi malam. Yuan mengeluarkan selekbar kain, lalu membalutnya ke jari Mei dengan gerakan yang kasar namun anehnya terasa hati-hati. Mei tertegun. Ini adalah sentuhan pertama Yuan yang tidak melibatkan kekerasan. "Jangan berpikir ini mengubah segalanya," desis Yuan, suaranya tetap dingin meski tangannya masih memegang jari Mei. "Kau tetap seorang penipu, tapi setidaknya penipu yang berguna." Ia melepaskan tangan Mei dengan sentakan kecil, lalu menatap matanya dengan intensitas yang membuat napas Mei tertahan. "Jangan berpikir kau bisa pergi dari sini hidup-hidup, Mei. Sampai kapan pun aku tidak bisa mempercayaimu. Kau tetap putri dari seorang pengkhianat, dan kau akan tetap berada di bawah pengawasanku hingga napas terakhirmu."Keheningan malam di istana Jin terasa lebih berat dari biasanya. Pangeran Long Yuan berjalan dengan langkah yang masih tampak kokoh menuju kamar pribadinya, namun jika seseorang memperhatikan dengan sangat teliti, bahu kanannya sedikit turun dan langkahnya tidak seimbang. Di belakangnya, ia menyeret Shu Mei dengan cengkeraman yang tidak menyisakan ruang untuk melawan. Begitu pintu jati besar itu tertutup dan terkunci, Yuan melepaskan tangan Mei dengan sentakan kasar. Ia segera membuka jubah beludru merahnya yang telah koyak dan melemparkannya ke lantai begitu saja. Aroma besi dari darah kering segera menyerbak di ruangan itu. "Siapkan peralatanmu. Cepat!" perintah Yuan dengan suara parau yang menahan nyeri. Mei tidak membantah. Ia segera mengambil kotak herbal yang selalu ia bawa. Saat ia berbalik, ia melihat Yuan sudah menanggalkan zirah besinya. Di balik pakaian dalam sutra putih yang kini berubah menjadi merah pekat, terlihat luka robek yang cukup panjang di bahu hingga ke pungg
Rombongan besar Kekaisaran Jin baru saja meninggalkan gerbang perbatasan Shu, melintasi lembah sempit yang diapit oleh tebing-tebing tinggi yang curam. Di dalam kereta, suasana kembali membeku setelah perdebatan kecil Mei dan Yuan. Ia duduk dengan mata terpejam, namun tangannya tidak pernah lepas dari hulu pedangnya. Ketajaman instingnya sebagai seorang jenderal perang mulai menangkap sesuatu yang tidak beres di udara,keheningan yang terlalu sunyi, bahkan untuk hutan sejauh ini."Jika kau tidak mau mengatakannya, maka aku-"Tiba-tiba, suara siulan anak panah membelah kesunyian.Jleb! Jleb!Dua orang prajurit kavaleri yang mengawal kereta jatuh tersungkur dengan leher tertembus panah. Detik berikutnya, jeritan perang bergema dari atas tebing. Sekelompok pembunuh bayaran berpakaian hitam, yang diduga merupakan sisa-sisa pemberontak yang membenci aliansi Jin-Shu, melompat turun dengan senjata terhunus."Serangan!" teriak komandan pasukan Jin.Di dalam kereta, Shu Mei tersentak, namun seb
Aula perjamuan Kekaisaran Shu yang biasanya dipenuhi dengan musik kecapi yang mendayu, kini terasa seperti medan perang yang sunyi. Aroma dupa yang mahal berbaur dengan ketegangan yang menyesakkan paru-paru. Di meja utama, Pangeran Long Yuan duduk dengan gagah, tangannya yang kekar sesekali memutar cawan emas berisi arak, sementara matanya yang tajam mengawasi setiap gerak-gerik pelayan Shu seolah-olah mereka adalah mata-mata yang siap menyerang.Di sampingnya, Shu Mei duduk dengan punggung tegak, meskipun hatinya terasa remuk. Sesuai tugasnya, ia harus mencicipi setiap hidangan yang disajikan sebelum Yuan menyentuhnya. Namun, di tengah proses itu, Kaisar Shu yang duduk di sisi lain meja membungkuk sedikit, berpura-pura hendak menawarkan hidangan tambahan, namun sebenarnya ia membisikkan kata-kata yang tajam ke telinga Mei. Kata-kata terus ia ucapkan setelah pembicaraan singkat mereka tadi, jika ia harus bersikap manis."Bersikaplah manis, Mei," desis Kaisar Shu, suaranya hampir tidak
Gerbang besar Kekaisaran Shu terbuka dengan derit yang memilukan, seolah-olah kayu tua itu pun merasakan beban kengerian yang dibawa oleh kavaleri Jin. Di sepanjang jalan menuju istana, rakyat Shu berdiri dengan kepala menunduk, tidak berani menatap panji Naga Hitam yang berkibar pongah. Di dalam kereta, Shu Mei merasakan jemarinya mendingin. Setiap jengkal tanah yang mereka lalui adalah ingatan akan pengabaian yang ia terima selama belasan tahun. Saat pintu kereta dibuka di depan aula utama, pemandangan yang menyambut mereka adalah kemewahan yang dipaksakan. Kaisar Shu berdiri di puncak tangga, dikelilingi oleh para menterinya yang berpakaian serba sutra, namun wajah mereka sepucat kain kafan. Long Yuan melangkah turun terlebih dahulu. Denting zirahnya yang berat menghantam lantai batu istana, menciptakan gema yang mengintimidasi. Ia tidak menunggu protokol istana, ia justru meraih tangan Mei dan menariknya dengan kasar namun posesif untuk berdiri di sampingnya. "Selamat datang, M
"Siapkan semua yang menantuki butuhkan! Jangan ada yang terlewat. Buat putriku itu secantik mungkin."Pagi itu, paviliun utama Kekaisaran Jin disibukkan oleh para pelayan yang berlalu-lalang membawa nampan berisi perhiasan giok dan kain sutra bermutu tinggi. Atas perintah khusus dari Ibu Suri, Shu Mei tidak diperbolehkan mengenakan pakaian linen sederhananya. Hari ini adalah hari keberangkatan mereka menuju Kekaisaran Shu, dan Ibu Suri bersikeras bahwa Mei harus tampil dengan martabat seorang Permaisuri Jin, terlepas dari status aslinya.Ibu Suri sendiri yang mengawasi riasan wajah Mei. Ia memulas bibir Mei dengan pemerah dari sari bunga mawar dan menyapukan bedak tipis yang membuat kulit pucat Mei tampak bersinar seperti porselen. Rambut hitam panjang Mei yang biasanya dibiarkan jatuh lurus, kini disanggul rumit dengan tusuk konde emas berbentuk sayap phoenix."Kau sangat cantik, Mei," bisik Ibu Suri lembut, menatap pantulan Mei di cermin. "Tunjukkan pada ayahmu bahwa kau bukan lagi
Langit di atas ibukota Kekaisaran Shu tampak muram, diselimuti kabut tipis yang seolah membawa firasat buruk. Di dalam istana yang megah namun rapuh, Kaisar Shu duduk di singgasananya yang berhias ukiran emas. Di depannya, tersaji berbagai hidangan mewah dan arak terbaik, namun selera makannya telah lenyap sejak seorang utusan dari Kekaisaran Jin tiba beberapa jam yang lalu.Tangan sang Kaisar gemetar saat ia kembali membaca gulungan surat yang tergeletak di atas meja gioknya. Surat itu memiliki segel lilin merah darah dengan lambang Naga Hitam. Simbol pribadi Long Yuan. Kata-kata yang tertulis di dalamnya tidaklah panjang, namun setiap goresan tintanya terasa seperti mata pedang yang siap menyayat lehernya."Kami telah mengetahui kebusukan di balik kerudung merah itu. Pengantin yang kau kirim bukanlah Shu Lian. Minggu depan, aku akan membawa putri selirmu kembali ke hadapanmu untuk menuntut penjelasan yang setimpal."Kaisar Shu meremas pinggiran jubah suteranya hingga kuku-kukunya me







