Share

Kemampuan Rahasia Shu Mei

Author: Nona Lee
last update Last Updated: 2025-12-22 08:48:15

Matahari pagi di Kekaisaran Jin tidak sehangat di Shu. Udara pegunungan yang tajam menusuk kulit saat Shu Mei melangkah keluar dari paviliun utama. Sesuai perintah Long Yuan, ia dipindahkan. Bukan ke kamar selir, melainkan ke sebuah paviliun terbengkalai di ujung taman istana yang nyaris runtuh. Para pelayan istana menatapnya dengan pandangan merendahkan, berbisik tentang Putri Buangan yang tidak diinginkan oleh suaminya sendiri.

Namun, saat Mei menginjakkan kaki di paviliun tua itu, matanya justru berbinar. Bangunan itu memang kusam, tetapi lokasinya berbatasan langsung dengan hutan kecil dan taman yang ditumbuhi semak liar. Bagi orang awam, itu hanyalah rumput pengganggu. Namun bagi Mei, itu adalah harta karun.

"Letakkan barang-berangku di sana," perintah Mei lembut kepada dua pelayan yang membawakan peti kayunya.

Selama beberapa hari berikutnya, Mei tidak berperilaku seperti seorang permaisuri. Ia menanggalkan gaun suteranya, menggantinya dengan pakaian linen sederhana, dan mulai menyingsingkan lengan baju. Ia ikut menyapu halaman, mencangkul tanah, dan memilah tanaman liar bersama para pelayan rendahan. Di bawah sinar matahari, keringat membasahi dahi dan lehernya yang jenjang, namun ia tampak lebih hidup daripada saat berada di istana Shu.

Di kejauhan, di atas balkon istana yang tinggi, dua sosok memperhatikan.

"Lihatlah istrimu, Yuan," ucap permaisuri dengan senyum tipis. "Dia tidak mengeluh. Dia justru tampak menikmati pengasingannya."

Long Yuan mendengus kasar, tangannya mencengkeram pagar batu dengan kencang. Matanya yang tajam mengamati bagaimana Mei tertawa kecil bersama seorang pelayan tua saat mereka menemukan akar tanaman tertentu. "Dia hanya berpura-pura, Ibunda. Dia mencoba menarik simpati dengan bertingkah rendah hati. Sepertinya aku harus memindahkan dia ke penjara bawah tanah agar dia tahu di mana tempat yang pantas bagi seorang penipu."

Permaisuri tertawa pelan, sebuah suara yang terdengar sedikit parau. "Kau ini bicara apa, Yuan? Dia istrimu. Biarkan saja, kita lihat bagaimana cara uniknya membuktikan diri."

Long Yuan memutar bola matanya, merasa muak dengan obrolan yang menurutnya membuang-buang waktu. "Lakukan sesuka Ibu. Aku punya urusan di barak militer."

Namun, baru saja Yuan berbalik untuk pergi, sebuah suara dentuman keras terdengar. Ia menoleh cepat dan jantungnya seolah berhenti berdetak. Permaisuri telah ambruk di lantai balkon. Wajahnya pucat pasi, napasnya tersengal-sengal dengan bibir yang mulai membiru.

"Ibunda!" Yuan menerjang maju, menangkap tubuh ibunya sebelum menghantam lantai. "Panggil tabib! Sekarang!"

Suasana di kamar Permaisuri mencekam. Tabib Utama istana berkali-kali menyeka keringat di dahinya. Setelah memeriksa denyut nadi dan lidah sang Permaisuri ia menggeleng lemah. "Ini... ini adalah penyakit dingin Mengalir. Cairan di dalam jantungnya membeku. Aku bisa memberinya pemanas, tapi aku takut jantungnya tidak akan kuat bertahan lebih dari dua malam."

Yuan berdiri seperti patung, tangannya terkepal kuat hingga urat-uratnya menonjol. Kemarahan dan ketakutan bercampur di matanya.

Di ambang pintu, Shu Mei berdiri di antara kerumunan pelayan. Ia memperhatikan napas Permaisuri yang pendek-pendek dan bintik ungu kecil di bawah kukunya. Itu bukan penyakit 'Dingin Mengalir'. Itu adalah penyumbatan energi akibat tanaman Aconitum yang salah diolah menjadi teh. Racun yang bekerja perlahan namun mematikan jika salah didiagnosa.

"Itu bukan penyakit dingin," suara Mei memecah keheningan, tenang namun tegas.

Yuan menoleh, tatapannya membunuh. "Tutup mulutmu, Putri Shu! Jangan berani kau mencampuri urusan ini!"

Mei melangkah maju, tidak gentar sedikit pun. "Tabib Utama, jika anda memberikan obat pemanas, suhu tubuhnya akan naik terlalu cepat dan pembuluh darahnya akan pecah. Beliau tidak sakit, beliau teracuni secara tidak sengaja oleh herbal penenang yang sering ia minum. Aku bisa mengobatinya."

Yuan bergerak secepat kilat. Dalam sekejap, tangannya sudah mencengkeram leher Mei, mengangkat tubuh mungil itu hingga kakinya berjinjit. "Kau ingin meracuni ibuku juga? Setelah kau menipu pernikahan ini, sekarang kau ingin menghabisi nyawa satu-satunya orang yang membelamu?"

Mei tercekik, namun matanya tetap menatap lurus ke dalam mata Yuan. "Bunuh aku... jika aku gagal. Tapi biarkan aku mencoba sekarang. Atau kau akan kehilangan dia selamanya."

"Yuan... lepaskan dia..." sebuah suara lemah terdengar dari ranjang. Permaisuri membuka matanya sedikit, menatap Mei dengan kepercayaan yang aneh. "Beri... beri dia kesempatan."

Yuan melepaskan cengkeramannya. Mei jatuh terduduk, terbatuk-batuk mencari udara. Yuan berdiri di sampingnya dengan pedang terhunus. "Lakukan. Tapi ingat, jika setetes saja keringat ibuku berubah jadi dingin karena ulahmu, kepalamu akan jatuh sebelum kau sempat meminta ampun."

Mei tidak membuang waktu. Ia berlari ke paviliunnya, mengambil kotak kayu berisi jarum akupunktur dan botol-botol kecil berisi ekstrak herbal yang ia racik sendiri dari taman. Sepanjang waktu, Yuan mengikuti di belakangnya seperti bayangan maut. Ia mengawasi setiap gerak tangan Mei saat wanita itu menumbuk akar dan mencampur cairan.

Kembali ke kamar, Mei mulai menusukkan jarum perak ke titik-titik nadi di lengan dan dada Permaisuri. Tangannya sangat stabil, kontras dengan kegelisahan orang-orang di sekitarnya. Setelah itu, ia meminumkan ramuan pahit yang berbau tajam ke mulut Permaisuri.

Dua hari berlalu. Mei tidak tidur, ia terus berada di samping ranjang Permaisuri, menyeka keringatnya dan memantau nadinya. Yuan pun tidak beranjak, ia duduk di kursi kayu dengan pedang di pangkuannya, menatap Mei dengan kecurigaan yang belum pudar.

Pada fajar hari ketiga, keajaiban terjadi. Warna kulit Permaisuri kembali normal. Ia duduk di ranjangnya, meminta minum, dan merasa tubuhnya jauh lebih ringan dari sebelumnya. Tabib Utama bersujud, menyebutnya sebagai mukjizat.

Permaisuri menggenggam tangan Mei. "Terima kasih, Shu Mei. Kau telah menyelamatkan nyawaku."

Mei hanya tersenyum tipis dan membungkuk hormat. "Ini adalah kewajibanku, Ibunda Permaisuri."

Sore harinya, Mei kembali ke paviliunnya untuk merapikan peralatan medisnya. Ia sedang mengumpulkan sisa-sisa akar herbal yang berantakan ketika ia menyadari langkah kaki berat di belakangnya. Ia tahu itu siapa.

Long Yuan berdiri di sana, mengawasinya dalam diam. Gengsinya terlalu tinggi untuk mengucapkan kata terima kasih, namun ia tidak bisa memungkiri kenyataan bahwa wanita yang ia benci ini baru saja menyelamatkan jantung kekaisarannya.

Yuan maju selangkah, menarik tangan kanan Mei. Mei tersentak, mengira akan disakiti lagi. Namun, Yuan hanya menatap jari telunjuk Mei yang terluka, teriris pisau saat menyiapkan obat tadi malam. Yuan mengeluarkan selekbar kain, lalu membalutnya ke jari Mei dengan gerakan yang kasar namun anehnya terasa hati-hati.

Mei tertegun. Ini adalah sentuhan pertama Yuan yang tidak melibatkan kekerasan.

"Jangan berpikir ini mengubah segalanya," desis Yuan, suaranya tetap dingin meski tangannya masih memegang jari Mei. "Kau tetap seorang penipu, tapi setidaknya penipu yang berguna."

Ia melepaskan tangan Mei dengan sentakan kecil, lalu menatap matanya dengan intensitas yang membuat napas Mei tertahan.

"Jangan berpikir kau bisa pergi dari sini hidup-hidup, Mei. Sampai kapan pun aku tidak bisa mempercayaimu. Kau tetap putri dari seorang pengkhianat, dan kau akan tetap berada di bawah pengawasanku hingga napas terakhirmu."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pengantin Pengganti Sang Jenderal   Topeng Yang Retak

    Hening malam itu terasa begitu berat, seolah udara di sekitar taman Paviliun Kediaman Pelayan telah membeku. Shu Mei berdiri dengan napas tersengal, jemarinya mencengkeram erat kantong hitam berisi daun Labah Merah yang baru saja ia gali dari tanah. Di hadapannya, Lin yang selama ini menjadi sandaran hidupnya, berdiri dengan ketenangan yang mengerikan. "Kenapa?" suara Mei bergetar, pecah oleh rasa sakit yang tak terlukiskan. "Selama ini aku menganggapmu lebih dari sekadar pelayan. Kau adalah ibuku! Kau yang memegang tanganku saat aku menangis karena perlakuan Lian di Shu. Kau juga yang berkata bahwa aku beruntung mendapatkan pria seperti Yuan... Kau bilang kau bahagia melihatku dicintai olehnya! Kenapa kau tega meracuninya?!" Lin tidak menunduk. Ia tidak bersimpuh memohon ampun seperti biasanya. Wanita tua itu justru tersenyum tipis, sebuah senyuman dingin yang mengejek setiap tetes air mata Mei. "Bahagia?" Lin tertawa rendah, suara yang biasanya terdengar lembut itu kini terdeng

  • Pengantin Pengganti Sang Jenderal   Pengkhianat

    Udara malam di sekitar barak elit Jin terasa semakin pekat oleh aroma kematian dan kecurigaan. Di tengah kekacauan itu, suara Long Yuan menggelegar, memberikan instruksi tegas untuk mengunci seluruh gerbang istana. Para prajurit berlarian, obor-obor menari liar menciptakan bayangan raksasa di dinding batu. Di bawah cahaya yang berkedip itu, Shu Mei berdiri mematung, namun matanya tidak tertuju pada suaminya yang sedang murka. Fokusnya terkunci pada sebuah jejak samar di tanah yang sedikit becek, tak jauh dari genangan darah hitam salah satu jenazah. Jejak kaki itu kecil, terlalu ramping untuk ukuran seorang prajurit pria. Dengan jantung yang berdegup kencang, Mei memutuskan untuk melangkah mundur secara perlahan, menjauh dari kerumunan tanpa menarik perhatian Yuan yang sedang sibuk mengintimidasi para perwira. Ia mengikuti jejak itu dengan langkah seringan bulu. Jejak tersebut mengarah menjauhi keramaian barak, menyusup ke jalan setapak yang ditumbuhi semak-semak hias menuju area pa

  • Pengantin Pengganti Sang Jenderal   Jejak Hitam Sang Pengkhianat

    Suasana di dalam kamar yang tadinya dipenuhi kehangatan gairah kini berubah menjadi sedingin makam. Long Yuan mencengkeram hulu pedangnya hingga buku jarinya memutih, sementara Shu Mei sudah bergerak cepat menyambar kotak medis besarnya. Kabar tentang kematian mendadak para prajurit elit adalah serangan langsung ke jantung pertahanan Naga Hitam. "Yuan... biarkan aku ikut," tegas Mei, suaranya tidak lagi menunjukkan keraguan. "Tidak! Kau tetap di sini, Mei! Ini adalah pembunuhan, dan aku tidak tahu siapa yang masih bersembunyi di balik bayang-bayang!" bentak Yuan sembari mengenakan jubah hitamnya dengan gerakan kasar. Namun, Mei tidak mendengarkan. Ia justru melangkah lebih dulu, melewati Yuan dan prajurit yang masih bersimpuh di lantai. Jubah tidurnya yang tipis kini ia lapisi dengan jubah luar yang tebal, dan langkah kakinya terdengar mantap di koridor kayu. "Mei! Aku bilang jangan ikut campur!" raung Yuan, berusaha mengejar istrinya. "Wanita itu, keras kepala sekali..." Mei ber

  • Pengantin Pengganti Sang Jenderal   Tetap Diam!

    Kemarahan Long Yuan meledak seketika setelah mendengar penjelasan Shu Mei. Sang Naga Hitam tidak terbiasa menjadi mangsa, apalagi di dalam sarangnya sendiri. Dengan wajah yang menggelap dan mata yang berkilat haus darah, Yuan menyambar jubahnya yang tergeletak di lantai, berniat untuk langsung menuju barak militer meski malam sudah larut. "Aku akan memenggal setiap kepala yang menyentuh zirahku hari ini!" geram Yuan, suaranya parau oleh amarah. "Siapa pun dia, pengkhianat itu tidak akan melihat matahari terbit besok pagi!" Namun, baru saja kakinya melangkah satu tindak menuju pintu, sebuah tangan mungil namun kuat mencengkeram lengannya. "Kau tidak akan pergi ke mana pun, Yuan!" pekik Mei. Ia menarik lengan suaminya dengan seluruh tenaga yang ia punya, memaksanya untuk berhenti. "Lepaskan, Mei! Ini masalah kedaulatan militer. Jika pengkhianat itu melarikan diri—" "Jika kau melangkah keluar dari pintu ini dan memacu kudamu, racun itu akan mengalir lurus ke jantungmu karena detak j

  • Pengantin Pengganti Sang Jenderal   Racun Di Balik Gairah

    Suasana di dalam kamar utama Paviliun Naga terasa begitu kontras dengan dinginnya angin dari luar. Hanya ada suara deru napas yang saling berburu dan gemertak kayu bakar dari perapian yang mulai meredup. Begitu pintu kamar tertutup rapat dan terkunci, Long Yuan tidak lagi memberikan ruang bagi Shu Mei untuk menghindar. Ia menyudutkan istrinya ke dinding sutra, menciumnya dengan rasa lapar yang telah ia pendam selama berhari-hari. Mei, yang awalnya berniat hanya memberikan pelukan singkat, perlahan luluh dalam kehangatan dekapan suaminya. Tangannya yang mungil merambat naik, meremas bahu kokoh Yuan saat bibir lelaki itu menjelajahi lehernya dengan tuntutan yang mendalam. Aroma maskulin bercampur debu peperangan dari tubuh Yuan terasa begitu memabukkan. "Aku menagih janjimu, Mei," bisik Yuan serak di sela-sela ciumannya. Dengan gerakan yang tidak sabar namun penuh perasaan, Yuan mulai menanggalkan jubah perangnya yang berat, membiarkannya jatuh ke lantai dengan suara dentingan logam

  • Pengantin Pengganti Sang Jenderal   Cemburu Sang Naga

    Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, meninggalkan semburat warna jingga kemerahan yang perlahan ditelan kegelapan malam. Di barak Jin, Long Yuan tidak lagi bisa memegang kuas strateginya dengan tenang. Pikirannya sudah melesat jauh menuju desa perbatasan. Meski ia telah mengirimkan pasukan elitnya, rasa tidak tenang itu tetap berdenyut di bawah kulitnya. Dengan geraman rendah, ia menyambar jubah hitamnya, menaiki kuda perangnya, dan memacu hewan itu seperti iblis yang mengejar mangsa. Sesampainya di desa, suasana yang tadinya kacau mulai sedikit lebih teratur, namun kedatangan Yuan seketika mengubah atmosfer. Derap kaki kuda hitamnya yang besar dan suara dentingan zirahnya menciptakan aura dominasi yang menyesakkan. Saat Yuan berjalan melewati tenda-tenda darurat, rakyat yang tadinya berbisik-bisik langsung bungkam. Mereka menundukkan kepala sedalam mungkin, tidak berani menatap wajah sang Jenderal yang terkenal tanpa ampun itu. Bahkan anak-anak kecil yang tadi sempat bermain di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status