Share

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Alpha
Pengantin Pengganti Untuk Tuan Alpha
Penulis: Fatimahnur

1, Dilelang

Penulis: Fatimahnur
last update Tanggal publikasi: 2026-08-13 23:11:26

Aku duduk bersimpuh di lantai yang dingin, kedua mata ini tertutup dengan kain hitam yang terikat cukup kuat. Pipiku terasa kebas karena terkena tamparan sebelum berakhir di tempat yang bahkan tidak tahu entah berada di mana. Suasana terasa dingin, dan mencekam, akan tetapi riuhnya suasana di ruangan mulai terasa.

Puluhan langkah kaki terdengar memasuki ruangan besar yang suara dari segala suara terasa memantul dari ujung hingga ke ujung ruangan. Karena dua tangan ini terikat ke belakang, akhirnya aku tidak bisa melakukan apapun selain diam.

Kepala tertunduk, lelah sudah rasanya menangisi apapun yang telah terjadi kali ini.

"Terimakasih pada kalian, para tamu terhormat yang sudah sudi mendatangi acara lelang kali ini," suara itu mulai terdengar.

Degh! Batinku saat aku mendengar kata kelang pada saat yang bersamaan! Apa aku akan dilelang?! Pertanyaan itu menggantung diudara dan bahkan sulit untuk dijawab, karena mata ini tidak bisa melihat apapun, dan hanya kedua telingaku yang mendengarkan semuanya.

Awalnya aku dijual di rumah bordir, di beli oleh lelaki tua, tapi kenapa berakhir di sana? Leher ini serasa di ikat dengan rantai, bak seekor anjing yang sedang diperjual belikan, tangan terikat ke belakang dan kaki yang juga sama terikat.

"Ini barang baru, dan masih Virgin. Saya akan membuka harga, senilai lima ratus juta!" Suara lelaki itu kembali aku dengar. Kali ini membuka harga yang cukup tinggi. Aku hanya diam, tidak terkejut lagi tapi juga tidak bereaksi. Mau memberontak seperti apapun, aku tidak akan selamat di genggaman mereka. Dan aku menyadari itu.

"Tujuh ratus juta! Kalau memang wanita itu masih segel!"

"Ada yang berani menawar lebih tinggi?! Tidak mungkin hanya tujuh ratus juta, bukan?! Sekarang siapa yang berani menawar lebih?!"

"Delapan ratus juta!"

Harga semakin naik, aku menggigit bibir bawah dengan cukup kuat sehingga hampir melukai bibirku! Sakit, takut, dan berharap aku mati saja daripada harus begini.

"Sembilan ratus juta, tapi – telanj4ngi dia! Aku ingin lihat, apa dia benar masih segel?!" Teriak salah satu orang. Aku sangat terkejut, dan akhirnya airmata yang sebelumnya tertahan akhirnya mengalir deras di pelupuk matanya.

"Tidak, jangan lakukan itu! Aku mohon jangan!" gumamku dengan suara bergetar hebat. Aku memohon, tapi tidak ada yang mendengarnya.

Semua orang bersorak Sorai setuju dengan apa yang barusaja dari salah satu mereka lontarkan, hal mengerikan, menjijikan dan menakutkan itu benar-benar akan dilakukan oleh para orang kaya yang tidak punya moral, harga diri benar-benar ditelanjangi, dan mereka tidak lagi mempunyai empati.

"Aku mohon, jangan lakukan itu." gumamku lagi sembari terisak. Kedua pundakku bahkan sudah bergetar karena rasa takut itu sudah benar-benar singgah dan memiliki peran utama dalam kegelapan yang hanya aku saja yang melihatnya.

"Deal! Sembilan ratus juta, tapi saya akan menaikan harganya menjadi satu miliar supaya bisa dibawa pulang kalau memang sudah terbukti segel."

"Tidak!" Teriakku dengan suara meninggi. Tapi mereka hanya tertawa, dan menikmati apa yang kini menyiksaku terlalu jauh! "Aku mohon, jangan lakukan itu?!" mohonku lagi, sebelum akhirnya aku merasakan daguku dic3ngkeram oleh orang yang membuka harga dari tubuhku.

"Hei, dengar ya kau pel4cur! Aku sudah membelimu mahal, masih untung kau tidak aku habisi! Sekarang diam, dan jadi jal4ng yang baik! Kalau kau masih ingin hidup!" tekannya.

Aku merasa marah saat ia mengataiku sebagai wanita yang tidak benar. Dadaku rasanya bergemuruh, aku meludah ke arahnya, dengan nafas yang menderu karena tekanan dari sebuah emosi! Aku meludahinya, aku benar-benar melakukannya, dan sesaat kemudian...

"Bangs*t! Dasar wanita jal4ng!" Sebuah tangan besar dan dingin menghantam pipi dengan sangat keras.

Kepalaku menoleh ke samping dan ada cairan kental berbau amis yang tiba-tiba keluar dari dalam murut. Anyir, asin, dan sudah bisa ditebak apa itu! Tapi, aku tidak takut!

Matipun aku tidak takut! Untuk saat ini, justru hidup adalah suatu hal yang lebih menakutkan daripada apapun!

"Kau kira aku akan membunuhmu karena ini?! Aku tidak bodoh gadis kecil! Aku akan membunuhmu dengan cara perlahan, dan mungkin kamu yang akan melakukannya sendiri karena kamu tertekan!"

Suara yang tadinya terdengar dekat, kali ini menghilang. Aku masih duduk dengan airmata yang masih mengalir cukup deras, dan setelah beberapa saat hening...

"Satu miliar, dan telanj4ngi dia!" teriak salah satu pengunjung yang datang dan menaikan harga sebelum akhirnya mungkin akan membeli.

"Buka semua, dan aku akan bayar satu miliar lebih duaratus juta!" seru yang lainnya.

"Tidak! Kalian tidak bisa melakukan ini! Kalian benar-benar terkutuk!" teriak ku dengan sangat histeris. Aku menjerit, memohon dilepaskan, dan mengeluarkan sumpah serapah. Akan tetapi, semua tidak berguna! Suara mereka seakan memaksa pembawa acara biadap itu menuruti segala ambisi mereka. Bukan hanya kaum lelaki saja di sana, suara perempuan juga ikut terdengar.

"Hentikan!" Cegah salah satu orang. Suaranya terdengar sangat tegas, berwibawa dan mungkin muda.

"Dua miliar, dan dia akan menjadi milikku. Dan aku akan segera membawanya pergi!"

Suasana seketika hening, tapi aku mendengar sayup-sayup mereka tidak setuju dengan pendapat itu karena mereka belum melihat tubuhku ini. Memang, kata orang bodyku cukup bagus, dengan dad4 yang padat berisi, pinggang kecil dan kulit putihku membuat mereka ingin lebih. Akan tetapi, kali ini lebih mengerikan, di mana aku akan memperlihatkan semuanya, bahkan pada kaum wanita yang datang ke sana!

"Apa?! Aku sudah membelinya, kamu tidak bisa mengambilnya dariku"

"Tapi aku berani membelinya seharga dua miliar, apa itu kurang?"

Suasana sepertinya memanas, mereka memperdebatkan harga, dan seketika aku menjadi bahan perebutan kaum elit di sana.

Tidak hanya sebuah perkelahian dengan mulut saja, karena nyatanya aku merasa salah satu orang terhempas ke samping tubuhku, dan beberapa suara pukulan mulai terdengar. Mataku yang tertutup akhirnya tidak bisa melihat soanyang sebenarnya terjadi, akan tetapi indra pendampingku yang masih tajam akhirnya mendengar segala hal yang terjadi di sekitar!

"Sudah cukup! Jangan anda lanjut, Tuan Fredo! Seperti yang anda mau, wanita ini akan menjadi milik anda. Segera lakukan transaksi, dan bawa." Suara pembawa acara itu terdengar gugup, dan aku menyadari, pria yang mau membelinya adalah pria kasar.

Besi di leherku, tali di tanganku dan kaki yang terikat akhirnya terlepas semua, pergelangan kakiku terluka sehingga aku sulit bergerak, akan tetapi sesaat setelahnya ada yang mengangkat tubuhku yang mulai lemah.. Aku betusaha membuka penutup mata, akan tetapi...

"Aku tidak memerintahkan kamu membuka penutup! Diam, atau aku akan telanjangi kamu di sini!" Pria yang mengangkat tubuhku smukai bicara dengan nada suara yang terdengar mengancam!

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pengantin Pengganti Untuk Tuan Alpha   72,

    "Alicia, aku tak akan membiarkan mereka menyakiti kamu." Suara itu berat, dalam, dan begitu dekat di telingaku. Ferdo tidak menatapku saat mengatakannya. Matanya tetap lurus ke depan, menatap kaca mobil yang gelap, namun tangannya... tangannya menggenggam tanganku dengan sangat erat. Seerat itu hingga aku bisa merasakan dinginnya cincin di jarinya menusuk kulitku. Setelah bicara begitu, lelaki itu memerintahkan sopir agar mobil berjalan maju. Mobil hitam itu melaju. Perjalanan itu terasa sangat lama. Semakin lama kami berjalan, jalanan aspal mulus perlahan menghilang, berganti menjadi jalan tanah berbatu. Lampu-lampu kota mulai menghilang satu per satu. Pohon-pohon di sisi jalan semakin tinggi, semakin rapat, hingga cahaya bulan pun tidak bisa masuk. Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam akhirnya sampai ke sebuah tempat yang makin gelap. Ini bukan gelap biasa. Ini adalah gelap yang hidup. Gelap yang bernafas. Aku bisa mendengar suara-suara aneh dari luar. Bukan suara ja

  • Pengantin Pengganti Untuk Tuan Alpha   71, Penjahat!

    'SRIITTT!' Suara mesin mobil yang mengerem mendadak begitu keras. Tubuhku terdorong ke depan. Selimut tebal itu melorot. Aku terkejut bukan main, dan pada saat yang sama Ferdo akhirnya terbangun, padahal ia baru saja tertidur lelap. Matanya terbuka dalam sepersekian detik. Tidak ada sisa kantuk. Langsung tajam, langsung waspada, langsung menjadi Ferdo yang ditakuti semua orang itu. "Ada apa di luar?" tanyanya dengan ekspresi wajah serius menatap ke depan. Tangannya sudah bergerak ke gagang pintu. Dari kaca depan yang sedikit berembun, aku bisa melihatnya. Di tengah jalan hutan yang gelap itu, berdiri lima orang dengan memakai topeng hitam. Topengnya terbuat dari kayu gelap dengan ukiran aneh, hanya terlihat mata mereka yang menyala merah. Mereka membawa rantai dan belati panjang. Di belakang mereka, pepohonan bergoyang keras meski tidak ada angin. Serigala-serigala bayangan Ferdo menggeram. Max berteriak dari luar, "Tuan! Penyergap! Mundur!" Ferdo langsung berdiri se

  • Pengantin Pengganti Untuk Tuan Alpha   70, Kendala.

    "Tapi, apa kamu tidak lelah?" tanyaku pada Ferdo.Aku menatap wajahnya dari dekat. Lingkaran hitam di bawah matanya semakin jelas terlihat sekarang. Matanya yang biasanya tajam dan mengintimidasi semua orang, kini terlihat sayu dan lelah. Sejak kemarin malam ia tidak tidur sama sekali karena mengurus laporan dari wilayah perbatasan, dan pagi ini ia bahkan tidak sempat menyelesaikan tidurnya karena aku meninggalkannya.Lelaki itu tampak menatapku dan tersenyum lembut. Senyum yang selalu berhasil membuat jantungku berdebar tidak karuan, senyum yang hanya ia perlihatkan padaku seorang.Satu tangannya mengusap kepalaku dengan lembut. Gerakannya pelan, seperti sedang menenangkan seekor kucing kecil yang ketakutan. Jari-jarinya yang panjang menyisir rambutku yang masih berantakan karena baru bangun tidur."Jangan khawatir, aku tak menyetir mobil sendiri. Aku akan tidur di mobil," ujarnya. Suaranya pelan dan serak.Aku merasa lega sedikit. Setidaknya ia tidak akan memaksakan diri menyetir da

  • Pengantin Pengganti Untuk Tuan Alpha   69, Dia Bangun.

    Aku bingung menjawab pertanyaan Max saat ia bertanya apa aku memiliki rasa pada Ferdo, bosnya sendiri sekaligus orang yang memberiku segalanya.Pertanyaan itu datang begitu tiba-tiba di tengah sarapan. Aku yang sedang memotong daging di piringku langsung berhenti. Garpu di tanganku terasa berat."Nona Alicia," kata Max pelan dengan suaranya yang selalu tenang dan sopan itu. "Bolehkah saya bertanya sesuatu yang agak pribadi?"Aku mengangguk pelan, masih menatap piringku."Apakah Nona memiliki rasa pada Tuan Ferdo?"Jantungku serasa berhenti berdetak sesaat. Apa maksudnya rasa? Rasa takut? Rasa hormat? Atau rasa yang lain yang bahkan aku sendiri tidak berani menyebut namanya.Aku bingung. Bagaimana aku harus menjawabnya?Ferdo adalah bosku sendiri, orang yang memberiku tempat tinggal saat aku tidak punya siapa-siapa. Orang yang memberiku makan, pakaian, pendidikan, bahkan memberiku nama belakangnya agar aku tidak lagi dipanggil anak haram tanpa keluarga. Ia adalah orang yang telah menga

  • Pengantin Pengganti Untuk Tuan Alpha   68, Sarapan Pagi.

    POV Alicia. Ferdo tertidur pulas pagi itu. Setelah tangisnya yang panjang semalam, setelah ia memelukku dengan erat sambil mengatakan bahwa akulah satu-satunya miliknya seutuhnya, Ferdo akhirnya terlelap di sampingku. Ia tertidur dengan wajah yang masih basah oleh sisa air mata, namun napasnya terdengar teratur dan tenang untuk pertama kalinya setelah beberapa hari. Ia tampak kelelahan, aku tidak berani membangunkannya. Aku memandangi wajahnya yang tertidur dari jarak yang dekat. Lingkaran hitam di bawah matanya terlihat sangat jelas. Alisnya yang biasanya selalu berkerut tegang kini terlihat rileks. Bibirnya yang tegas sedikit terbuka, mengeluarkan napas yang berat. Lengan besarya masih melingkar di pinggangku, menjaga agar aku tetap berada di dalam pelukannya bahkan di dalam tidurnya. Aku tidak berani bergerak dengan keras. Aku tidak berani membangunkannya, karena aku tahu ia sangat membutuhkan istirahat. Selama beberapa malam terakhir, ia pasti menghabiskan waktunya untuk men

  • Pengantin Pengganti Untuk Tuan Alpha   67, Bertekuk lutut.

    POV - Alicia. Aku memandang lelaki itu lama. Aku baru saja terbangun dari tidurku yang sangat nyenyak. Kepalaku masih terasa berat dan pusing karena terlalu banyak menangis. Mataku yang sembab terasa perih setiap kali aku mengedipkannya. Cahaya temaram dari lampu kamar membuat pandanganku sedikit buram. Di sampingku, Ferdo duduk dengan kepala yang menunduk. Punggungnya yang biasanya terlihat begitu tegak dan berwibawa, kini terlihat membungkuk dengan lemah. Bahunya bergetar. Awalnya aku sangat membencinya, aku merasa ia begitu kejam. ia banyak bicara hari ini. Bicara penuh penyesalan dan maaf ia lontarkan puluhan kali mungkin. Aku membencinya karena ia telah membuatku berada dalam posisi yang sangat menakutkan ini. Aku membencinya karena ia adalah seorang alpha, makhluk yang kekuatannya jauh di atas manusia biasa sepertiku. Aku membencinya karena tadi aku mendengar suara tembakan dan bentakannya yang menggelegar di aula paviliun, membentak semua pelayan dan mengancam akan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status