ANMELDEN
Aku duduk bersimpuh di lantai yang dingin, kedua mata ini tertutup dengan kain hitam yang terikat cukup kuat. Pipiku terasa kebas karena terkena tamparan sebelum berakhir di tempat yang bahkan tidak tahu entah berada di mana. Suasana terasa dingin, dan mencekam, akan tetapi riuhnya suasana di ruangan mulai terasa.
Puluhan langkah kaki terdengar memasuki ruangan besar yang suara dari segala suara terasa memantul dari ujung hingga ke ujung ruangan. Karena dua tangan ini terikat ke belakang, akhirnya aku tidak bisa melakukan apapun selain diam. Kepala tertunduk, lelah sudah rasanya menangisi apapun yang telah terjadi kali ini. "Terimakasih pada kalian, para tamu terhormat yang sudah sudi mendatangi acara lelang kali ini," suara itu mulai terdengar. Degh! Batinku saat aku mendengar kata kelang pada saat yang bersamaan! Apa aku akan dilelang?! Pertanyaan itu menggantung diudara dan bahkan sulit untuk dijawab, karena mata ini tidak bisa melihat apapun, dan hanya kedua telingaku yang mendengarkan semuanya. Awalnya aku dijual di rumah bordir, di beli oleh lelaki tua, tapi kenapa berakhir di sana? Leher ini serasa di ikat dengan rantai, bak seekor anjing yang sedang diperjual belikan, tangan terikat ke belakang dan kaki yang juga sama terikat. "Ini barang baru, dan masih Virgin. Saya akan membuka harga, senilai lima ratus juta!" Suara lelaki itu kembali aku dengar. Kali ini membuka harga yang cukup tinggi. Aku hanya diam, tidak terkejut lagi tapi juga tidak bereaksi. Mau memberontak seperti apapun, aku tidak akan selamat di genggaman mereka. Dan aku menyadari itu. "Tujuh ratus juta! Kalau memang wanita itu masih segel!" "Ada yang berani menawar lebih tinggi?! Tidak mungkin hanya tujuh ratus juta, bukan?! Sekarang siapa yang berani menawar lebih?!" "Delapan ratus juta!" Harga semakin naik, aku menggigit bibir bawah dengan cukup kuat sehingga hampir melukai bibirku! Sakit, takut, dan berharap aku mati saja daripada harus begini. "Sembilan ratus juta, tapi – telanj4ngi dia! Aku ingin lihat, apa dia benar masih segel?!" Teriak salah satu orang. Aku sangat terkejut, dan akhirnya airmata yang sebelumnya tertahan akhirnya mengalir deras di pelupuk matanya. "Tidak, jangan lakukan itu! Aku mohon jangan!" gumamku dengan suara bergetar hebat. Aku memohon, tapi tidak ada yang mendengarnya. Semua orang bersorak Sorai setuju dengan apa yang barusaja dari salah satu mereka lontarkan, hal mengerikan, menjijikan dan menakutkan itu benar-benar akan dilakukan oleh para orang kaya yang tidak punya moral, harga diri benar-benar ditelanjangi, dan mereka tidak lagi mempunyai empati. "Aku mohon, jangan lakukan itu." gumamku lagi sembari terisak. Kedua pundakku bahkan sudah bergetar karena rasa takut itu sudah benar-benar singgah dan memiliki peran utama dalam kegelapan yang hanya aku saja yang melihatnya. "Deal! Sembilan ratus juta, tapi saya akan menaikan harganya menjadi satu miliar supaya bisa dibawa pulang kalau memang sudah terbukti segel." "Tidak!" Teriakku dengan suara meninggi. Tapi mereka hanya tertawa, dan menikmati apa yang kini menyiksaku terlalu jauh! "Aku mohon, jangan lakukan itu?!" mohonku lagi, sebelum akhirnya aku merasakan daguku dic3ngkeram oleh orang yang membuka harga dari tubuhku. "Hei, dengar ya kau pel4cur! Aku sudah membelimu mahal, masih untung kau tidak aku habisi! Sekarang diam, dan jadi jal4ng yang baik! Kalau kau masih ingin hidup!" tekannya. Aku merasa marah saat ia mengataiku sebagai wanita yang tidak benar. Dadaku rasanya bergemuruh, aku meludah ke arahnya, dengan nafas yang menderu karena tekanan dari sebuah emosi! Aku meludahinya, aku benar-benar melakukannya, dan sesaat kemudian... "Bangs*t! Dasar wanita jal4ng!" Sebuah tangan besar dan dingin menghantam pipi dengan sangat keras. Kepalaku menoleh ke samping dan ada cairan kental berbau amis yang tiba-tiba keluar dari dalam murut. Anyir, asin, dan sudah bisa ditebak apa itu! Tapi, aku tidak takut! Matipun aku tidak takut! Untuk saat ini, justru hidup adalah suatu hal yang lebih menakutkan daripada apapun! "Kau kira aku akan membunuhmu karena ini?! Aku tidak bodoh gadis kecil! Aku akan membunuhmu dengan cara perlahan, dan mungkin kamu yang akan melakukannya sendiri karena kamu tertekan!" Suara yang tadinya terdengar dekat, kali ini menghilang. Aku masih duduk dengan airmata yang masih mengalir cukup deras, dan setelah beberapa saat hening... "Satu miliar, dan telanj4ngi dia!" teriak salah satu pengunjung yang datang dan menaikan harga sebelum akhirnya mungkin akan membeli. "Buka semua, dan aku akan bayar satu miliar lebih duaratus juta!" seru yang lainnya. "Tidak! Kalian tidak bisa melakukan ini! Kalian benar-benar terkutuk!" teriak ku dengan sangat histeris. Aku menjerit, memohon dilepaskan, dan mengeluarkan sumpah serapah. Akan tetapi, semua tidak berguna! Suara mereka seakan memaksa pembawa acara biadap itu menuruti segala ambisi mereka. Bukan hanya kaum lelaki saja di sana, suara perempuan juga ikut terdengar. "Hentikan!" Cegah salah satu orang. Suaranya terdengar sangat tegas, berwibawa dan mungkin muda. "Dua miliar, dan dia akan menjadi milikku. Dan aku akan segera membawanya pergi!" Suasana seketika hening, tapi aku mendengar sayup-sayup mereka tidak setuju dengan pendapat itu karena mereka belum melihat tubuhku ini. Memang, kata orang bodyku cukup bagus, dengan dad4 yang padat berisi, pinggang kecil dan kulit putihku membuat mereka ingin lebih. Akan tetapi, kali ini lebih mengerikan, di mana aku akan memperlihatkan semuanya, bahkan pada kaum wanita yang datang ke sana! "Apa?! Aku sudah membelinya, kamu tidak bisa mengambilnya dariku" "Tapi aku berani membelinya seharga dua miliar, apa itu kurang?" Suasana sepertinya memanas, mereka memperdebatkan harga, dan seketika aku menjadi bahan perebutan kaum elit di sana. Tidak hanya sebuah perkelahian dengan mulut saja, karena nyatanya aku merasa salah satu orang terhempas ke samping tubuhku, dan beberapa suara pukulan mulai terdengar. Mataku yang tertutup akhirnya tidak bisa melihat soanyang sebenarnya terjadi, akan tetapi indra pendampingku yang masih tajam akhirnya mendengar segala hal yang terjadi di sekitar! "Sudah cukup! Jangan anda lanjut, Tuan Fredo! Seperti yang anda mau, wanita ini akan menjadi milik anda. Segera lakukan transaksi, dan bawa." Suara pembawa acara itu terdengar gugup, dan aku menyadari, pria yang mau membelinya adalah pria kasar. Besi di leherku, tali di tanganku dan kaki yang terikat akhirnya terlepas semua, pergelangan kakiku terluka sehingga aku sulit bergerak, akan tetapi sesaat setelahnya ada yang mengangkat tubuhku yang mulai lemah.. Aku betusaha membuka penutup mata, akan tetapi... "Aku tidak memerintahkan kamu membuka penutup! Diam, atau aku akan telanjangi kamu di sini!" Pria yang mengangkat tubuhku smukai bicara dengan nada suara yang terdengar mengancam!"Tidak! Sudah cukup aku mengorbankan diri satu kali kemarin! Itu sudah impas dengan harga yang harus saya terima!" Aku menolak saat ia kembali lagi menjamahku, "Tuan Ferdo! Menyingkir dari tubuhku!" Aku berteriak saat lelaki itu memaksaku, dan aku menolak saat ia berusaha menguasai tubuhku! Aku bukan boneka, meski ia telah memberiku! "Kau harus melayani aku! Aku sudah membelimu mahal!" Teriak Ferdo dengan suara meninggi. "Aaaggghhh!" Aku berteriak saat bagian intiku dimasuki sangat dalam dan paksa. Entah bagaimana, lelaki itu bisa melakukannya dalam keadaan aku menolak sepenuhnya. Akan tetapi, benda keras itu masuk sehingga membuatku menahan nafas! Airmata mulai mengalir dari ujung pelupuk mata, Isak tidak lagi ia dengarkan, lelaki itu benar-benar buas, tidak perduli apa yang aku rasa. Leher mulai tersentuh, sesaat setelah ia mendekatkan bi-birnya. Ia menghisapnya, meninggalkan sensasi perih yang tidak bisa ditolak, atau ditepis. Aku menangis, tapi ia tidak perduli, tidak ada ken
Gelang itu tampak sederhana, seperti gelang kain pada umumnya, namun warnanya sangat gelap, dan juga beraroma pohon pinus. "Apa ini terbuat dari pohon pinus?! Kenapa baunya aneh sekali?! Penampilannya juga biasa saja. Tapi – kenapa aku malah penasaran?!" tanganku terulur untuk mengambil gelang itu, meski aromanya aneh dan cukup menusuk di hidung, akan tetapi ada hal yang membuatku merasa jauh lebih tenang. Dan di tengah gelang itu, ada sebuah mainan yang tampaknya seperti bunga pohon pinus. Aku tersenyum melihatnya. "Tidak buruk juga, aku akan memakainya. Ini lebih unik dari beberapa gelang yang pernah aku miliki." gumamku. Seketika suasana hatiku terasa jauh lebih damai, dan aku seakan menerima sebuah kado terhebat sepanjang usia ini. Aku akhirnya memakainya, dan perutku ternyata terasa sangat lapar setelahnya. "Ah, mungkin karena suasana hatiku membaik, aku jadi ingin makan!" Satu nampan di meja nakas yang sebelumnya tergeletak dan tak tersentuh akhirnya aku ambil. Meskipun aku
POV Alicia. Aku kehilangan mahkota, dan aku telah kehilangan apa yang paling berharga. Tapi, lelaki itu datang setelah aku menolak makan. Bukan datang minta maaf ataupun merasa bersalah setelah apa yang ia lakukan padaku, ia malah marah-marah dan takut aku yang sebagai barang miliknya ini rusak dan tidak bisa ia terima. Aku diam, tanganku sudah mengepal sepenuhnya, dan aku sebenarnya sangat kesal dengan segala perlakuannya, akan tetapi – aku tidak ingin menyiksa diri sendiri dengan melawannya, bahkan meminta maaf pun tidak aku lakukan karena aku merasa tidak bersalah samasekali. Setelah lelaki itu pergi, aku hanya duduk termenung. "Kamu punya nyali juga ternyata, seorang manusia hina, masih berani memperlakukan tuanku seperti itu!" Ucapan dari seorang maid itu terasa membuatku muak! Aku menatap ke arahnya dan akhirnya bangkit dari dudukku dan menghadapinya. 'Plaaak!' satu tanganku melayang ke arah wajahnya dengan keras. "Aku tahu, aku kotor! Tapi, kamu tidak berhak mencemooh aku s
POV Ferdo."Bermain wanita maksud anda?" aku langsung menanyakannya pada Tuan Josh, dan aku juga melihat senyumannya, senyuman licik yang seakan setuju dengan kata-kataku. Biasanya aku langsung menyetujuinya, dan meski aku tidak bersetubuh dengan wanita-wanita itu, tapi aku pasti akan menikmati tubuh wanita. Akan tetapi, kini kenapa berat sekali rasanya?Aku tersenyum, sebelum akhirnya meletakan gelas yang sebelumya aku angkat dan aku nikmati sedikit. Sialnya lelaki itu memberikanku minuman keras, bukan minuman hangat seperti kopi."Maaf, saya sedang banyak urusan. Mungkin lain kali, terimakasih atas kerja samanya, dan mungkin sekarang saya akan segera kembali." aku bangkit dari duduk, menghampiri lelaki itu dan hendak berniat menjabat tangannya dan pergi dari sana. Lelaki itu ikut berdiri, bergerak dari tempatnya dan segera menuju ke arahku dan menjabat tanganku."Semoga kerja sama ini berjalan dengan baik, dan saya berharap anda tidak mundur lagi, karena tentu saja saya akan memberi
POV Ferdo.Setelah meniduri wanita itu, tubuh ini rasanya ringan, meskipun nantinya tidak tahu akan semarah apa wanita itu. Seharusnya ia tidak marah, karena ini adalah suatu hal yang wajib ia lakukan dan ia berikan, 'kan?!"Max, aku kelepasan, dan aku meniduri wanita itu." aku mulai bicara pada asisten pribadiku, sembari berjalan menuju ke luar mansion. Ada hal yang harus di lakukan, dan banyak hal yang harus dibereskan."Saya tahu, Tuan." Max menjawab, dengan suara yang sedikit lebih jauh di belakang."Aku tidak tahu apa wanita itu menerimaku, dan benih yang aku tumpahkan dalam rahimnya, tapi aku ingin kamu pastikan, kalau ia tidak melakukan tindakan bodoh setelah apa yang aku lakukan, kamu mengerti apa maksudku?" Aku mulai memberikan sebuah perintah secara tidak langsung. Aku terlalu takut, akan tetapi tidak langsung menjelaskan secara langsung. Entah mengapa, aku takut wanita itu akan melukai dirinya sendiri setelah apa yang terjadi."Tidak usah takut, Tuan. Saya akan memerintahka
Mata merah dengan tangan yang terikat, memberontak dan melolong seperti serigala. Lelaki tampan itu berubah liar, dan tidak terkendali. Menakutkan, tapi tangannya tampak hitam, dan pergelangannya berda-rah! Tidak tega rasanya membiarkannya begitu, tapi aku akui, aku masih sangat kesal padanya!Aku marah, tapi kakiku bergerak mendekat. Mati, jauh lebih baik daripada terjebak antara hubungan keluarga hewan yang tampaknya lebih banyak yang tidak mau menerima.Terus melolong, dan itu terdengar menakutkan... Apa bisa dijinakan? Dia terlalu buas dari sebelumnya, dan apa yang membuatnya menjadi seperti itu?!"Nona! Anda tidak boleh mendekat! Tuan Ferdo sedang tidak terkendali! Beliau bisa melukai anda!" teriak seorang pria, yang entahlah siapa.Aku hanya menoleh sejenak, menatap orang itu lama, dan kembali mendekat ke arah Ferdo. Tekatku bulat, tidak akan menyerah begitu saja meski mereka berkata jangan sekalipun!Dan saat didekati, Ferdo makin menjadi-jadi. Besi yang mengikat pergelangan ta







