Mag-log inAgatha yang merasa lelah dengan cobaan hidup, memutuskan pergi ke bar untuk pertama kalinya. Namun sial, ia malah diberi bir gratis oleh bartender tampan yang membuat kesadarannya hilang. Tanpa Agatha ketahui, ternyata seorang CEO duda kaya yang memperhatikannya sejak awal ... diam-diam menyelamatkannya.
view moreOnce upon a time, in a faraway land in an unknown time, there was a hidden forest shrouded in mystery and magic. The forest was full of mysterious flora and fauna, unlike anything any human had ever seen. In this unique forest, on this particular night, a soft breeze slowly slipped between branches and ruffled the grass. The breeze tickled a weeping willow in the heart of the forest, and its iridescent blooms danced in the cool spring air clinging to their home. The smell of honeysuckle and moss coaxed a single iridescent flower from its perch and gently cradled the flower to the lake. As the flower nestled onto the lake’s surface, a set of delicate fingers reached out towards the blossom. The fingers caressed the flower lovingly before scooping it up from the glistening water.
“Hello, little one,” a pure and sweet voice whispered. “Don’t worry, you will not be lost to the depths of the lake. You will have love, my little pup.”
The fingers brought the flower up to a small delicate face of a young woman. Her silver eyes and porcelain skin reflected the flower’s enchanting glow. The young woman had long flowing icy white hair with braids sweeping it away from her face. A thin white cotton dress clung to her dampened skin as she stepped out of the lake onto the moss-covered rocks on the shore. The young woman hummed to herself as she brought the bloom up to her lips. She gently kissed it before the breeze whisked the flower into the night sky. The woman smiled to herself and wiggled her fingers goodbye as the flower danced its way across the waning moon into a new life.
“Good luck, little one. I wish you the best. Be strong.” She breathed as she stood up from the rocks.
“Another on its way, Selene?” A warm voice drifted from the forest. A woman wandered out of the trees with warm chestnut hair and rich earthy brown eyes. Her skin was a warm golden brown that almost glowed in the night. Her gaze followed the tiny flower as it danced out of view.
“Yes, Eos,” said Selene with a smile as the other woman came to her side. “The breeze chose this one this time.”
“When was the last time that happened?” Eos said as she cocked her eyebrow up.
“Too long ago,” Selene breathlessly said as she leaned into Eos as she beamed. “They will be special.”
“If you say so,” smiled Eos as she wrapped her arms around her sister Selene. Selene locked her hand onto her sisters as she dragged her sister to the iridescent blooms.
“Now to pick their other half….” Selene’s voice trailed off as she searched the branches pondering the potentials. “Who will complete them? Bring out the best in them and accept their flaws….”Her face lit up, signaling that she had figured it out. “Give me a boost, Eos.”
“Really? This isn’t my job.” Eos sucked through her teeth as she interlocked her fingers for her sister to step up. Selene stepped into her sister’s hands as she gently ascended into the tree, carefully avoiding the blooms. Stretching up on the tip of her toes, she lovingly plucked a flower from the crown of the tree. Selene quickly descended down the tree so delicately it was almost as she floated down. Once both of her feet were back on the forest floor, Selene turned to her sister giddily.
“What do you think? Do you want to help me send them off?” Selene purred at her sister with excitement flashing through her eyes. Eos could not resist her sister. Eos slowly nodded, and Selene’s face was engulfed in pure joy. She stretched her hand out to Eos and pressed the flower up to her sister’s lips expectantly. Eos lightly kissed the bloom as she engulfed her sister’s hand in hers. Selene lowered her lips to the flower and squinted her eyes as she said a silent prayer for it. When her eyelashes fluttered open, her eyes shined with so much emotion, they caused a smile to creep on Eos’s lips. Selene lifted the bloom into the air, and it gently danced away from her fingertips in the sky. “Go find your mate,” Selene grinned.
"Agatha, aku benar-benar menyesal atas semua yang telah kulakukan. Aku ingin memperbaiki kesalahan itu, sungguh," ucap Grace, matanya penuh penyesalan. Agatha yang sejak awal sudah mencoba untuk memaafkan, tersenyum lembut, "Kak Grace, aku percaya bahwa setiap orang bisa berubah. Aku sudah memaafkan kamu, Kak."Mendengar kata-kata itu, mata Grace berkaca-kaca, merasa beban besar terangkat dari pundaknya. "Terima kasih, Agatha. Aku berharap kebahagiaan selalu menyertaimu."Agatha kemudian mendekat dan memeluk Grace. Sementara itu, Grace yang lega sampai menangis, merasa terharu karena Agatha masih begitu baik padanya meskipun semua kesalahannya di masa lalu."Sukses untuk karirmu di luar negeri, ya, Kak Grace. Aku yakin kamu akan menemukan kebahagiaanmu sendiri di sana," ucap Agatha sambil tersenyum.Dengan hati yang lega dan bersih, Grace pun pergi, meninggalkan Agatha yang semakin siap menyongsong hari pernikahannya dengan Jayden. Sebelum itu, tak lupa Grace mengucapkan selamat kepa
"Bagaimana dengan skripsimu? Apa masih perlu direvisi lagi?" tanya Jayden di suatu malam. Lelaki itu duduk di sebelah Agatha yang tengah menatap laptopnya. Agatha pun menoleh, mukanya tampak cemas dan ragu. Hal itu tentu membuat Jayden seketika ikut khawatir. "Hei? Apa ada yang salah lagi? Katakan saja, aku akan membantumu," ucap Jayden sambil memegang kedua pundak Agatha.Beberapa detik raut wajah Agatha berubah cerah, ia tertawa renyah. Seketika membuat Jayden terkesiap. Seketika ia menaikkan alisnya. Merasa telah dikerjai.Agatha tersenyum lebar. "Tidak, Jayden. Aku hanya ingin melihat reaksimu. Skripsiku sudah selesai dan tidak perlu revisi lagi. Aku mendapatkan nilai bagus, dan sekarang semuanya sudah selesai. Tinggal menunggu giliran sidang saja."Jayden melepaskan napas lega. "Astaga, kamu sungguh membuatku khawatir. Tapi sungguh, aku bangga padamu, Agatha. Kamu melakukan dengan sangat baik."Agatha tersenyum lebih lebar lagi. "Terima kasih, Jayden. Ini semua juga berkat duku
Anna yang terlampau bahagia, tanpa sadar mengeluarkan air mata. "Benarkah? Ini sungguh-sungguh hadiah yang paling indah! Terima kasih, Papa! Terima kasih, Tante Agatha!"Anna langsung memeluk keduanya erat, tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Mereka bertiga berpelukan dalam momen yang sarat makna. Kinara dan Oma Sarah yang melihatnya, tak bisa membendung titik air yang keluar dari mata. Mereka ikut bahagia.Jayden tersenyum sambil merangkul Anna dan Agatha. "Kita berdua sangat mencintaimu, Anna. Kita pasti akan menjadi keluarga yang bahagia seterusnya."Di tengah pelukan hangat itu, Kinara mengusap matanya lalu tersenyum sumringah. "Terima kasih, Agatha. Kehadiranmu membawa begitu banyak kebahagiaan pada keluarga ini."Oma Sarah turut menyampaikan rasa terima kasihnya. Ia tersenyum lembut dengan sisa air matanya. "Benar, Anna pasti sangat bahagia memiliki ibu seperti kamu, Agatha."Agatha mengangguk, tersenyum tulus. "Saya juga sangat bahagia bisa menjadi bagian dari keluarga ini.
"Sadarlah, Cakra! Kamu tidak bisa selalu mendapatkan apa yang kamu mau! Kamu juga tidak bisa memaksa perasaan seseorang untuk menyukaimu!" bentak Kinara tanpa ampun. Meski air mata turun dari kelopaknya, ia tetap menampilkan wajah yang penuh amarah."Jangan sekali-kali kamu merendahkan seseorang yang ada di bawahmu!" Kinara kemudian melepaskan cekalannya pada dagu Cakra dan mengembuskan napas panjang."Pergi ke kamarmu dan pikirkan perbuatan bejatmu itu! Sampai sebelum papamu pulang, kamu jangan berharap bisa keluar dari sana! Renungi kesalahan yang telah kamu perbuat sampai kamu benar-benar sadar bahwa perbuatanmu sudah sangat memalukan keluarga kita!""Kamu telah membuat ibu kecewa, Cakra!" teriak Kinara untuk yang terakhir kali sebelum menutup pintu kamar Cakra dengan kasar hingga menimbulkan suara sangat keras.Cakra tetap diam, menanggung setiap amarah dan makian yang dilontarkan oleh Kinara. Wajahnya terlihat tanpa ekspresi, namun matanya mengandung rasa penyesalan yang dalam. M
"Terima kasih sudah menemukanku. Sekarang aku baik-baik saja, Jayden."Agatha tersenyum hampir menangis, rasanya terharu saat seseorang yang mencemaskan dirinya sampai seperti ini. Ia tidak menyangka apalagi orang itu adalah Jayden Byhantara."Apa kamu terluka? Lelaki bejat itu telah melakukan apa ter
"Dasar merepotkan," gumam Agatha sambil berjalan menghampiri Cakra yang masih pingsan.Agatha tanpa permisi mencari kunci di kedua saku celana Cakra. Setelah ketemu, ia menghela napas keras. Sialan sekali karena kuncinya tidak hanya satu. Melainkan gerombolan. Agatha meringis di dalam hati. Sepertiny
Grace menambahkan, "Kamu akan belajar menghormati kami, dan mungkin, jika kamu beruntung, hidupmu tidak akan terlalu menyakitkan setelah ini."Mereka meninggalkan Agatha di kamar, menyisakan gadis itu dengan kebingungan dan rasa heran yang semakin dalam. Dengan kedua tangannya terikat di atas kepala,
"Walau begitu aku harus memikirkan hadiah yang benar-benar membuatnya senang dan menjadi kenangan yang tidak terlupakan!"Jayden bersyukur dengan respon Agatha terhadap ulang tahun Anna. Meksi tidak ada hubungan darah, Agatha benar-benar menyayangi Anna layaknya anaknya sendiri. Jayden tiba-tiba terp












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu