Partager

Bab 10

Auteur: Addarayuli
last update Date de publication: 2026-05-12 17:43:59

“Mau kemana kamu? Kenapa bawa koper?” tanya Bagas.

Nora berbalik kemudian menatap suaminya yang sedang mengambil tas kerjanya.

“Aku mau ke rumah, untuk sementara waktu aku akan tinggal disana,” jawab Nora.

Terdengar suara helaan nafas dari Bagas, melihat bagaimana kelakuan istrinya dia hanya bisa mengiyakan saja. Bagas mengambil tasnya kemdian mendekati Nora yang sibuk merapikan pakaiannya.

“Mau aku antar sekalian ke kantor?”

Nora mengangguk. “Boleh, setelah dari kantor kamu bisa pulang ke ruma
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 102

    Brak!Sebuah map berkas tebal terlempar kasar, menghantam permukaan meja kaca hingga menimbulkan suara benturan yang memekakkan telinga. Beberapa lembar kertas di dalamnya bahkan sampai sedikit mencuat keluar.Di seberang meja, seorang pria muda tampak bergeming. Ia masih duduk dengan posisi santai, menyandarkan punggungnya ke sofa kulit. Jemarinya dengan tenang menjepit sebatang rokok yang asapnya mengepul tipis, mengaburkan pandangan di antara mereka berdua. Ia menyesap rokok itu sekali lagi, lalu mengembuskannya perlahan, seolah ketegangan di ruangan itu sama sekali tak memengaruhinya.Pria paruh baya yang berdiri di depan meja menatapnya dengan pandangan yang begitu tajam. Napasnya memburu, dan kilat amarah yang tertahan jelas terpancar dari kedua matanya. Pria muda di hadapannya ini bukanlah orang asing dia adalah putranya sendiri."Jika bukan karena koneksi yang papa miliki, kamu tidak akan semudah itu keluar," suara pria paruh baya itu terdengar berat dan penuh penekanan, menah

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 101

    Matahari siang itu bersinar terik, namun sama sekali tidak mengurangi binar kebahagiaan di wajah Adrian. Langkah kakinya keluar dari gedung pertemuan terasa begitu ringan. Kerja kerasnya berhari-hari di luar kota akhirnya membuahkan hasil yang luar biasa.Adrian tidak hanya berhasil menyelesaikan proyek besarnya, tetapi ia juga sukses memikat hati seorang investor asing papan atas. Sang investor sangat terkesan dengan dedikasi dan visi Adrian, hingga tanpa ragu sepakat untuk menjalin kerja sama jangka panjang. Sebuah pencapaian besar yang akan membawa perusahaannya ke level berikutnya."Terima kasih atas kepercayaan anda Tuan, semoga kita bisa bekerja sama dengan baik.""Terima kasih juga kembali untuk perusahaan Lysander."Adrian dan investor asing itu saling berjabat tangan, Adrian senang bukan main karena bisa kembali menjalin kerja sama dengan perusahaan asing.Tepat setelah rapat selesai, Adrian dan Evan memutuskan untuk kembali ke hotel."Segera pesankan tiket untuk pulang, saya

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 100

    Langkah kaki seseorang terdengar konstan di atas lantai keramik putih gedung polres yang sibuk siang itu. Pria itu berjalan dengan postur tegak, dibalut kemeja flanel berpotongan rapi yang disetrika kaku dan celana kain gelap. Tidak ada keraguan dalam geraknya. Tatapan matanya datar, lurus mengunci ke depan, mengabaikan lalu-lalang petugas berseragam dan aroma kopi instan yang bercampur dengan bau kertas arsip.Di sebelahnya, seorang pria paruh baya dengan setelan jas necis dan tas jinjing kulit berlogo firma hukum melangkah dengan tergesa, sesekali menyesuaikan letak kacamatanya. Dialah sang kuasa hukum, yang sejak tadi tampak lebih gelisah ketimbang kliennya sendiri.Mereka melewati lorong demi lorong hingga tiba di area khusus, ruang kunjungan tahanan. Setelah menyelesaikan administrasi dan pemeriksaan barang bawaan di meja piket, seorang petugas mengantarkan mereka ke sebuah ruangan berpagar besi dengan beberapa meja sekat di dalamnya.Pria itu menarik kursi besi secara perlahan.

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 99

    Mobil melaju perlahan, membelah jalanan pagi yang sudah cukup ramai oleh kendaraan. Maklum, hari libur akhir pekan seperti ini biasanya dipenuhi oleh orang-orang yang ingin berolahraga atau sekadar mencari sarapan di luar.Di kursi penumpang, Ibu Ningsih menatap ke arah luar jendela. Awalnya beliau hanya diam menikmati pemandangan kota, namun perlahan kedua alisnya bertaut. Dahinya mengerut dalam ketika menyadari gedung-gedung dan papan penunjuk jalan yang mereka lewati terasa asing."Lho, ini kan bukan jalan ke arah rumah Ibu?" gumam Ibu Ningsih, mulai merasa ada yang keliru.Tak ada yang menjawab. Keheningan yang canggung sempat menyelimuti kabin mobil hingga beberapa saat kemudian, mobil tersebut berbelok dan berhenti tepat di lobi sebuah kompleks apartemen mewah yang menjulang tinggi.Ibu Ningsih menatap bangunan megah di hadapannya, lalu menoleh ke kursi depan dengan tatapan penuh tanya."Kita ngapain ke sini? Meysa, Maya, kenapa kita ke apartemen ini?"Mendengar pertanyaan itu,

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 98

    Mentari pagi baru saja menyelinap di balik gorden kamar, membawa seberkas cahaya hangat yang perlahan mengusir remang. Di atas ranjangnya, Meysa menggeliat pelan. Kesadarannya belum pulih sepenuhnya, sampai sebuah suara yang sangat familiar memecah keheningan.Ting!Suara denting ponsel itu sukses membuat kelopak mata Meysa terbuka sedikit. Sambil menguap lebar dan mengucek matanya khas orang yang baru bangun tidur, ia meraba-raba nakas di samping tempat tidur untuk mencari sumber suara.Dengan nyawa yang belum terkumpul seutuhnya, Meysa menyalakan layar ponselnya. Begitu matanya menangkap sebuah notifikasi pesan baru, kantuknya mendadak hilang terbang entah ke mana.Pesan itu datang dari Adrian, suaminya.Adrian: Selamat pagi, Mey.Seketika, kedua pipi Meysa merona merah. Sebuah senyuman lebar langsung terukir di wajahnya. Ia memeluk ponselnya di dada sambil menahan salah tingkahnya. Tak pernah terbayang dalam benak Meysa jika dia akan mendapat pesan dari sang suami.Meysa tersenyum

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 97

    William memperhatikan Nozela dengan tatapan cemas. Dia tahu ada sesuatu yang menahan napas Nozela sejak kekasihnya mulai mengatakan apa yang dia lihat."William..." Suara Nozela nyaris berbisik, bergetar tipis."Aku... aku melihatnya lagi hari itu."William menegakkan tubuhnya, menatap Nozela lembut. "Melihat siapa, Jel?"Nozela menelan ludah, tenggorokannya terasa kering dan mencekat. Nama itu seperti duri yang enggan dia sebutkan, namun memori di kepalanya memaksa nama itu keluar."Drake."Mendengar nama itu, raut wajah William berubah serius. Dia tahu pria itu merupakan kenangan buruk dan dia tahu betul bagaimana nama itu berpotensi menghancurkan ketenangan yang selama ini mati-matian Nozela bangun."Beberapa hari lalu saat kita dari rumah sakit menjenguk Ibu Maya..." Nozela mulai bercerita, matanya menatap kosong ke permukaan kolam renang."Lampu merah di perempatan dekat taman kota. Saat kita terjebak lampu merah, ketika... ketika aku tidak sengaja menoleh ke arah bahu jalan."Na

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status