分享

Bab 90

作者: Addarayuli
last update publish date: 2026-06-11 19:30:29

William menutup laptopnya dengan kasar, dia menyandarkan tubuhnya ke kursi lalu merenggangkan dasinya yang terasa mencekiknya. Dia memijit pangkal hidungnya pelan, kepalanya terasa pusing memikirkan banyaknya pekerjaan yang menunggunya. Belum lagi masalah sang kekasih, sejak tadi baik pesan atau panggilannya diabaikan oleh Nozela. Gadis itu sama sekali tak meresponnya.

"Huh, kenapa jadi seperti ini?" gumam William.

Beberapa kali William menghembuskan napas kasar, dia mengambil ponselnya kemudia
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 108

    Jari tangan William bergerak lincah di atas keyboard laptopnya yang menyala, kacamata bening bertengger di hidungnya yang mancung, tatapannya datar. Aroma kopi hitam panas mengepul dari cangkir yang tak jauh dari posisinya, aroma kuat itu mebuatnya lebih tenang.Tok... tok... tok...Ketukan di pintu memecah keheningan. William membetulkan posisi duduknya, lalu bersuara dengan nada baritonnya yang tegas."Masuk."Pintu ruangan William terbuka, memunculkan seorang pria muda dengan setelan jas rapi. Di tangan kanannya, ia mendekap sebuah map kulit berwarna cokelat pekat. Dengan langkah tegap namun penuh sopan santun, pria muda itu berjalan mendekati meja kerja William."Permisi, Tuan William," sapanya sembari membungkuk hormat.William mengangguk pelit, mengisyaratkan pria itu untuk duduk. Pria muda itu pun mengambil tempat di kursi tepat di depan William, lalu dengan segera menyodorkan map yang dibawanya ke atas meja."Ini berkas yang Anda minta tadi malam, Tuan. Semuanya sudah lengkap

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 107

    Kriet.Suara koper yang ditutup terdengar nyaring di keheningan kamar Nora dan Bagas, tiga buah koper besar sudah terjejer rapi di ruang walk-in closet. Bagas meraih dua koper dan keluar leih dulu dari kamar mereka."Kamu udah siap?"Nora menoleh, tatapannya masih setia dengan datar. Kepalanya mengangguk, tanda dia sudah siap menghadapi apa yang akan terjadi di depan sana."Aku terpaksa," jawabnya dengan nada sinis.Tangan Celien menarik satu koper yang tersisa lalu berjalan meninggalkan kamar yang sangat berantakan. Di depannya, Nora berjalan dengan angkuh dengan dagu terangkat. Suara dua pasang heels yang saling bersahutan menggema di anak tangga, Nora dan Celine menuruni anak tangga dengan langkah tenang dan pasti. Namun langkah mereka terhenti ketika melihat keluarga mereka berkumpul di depan sana dengan tatapan tertuju pada mereka."Ada aku dan Bagas di sini, kamu tidak perlu khawatir," bisik Celine.Nora mendnegus sinis. "Aku tidak takut pada apapun."Langkah kakinya membawa No

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 106

    Pranggg!Suara pecahan kaca nyaring menggema, memecah keheningan malam di dalam kamar mewah itu. Sebuah botol parfum berbahan kristal hancur berkeping-keping setelah dihantamkan Nora ke lantai marmer. Cairan wangi yang mahal kini mengalir di antara serpihan kaca, menguapkan aroma semerbak yang terasa mencekik di tengah atmosfer yang begitu panas.Nora benar-benar telah kehilangan akal sehatnya."Kurang ajar! Berani-beraninya Adrian mengusirku dari mansion ini!" teriak Nora histeris. Napasnya memburu, dadanya kembang kempis menahan amarah yang membakar seluruh dadanya.Kedua tangannya menyapu bersih permukaan meja rias. Botol-botol kosmetik, tempat perhiasan, dan cermin kecil, semuanya terbang dan hancur berantakan di lantai. Kamar yang semula rapi kini tak ubahnya seperti medan perang. Harus pergi malam ini juga? Perintah Adrian bagaikan tamparan keras yang menghancurkan harga dirinya berkeping-keping."Ini semua karena Meysa! Jalang sialan itu!" jerit Nora lagi, suaranya melengking f

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 105

    "Hahhh.."Di atas tempat tidur, Nozela duduk memeluk lutut, matanya tak lepas dari layar ponsel yang menyala redup.Di sana, tertera sebuah nomor baru tanpa nama.Pikiran Nozela berkecamuk. Sejak siang tadi, setelah nomor asing itu mengirimkan sebuah pesan singkat yang misterius, ponselnya mendadak sunyi. Tidak ada pesan susulan, tidak ada penjelasan. Gantung. Dan hal itulah yang justru membuat dadanya terasa sesak oleh rasa penasaran sekaligus was-was.Nozela menghela napas panjang, lalu menyandarkan kepalanya ke head board. Ia mulai berbicara pada dirinya sendiri, menyuarakan kebingungan yang sejak tadi berputar-putar di kepalanya."Nggak mungkin..." bisiknya lirih pada keheningan kamar."Aku tidak pernah sembarangan memberi nomor pribadi ini ke siapa pun. Bahkan untuk urusan kantor atau belanja online pun aku pakai nomor khusus kantor. Siapa yang bisa tahu nomor ini?"Ia mengingat-ingat setiap orang yang ia temui dalam beberapa bulan terakhir, mencoba mencari celah di mana ia mungk

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 104

    "Adrian, kenapa kamu mengumpulkan semua orang?" tanya Oma Rosa.Suasana di ruang tamu kediaman utama keluarga Lysander yang biasanya hangat, malam itu mendadak mencekam. Seluruh anggota keluarga berkumpul, namun tak ada satu pun suara yang berani memecah keheningan. Di tengah ruangan, Adrian duduk dengan tenang. Tatapannya lurus, tajam, dan sedingin es, tertuju tepat pada satu orang, Nora, kakak kandungnya.Nora yang ditatap seperti itu mencoba tetap tenang, meski jemarinya yang saling bertautan tak bisa menyembunyikan kegelisahan."Evan," panggil Adrian, suaranya rendah namun penuh penekanan yang mengintimidasi."Berikan buktinya."Evan, asisten pribadi Adrian yang setia, melangkah maju dengan wajah tanpa ekspresi. Ia meletakkan sebuah tablet di atas meja kaca, tepat di hadapan Oma Rosa. Evan menekan tombol play pada sebuah file rekaman video."Ini adalah rekaman CCTV dari dapur belakang, tepat tiga hari yang lalu, beberapa jam sebelum Tuan Adrian dilarikan ke UGD," ujar Evan tenang.

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 103

    Gemercik air terdengar nyaring begitu Adrian memutar kran shower di dalam kamar mandi. Tanpa menunggu lama, semburan air dingin langsung mengguyur tubuh Meysa, membasahinya dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Meysa tersentak kecil, memejamkan mata rapat-rapat saat air mulai mengalir deras membasahi wajah dan pakaiannya.Adrian melangkah mendekat. Dengan gerakan tenang namun pasti, ia menggulung lengan kemeja putihnya ke atas hingga sebatas siku, mengekspos lengan bawahnya yang kokoh. Matanya menatap lekat sisa-sisa tanah yang masih menempel di sela-sela rambut dan lengan Meysa."Adrian, stop. Aku bisa sendiri," ujar Meysa setengah memprotes. Suaranya sedikit bergetar karena dinginnya air, tangannya terangkat mencoba meraih botol sampo secara mandiri.Namun, Adrian mengabaikan penolakan itu. Ia justru melangkah maju, memperkecil jarak di antara mereka di bawah guyuran air. Kedua tangan Adrian bergerak lembut namun tegas, mulai menyisir sela-sela rambut Meysa, membantu meluruhkan gu

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status