Partager

Bab 91

Auteur: Addarayuli
last update Date de publication: 2026-06-12 17:11:36

Langkah kaki Meysa terdengar berirama, berbaur dengan deru pelan roda tempat tidur pasien dan langkah terburu-buru para perawat. Koridor rumah sakit siang itu sedikit ramai. Bau khas antiseptik menyengat penciumannya, namun Meysa sudah mulai terbiasa dengan atmosfer ini selama beberapa hari terakhir.

Di tangan kanannya, sebuah paper bag berisi wadah makanan bergoyang pelan. Meysa sengaja memasak menu spesial rendah garam kesukaan ibunya agar sang ibu tidak bosan dengan makanan harian rumah saki
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 96

    Malam semakin larut, namun ketenangan tak kunjung mampir di hati Meysa. Di dalam kamar mereka yang sunyi, Meysa perlahan mengganti pakaiannya dengan baju tidur yang nyaman. Namun, hatinya itu masih diliputi rasa cemas.Gerakannya terasa berat, penuh dengan keresahan dan kegelisahan yang terus menumpuk sejak sore tadi. Pandangannya berulang kali teralih pada jam dinding. Waktu terus berputar, tetapi sampai detik ini, Adrian, sang suami belum juga memberinya kabar. Tidak ada telepon, bahkan tidak ada satu pun pesan singkat yang masuk.Mencoba mengusir rasa sesak yang kian menghimpit, Meysa melangkah menuju balkon kamar mereka. Dia membuka pintu kaca lebar-lebar, membiarkan angin malam yang dingin menerpa kulitnya.Dari atas balkon, Meysa menatap kosong pemandangan di bawah sana. Lampu-lampu jalanan dan gedung tinggi tampak berkelap-kelip indah, namun di mata Meysa, semua itu terasa hambar. Pikiran-pikirannya berkecamuk liar.Apakah Adrian masih terjebak rapat? Atau suaminya sudah istira

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 95

    Suasana ruang makan di rumah Nozela malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring terdengar begitu jelas, mengisi kekosongan di antara mereka bertiga.Nozela duduk dengan pandangan yang lebih banyak tertuju pada nasi di piringnya. Ia hanya mengaduk-aduk lauknya sesekali, menyuap dengan perlahan, dan lebih banyak diam. Pikirannya tampak melayang entah ke mana."Nozela, kamu tidak perlu pergi bekerja dulu kalau memang kamu masih sakit." ucap Andito memecah keheningan.Nozela mendongak sedikit, lalu mengangguk kecil. "Ojel sudah lebih baik kok pah, besok sudah bisa ke kantor," jawabnya singkat, lalu kembali menunduk.Mama yang menyadari perubahan sikap putrinya ikut menimpali, "Perut kamu masih sakit, Jel? Kok makanannya cuma diaduk-aduk begitu? Biasanya kamu paling suka kalau Mama masak udang.""Enggak, Ma. Nozela cuma masih tidak enak makan saja," sahut Nozela seadanya, tersenyum tipis hanya untuk menenangkan Mamanya agar tidak khawatir.

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 94

    Suasana di dalam kamar Nora benar-benar suram. Wajah keduanya merah padam, bahkan terdapat dua botol air mineral yang sudah kosong berada di atas meja.Nora duduk di tepi ranjang dengan wajah ditekuk, sementara Celine bolak-balik berjalan di depan cermin sambil terus-menerus meludah ke dalam tisu. Wajah keduanya merah padam bukan karena malu saja, tapi juga karena menahan rasa asin yang luar biasa."Ini semua gara-gara kamu, Celine!" seru Nora sambil melempar bantal sofa ke arah sahabatnya itu."Kamu bilang rencananya bakal mulus. Kenapa malah kita yang kena?!"Celine menangkap bantal itu dengan kesal, lalu menghempaskan tubuhnya ke kursi meja rias. "Ya mana aku tahu kalau Meysa akan seberuntung itu! Aku sudah pastikan sup yang banyak garamnya itu masih di tempatnya, tapi kenapa hanya milik kita yang asin!"Kalau diingat-ingat kejadian di ruang makan tadi, rasanya Nora ingin menghilang saja dari muka bumi.Celine memasukkan setengah botol garam ke dalam mangkuk sup Meysa agar ketika O

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 93

    Aroma rempah khas menguar memenuhi seisi dapur, Meysa menyeka bulir keringat di dahinya dengan punggung tangan, matanya fokus menatap wajan besar berisi daging yang mulai menggelap. Meysa memutuskan memasak rendang untuk menu makan malam nanti."Sini, Nyonya Meysa, biar saya gantian yang aduk. Nyonya istirahat dulu sebentar, dari tadi belum duduk," ucap asisten rumah tangga yang setia menemani Meysa memasak.Meysa tersenyum tipis dan menggeleng. "Tidak apa-apa, Bik. Bibik kerjakan yang lain saja."Selain rendang, Meysa juga menyiapkan beberapa menu pendamping untuk makan malam keluarga besar. Ada ayam goreng lengkuas, sambal ijo, dan sebuah panci berisi sup ayam sayuran bening yang segar menu kesukaan Oma Rosa untuk pembuka."Nyonya, coba anda cicipi dulu. Apakah rasanya sudah pas?""Baik Bik."Meysa mendekat lalu mencicipi sup ayam yang sedang di masak oleh asisten rumah tangga."Hem..enak," puji Meysa.Setelah memastikan sup ayamnya matang dengan rasa yang pas dan gurih, Meysa beran

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 92

    Sore itu, langit di atas ibu kota mulai berubah jingga keemasan saat mobil mewah Nora memasuki gerbang besi tinggi menuju Mansion Lysander. Di kursi penumpang, Celine duduk sembari berkaca, mematut riasan wajahnya yang sempurna.Nora sengaja mengajak sahabatnya itu datang ke mansion hari ini. Bukan tanpa alasan, melainkan karena ada misi khusus yang sudah mereka bicarakan sepanjang jalan."Ingat ya, Celine. Nanti di depan Oma, aktingmu harus natural," ujar Nora sambil memutar kemudi, memarkirkan mobilnya tepat di depan teras mansion yang megah.Celine tersenyum licik, memasukkan lipstik ke dalam tas brandednya. "Tenang saja, Nora. Alasan kunjunganku sudah sempurna. Aku ke sini untuk menjenguk Oma Rosa, sekaligus menjenguk Adrian yang katanya kemarin sakit. Padahal..." Celine terkekeh pelan."Aku tahu Adrian itu sudah langsung pergi kerja ke luar kota pagi ini. Tapi kan, tidak salah kalau aku menunjukkan perhatianku?"Nora ikut tertawa renyah. "Tepat sekali. Dan bonusnya, kita bisa mem

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 91

    Langkah kaki Meysa terdengar berirama, berbaur dengan deru pelan roda tempat tidur pasien dan langkah terburu-buru para perawat. Koridor rumah sakit siang itu sedikit ramai. Bau khas antiseptik menyengat penciumannya, namun Meysa sudah mulai terbiasa dengan atmosfer ini selama beberapa hari terakhir.Di tangan kanannya, sebuah paper bag berisi wadah makanan bergoyang pelan. Meysa sengaja memasak menu spesial rendah garam kesukaan ibunya agar sang ibu tidak bosan dengan makanan harian rumah sakit.Meysa terus berjalan hingga tiba di ujung lorong yang lebih tenang, area kamar VVIP. Setelah mengembuskan napas panjang untuk mengusir lelahnya, ia memutar kenop pintu nomor 302.Di dalam kamar yang luas dan nyaman itu, seorang wanita paruh baya sedang bersandar pada tumpukan bantal. Wajahnya yang semula tampak pucat langsung berbinar begitu melihat siluet Meysa di ambang pintu."Anak ibu sudah datang," sapa Ibu Ningsih dengan suara yang masih agak lemah namun penuh kehangatan."Siang, Ibu. M

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status