로그인Naga energi gabungan tiga warna—Hitam Onyx, Perak Murni, dan Emas Murni—melesat bagaikan meteor jatuh, membelah angkasa Lembah Jurang Kabut Purba dengan raungan dahsyat yang menggetarkan seluruh bukit batu. Udara di sekeliling lapangan terdistorsi hebat oleh gesekan energi Tri-Elemen yang teramat padat. Di titik tengah ledakan, Martis berdiri terkunci oleh kubah cahaya milik Lina. Melihat ketepatan waktu dan sinergi tanpa cela dari ketiga muridnya, senyuman bangga yang teragung terukir manis di wajah Penguasa Api tersebut. "Sinergi yang teramat sempurna, Anak-anakku!" gumam Martis bangga. BOOOOOOOOOOOOOOOOMMMM! Naga energi Tri-Elemen menghantam raga Martis secara mutlak. Ledakan cahaya tiga warna membumbung tinggi ratusan meter ke udara, memicu badai angin panas dan pendaran petir keemasan yang menyapu seluruh pelataran rumput Danau batu di dekat mereka terangkat belasan meter memiringkan tirai air yang amat megah. Asap tebal dan percikan bunga api meluruh perlahan-lahan.
Pagi hari di Lembah Jurang Kabut Purba disambut oleh embusan angin dingin yang membelah tebalnya tirai kabut perak. Di tengah pelataran rumput luas di tepi danau batu, Rian, Lina, dan Kiki telah berdiri tegak. Ketiganya memancarkan pendaran aura Tri-Elemen yang kian pekat dan stabil, sebuah bukti nyata bahwa Sirkulasi Jiwa Bertiga telah mengakar sempurna di dalam meridian mereka. Namun, suasana latihan pagi ini terasa sangat berbeda dari biasanya. Tidak ada sasaran tebing batu yang disiapkan, tidak ada arahan teori dari Duo Naga Lele Purba. Di hadapan mereka, berjarak sepuluh langkah, Martis melangkah perlahan ke tengah lapangan. Jubah tempur berujung keemasannya melambai tenang. Sang Penguasa Api tidak memegang senjata apa pun, namun hanya dengan berdiri tegak, pendaran Api Suci Abadi Tingkat Dewa yang melingkupi raganya sudah cukup untuk membuat udara di sekeliling lembah mendidih dan menekan tanah batu hingga retak-retak halus. "Ayah...?" bisik Rian ragu seraya meremas gaga
Sesi latihan khusus pada hari berikutnya dimulai dengan metode yang sama sekali baru dan unik. Di tengah pelataran rumput Lembah Jurang Kabut Purba, Rian, Lina, dan Kiki tidak lagi berdiri terpisah dalam jarak beberapa meter seperti biasanya. Ketiganya duduk melingkar di atas tanah batu latihan, saling berhadapan dengan telapak tangan yang saling bertautan erat. Rian memegang telapak tangan kiri Lina dan telapak tangan kanan Kiki. Lina memegang telapak tangan kanan Rian dan tangan mungil Kiki di sisi lain. Di tengah lingkaran kecil mereka, Belati Naga Perak Yin, Tongkat Bintang Murni, dan guci batu milik Kiki diletakkan secara sejajar, memancarkan pendaran tiga warna yang bergetar lembut. Martis berdiri di sisi lapangan bersama Mia, mengawasi setiap pergerakan denyut nadi dan aliran meridian ketiga muridnya dengan Mata Penglihat Kehampaan. Sementara Duo Naga Lele Purba melayang rapat di atas kepala mereka, siap memberikan arahan teknis secara terperinci. "Dengarkan intruksiku
Sinar mentari pagi membiaskan pendaran cahaya keemasan yang hangat menembus celah tebing tinggi di Lembah Jurang Kabut Purba. Di atas tanah rumput yang masih basah oleh embun pagi, Rian, Lina, dan Kiki duduk bersila dalam lingkaran kecil. Meskipun senyuman kebahagiaan atas keberhasilan mengeksekusi jurus kombinasi Badai Naga Penghancur Yin-Yang Petir kemarin masih berbekas jelas di bibir mereka, raga ketiga murid kecil itu tampak masih lemas dan tak bertenaga. Napas mereka tersengal-sengal pendek, dan pendaran aura di sekeliling kulit mereka belum sepenuhnya pulih. Dua Naga Lele Purba melayang pelan di atas kepala mereka. Ikan Lele Hitam mengibaskan kumis naga kegelapannya seraya mengamati aliran meridian Rian dengan seksama, sementara Ikan Lele Putih memancarkan hujan gelombang cahaya perak halus untuk menyegarkan raga Lina dan Kiki. Martis melangkah mendekat dengan jubah tempurnya yang berujung keemasan melambai lambat ditiup angin pagi. Di sisinya, Mia berjalan anggun membawa
Hari demi hari berlalu di Lembah Jurang Kabut Purba dengan ritme yang teramat padat. Di bawah naungan dinding-dinding tebing terjal yang menjulang menggapai angkasa, pelataran rumput di tepi danau batu menjadi saksi bisu dari tetesan keringat, perjuangan, dan keteguhan jiwa tiga murid kecil sang Penguasa Api. Setiap pagi, sebelum fajar menyingsing dan saat kabut perak masih menyelimuti lembah, Rian, Lina, dan Kiki sudah berdiri tegak di lapangan latihan. Latihan yang diberikan oleh Martis dan Duo Naga Lele Purba sama sekali tidak main-main. Rian dipaksa mengasah kelincahan tebasan Belati Naga Perak Yin menembus seratus sasaran kayu melayang dalam hitungan detik. Lina harus menahan tumpuan Perisai Cahaya Yang dari hempasan ombak air terjun purba tanpa membiarkan pertahanannya retak. Sementara Kiki, kera emas kecil yang kian menunjukkan tanda-tanda awal evolusi jiwanya, digembleng secara brutal untuk memadatkan Petir Keemasan Kuno agar tidak menyebar liar. Meskipun rasa lelah yang
Setelah peristiwa haru dan penyerahan warisan di goa raksasa, rombongan keluarga Pahlawan Api kembali ke area perkemahan di dasar Lembah Jurang Kabut Purba. Pendaran mentari pagi membiaskan sinar keemasan yang hangat menembus kabut perak, menyinari pelataran rumput luas di dekat tepi danau batu. Suasana perkemahan kini terasa makin hidup dan penuh semangat. Martis berdiri tegap di tengah pelataran dengan jubah tempurnya yang melambai lambat ditiup angin. Di sisinya, Mia duduk anggun di bangku kayu ditemani cangkir teh hangat, menatap suami dan anak-anaknya dengan senyuman penuh kehangatan. Di hadapan Martis, telah berbaris tiga murid kecilnya. Rian berdiri paling kanan dengan cengkeraman mantap pada Belati Naga Perak Yin, Lina berdiri di tengah mengayunkan Tongkat Sihir Kecil Bintang Murni, dan di sebelah kiri berdiri Kiki, kera emas kecil yang kini membusungkan dadanya yang mungil seraya mengenakan kain merah kecil yang diikatkan Rian di dahinya. Martis melipat kedua tanganny
Sosok misterius itu menatap tajam petir yang Martis maksud. Ia pun berkata dalam hatinya, 'Apa...?! Bukankah Petir ini adalah petir putih? Petir putih adalah petir yang paling tinggi! Celaka, aku belum pernah sebelumnya melawan petir tingkatan ini. Tapi apa boleh buat, aku tidak akan mau dipermaluk
Jeritan minta tolong itu menggema di tengah derasnya hujan dan gemuruh petir. Martis berlari sekencang mungkin ke arah sumber suara dengan jantungnya yang berdebar-debar. Saat Martis tiba, ia melihat tenda Aidit sudah porak-poranda, kainnya terkoyak dan tercabik-cabik oleh tubuh raksasa anaconda it
Dalam sejarah hidupnya, sampai saat ini hanya ada dua orang yang mampu menghadapi serangan meteor miliknya. Dan orang kedua itu adalah Martis. "Si-siapa kau sebenarnya?" tanya Edmiral Kaziru yang akhirnya penasaran. "Aku?" Martis menunjuk dirinya sendiri. "Bukankah kau sudah tahu, bahwa namaku ada
Martis dan Gozil melihat bahwa Edmiral Kaziru berhasil menahan serangan yang Gozil lakukan. Melihat itu, Gozil sangat frustasi. Matanya melotot dan ia mengeraskan rahangnya lalu berteriak, "Jangan remehkan kekuatan Ras Naga...!" Gozil pun kembali membuka mulutnya berniat sekali lagi menembakkan bola







