LOGINSuara dentuman gong perunggu kembali membelah keriuhan Kota Batu Berdarah. Asap tipis yang tersisa dari pertarungan sebelumnya perlahan memudar, memperlihatkan permukaan panggung batu meteorit yang kini dipenuhi retakan mendalam. Martis mendarat dengan anggun di tengah panggung. Jubah tempurnya yang berujung keemasan melambai tenang ditiup angin sore, sementara mata keemasannya memancarkan pendaran dingin yang teramat tenang. Di antara ribuan penonton yang memadati tribun, bisik-bisik penasaran mulai merebak. Penampilan Martis yang rapi dan tampan tampak sangat kontras jika dibandingkan dengan para petarung bersenjata berat yang mendominasi sayembara ini. "Nomor Peserta 45 telah bersiaga!" seru pengawas arena seraya mengangkat tangannya. "Dan lawannya di babak ini adalah... sang mawar beracun yang tak terkalahkan, Vanya si Penyihir Mawar Hitam!" Dari sudut panggung yang lain, sesosok wanita melangkah keluar dengan keanggunan yang menghipnotis. Ia mengenakan gaun sutra hitam be
Suasana di sekitar arena batu meteorit Kota Batu Berdarah masih diselimuti keheningan yang serba canggung. Asap tebal dari puing-puing lantai panggung yang hancur akibat pelukan brutal dua raksasa perlahan memudar. Di tengah kawah tersebut, Estias dan Brakas masih saling merangkul bahu, menyeringai lebar dengan wajah penuh debu dan ingus konyol yang mengalir akibat menangis haru. Sang pengawas arena menyapu keringat dingin di pelipiknya seraya melangkah maju dengan canggung, memegang mikrofonsihir yang sedikit bengkok. "E-Ekhem! Pengumuman untuk peserta... Estias dan Brakas!" teriak sang pengawas dengan suara bergetar. "Kalian berdua saat ini sedang berada di tengah babak eliminasi sayembara! Harap segera tuntaskan pertarungan ini agar kita bisa menentukan siapa yang berhak lolos ke babak berikutnya!" Estias dan Brakas menghentikan tawa konyol mereka, lalu menoleh serentak ke arah sang pengawas arena. "Pertarungan?!" seru Estias dengan suara menggelegar, memanyunkan bibirnya
Sorak-sorai penonton Kota Batu Berdarah bergemuruh hebat setelah Estias menang mutlak di babak pertama. Sang raksasa Dominion masih berdiri konyol di tengah arena batu meteorit, memamerkan otot-otot lengannya ke berbagai arah seraya melambaikan tangan seperti pahlawan besar. GONGGGGG! "Pertarungan berikutnya untuk giliran kedua!" teriak pengawas arena seraya menyapu keringat di keningnya. "Di sudut kiri, Estias si Raksasa Dominion! Dan di sudut kanan... petarung misterius dari Pegunungan Selatan, Brakas si Penghancur Karang!" Dari lorong arena sebelah kanan, langkah kaki yang teramat berat menggetarkan panggung. Sesosok raksasa melangkah keluar, dan seketika itu juga seluruh penonton termasuk Martis yang berdiri di barisan depan terbelalak kaget. Raksasa itu memiliki tinggi, postur tubuh, bahkan zirah kulit batu yang hampir identik dengan Estias. Wajahnya yang memilik hidung besar, pipi tebal, dan gaya rambut kuncir batu konyol benar-benar seperti cetakan kembar dari Estias.
Riuh rendah sorak-sorai penonton menggema membakar atmosfer Kota Batu Berdarah. Ribuan petarung dari berbagai sekte, wilayah perbatasan, hingga pengembara independen telah berkumpul di sekeliling arena utama yang terbuat dari susunan batu meteorit keras. Di atas panggung kehormatan, Telur Binatang Dewa Suci berpendar kian terang, memancarkan aroma esensi murni yang menyulut keserakahan para peserta. Martis dan Estias melangkah santai menuju meja pendaftaran di pinggir panggung. Seorang pria tua berjanggut kelabu dengan pakaian pengawas arena menyodorkan sebuah tabung tembaga berisi ratusan bambu undian nomor peserta. "Ambil masing-masing satu nomor," ujar sang pengawas arena dengan suara parau. "Aturan sayembara ini sederhana, tidak ada pembatasan senjata, siapa pun yang jatuh keluar dari arena atau menyerah dinyatakan kalah. Pembunuhan dilarang, tetapi luka berat adalah hal biasa di tempat ini!" Estias mendorong tubuh raksasanya ke depan, merogohkan jari batunya yang tebal ke
Keberangkatan Lancelot meninggalkan kedamaian yang sunyi di Desa Lembah Asri. Meski ada sedikit rasa sepi yang tertinggal di hati Mia, senyuman hangat di wajahnya perlahan kembali terpancar saat melihat pemandangan desa yang semakin makmur dan sejahtera di bawah naungan sinar matahari pagi. Di teras rumah kayu mereka, Martis berdiri menatap ke arah utara. Pendaran Mata Penglihat Kehampaan di mata keemasannya menyipit, menyimak jendela antarmuka Sistem yang berkedip-kedip cepat memancarkan pemberitahuan berwana emas murni di dalam benaknya. [Pemberitahuan Khusus Sistem!] [Terdeteksi Acara Besar di Sektor Barat: Kota Batu Berdarah] [Nama Acara: Sayembara Pertarungan Para Penguasa] [Hadiah Utama: Telur Binatang Dewa Suci (Tingkat Pertumbuhan Purba)] [Catatan Tambahan: Telur Ini Memiliki Kompatibilitas Khusus dengan Esensi Api Suci & Kekuatan Dominion!] Martis menarik napas panjang. Sejak terobosan kekuatannya di Puncak Naga Perak, ia membutuhkan pendamping bertarung atau binatang
Sinar matahari sore membias jingga di atas bukit Desa Lembah Asri. Angin sejuk berembus pelan, menggoyangkan dedaunan dan membawa aroma tanah basah yang menenangkan. Di tepi tebing yang menghadap langsung ke arah bentangan luas Benua Utama, Martis, Mia, dan Lancelot berdiri bersama. Atmosfer di antara mereka bertiga terasa begitu tenang namun diselimuti oleh kecanggungan yang amat dalam. Lancelot menarik napas panjang, merapikan cengkeraman pedang di pinggangnya, lalu berbalik menghadap kedua orang tuanya. "Ayah... Ibu..." buka Lancelot dengan suara yang mantap dan tegas. "Ada sesuatu yang harus kusampaikan." Mia dan Martis menatap putra mereka. Martis tetap berdiri tegak dengan mata keemasannya yang tenang, seolah telah menduga apa yang akan diucapkan oleh Lancelot. Sementara itu, jemari Mia meremas kain gaunnya, firasat seorang ibu berbisik tajam di dalam dadanya. Lancelot berlutut di hadapan mereka berdua, menyilangkan satu tangannya di dada sebagai bentuk penghormatan te
Lalu keesokan harinya Martis mengatakan bahwa ia akan mencoba menemui pemimpin Bayangan Hitam. Terkadang, keberanian sejati bukanlah tentang berperang, akan tetapi tentang mencari cara untuk menyelesaikan konflik tanpa harus bertempur. Dengan kekuatan dan kebijaksanaannya, Martis akan mencoba untuk
Seiring dengan berjalannya waktu, Dr. X semakin tampak lemah dan terdesak. Martis dengan kekuatan Elysium terus menyerang tanpa henti. Setiap serangan yang dilancarkan oleh Martis tampaknya berhasil membuat Dr. X semakin terpojok."Kali ini aku tidak akan memberimu kesempatan untuk memulihkan diri,"
Martis langsung bersiap akan menuju toko kue milik orang tuanya itu."Martis, biar Ayah saja yang ke sana. Kau tetaplah di sini saja," ucap Marten yang ingin mencegah Martis pergi. Marten khawatir akan terjadi sesuatu pada anak kesayangannya ini."Tidak Ayah! Mungkin tadi belum cukup untuk membuat mer
Akhirnya pengintai yang berhasil Martis tangkap langsung dibawa oleh Odele untuk diinterogasi.Namun nampaknya, kali ini orang itu benar-benar mengunci mulutnya dengan rapat. Setiap kali diancam dan bahkan dipukuli, orang itu hanya menyeringai. Dan lagi, ia seperti tidak merasakan sakit sedikitpun.Od







