Masuk"Serang mereka! Tangkap Pembawa Api Suci!" jerit Kapten Gigor sambil menarik pedangnya. Puluhan prajurit langsung mengepung mereka. Tanpa buang waktu, Estias mengayunkan tangannya yang raksasa. Tanpa menggunakan senjata, hanya dengan kibasan jubahnya yang ketat, gelombang angin kencang tercipta dan menghempaskan lima prajurit sekaligus hingga melayang ke udara. WUSSSHHH! "Martis! Buka jalannya!" teriak Estias. Martis melompat ke depan, menarik Pedang Api Suci. Dengan satu tebasan horizontal, lidah api keemasan membakar barisan tombak musuh dan menciptakan jalur ledakan di tengah Gerbang Gerhana. Kapten Gigor mencoba menyerang Martis dari belakang dengan kapaknya. Namun, Estias dengan santai menangkap mata kapak tersebut hanya menggunakan dua jarinya. "Kau mengganggu muridku," kata Estias dingin. Dengan satu sentilan jari dari tangan satunya, Estias menyentil dahi Kapten Gigor. PLEK! Kapten Gigor melesat mundur bagaikan peluru, menabrak menara pengawas gerbang hingga me
"Pertarungan yang bagus, Martis. Kerja sama tim kita sangat sempurna," ujar Estias bangga. Martis menatap Estias dengan pandangan tidak percaya. "Kerja sama? Kau cuma menggelinding ke semak-semak!" "Itu dinamakan bantuan psikologis," sahut Estias santai. "Tapi jika Lembah Astral dikuasai, kita harus segera bergerak. Tempat penyimpanan prasasti kuno ada di sana." "Baiklah. Tapi syaratnya satu," kata Martis tegas. "Selama perjalanan, aku yang memasak." Perjalanan menuju Lembah Astral memaksa Martis dan Estias menembus Hutan Gerhana. Wilayah ini kini sangat dijaga ketat oleh sekte lokal yang bekerja sama dengan Sekte Bayangan Abadi. Pos-pos pemeriksaan didirikan di setiap sudut, lengkap dengan poster buronan berisi sketsa wajah Martis dan Estias. Di dekat sebuah tebing, Martis dan Estias mengamati Gerbang Gerhana dari balik semak-semak. Gerbang itu dijaga oleh belasan prajurit berzirah tebal yang dipimpin oleh Kapten Gigor, dia seorang ksatria berkumis melengkung yang terkenal sanga
Asap tebal sisa pertarungan besar Martis tadi masih membumbung di atas puing-puing Kota Benteng Astral. Setelah mengalahkan Penguasa Besar dan menyatukan Tujuh Esensi Api Suci, Martis mendapati dirinya berada di ambang batas kekuatan fisik. Jiwanya membara dengan daya ilahi, namun tubuh fana-nya menuntut istirahat dan terutama, makanan. Di sampingnya, berdiri Estias. Sosok pria berbadan tegap dan kekar luar biasa yang merupakan salah satu dari Tiga Penjaga Dominion Ranah Atas. Meski penampilannya sangat mengintimidasi dengan zirah emas yang megah dan tatapan mata sekeras baja, Estias kini punya peran baru sebagai sekutu setia sekaligus pembimbing Martis. Sayangnya, keagungan Estias sering kali ternoda oleh sifatnya yang terlalu kaku dan bertindak tanpa berpikir panjang. "Martis," kata Estias dengan suara bass yang menggelegar, membuat dedaunan di sekitar mereka berguguran. "Sebagai Sekutu Setiamu dan Penjaga Dominion, aku telah menyiapkan ritual pemulihan stamina agung untuk sang
Gemuruh dari runtuhnya pilar-pilar batu kuno belum sepenuhnya reda saat atmosfer di dalam Dimensi Batas Kegelapan berubah menjadi medan pembantaian energi murni. Tempat yang tadinya merupakan aula takhta Kaelen kini telah kehilangan struktur fisiknya; lantai pualam hancur melenyap, menyisakan ruang hampa berujung lautan energi yang bergolak dahsyat. Kaelen—Penguasa Besar Ranah Atas—tertawa histeris di tengah amukan angin hitam. Mahkota duri keemasannya meletupkan pecahan kristal kegelapan, sementara jubah tenun bayangannya terkoyak memancarkan Aura Keabadian Kelam. "Hahaha! Luar biasa! Penggabungan roh sistem dan Esensi Tujuh Api Suci!" Kaelen merentangkan kedua tangannya. Dari balik punggungnya, delapan lengan bayangan raksasa mencuat keluar, masing-masing memegang senjata pusaka tingkat Dewa. "Kau pikir menyatu dengan roh itu cukup untuk menjatuhkanku, Martis?! Aku telah bertakhta di Ranah Atas selama sepuluh ribu tahun!" "Sepuluh ribu tahunmu..." suara Martis bergema, bergulun
"Maafkan aku, Martis..." bisik Ririn dengan nada suara yang teramat lembut. "Aku terlampau menikmati wujud manusia ini sampai-sampai aku lupa... bahwa aku bukanlah makhluk lemah yang bisa disandera oleh serangga-serangga ini." "Apa yang kau bicarakan?!" Kaelen menyipitkan matanya, merasakan ada gejolak gelombang data dan frekuensi asing yang mendadak meletup dari dalam tubuh Ririn. Martis yang berdiri kaku mendadak tertegun. Matanya membelalak saat menyadari apa yang akan dilakukan oleh Ririn. "Ririn, jangan—!" "Terima kasih telah membawaku melihat dunia ini dengan wujud seorang manusia, Martis," pangkas Ririn seraya tersenyum paling manis yang pernah ia ukir. "Tapi tempat terbaikku... adalah di dalam dirimu." Tring! Tring! Tring! Tring! Suara lonceng mekanis bergema nyaring secara beruntun di dalam ruang jiwa semua orang di aula tersebut. Seketika itu juga, wujud fisik Ririn mulai mengabur. Daging, darah, dan pakaian tempurnya meluruh, berubah menjadi jutaan partikel cah
"Martis!" jerit Ririn saat dua orang kepercayaan Kaelen—prajurit berzirah baja hitam dengan topeng tanpa wajah—muncul dari balik bayangan dan menancapkan belati beracun tepat di leher Ririn dan Estias. Segel sihir merah darah langsung menyala di kening Ririn dan Estias, mengunci aliran meridian dan wadah jiwa mereka sepenuhnya. Hanya dalam hitungan detik, dua kawan terbaik Martis telah sepenuhnya berada di bawah kendali cengkeraman mati pengawal Kaelen. Martis menghentikan langkahnya. Matanya menyipit tajam, pendaran emas di dalam pupilnya membara seketika. "Kaelen... kau menggunakan cara licik ini di hadapanku?" "Licik?" Kaelen bersandar santai di takhtanya, mengamati reaksi Martis dengan tatapan puas. "Dalam perang di tingkat tertinggi, tidak ada istilah licik, Martis. Yang ada hanyalah kemenangan. Belati di leher kawan-kawanmu dilapisi oleh Ekstrak Jiwa Hampa. Satu dorongan kecil saja dari pengawalku, maka jiwa mereka berdua akan hancur menjadi debu dan tidak akan pernah bisa
Jeritan minta tolong itu menggema di tengah derasnya hujan dan gemuruh petir. Martis berlari sekencang mungkin ke arah sumber suara dengan jantungnya yang berdebar-debar. Saat Martis tiba, ia melihat tenda Aidit sudah porak-poranda, kainnya terkoyak dan tercabik-cabik oleh tubuh raksasa anaconda it
Sosok misterius itu menatap tajam petir yang Martis maksud. Ia pun berkata dalam hatinya, 'Apa...?! Bukankah Petir ini adalah petir putih? Petir putih adalah petir yang paling tinggi! Celaka, aku belum pernah sebelumnya melawan petir tingkatan ini. Tapi apa boleh buat, aku tidak akan mau dipermaluk
Kemudian Martis berpikir sejenak. "Aku...? Aku bisa menggunakan gelar Raja Kegelapan karena telah mengalahkan Raja Kegelapan yang sebelumnya? Jadi..., itu artinya..., em...?" Martis termenung, ia sedang berpikir apa yang akan ia lakukan dengan gelar itu. Ia pun bergumam, 'Apakah berati aku setar
Dalam sejarah hidupnya, sampai saat ini hanya ada dua orang yang mampu menghadapi serangan meteor miliknya. Dan orang kedua itu adalah Martis. "Si-siapa kau sebenarnya?" tanya Edmiral Kaziru yang akhirnya penasaran. "Aku?" Martis menunjuk dirinya sendiri. "Bukankah kau sudah tahu, bahwa namaku ada







