Share

BAB 04

Guyuran hujan sedari siang tidak menunjukkan akan tanda - tanda mereda, justru semakin lama hujan semakin kian deras turunnya, membuat semua orang tidak dapat melakukan banyak aktivitas di luar rumah, sama halnya yang di alami Mizan dan Zahra saat ini.

Dua orang yang awalnya berniat ingin melakukan camping untuk menghabiskan waktu bersama setelah sekian lama karena Mizan yang selalu sibuk, kini mereka berdua hanya sedang menatap ke arah jendela di ruang tamu dengan tidak semangat.

"Hujannya malah semakin deras mana udah sore bagaimana ini mas? kita tidak jadi camping iya." Zahra menghelan nafas kecewa, karena angan - angan membuat moment indah bersama sang suami di pantai kini hanya tinggal wacana karena terkendala cuaca.

Hujan yang semakin deras dan suhu yang semakin dingin membuat Mizan tidak dapat membuat keputusan apa pun saat ini, karena meskipun memaksakan untuk tetap pergi camping sesuai rencana, tidak tahu kendala apa yang akan terjadi selama di perjalan nanti, dan dia tidak mau mengambil resiko tersebut.

Melihat sang istri yang terlihat murung, Mizan berusaha menghiburnya dan tiba - tiba terlintas satu ide di pikirannya.

Meski mungkin idenya terlihat sedikit kekanakan, dan jauh dari sifatnya yang tegas dan berwibawa, dia mengesampingkan hal itu demi sang istri bahagaia dan tidak murung lagi.

"Sayang aku punya ide." ucap Mizan bersemangat.

"Ide apa itu mas?" Zahra penasaran mengalihkan pandangannya kepada sang suami yang sebelumnya fokus menatap rintik hujan di depan jendela.

"Kita berkemahnya di rumah saja bagaimana? tadinya aku ingin mengajak berkemah di rooftop, tapi hujan semakin deras sudah di pastikan disana akan tergenang air dan tidak bisa di gunakan untuk camping, jadi kita lakukan saja di dalam rumah bagaimana?" ucap Mizan memberitahukan pendapatnya yang terlintas di pikirannya saat ini,

"Berkemah di rumah? di ruangan ini maksudnya?" Zahra menatap kearah sekitar untuk memastikan.

"Iya bagaimana?" Mizan menganggukkan kepalanya seraya menanti jawaban sang istri.

"Tapi nanti ada yang melihat kita bagaimana mas?"

"Itu masalah gampang nanti aku urus masalah itu, aku suruh semua orang libur hari ini dan tidak boleh ada yang masuk kesini sampai besok siang bagaimana?" sahut Mizan santai.

"Eum... sepertinya tidak terlalu buruk Mas, ayo kita lakukan kebetulan semua barang belum kita bawa ke dalam mobil kan?" Zahra pun kini nampak antusias.

"Iya sudah kalau begitu ayo kita mulai membuat tenda." Sahut Mizan mulai mempersiapkan tenda dan sebelumnya memberitahu kepada kepala asisten agar tidak ada satu orang pun di mansion tersebut sampai besok siang terkecuali penjaga yang harus tetap berjaga.

Setelah sepakat mereka akan melakukan kemah di dalam rumah. Mizan di bantu Zahra mulai memindahkan kursi dan mejanya ke pinggir karena bagian tengah akan dibuat tenda.

"Mas ini kita menggunakan apa sebagai penahan tenda?" tanya Zahra karena seingatnya bila di luar setiap sudutnya di paku ke dalam tanah sebagai penyangga.

"Eumm kita pakai batal di kursi, koper, dan benda apa saja yang berat sebagai penahan tiangnya." saran Mizan.

"Baiklah sekalian akan aku bawa bantal dari kamar dan kamar tamu." sahut Zahra kini berlari ke arah kamar.

"Ini jatuhnya kaya rumah - rumahan anak kecil iya." Mizan terkekeh padahal itu idenya sendiri.

"Tidak masalah, yang penting bikin happy istri, dapet pahala kan." Mizan terkekeh kembali melihat ke arah sekitar yang nampak tenda sudah jadi tinggal menyiapkan di dalam tenda dan mempersiapkan makanan dan snack.

"Ini mas." Zahra kembali dengan beberapa bantal yang dibawanya.

Saat hendak sampai Zahra tersandung karena membawa beberapa bantal sekaligus, hingga menutupi penglihatannya saat berjalan.

Mizan yang melihat sang istri tersandung reflek mendekat ke arah sang istri yang kebetulan jarak mereka tidak terlalu jauh, untungnya tidak sampai terjatuh saat menuruni tangga.

BRUUKKK

"Sayang kamu nggak kenapa - kenapa kan?" tanya Mizan memastikan keadaan seraya membantu sang istri bangun.

"Ng...nggak kenapa - kenapa mas, tapi itu tendanya jadi roboh gimana dong." sahut Zahra yang memperhatikan sekitar dan melihat ternyata tenda telah yang mereka pasang dengan susah payah telah roboh karena ulahnya yang tiba - tiba tersandung.

"Nggak masalah itu bisa di betulin lagi nanti, yang penting kamu nggak kenapa - kenapa. lagian kenapa sih maruk banget bawa bantalnya banyak banget kaya barusan." Mizan menggelengkan kepalanya tidak habis pikir.

"Iya tadinya biar cepet aja, menghemat waktu ceritanya biar cepet selesai semuanya, eh malah kaya gini." Zahra tertawa mengingat apa yang baru saja terjadi karena ulahnya.

"Baiklah syukur kalau kamu nggak kenapa - kenapa, ayo kita bangun lagi tendanya iya." Mizan bangun lalu membantu sang istri berdiri dan bersiap memasang kembali tendanya.

"Iya udah, tapi mas nggak kenapa  kenapa kan? tadi Zahra denger keras banget loh pas kita jatoh." tanya Zahra memperhatikan Mizan.

"Nggak apa - apa kok kan udah ada obatnya gampang itu."

"Iya udah kalau Zahra ambil dulu salep pereda nyerinya." Zahra hendak pergi untuk mengambil obat P3K yang berada di dapur, namun segera di tahan oleh Mizan dengan cepat.

"Kenapa mas?"

"Udah nggak usah, nggak sakit kok paling cuma merah - merah doang."

"Beneran nggak kenapa - kenapa?"

"Iya yakin nggak kenapa - kenapa."

Zahra tidak semudah itu percaya dengan perkataan Mizan, karena dia tahu betul tubuhnya menghantam cukup keras.

Zahra pun tidak menuruti perkataan sang suami kini tetap pada awal tujuannya ya itu mengambil kota P3K di dapur.

"Mas tiduran dulu di sofa!"

"Mau ngapain?"

"Udah nurut aja!" mau tidak mau Mizan mengikuti perintah Zahra yang memintanya berbaring di sofa.

"Mana tadi yang sakit?"

"Sebelah sini." Mizan menunjuk kearah pinggangnya dan segera Zahra mengolesinya dengan salep.

Setelah selesai mereka kembali mendirikan tenda, lalu mereka berdua menyiapkan bahan makanan yang akan di masak, dengan cekatan Zahra mulai memotong dan mengiris bumbu dan bahan makanannya.

"Air nya sudah mendidih sayang, terus yang pertama dimasukin apa?"

"Masukin aja dulu kentangnya!" perintah Zahra lalu mengikuti step by step membuat sup pedas.

"Wah wangi banget kayanya udah matang nih." Zahra mengambil sendok lalu mencicipinya, setelah dirasa pas dia pun mematikan kompor portablenya.

Mizan lalu mematikan lampu rumah lalu menyalakan senter untuk menerangi acara makan malam mereka dan menyalakan lampu berbentuk bulat yang terlihat seperti ras bintang malam hari melengkapi acara camping bukan pada tempatnya tersebut.

"Makanannya enak baru pertama aku mencobanya."

"Benarkah? aku juga baru pertama kali membuatnya, itu pun lihat dari youtube."

"Iya namanya juga masak sepernuh hati pasti akan selalu enak." puji Mizan karena memang kenyataannya seperti itu.

"Iya syukurlah kalau suka jadi tidak terbuang percuma."

Mereka pun melanjutkan acara makan malam tersebut, dan setelahnya masuk ke dalam tenda melakukan beberapa aktivitas seperti di perkemahan pada umumnya seperti bercerita dan bernyanyi.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status