Partager

Bab 6

Auteur: Lukman
Tepuk tangan dan sorakan dari para penonton terdengar makin meriah.

Tubuh Jevan menegang sedikit. Saat dia masih ragu apakah harus mencari alasan untuk menolak, Susan tiba-tiba berjinjit dan dengan cepat mencium pipinya.

Sentuhan lembut itu hanya berlangsung sesaat.

Sorak sorai dan siulan langsung meledak dari penonton.

Jevan terpaku di tempat, sementara ujung telinganya agak memanas.

Mereka pun berhasil mendapatkan model pesawat yang indah itu.

Saat turun dari panggung, Jodi memeluk model pesawat itu dengan penuh semangat. Namun, tidak ada kegembiraan di wajah Jevan. Secara refleks, dia lebih dulu menoleh ke arah tempat duduk Sheila.

Sheila sedang menatap ke luar jendela dengan tenang, seolah dia sama sekali tidak tertarik pada apa yang terjadi di atas panggung.

Setelah kembali ke tempat duduk, suasana menjadi agak canggung.

Jevan berdeham dan menjelaskan kepada Sheila, "Tadi ... itu cuma permainan."

Susan juga buru-buru menambahkan, "Benar, Sheila. Jangan salah paham. Itu cuma supaya dapat hadiahnya .... "

Jodi memeluk model pesawatnya, memandang ayahnya, lalu Susan, dan akhirnya menatap Sheila. Dengan suara pelan dia berkata, "Ma, kalau kita yang naik ke panggung, aku juga bisa jawab semua pertanyaan tentang Mama …. "

Sheila menoleh dan melemparkan pandangan tenang ke arah mereka. "Itu cuma permainan. Aku nggak akan salah paham, dan juga nggak peduli."

Makin tenang sikap Sheila, makin kuat rasa panik dan gelisah yang muncul di hati Jevan.

Dia mengambil garpu dan meletakkan sepotong iga asam manis ke dalam mangkuk Sheila. "Coba ini, rasanya lumayan enak."

Jodi menirunya. Dia mengambil sesendok daging ikan kukus dan menaruhnya ke dalam mangkuk Sheila. "Ma, makan ikan, ya!"

Sheila memandang iga dan ikan di dalam mangkuknya.

Iga asam manis adalah makanan yang paling tidak disukainya.

Sedangkan ikan kukus, dia alergi terhadap makanan laut. Dia jarang makan ikan, terutama ikan laut.

Dia mengangkat sendoknya dan mengaduk makanan itu sebentar, tetapi tidak memakannya. Dia hanya mengangkat kepala dan tersenyum kepada mereka. "Terima kasih."

Senyum itu terlihat sempurna, tetapi sama sekali tidak hangat, seperti topeng yang dibuat tanpa cela.

Melihat senyum seperti itu, hati Jevan langsung terasa berat.

Bahkan Jodi yang sejak tadi hanya sibuk memainkan mainan barunya pun samar-samar merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Dia mengangkat kepala dan menatap ibunya, wajah kecilnya memperlihatkan kebingungan dan kegelisahan.

Makan malam itu terasa hambar bagi semua orang.

Dalam perjalanan pulang, Jevan terlebih dahulu mengantar Susan kembali ke asramanya.

Setelah tiba di bawah gedung, Susan tidak langsung turun dari mobil. Dengan agak malu-malu dia berkata, "Jevan, bisa nggak aku ngerepotin kamu untuk naik sebentar? Lampu di kamarku rusak. Sejak tadi malam terus berkedip-kedip. Aku ... agak takut."

Jevan langsung mengangguk dan naik ke atas bersama Susan.

Malam kian larut, dan suasana sekitar menjadi sunyi.

Setelah menunggu hampir dua puluh menit, mereka masih belum juga turun. Jodi bahkan sudah tertidur sambil bersandar di kursi.

Sheila mengernyit, membuka pintu mobil, lalu berjalan ke atas.

Pintu kamar Susan tidak tertutup rapat dan cahaya lampu memancar dari dalam.

Saat tiba di depan pintu dan mengintip melalui celahnya, dia melihat Jevan berdiri di atas bangku sambil mendongak mengganti lampu. Susan berdiri di bawah sambil memegangi bangku dan menatapnya dengan pandangan penuh perhatian dan ketergantungan.

Setelah lampu selesai diganti, Jevan turun dari bangku. Susan menyerahkan handuk untuk mengeringkan tangannya. Entah bagaimana, kakinya tiba-tiba terpeleset. Dia berseru pelan, "Aduh," lalu tubuhnya terjatuh ke depan.

Jevan secara refleks mengulurkan tangan untuk menopangnya.

Wajah Susan, seolah kebetulan yang terlalu tepat, membentur bagian sensitif di bawah pinggangnya.

Tubuh Jevan langsung menegang. Dia mengerang pelan, sementara tangannya yang menopang Susan tanpa sadar mencengkeram lebih erat hingga urat-urat di punggung tangannya tampak jelas.

Dia memejamkan mata sesaat. Jakunnya bergerak naik turun, seolah sedang berusaha keras menahan sesuatu.

Susan buru-buru berdiri tegak. Wajahnya merah merona dan dia terus meminta maaf. "Maaf, maaf, Jevan. Aku benar-benar nggak sengaja .... "

Tepat pada saat itu, Jevan mengangkat kepala dan melihat Sheila yang berdiri di ambang pintu.

Wajahnya langsung berubah. Dia segera melepaskan Susan dan melompat turun dari bangku. "Sheila? Kenapa kamu naik ke sini? Di mana Jodi?"

"Dia tertidur di mobil." Nada suara Sheila datar. Tatapannya sekilas menyapu jarak di antara mereka yang tampak terlalu dekat. "Aku sudah nunggu cukup lama, kalian nggak juga turun."

"Lampunya agak sulit diganti, tapi sekarang udah selesai." Jevan merapikan pakaiannya lalu berjalan ke sisinya. "Ayo pulang."

Sepanjang perjalanan pulang, Jevan tidak mengucapkan sepatah kata pun. Garis rahangnya tampak menegang.

Setibanya kembali di rumah, Jodi sudah tertidur pulas. Jevan menggendongnya ke kamar kecil dan membaringkannya, sementara Sheila pergi mengoleskan obat.

Saat kembali ke kamar, dia mendapati Jevan tidak ada di sana. Dari kamar mandi terdengar samar suara air mengalir.

Dia duduk di tepi ranjang sambil membaca buku, tetapi setelah cukup lama, suara air itu masih belum berhenti.

Dia hendak memanggil Jevan. Namun, ketika baru sampai di depan pintu kamar mandi, dia mendengar suara napas berat yang tertahan dari dalam, sesekali diselingi erangan pelan.

Kemudian, di antara suara air dan napas itu, dia mendengar dengan jelas sebuah nama terucap.

"Susan …. "

Sheila berdiri di luar pintu tanpa ekspresi sedikit pun. Hanya sudut bibirnya yang terangkat membentuk senyum sinis.

Dia mengangkat tangan dan langsung mendorong pintu kamar mandi hingga terbuka.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 21

    Ada yang menangis, ada yang tertawa, ada pula yang saling berpelukan.Sheila tetap berdiri di tempatnya tanpa bergerak.Dia memandang awan jamur itu perlahan naik, makin tinggi, makin tinggi, hingga akhirnya menyatu dengan langit.Lalu dia berbalik dan berjalan keluar dari ruang kendali."Peneliti Sheila, Anda mau ke mana? Jamuan perayaan .…""Ke rumah sakit."Tiga bulan kemudianKota Bareksa, Rumah Sakit Umum Wilayah Militer.Sheila mendorong pintu ruang perawatan intensif.Jevan terbaring di ranjang rumah sakit, tubuhnya penuh selang, wajahnya pucat dan tampak sangat lemah.Sudah tiga bulan dia koma.Tiga kali dokter mengeluarkan surat kondisi kritis. Dan setiap kali itu pula, Sheila yang menandatanganinya.Pada kali ketiga, dokter berkata pelan, "Peneliti Sheila, Anda perlu bersiap secara mental."Sheila menjawab tenang, "Saya akan menunggunya."Menunggu seseorang yang dulu dia kira sudah selesai dalam hidupnya.Jodi berdiri di sampingnya. Kini dia berusia sembilan tahun, tubuhnya l

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 20

    Sheila tertegun.Jevan.Dia mengenakan seragam latihan militer. Wajahnya dipenuhi bekas kasar dari angin dan pasir gurun, namun sorot matanya justru menyala terang dan tajam."Kamu .…"Sheila kehilangan kata-kata."Aku sudah baca semua catatanmu."Suara Jevan cepat, tegas, tapi bergetar tipis."Aku tahu cara memperbaiki sistem antarmuka ini. Sheila, biar aku lakukan ini untukmu. Anggap saja … penebusan dosa."Sebelum Sheila sempat menjawab, dia sudah mengambil pakaian pelindung dan mengenakannya."Jevan!" Sheila tersadar. "Kembali! Itu bukan bidangmu!"Namun Jevan sudah mengenakan pelindung wajahnya lalu menoleh ke arah Sheila.Dari balik helm, matanya samar tetapi mantap."Sheila … kalau aku nggak kembali," suaranya pelan, "sampaikan ke Jodi … Papa mencintainya. Dan juga … mencintai Mama."Tubuh Sheila bergetar.Tanpa menunggu jawaban, Jevan berlari menuju lorong area radiasi."Hentikan dia!" teriak komandan utama.Tapi sudah terlambat.Sosoknya menghilang di balik pintu baja."Jevan!

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 19

    Lima tahun.Dari seorang istri tentara yang dulu hanya berkutat di dapur, dia telah berubah menjadi wakil kepala peneliti termuda dalam Proyek Rahasia Bunga Api.Model Optimasi Parameter Kritis yang dia pimpin berhasil mempercepat proyek hingga dua tahun penuh.Makalah-makalahnya tiga kali menembus jurnal ilmiah internasional papan atas dan mengguncang dunia akademik.Bukan berarti tidak ada yang mengejarnya.Ada doktor lulusan luar negeri yang baru bergabung, dokter muda dari rumah sakit pangkalan, hingga pejabat instansi atasan yang datang inspeksi.Semua dia tolak dengan halus.Jawabannya selalu sama."Di hatiku hanya ada fisika."Dan itu bukan kebohongan.Di kehidupan sebelumnya, hatinya penuh oleh Jevan dan keluarga itu.Di kehidupan ini, yang tersisa hanya gurun, data penelitian, dan langit berbintang di atas kepalanya."Peneliti Sheila, istirahatlah sebentar. Anda sudah bekerja tujuh puluh dua jam."Zian, asistennya, meletakkan susu hangat di meja.Sheila menggeleng tanpa berhen

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 18

    Jevan jelas tidak punya undangan.Dia hanya bisa berdiri di kejauhan, menyaksikan satu per satu mobil sedan datang, berhenti, lalu para ilmuwan yang berjasa bagi negara turun dari kendaraan mereka.Lalu, Jevan melihatnya.Sheila turun dari sebuah sedan hitam.Dia telah berubah.Rambutnya dipotong pendek dan rapi, membuat leher jenjangnya tampak makin tegas dan anggun. Dia mengenakan setelan jas wanita khas peneliti, dengan kartu identitas merah terpasang di dada.Dia sedikit memiringkan kepala saat berbicara dengan seorang pria tua di sampingnya. Tatapannya jernih dan mantap, sementara senyum percaya diri tersungging di sudut bibirnya.Sinar matahari jatuh ke tubuhnya, membuatnya seolah memancarkan cahaya.Jevan hanya bisa menatap terpaku.Itu istrinya.Tidak. Itu Peneliti Sheila.Sheila yang kini bersinar terang, yang tidak lagi memiliki hubungan apa pun dengannya.Dia dikelilingi banyak orang, seperti mutiara yang akhirnya terbebas dari lumpur dan kembali memancarkan kilaunya.Jevan

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 17

    Susan mendongak tiba-tiba dan berteriak, "Jevan! Kamu nggak bisa begini sama aku! Semua yang aku lakukan itu demi kamu! Aku cinta kamu!""Cintamu bikin aku muak."Jevan berbalik tanpa menoleh lagi.Tiga hari kemudian, Susan ditangkap.Sebelum vonis dijatuhkan, Jevan datang menemuinya untuk terakhir kali.Di balik kaca pembatas, Susan mengenakan seragam tahanan. Wajahnya pucat dan kuyu, tanpa sisa kelembutan yang dulu pernah ada.Sambil menangis, dia memohon, "Jevan, demi masa lalu kita, tolong bantu aku … Aku nggak mau masuk penjara … Lima belas tahun … aku bisa mati di dalam sana …. "Jevan menatapnya datar."Sejak kamu menyakiti Sheila, yang tersisa di antara kita cuma kebencian.""Jevan!"Susan berteriak histeris."Kamu akan menyesal! Seumur hidupmu kamu nggak akan pernah dapat maaf dari Sheila! Dia benci kamu! Dia benci kamu!"Jevan tersenyum tipis."Aku tahu.""Dan memang aku nggak pantas mendapat maaf darinya."Dia berbalik dan pergi, meninggalkan teriakan Susan di belakangnya.H

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 16

    "Jevan, maafin aku … aku benar-benar nggak sengaja .… "Susan menggenggam tangannya erat-erat."Aku cuma mau membantu, mau jagain Jodi … Sheila sudah pergi, tapi kalian tetap butuh seseorang yang bisa mengurus kalian …. ""Kami nggak butuh kamu!"Jevan menepis tangannya dan menunjuk ke arah pintu."Keluar. Pergi sekarang juga. Dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku!"Susan berlari keluar sambil menangis.Jevan duduk di sisi ranjang rumah sakit, menggenggam tangan kecil putranya yang masih panas karena demam.Jodi perlahan membuka mata. Begitu melihat ayahnya, air matanya langsung jatuh."Papa …. "Suaranya lemah."Benarkah Mama nggak akan pernah kembali lagi?"Tenggorokan Jevan tercekat. Dia tidak mampu menjawab."Papa … aku sudah bikin salah …. "Jodi menangis tersedu hingga napasnya tersengal."Di ruang tahanan itu … aku sama Tante Susan … kami menyetrum Mama. Mama pasti sangat benci sama aku …. "Seluruh tubuh Jevan terasa membeku.Jadi apa yang dikatakan Sheila memang benar.Di

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 9

    Jevan makin kesal melihat tawanya. Terlebih saat melihat air mata yang terus mengalir di wajah Sheila, rasa jengkel di dalam hatinya justru semakin kian memuncak.Dia menarik napas panjang, berusaha menekan emosinya. Setelah terdiam sejenak, dia meraih gelas di atas meja samping ranjang, menuangkan

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 8

    Sheila hanya menatapnya dengan tenang. Sorot matanya sedingin telaga beku yang dalam, bahkan tak lagi memantulkan bayangannya sedikit pun.Tanpa sepatah kata pun, dia menepis tangan Jevan dan berbalik pergi.Punggungnya yang ramping tetap tegak lurus. Dalam ketenangan itu tersimpan ketegasan yang ta

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 7

    Mendengar suara pintu terbuka, Jevan langsung berbalik. Wajahnya masih memerah, dengan ekspresi terkejut dan canggung yang belum sempat dia sembunyikan."Sheila? Kamu …. "Sheila masuk ke dalam dan berkata dengan nada tenang tanpa emosi, "Aku mau sikat gigi. Apa kamu sudah selesai?"Jevan tertegun.

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 5

    Tak lama kemudian, dokter datang melakukan pemeriksaan. Setelah memeriksa kondisi lukanya, keningnya langsung berkerut dalam."Bu Sheila, luka bakar Anda seharusnya nggak akan jadi masalah besar selama perbannya rutin diganti dan mencegah infeksi sampai sembuh. Yang lebih merepotkan itu cedera di le

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status