Share

BAB 10.

last update publish date: 2026-06-15 14:48:10
Koridor lantai dua sudah mulai ricuh, dipenuhi banyak anak-anak yang ingin tahu apa yang sedang terjadi di dalam kelas 11-A. Pasalnya, Seana dan Olivia melaporkan bully yang mereka alami kepada Komite sekolah dan itu pertama kalinya ada yang berani melaporkan kejadian bully kepada Komite Sekolah.

Dua orang guru langsung bertindak, menginterogasi Seana dan Olivia di kelasnya. Ruangan kelas dikunci rapat dari dalam dan hanya menyisakan empat orang di ruangan yang terasa sesak. Guru perempuan yang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 182.

    "Mas ganteng itu baru aja dari sini, Kak."Olivia menoleh saat mendapati suara petugas kebersihan di minimarket yang biasa dia kunjungi. "Kafka?" "Iya, mas ganteng itu juga sempat ngelihatin lantai dua. Tapi nggak naik ke atas, cuma ke sini beli kertas kado aja kayaknya." Olivia tersenyum. Kakinya tetap melangkah menuju lantai dua, menyusul petugas kebersihan yang sedang berbicara dengannya. Wanita itu melangkah cepat sekali, seperti sudah terbiasa dengan naik turun tangga sempit di minimarket ini."Kasihan sekali, murung wajahnya. Saya sih, nggak berani tanya." Angin malam di lantai dua minimarket ini selalu menjadi candunya, dari ketinggian ini dia bisa melihat gemerlap lampu-lampu dari rumah-rumah warga. Sepertinya Olivia tidak akan kembali lagi ke sini. Mungkin, tempat ini menjadi salah satu tempat yang akan Olivia hindari. "Putus, ya?"Olivia sontak menoleh, menatap bertugas kebersihan yang sedang mengelap meja di sebelahnya. "Kok tahu?""Mukanya sama suramnya kayak mas ga

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 181.

    "Aku mau pindah sekolah." Suara Olivia yang melengking ketika memasuki rumah membuat Oliver yang sedang menonton televisi di ruang tamu menoleh. Mendapati Olivia yang melangkah mendekatinya dengan tubuh basah kuyup, tatapannya tidak lagi ceria. Oliver menyadari perubahan ini. Dia langsung bangkit dari duduknya, merengkuh tubuh adiknya tanpa mempertanyakan alasannya. Tidak ada suara tangisan, tidak ada omelan. Olivia sungguh hening. "Mau pindah ke mana?" tanya Oliver. Pakaiannya juga ikut basah saat merengkuh tubuh Olivia. Dia sempatkan untuk meminta handuk kepada Mbok untuk Olivia. "Pindah ke SMA Rajasa, sekolah Abang dulu." "Nggak mau ke sekolah lain?" Oliver menuntun Olivia untuk duduk di karpet. Dia mengecilkan volume televisi, mendengarkan adiknya yang mungkin saja akan berbicara lebih panjang. "Nggak mau balik ke sekolah kamu yang dulu?" Olivia menggeleng. "Kenapa SMA Rajasa?" "Biar Kafka semakin benci aku." Oliver memundurkan tubuhnya, memberi jarak pada

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 180.

    "Olivia, lo bisa kan dengerin penjelasan gue dulu? Lo butuh tau yang sebenarnya terjadi tuh apa." Olivia menggeram tertahan. "Mau lo tuh apa sih? Setelah sebelumnya lo bikin gue ngerasa jadi orang paling bahagia, terus sekarang lo jatuhin gue? Lo jahat, Kaf." Kafka menghela napa pendek. Sejak tadi Olivia tidak sudah-sudahnya memarahinya. Kafka tahu ini kesalahannya, tidak membicarakan tentang rencana masa depannya kepada Olivia. Tapi, tidakkah Olivia juga harus berusaha mendengarkan dulu? "Kalau lo mau bahagia, ya ayo sama gue. Dengerin penjelasan gue, dengerin semua alasan dibalik semua keputusan gue." Kafka menarik lengan Olivia saat gadis itu hendak menyebrang. Di mana letak penglihatan gadis itu? Jelas-jelas ada mobil yang melaju kencang ke arahnya, tapi dia nekat menyebrang. "Lo lihat jalanan dong, jangan bego kayak gitu. Nggak usah bunuh diri segala!" teriak Kafka di depan wajah Olivia. Olivia tidak marah. Dia hanya diam mematung, menatap lurus Kafka. "Nggak ada yang ma

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 179.

    Olivia terlambat ke sekolah dan ini bukanlah hal yang biasa Kafka saksikan sepanjang mereka sekelas. Setahu Kafka, Olivia adalah orang yang sangat tepat waktu. Tidak pernah menyia-nyiakan waktu untuk belajar.Hari ini ada ulangan harian, jam pelajaran pertama sudah selesai. Namun, Olivia tidak kunjung menampakkan batang hidungnya. Sudah Kafka tanyakan kepada ketua kelas, tidak ada informasi tentang izin tidak masuk Olivia hari ini.Dan itu membuat sesuatu di dalam diri Kafka terusik.Rio yang duduk di belakang Kafka mendorong pelan pundak Kafka, saat melihat Olivia melangkah memasuki kelas tepat saat ulangan kedua hendak mulai. Kafka dan Rio sama-sama menajamkan pendengaran mereka saat Olivia berbicang dengan wali kelasnya di meja guru.Ingin sekali Kafka berlari menuju meja itu dan meminta penjelasan kepada Olivia tentang perubahannya yang drastis.Kemarin, gadis itu masih baik-baik saja saat mengobrol dengannya. Kenapa tiba-tiba hari ini menjauhinya seakan Kafka itu hama?"Olivia!"

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 178.

    Lampu di kamar Olivia masih menyala hingga tengah malam, si empunya kamar sedang duduk termenung di balkon. Tidak menghiraukan angin malam yang berhembus semakin kencang menerpa wajahnya.Tetesan gerimis mulai turun membasahi tepi balkon, cipratan airnya mengenai kaki Olivia. Dia sempat menunduk sebentar, menatapnya tidak peduli. Lalu, kembali lagi mendongak, menatap langit pekat yang membawa angin dingin.Setelah menyelesaikan masalah dengan keluarganya yang menghabiskan waktu berjam-jam, Olivia tidak lagi berminat turun ke bawah untuk sekedar makan malam.Dia lebih memilih duduk sendirian bersama keheningan malam, meratapi betapa sedihnya dia ketika nanti hubungannya dengan Kafka benar-benar berakhir.Ternyata benar, apa yang Kafka ucapkan tempo hari tentang LDR, tidak semua orang bisa menyelesaikannya hingga tuntas. Tidak semua orang betah dengan jarak.Tanpa janji bertemu, tanpa komunikasi langsung.Olivia saat itu yakin bisa menjalaninya karena dia yakin dengan Kafka. Tapi … seka

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 177.

    "Kenapa kamu nggak cerita ke Mama kalau kamu udah pacaran sama Kafka." Olivia mendadak diam, tubuhnya membeku. Dia baru saja melangkahkan kaki memasuki rumah, langsung dihadapkan pada tatap-tatap tajam keluarganya.Ditambah Oliver yang baru tiba tadi pagi.Di hadapan Olivia ada Mama, Papa dan Oliver yang menunggu jawabannya."Lupa," jawab Olivia singkat.Mama mendesah pelan. "Kamu kemarin seharian di apartemen Kafka, ngapain?" Papa mengusap pundak Mama pelan. Menenangkan. "Ma, tarik napas. Tanya pelan-pelan sama Olivia, kasihan dia baru pulang sekolah."Mama menarik lengan Olivia untuk duduk di sofa bersama Oliver, menatap Olivia dengan wajah yang sarat akan makna. "Kamu nggak ngapa-ngapain, kan? Berduaan sama Kafka malam-malam di sana."Olivia menggeleng kuat. "Aku udah sering ke apartemen Kafka malam-malam, kok Mama baru protes sekarang?" Hening.Papa menoleh pada Oliver, laki-laki itu hanya menggeleng. Tidak ada yang tahu tentang hal itu."Ayahnya Kafka datang ke sini, ngasih r

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 5.

    Hari pertama Olivia kembali ke sekolah terasa seperti berjalan di atas hamparan duri. Belum sampai di pintu kelas, tatapan sinis dan bisik-bisik dari murid lain sudah menyambutnya. Olivia berusaha menunduk, namun langkahnya terhenti saat sebuah tangan besar mencekal lengannya.Semua orang di korido

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 4.

    Sejak dua hari lalu, Olivia memutuskan untuk tidak masuk sekolah. Ia berusaha menghindari semua hal yang berkaitan dengan Kafka. Setidaknya, dua hari ini pikirannya benar-benar teralihkan meski rasa sesak di dadanya belum sepenuhnya hilang.Mamanya menyadari ada yang tidak beres dengan Olivia sejak

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 3.

    Taman belakang sekolah SMA Budi Karya sudah sangat lama tidak dirawat, terlihat dari kursi yang sudah mulai rusak, beberapa pot bunga yang pecah dan tanaman yang sudah layu. Udara sore ini juga tidak terlalu panas, matahari sudah mulai turun. Olivia duduk sendirian di salah satu kursi panjang yang

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 2.

    “Gue curiga deh sama lo, Liv.” Olivia yang merasa dituduh langsung memutar bola mata malas.“Kenapa?” ujarnya menatap Sarah. Hari pertama sudah dianggap curiga. Bagaimana besok besoknya?Sarah bergeser, berbicara pelan. “Soal Kafka narik tangan lo, itu lagi jadi bahasan di sekolah.”Gerakan tangan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status