LOGINOlivia sudah bisa memprediksi bahwa dirinya dan Kafka akan membutuhkan waktu yang lama untuk sampai di rumahnya, buktinya saja sekarang waktu sudah menunjukan pukul enam lebih tiga puluh malam dan mobil hitam Kafka baru saja memasuki pekarangan rumahnya.Perjalanan dari Bogor ke Jakarta di weekend begini memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Belum lagi hujan deras sempat turun dengan derasnya, membuat mereka terpaksa berteduh dulu karena jarak pandang yang rendah.Olivia menghembuskan nafas lega saat ia berhasil turun dari keheningan mobil Kafka.Iya, Olivia yang lebih memilih membungkam mulutnya sendiri selama perjalanan.Berbahaya sekali jika ia terus berbicara pada cowok itu, bisa-bisa semua kalimat buruk yang ia simpan dalam hati tentang Kafka, tidak sengaja keceplosan.Ia baru saja menapaki lantai teras dan meletakkan sepatunya, tapi gerakannya di interupsi oleh seruan seseorang yang Olivia kenali.“Liv?” ucap Panji, cowok itu baru saja keluar dari dalam rumahnya disusul
Heaven Memorial Park, tempat ini adalah tempat peristirahatan terakhir orang yang paling Kafka usahakan kebahagiaannya sepanjang hidup. Tidak pernah terbesit sama sekali di pikiran Kafka bahwa ia akan kehilangan satu-satunya pegangan hidup di saat ia masih berusaha untuk bangkit dari kehancuran keluarganya.Ratnasari binti alm. Handoko, nama yang diukir cantik diatas batu hitam dengan hiasan berbentuk hati di ujung nama ibunya, sesuai request Kafka.Jemari kasarnya meraba ukiran indah itu, mengabsen huruf demi huruf nama ibunya. Sebuah senyuman lebar terbit di bibirnya, senyum tulus yang jarang sekali Kafka tampakkan pada orang lain, kecuali seorang gadis yang baru-baru ini menyita seluruh perhatiannya.Gadis yang kini berada di sebelahnya, ikut berjongkok, serta menadahkan kedua tangannya keatas. Entah gadis itu mendoakan apa untuk ibunya, yang jelas ia tahu gadis itu sejak tadi hanya terdiam.Kafka bangkit dari duduknya, membersihkan celana hitamnya dari potongan rerumputan.“Liv?”
Suasana kedai makanan yang berada tidak jauh dari kantor polisi lumayan penuh, beberapa orang sibuk mengambil nomor antrian untuk beberapa menu makanan yang memang favorit.Setelah dari kantor polisi tadi Oliver mengajak Olivia, Kafka dan Panji untuk makan siang di salah satu kedai makanan yang lumayan terkenal. Oliver tau dari rekomendasi tiktok, katanya ada salah satu kedai ayam geprek viral dengan porsi jumbo dan sambal super pedas.Cocok sekali untuk siang yang sedang teduh ini.“Udah gue pesen ya, sesuai request nih,” Panji meletakkan nomor meja di tengah agar mudah dilihat oleh penjaga kios.Meja di setiap kios sudah penuh, bahkan mereka harus berbagi tempat dengan orang lain di sisi kanan dan kirinya. Olivia duduk di samping Oliver, sedangkan Kafka duduk diseberangnya, bersebelahan dengan Panji.“Sambal punya Olivia dipisah, kan? Tanya Oliver, lalu hanya dijawab anggukan oleh Panji.“Aman.”Oliver mengalihkan tatapannya pada Kafka, menatap cowok itu lekat. “Apa sih yang lo cari
Mobil Ranger Rover hitam milik Oliver berhenti tepat di depan kantor polisi, di dalam mobil ada Olivia, Oliver dan juga Panji. Panji dipaksa Oliver untuk ikut ke kantor polisi, menemani mereka. Karena hanya cowok itu yang melihat rekaman cctv dari ruang guru.“Tenang aja, Liv, abang nggak akan biarin mereka apa-apain kamu,” ucap Oliver. Tangannya mengusap pundak Olivia, gadis itu terlihat tegang sejak tadi.Panji yang duduk di belakang hanya terdiam, ini juga pertama kalinya bagi dirinya selama menjabat sebagai ketua osis, mengurusi masalah hingga ke pihak eksternal.Olivia menyatukan kedua tangannya di paha, ia mendadak gugup. “Oliv … takut bang,” ujarnya terbata.“Ada gue kok, Liv. Gue ikut masuk nanti jadi saksi juga/” ucap Panji dari kursi belakang, Olivia menoleh.Panji mengangguk meyakinkan, Olivia kembali menatap Oliver.“Abang jagain aku, ya ..” ucap Olivia sendu.Olivia, Oliver dan Panji turun dari mobil, berjalan memasuki kantor polisi. Suasana di sana tampak lengang dan hany
Hari ini adalah hari terakhir masuk sekolah sebelum liburan, suasana sekolah penuh dengan suara sorak sorai menyambut libur semester ganjil yang juga bertepatan dengan libur tahun baru.Semua siswa sudah dikumpulkan di lapangan untuk mendapatkan informasi tentang hari libur dan pembelajaran semester baru nanti.Olivia berdiri di barisan kedua, di depannya ada Seana dan di belakang Olivia ada Sarah. Sejak kejadian perundungan di toilet waktu itu, Seana sudah hampir tidak pernah bertegur sapa dengannya. Mungkin gadis itu diancam oleh kawanan Karina.Sarah menendang sepatu Olivia pelan, tubuhnya membungkuk, mendekat ke arah Olivia.“Kayaknya semester dua nanti bakalan ada campuran kelas peminatan, dan gue rasa kita nggak sekelas,” ujar Sarah pelan. Olivia menoleh masih mendengarkan. “Gue denger Panji ngomong sama wali kelas kita tadi, kalau orang tua kita bakalan diminta pilih kelas peminatan.”Olivia menunduk, menatap kedua sepatunya. “Gue nggak punya teman lagi kalau nggak ada lo,” ujar
“Kafka!” Olivia menjerit tertahan.Gadis itu berlari dengan dress biru navy selututnya, menyusul Kafka yang berada jauh di depan. Cowok itu mengenakkan pakaian santai, kaos hitam dipadukan dengan jaket kulit denim dan celana hitam.“Buruan, nanti gue tinggal” ujar Kafka santai.Langkah kakinya yang besar membuat Olivia kewalahan mengejarnya.Pukul tujuh malam tadi, cowok itu datang ke rumahnya meminta izin kepada Mama untuk mengajak Olivia dinner, tapi sialnya dinner yang cowok itu janjikan berujung palsu. Olivia ditipu.Mereka kini justru berada di ruangan gelap, ruangan yang katanya menjadi basecamp geng paling ditakuti di sekolah.Ruangan yang sesak, penuh dan tanpa cahaya itu membuat Olivia mual, perutnya mulai bergejolak.“Kaf,” panggil Olivia. Tangannya meraba di kegelapan, mencari sosok yang tadi diikutinya.Si empunya nama tak menyahut, ia masih sibuk mencari saklar lampu. Ruangan ini begitu pengap dan lembab, Olivia tidak menyukainya.Olivia berjalan maju, tertatih. Ia takut
Suasana laboratorium Biologi siang ini terasa gerah dan padat karena dua kelas digabungkan untuk sesi praktikum Biologi tentang pengamatan jaringan tumbuhan.Olivia yang menggunakan jas lab berwarna putih, berusaha menjaga agar jas itu tidak terkena kotoran sedikitpun, kalau sampai kotor sudah past
“Nggak usah dipikirin yang nyokap lo bilang,” Kafka tertawa samar, “Gue bisa jaga diri gue sendiri.” ia masih mengunyah roti cokelat yang tersisa setengah.“Kecuali kalau lo emang khawatir sama gue ya.” Dih?Olivia yang sedang makan di kantin terbatuk hebat, bubur yang dimakannya hampir saja tersem
“Gue curiga deh sama lo, Liv.” Olivia yang merasa dituduh langsung memutar bola mata malas.“Kenapa?” ujarnya menatap Sarah. Hari pertama sudah dianggap curiga. Bagaimana besok besoknya?Sarah bergeser, berbicara pelan. “Soal Kafka narik tangan lo, itu lagi jadi bahasan di sekolah.”Gerakan tangan
“Peraturan pertama, jangan deket-deket sama anak-anak The Syndicate. Apalagi sama Kafka. Lo gak mau kena kartu merah di minggu pertama pindah kan, Liv?"Sarah, teman sebangku Olivia, berbisik dengan nada cemas saat mereka baru saja melewati koridor utama. Hari ini adalah tepat satu minggu sejak Ol







