LOGIN"Olivia, lo bisa kan dengerin penjelasan gue dulu? Lo butuh tau yang sebenarnya terjadi tuh apa." Olivia menggeram tertahan. "Mau lo tuh apa sih? Setelah sebelumnya lo bikin gue ngerasa jadi orang paling bahagia, terus sekarang lo jatuhin gue? Lo jahat, Kaf." Kafka menghela napa pendek. Sejak tadi Olivia tidak sudah-sudahnya memarahinya. Kafka tahu ini kesalahannya, tidak membicarakan tentang rencana masa depannya kepada Olivia. Tapi, tidakkah Olivia juga harus berusaha mendengarkan dulu? "Kalau lo mau bahagia, ya ayo sama gue. Dengerin penjelasan gue, dengerin semua alasan dibalik semua keputusan gue." Kafka menarik lengan Olivia saat gadis itu hendak menyebrang. Di mana letak penglihatan gadis itu? Jelas-jelas ada mobil yang melaju kencang ke arahnya, tapi dia nekat menyebrang. "Lo lihat jalanan dong, jangan bego kayak gitu. Nggak usah bunuh diri segala!" teriak Kafka di depan wajah Olivia. Olivia tidak marah. Dia hanya diam mematung, menatap lurus Kafka. "Nggak ada yang ma
Olivia terlambat ke sekolah dan ini bukanlah hal yang biasa Kafka saksikan sepanjang mereka sekelas. Setahu Kafka, Olivia adalah orang yang sangat tepat waktu. Tidak pernah menyia-nyiakan waktu untuk belajar.Hari ini ada ulangan harian, jam pelajaran pertama sudah selesai. Namun, Olivia tidak kunjung menampakkan batang hidungnya. Sudah Kafka tanyakan kepada ketua kelas, tidak ada informasi tentang izin tidak masuk Olivia hari ini.Dan itu membuat sesuatu di dalam diri Kafka terusik.Rio yang duduk di belakang Kafka mendorong pelan pundak Kafka, saat melihat Olivia melangkah memasuki kelas tepat saat ulangan kedua hendak mulai. Kafka dan Rio sama-sama menajamkan pendengaran mereka saat Olivia berbicang dengan wali kelasnya di meja guru.Ingin sekali Kafka berlari menuju meja itu dan meminta penjelasan kepada Olivia tentang perubahannya yang drastis.Kemarin, gadis itu masih baik-baik saja saat mengobrol dengannya. Kenapa tiba-tiba hari ini menjauhinya seakan Kafka itu hama?"Olivia!"
Lampu di kamar Olivia masih menyala hingga tengah malam, si empunya kamar sedang duduk termenung di balkon. Tidak menghiraukan angin malam yang berhembus semakin kencang menerpa wajahnya.Tetesan gerimis mulai turun membasahi tepi balkon, cipratan airnya mengenai kaki Olivia. Dia sempat menunduk sebentar, menatapnya tidak peduli. Lalu, kembali lagi mendongak, menatap langit pekat yang membawa angin dingin.Setelah menyelesaikan masalah dengan keluarganya yang menghabiskan waktu berjam-jam, Olivia tidak lagi berminat turun ke bawah untuk sekedar makan malam.Dia lebih memilih duduk sendirian bersama keheningan malam, meratapi betapa sedihnya dia ketika nanti hubungannya dengan Kafka benar-benar berakhir.Ternyata benar, apa yang Kafka ucapkan tempo hari tentang LDR, tidak semua orang bisa menyelesaikannya hingga tuntas. Tidak semua orang betah dengan jarak.Tanpa janji bertemu, tanpa komunikasi langsung.Olivia saat itu yakin bisa menjalaninya karena dia yakin dengan Kafka. Tapi … seka
"Kenapa kamu nggak cerita ke Mama kalau kamu udah pacaran sama Kafka." Olivia mendadak diam, tubuhnya membeku. Dia baru saja melangkahkan kaki memasuki rumah, langsung dihadapkan pada tatap-tatap tajam keluarganya.Ditambah Oliver yang baru tiba tadi pagi.Di hadapan Olivia ada Mama, Papa dan Oliver yang menunggu jawabannya."Lupa," jawab Olivia singkat.Mama mendesah pelan. "Kamu kemarin seharian di apartemen Kafka, ngapain?" Papa mengusap pundak Mama pelan. Menenangkan. "Ma, tarik napas. Tanya pelan-pelan sama Olivia, kasihan dia baru pulang sekolah."Mama menarik lengan Olivia untuk duduk di sofa bersama Oliver, menatap Olivia dengan wajah yang sarat akan makna. "Kamu nggak ngapa-ngapain, kan? Berduaan sama Kafka malam-malam di sana."Olivia menggeleng kuat. "Aku udah sering ke apartemen Kafka malam-malam, kok Mama baru protes sekarang?" Hening.Papa menoleh pada Oliver, laki-laki itu hanya menggeleng. Tidak ada yang tahu tentang hal itu."Ayahnya Kafka datang ke sini, ngasih r
Pagi hari ini Olivia datang ke sekolah dengan mood yang super buruk. Semalam sejak dia pulang ke rumah, dia tidak lagi berusaha menghubungi Kafka. Tidak peduli pada laki-laki itu sampai di rumah pukul berapa.Olivia mengaduk bakso dengan tatapan kosong, membuat Sarah yang duduk di depannya langsung memahami situasi."Kayaknya si Olivia galau ya, dia juga berangkat nggak sama Kafka tadi." Sarah menyuap bubur ayam miliknya.Panji yang duduk di samping Sarah ikut menatap Olivia. "Kayaknya iya, dia pagi-pagi biasanya selalu ceria. Ini kelihatan nggak mood banget, berantem kali mereka?" Sarah menggeleng. "Nggak, bisa jadi emang Olivia yang ngediemin Kafka." Diangguki Panji, dia tidak sedang makan apapun. Hanya ikut Sarah makan di kantin sebelum bel masuk kelas mulai. "Emang kalau pacaran mesti galau mulu, ya? Kapan bahagianya kalau gitu?" Sarah gantian menoleh, mengerutkan keningnya. "Itu namanya lo nggak benar-benar suka sama dia, kalau lo suka sama dia pasti bahagia. Walaupun nggak se
"Lo kenapa nggak milih berdamai sama bokap lo?" Kafka menoleh lalu bergumam pelan, "Emang harus?" "Ya … tergantung lo sih. Tapi menurut gue, kalau lo udah yakin sama diri lo sendiri. Udah ikhlas, ya berdamai aja.""Jujur, ini berat banget buat gue. Tapi, makasih udah mau peduli." Kafka mengusap kepala Olivia.Gadis di sampingnya sedang menatap ponsel, menunggu Abangnya membalas pesan. Oliver bilang, besok laki-laki itu akan pulang ke Indonesia. Jadi, Olivia harus menitip banyak oleh-oleh."Selama ini banyak yang peduli sama lo, anggota geng ko juga peduli. Cuma, lo terlalu cuek. Jadi mereka agak sungkan." Olivia mengangguk. "Gue tau, menurut lo mereka baik karena udah lama jadi teman lo. Tapi, menurut pandangan gue. Mereka peduli sama lo, Kafka, mereka sayang sama lo sebahagia keluarga.""Rio juga bilang gitu," gumam Kafka. "Gue bukannya nggak mau terlalu terbuka sama mereka. Kasihan mereka, Liv. Beban keluarga mereka juga banyak, gue nggak mau nambah beban mereka lagi.""Gue paham,
Sejak dua hari lalu, Olivia memutuskan untuk tidak masuk sekolah. Ia berusaha menghindari semua hal yang berkaitan dengan Kafka. Setidaknya, dua hari ini pikirannya benar-benar teralihkan meski rasa sesak di dadanya belum sepenuhnya hilang.Mamanya menyadari ada yang tidak beres dengan Olivia sejak
Taman belakang sekolah SMA Budi Karya sudah sangat lama tidak dirawat, terlihat dari kursi yang sudah mulai rusak, beberapa pot bunga yang pecah dan tanaman yang sudah layu. Udara sore ini juga tidak terlalu panas, matahari sudah mulai turun. Olivia duduk sendirian di salah satu kursi panjang yang
“Gue curiga deh sama lo, Liv.” Olivia yang merasa dituduh langsung memutar bola mata malas.“Kenapa?” ujarnya menatap Sarah. Hari pertama sudah dianggap curiga. Bagaimana besok besoknya?Sarah bergeser, berbicara pelan. “Soal Kafka narik tangan lo, itu lagi jadi bahasan di sekolah.”Gerakan tangan
“Peraturan pertama, jangan deket-deket sama anak-anak The Syndicate. Apalagi sama Kafka. Lo gak mau kena kartu merah di minggu pertama pindah kan, Liv?"Sarah, teman sebangku Olivia, berbisik dengan nada cemas saat mereka baru saja melewati koridor utama. Hari ini adalah tepat satu minggu sejak Ol







