Share

BAB 174.

last update publish date: 2026-08-29 21:42:08

Suasana taman samping kediaman Kusuma sudah tidak terawat seperti dulu saat Kafka dan ibunya masih tinggal di rumah ini. Pohon besar dan bunga-bunga yang indah sudah lenyap, menyisakan ilalang tinggi yang menutup sebagian sisi taman.

Kafka tersenyum getir saat melihat pohon bonsai yang dulu ada tiga pasang, sekarang hanya tinggal satu pasang. Rasanya seperti melihat kehidupannya yang perlahan dihapus dari ayahnya.

Kafka menunduk, menahan air matanya yang melesak turun. Tangannya gemetar saat me
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 174.

    Suasana taman samping kediaman Kusuma sudah tidak terawat seperti dulu saat Kafka dan ibunya masih tinggal di rumah ini. Pohon besar dan bunga-bunga yang indah sudah lenyap, menyisakan ilalang tinggi yang menutup sebagian sisi taman.Kafka tersenyum getir saat melihat pohon bonsai yang dulu ada tiga pasang, sekarang hanya tinggal satu pasang. Rasanya seperti melihat kehidupannya yang perlahan dihapus dari ayahnya.Kafka menunduk, menahan air matanya yang melesak turun. Tangannya gemetar saat menyentuh pohon bonsai kecil yang beberapa sisi batangnya sudah patah dan mengering, di atas tanah yang masih basah tergeletak miniatur pesawat terbang milik Kafka saat umur enam tahun.Tangan Kafka menggapai miniatur pesawat itu, mengusap sisa tanah pada badan pesawat itu perlahan. Catnya sudah luntur dan usang, terlihat sekali benda itu tidak pernah dipindahkan sejak terakhir kali Kafka meletakkannya. Miniatur itu adalah hadiah dari ibunya dulu, saat Kafka menangis untuk pertama kalinya saat di

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 173.

    Suara dentingan alat makan beradu di keheningan ruang makan kediaman keluarga Kusuma. Sore tadi, saat Kafka hendak mengantarkan Olivia pulang. Karina menelpon Kafka, memberitahukan kepadanya kalau ayah mereka sedang mengadakan perjamuan makan malam.Kafka awalnya tidak peduli, hingga suara tawa dari laki-laki yang amat sangat dia kenali membuat Kafka mengubah keputusannya.Jadi disinilah dia duduk di meja makan panjang yang memuat hingga dua belas orang. Kafka duduk di samping Olivia, telat di sudut. Menjauhi kumpulan keluarganya. Ibu tiri Kafka dan Ayahnya duduk berdampingan, di hadapannya ada Karina dan juga Rendi. Ya, suara laki-laki yang tertawa tadi adalah Rendi.Karina yang mengundangnya, entah untuk urusan apa. Kafka tidak ingin tahu.Hardi, Ayah Kafka keluar dari kursi. Tangan kanannya mengangkat tinggi-tinggi gelas wine yang entah sejak kapan pria itu miliki. "Untuk merayakan hari jadi pernikahan saya dan istri, mari kita saling bersulang." Suara dentingan gelas menggema,

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 172.

    Angin sore yang menyapu wajah Olivia dan Kafka membawa kesejukan yang berbeda dari sebelumnya, tepat sebelum matahari benar-benar turun dari singgasananya. Kafka mengajak Olivia untuk makan es krim di taman kota yang sedang direnovasi, tidak ada pengunjung yang datang selain mereka.Hal ini Kafka gunakan untuk mewujudkan salah satu impiannya untuk bersama Olivia di taman kota, menatap senja yang indah.Olivia sedang mengunyah permen karet yang dibawanya dari apartemen Kafka, dia membuat gelembung besar. Berkali-kali juga Kafka pecahkan dengan ranting pohon. Berakhir dengan Olivia yang membuang sisa permen karetnya."Lo mau kuliah di mana kalau nanti lulus?" Pertanyaan itu meluncur bebas dari mulut Kafka.Entah dorongan dari mana, tiba-tiba dia jadi memikirkan masa depannya.Olivia menoleh. "Di luar negeri. Biar bisa satu tempat tinggal sama Abang lagi," jawabnya santai.Hal itu tentu mengusik Kafka, bukan tidak ingin Olivia jauh darinya. Hanya saja Kafka belum yakin. "Nggak mau di Ind

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 171.

    "Kenapa lo kepikiran bikin geng the syndicate waktu itu?"Olivia memakan nasi goreng buatan Kafka yang nyatanya tidak terlalu buruk, rasanya enak walaupun agak sedikit asin. Tidak apa, masih bisa ditoleransi oleh mulut Olivia. "Gue kepikiran udah lama soal ini.""Karena bokap gue. Perasaan gue pernah ceritain sama lo deh?" Tatapan Kafka memicing. "Lo jadi pikun juga sekarang?""Mulai … mulai …""Bercanda."Olivia mengunyah kerupuk yang berhasil di goreng oleh Kafka, untung yang ini tidak gagal. "Gue cuma mau mendengarkan penjelasan langsung dari lo aja, penasaran."Kafka mengangguk."Gue benci bokap gue, gue mau berusaha berontak. Ya … gue bikin geng itu, bokap gue nggak suka sama geng. Jadi, gue pakai cara itu buat bikin dia membenci gue," jelasnya. "Gue nggak suka sama bokap, dia terlalu plin plan. Dia nggak bisa jadi kepala keluarga yang baik buat keluarga dia sendiri."Olivia memiringkan kepalanya, menatap Kafka yang duduk di sebelahnya. Sejak menceritakan tentang ayahnya, gerakan

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 170.

    Pagi ini Olivia baru menyadari ada sesuatu yang berbeda begitu dia melewati gerbang sekolah. Beberapa pasang mata yang biasanya akan cepat-cepat mengalihkan pandangan ketika berpapasan dengannya justru bertahan lebih lama. Ada yang berbisik kepada temannya, ada yang menahan senyum, bahkan dua orang perempuan dari kelas sebelah yang tidak terlalu dekat dengannya sempat melambaikan tangan.Olivia membalas dengan anggukan kecil, lalu melanjutkan langkah sambil mengernyit.Ini aneh.Sangat aneh.Biasanya, kalau dia berjalan melewati koridor sendirian, orang-orang akan memberi jarak. Bukan karena Olivia pernah melakukan sesuatu kepada mereka, tetapi karena sejak beberapa waktu lalu namanya memang tidak terlalu disukai di kalangan siswa. Beberapa orang bahkan sengaja tidak mengajaknya masuk dalam kelompok ketika ada kegiatan kelas.Sekarang semuanya seperti berubah sekejap.Begitu sampai di depan kelas, Olivia semakin dibuat bingung. Beberapa laki-laki yang sedang berkumpul langsung menoleh

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 169.

    Setelah keluar dari toko buku, Olivia dan Kafka sebenarnya sudah berniat langsung pulang. Dua kantong berisi buku baru berada di tangan Kafka, sementara Olivia berjalan di sampingnya sambil memeriksa kembali struk belanja yang tadi dimasukkannya ke dalam dompet. Supermarket yang sebelumnya tidak terlalu ramai, kini sudah mulai penuh.Orang-orang berdatangan bersama keluarga untuk menghabiskan waktu akhir pekan, beberapa anak kecil berlarian di sekitar atrium, ada suara-suara dari berbagai arah bercampur dengan musik yang terdengar samar dari salah satu toko.Olivia melipat struk itu sebelum memasukkannya kembali ke dalam dompet. "Kayaknya gue udah cukup deh beli banyak buku. Kalau beli lagi, Mama bisa protes."Kafka melirik satu kantong yang ada di tangannya. "Nyokap lo bakal protes cuma gara-gara buku-buku ini?""Dua udah banyak buat gue," koreksi Olivia. "Lo kan cuma satu."Kafka mengangkat salah satu kantong sedikit. "Gue bisa beliin lo banyak kok, ini sama sekali nggak ada apa-apa

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 5.

    Hari pertama Olivia kembali ke sekolah terasa seperti berjalan di atas hamparan duri. Belum sampai di pintu kelas, tatapan sinis dan bisik-bisik dari murid lain sudah menyambutnya. Olivia berusaha menunduk, namun langkahnya terhenti saat sebuah tangan besar mencekal lengannya.Semua orang di korido

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 4.

    Sejak dua hari lalu, Olivia memutuskan untuk tidak masuk sekolah. Ia berusaha menghindari semua hal yang berkaitan dengan Kafka. Setidaknya, dua hari ini pikirannya benar-benar teralihkan meski rasa sesak di dadanya belum sepenuhnya hilang.Mamanya menyadari ada yang tidak beres dengan Olivia sejak

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 3.

    Taman belakang sekolah SMA Budi Karya sudah sangat lama tidak dirawat, terlihat dari kursi yang sudah mulai rusak, beberapa pot bunga yang pecah dan tanaman yang sudah layu. Udara sore ini juga tidak terlalu panas, matahari sudah mulai turun. Olivia duduk sendirian di salah satu kursi panjang yang

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 1.

    “Peraturan pertama, jangan deket-deket sama anak-anak The Syndicate. Apalagi sama Kafka. Lo gak mau kena kartu merah di minggu pertama pindah kan, Liv?"Sarah, teman sebangku Olivia, berbisik dengan nada cemas saat mereka baru saja melewati koridor utama. Hari ini adalah tepat satu minggu sejak Ol

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status