Share

BAB 30.

Penulis: brownies coklat
last update Tanggal publikasi: 2026-06-24 11:57:29

Denting pisau dan garpu yang beradu dengan piring terdengar begitu nyaring di dalam restoran hotel bintang lima ternama ibukota. Ruangan itu bernuansa klasik dengan dinding panel kayu mahoni yang diredam cahaya temaram.

Tadi pagi asisten ayahnya mengunjungi apartemen Kafka, mengirimkan undangan makan malam keluarga yang wajib Kafka hadiri. Awalnya cowok itu enggan, tapi karena hari ini juga bertepatan dengan ulang tahun sang ayah, ia menyetujuinya.

Di sisi kanan meja panjang mewah ada Hardi Kus
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 154.

    "Daripada di kamar terus, mending di sini. Sumpek," ujar Sarah sambil lebih dulu melangkah keluar.Olivia menurut. Ia berjalan pelan menyusul Sarah, lalu berdiri di dekat pagar balkon. Angin sore langsung menyambut mereka, membawa udara yang jauh lebih sejuk dibanding di dalam kamar.Langit masih dipenuhi awan kelabu, tetapi di balik gumpalan itu, semburat jingga mulai muncul di antara celah-celahnya. Matahari yang perlahan turun membuat ujung langit berubah warna, memantulkan cahaya keemasan di atas deretan rumah yang terlihat dari balkon.Sarah menyandarkan kedua lengannya di pagar. "Bagus banget."Olivia ikut memandang ke arah yang sama. "Iya. Bahkan gue jarang banget liat sunset kalau sore dari sini.""Yah … rugi dong, kamar di lantai dua tapi nggak dipergunakan dengan baik."Untuk beberapa saat, keduanya hanya diam memandang matahari yang sudah turun dari singgasananya. Tidak ada percakapan. Hanya suara angin dan sesekali suara kendaraan yang terdengar dari jalan depan rumah.Sar

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 153.

    Sarah mengetuk pelan pintu kamar tidur Olivia, setelah disahuti oleh si pemilik kamar, barulah dia memberanikan diri untuk masuk. Tujuannya ke sini sebenarnya untuk menjenguk Olivia, yang kata Kafka, sedang sakit karena habis makan bakso.Aneh sekali.Sebelumnya Olivia tidak terlihat kenapa-kenapa saat makan bakso bersama dirinya dan Panji. Bahkan, Sarah masih ingat bagaimana Olivia sempat mengomel karena Panji mengambil bakso terakhir miliknya. "Gimana ceritanya lo bisa sakit abis makan bakso?" gumam Sarah sambil menutup pintu di belakangnya.Olivia yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang hanya mengedikkan bahu. "Kayaknya karena kebanyakan sambal." Dia berhenti sebentar, lalu mengernyitkan dahi. "Tapi, gue cuma pake satu sendok sambal doang. Bingung nggak lo?"Sarah mendudukkan dirinya di sofa single milik Olivia. Tas yang dibawanya diletakkan asal di samping sofa. Matanya kemudian beralih pada Olivia, memperhatikan wajah gadis itu yang terlihat lebih pucat dibanding biasanya.

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 152.

    Pagi-pagi sekali Kafka sudah bertengger di kap mobilnya. Pukul enam lebih lima belas menit, dia sudah memantau posisi Olivia di rumahnya. Mama Olivia yang menyadari kehadiran Kafka disana langsung menyuruhnya masuk ke dalam, menggandeng lengan Kafka erat. Senyumnya sumringah sekali."Kafka mau sarapan apa? Ada nasi goreng, capcay atau mau makan roti dan susu aja?'' ujar Mama Olivia.Kafka yang baru melangkah memasuki dapur langsung tersenyum kikuk, niatnya kesini hanya untuk memastikan keadaan Olivia. Justru Ibu gadis itu menyuruhnya sarapan."Apa aja, Tante. Kafka nggak terlalu lapar kok.""Oh, dibawa buat bekal aja ke sekolah. Gimana?" saran Mama Olivia. Diangguki Kafka.Mbok yang baru saja turun dari lantai dua membawa nampan berisi mangkok bubur yang sudah habis ke dapur, tersenyum menatap Kafka. "Eh, Mas Kafka. Rajin banget pagi-pagi udah kesini, mau jenguk princess ya?""Olivia udah sehat, Mbok? Gimana keadaannya sekarang?""Naik atuh ke atas, tanya sendiri sama Olivia nya. Mbo

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 151.

    Malam ini Olivia sudah bolak-balik kamar mandi lebih dari lima kali, semenjak pulang dari makan bakso bersama Kafka. Dia langsung diare hebat. Perutnya sakit seperti diremas keras-keras.Bahkan, Mama sampai memberikannya air kelapa. Takut-takut kalau Olivia dehidrasi. Dia terduduk di tepi kasur, masih memegangi perutnya. Mencengkram ujung sprei demi menahan sakitnya."Abis makan apa sih, Liv? Perasaan pagi nggak kenapa-kenapa." Mama mengusap pundak Olivia pelan."Bakso." Olivia akhirnya bersuara lirih. "Kebanyakan sambal, Ma.""Kok bisa?""Aku nggak mikir kalau sambalnya sepeda itu, pas lagi makan itu nggak berasa sama sekali." Olivia menunduk, merasakan nyeri hebat di perutnya. "Aduh …."Mama jadi ikut panik, bergerak kesana-kemari. "Ini Mama harus bawa kamu ke rumah sakit apa tunggu Papa ya? Aduh, Mama juga bingung. Sebentar, Mama panggil Mbok …."Mama berlarian keluar dari kamar Olivia, entah kemana mencari Mbok.Olivia sendiri sudah sibuk mencari ponselnya di bawah bantal, mencoba

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 150.

    Suara deru mesin mobil Kafka membuat beberapa teman-temannya menoleh, sorot lampunya menyebar ke sudut basement. Rio, Haykal dan Hendra memang sengaja Kafka minta untuk datang ke apartemennya. Mereka sudah menunggu di basement sekitar dua puluh menit yang lalu.Kafka keluar dari mobil dengan raut wajah bingung, membuat teman-temannya yang sedang menyandarkan tubuh pada mobil milik Rio saling berbisik."Kenapa lo datang-datang linglung begitu?" tanya Rio dengan santai seraya dia membuka jok mobil belakang, mengambil tas milik teman-temannya lalu melemparkan kepada pemiliknya. Kafka menyentuh dadanya, degup jantungnya belum juga reda. "Gue kayaknya sakit jantung deh …""Hah?" Haykal mendelik.Haykal menegakkan tubuhnya, mendekati Kafka. Mengecek suhu tubuhnya lalu menggeleng. "Nggak ada gejala demam sih, cuma berkeringat banyak. Wah … kayaknya bener deh."Pernyataan Haykal mengundang rasa penasaran Rio dan Hendra yang sejak tadi hanya mengamati gerak gerik Kafka."Ciri-ciri yang lo ras

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 149.

    Olivia dan Kafka sedang berjalan kaki menuju kedai bakso yang pernah Olivia kunjungi bersama Sarah dan Panji, waktu itu Olivia tidak benar-benar menikmati bakso yang katanya super enak itu karena dia sedang tidak mood makan. Maka dari itu, hari ini Olivia memiliki ide untuk mengajak Kafka ke sana, sebagai ucapan terima kasih pada cowok itu karena sudah mengobati luka kakinya."Masih jauh nggak?"Kafka melangkah di samping Olivia perlahan, sengaja memastikan langsung kondisi kaki Olivia yang beberapa waktu terluka. Sesekali tatapannya menunduk, melihat langkah Olivia yang tertatih. "Kalau masih jauh, gue gendong aja sini.""Heh!" Olivia mendelik, bisa-bisanya cowok itu berbicara seperti itu disaat mereka sedang menapaki jalan di gang sempit yang ramai orang. Mau taruh dimana mukanya?"Gue serius.""Udah deket, itu di depan." Olivia menunjuk kedai bakso yang antri super panjang, kebanyakan dari mereka justru anak sekolah berseragam Rajasa atau Budi Karya. Ini adalah kedai bakso legend

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 5.

    Hari pertama Olivia kembali ke sekolah terasa seperti berjalan di atas hamparan duri. Belum sampai di pintu kelas, tatapan sinis dan bisik-bisik dari murid lain sudah menyambutnya. Olivia berusaha menunduk, namun langkahnya terhenti saat sebuah tangan besar mencekal lengannya.Semua orang di korido

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 4.

    Sejak dua hari lalu, Olivia memutuskan untuk tidak masuk sekolah. Ia berusaha menghindari semua hal yang berkaitan dengan Kafka. Setidaknya, dua hari ini pikirannya benar-benar teralihkan meski rasa sesak di dadanya belum sepenuhnya hilang.Mamanya menyadari ada yang tidak beres dengan Olivia sejak

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 2.

    “Gue curiga deh sama lo, Liv.” Olivia yang merasa dituduh langsung memutar bola mata malas.“Kenapa?” ujarnya menatap Sarah. Hari pertama sudah dianggap curiga. Bagaimana besok besoknya?Sarah bergeser, berbicara pelan. “Soal Kafka narik tangan lo, itu lagi jadi bahasan di sekolah.”Gerakan tangan

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 1.

    “Peraturan pertama, jangan deket-deket sama anak-anak The Syndicate. Apalagi sama Kafka. Lo gak mau kena kartu merah di minggu pertama pindah kan, Liv?"Sarah, teman sebangku Olivia, berbisik dengan nada cemas saat mereka baru saja melewati koridor utama. Hari ini adalah tepat satu minggu sejak Ol

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status