LOGINLangit sudah berubah menjadi hitam pekat ketika Olivia akhirnya menyelesaikan tumpukan tugas sekolahnya. Ulangan harian yang tinggal menghitung hari membuat meja belajarnya nyaris tak pernah benar-benar kosong dari buku dan catatan. Di sampingnya, semangkuk buah-buahan pemberian Mbok tadi masih tersisa, menemani malam belajarnya.Getaran panjang dari ponselnya sedikit mengalihkan perhatian Olivia. Ekor matanya melirik layar, menangkap nama yang tertera di sana.Laki-laki ini lagi."Apa?" jawab Olivia ketus."Gue ada titipin salt bread ke nyokap lo, nanti di —""Nggak!" potong Olivia cepat. "Gue lagi belajar, jangan ke sini. Nggak bosen emang hampir tiap malam lo dateng?"Terdengar suara kekehan di seberang sana. "Santai, cuma titip makanan. Gue nggak mampir dulu, ada urusan.""Ya udah."Olivia langsung memutus sambungan sebelum laki-laki itu sempat mengatakan hal lain. Ponselnya diletakkan kembali di atas meja, sedikit membantingnya.Tatapannya kembali pada buku yang terbuka di hadapa
Bus kota sore ini tidak terlalu penuh, hanya ada beberapa orang termasuk Olivia yang duduk di kursi tengah serta dua orang lainnya di kursi belakang. Saat pintu depan bus hampir tertutup, tiba-tiba sosok laki-laki menghalangi pintunya. Membuat sang sopir ngedumel. Olivia mendongak sedikit, melihat siapa yang menahan bus untuk segera pergi.Ternyata seorang laki-laki yang sejak pagi Olivia hindari kembali menampakkan wajahnya di bus yang sama dengannya. Sialnya lagi, laki-laki ini memilih duduk di sebelahnya.Dari sekian banyak kursi kosong, kenapa juga harus duduk di sebelahnya."Halo, calon pacar."Olivia memutar bola matanya jengah, tangannya menarik tas yang sejak tadi dia letakkan di kursi samping. "Ngapain lo naik bus, mobil lo ditinggal di sekolah?"Tanpa ragu, laki-laki itu mengangguk. "Demi bareng sama lo, karena gue tau kalau lo lagi menghindar dari gue."Selalu saja membuat alasan."Nggak jelas lo. Gue nggak menghindar dari lo, cuma emang lagi nggak mood aja," jawannya asal.
Kafka datang ke sekolah dengan wajah lebih cerah dibanding hari-hari sebelumnya. Rio yang menyadari perubahan Kafka langsung mengetahui ada sesuatu yang disembunyikan darinya."Kenapa sih, Kaf? Beda bener lo hari ini."Kafka yang sedang duduk di kursi hanya diam, sesekali menundukkan wajahnya lalu tersenyum lebar sekali. Sampai membuat Rio meringis."Jatuh cinta lo, ya?" tebak Rio. "Atau, udah nembak dia?"Kafka menoleh ke belakang, memukul kepala Rio dengan buku catatan milik cowko itu. "Berisik, bego!""Lagian lo nggak jelas banget dari tadi, cengar cengir. Kesurupan setan sekolah lo, ya."Kafka kembali membalikan badannya, melirik tempat Olivia duduk yang masih kosong. Rio yang menyadari arah tatap Kafka, langsung mengangguk paham. "Kan, bener. Kesambet setan dari kelas ini sih.""Nggak.""Terus?""Nggak ada terus-terus."Olivia memasuki ruang kelas dengan jaket berwarna putih, wajahnya ditutupi menggunakan masker. Saat dia menatap sekeliling kelas, matanya bersitatap dengan Kafka,
Hembusan angin malam menerpa wajah Kafka, memberikan kesan dingin dan sejuk di saat bersamaan. Di sampingnya ada gadis yang sejak sore sudah uring-uringan tidak jelas.Kafka terduduk di minimarket lantai dua, menemani Olivia yang menangis. Dia bahkan sudah coba berbagai cara untuk meredakan tangisan gadis itu.Sempat juga dia meminta maaf pada sekitar karena suara raungan Olivia, Kafka sendiri juga tidak tau kenapa gadis itu bisa menangis tersedu-sedu.Padahal, sebelumnya gadis itu dengan gamblang mengatakan bahwa dia sedang menyukai seseorang."Sampai kapan lo mau nangis kayak gini?" Kafka menggeser kotak tisu kedua Olivia, setelah sebelumnya habis satu kotak dan berakhir di tempat sampah yang penuh dengan gumpalan putih. "Nanti kalau nyokap lo tau muka lo bengep gitu gimana? Apa nggak kena amuk gue?" Olivia mengusap air matanya. Matanya sampai perih, dia bukan menangis karena menyukai seseorang. Dia menangis karena orang itu tidak peka-peka, padahal dia sudah mengkodenya berulang k
"Kafka!" "Apa?"Olivia melangkah pelan mendekati Kafka, nyeri di mata kakinya sudah perlahan memudar. Hanya saja belum bisa digunakan untuk berjalan cepat.Kafka yang melihat Olivia melangkah pelan, langsung menghampiri gadis itu. Berdiri tepat di hadapannya. "Udah gue bilang, gausah sekolah dulu. Ngeyel." Kafka menjentikkan satu jarinya ke kening Olivia. "Ih, sakit!""Mau ngapain manggil gue?" "Cuma mau bilang makasih."Kafka melipat tangannya di dada. "Buat apa? Perasaan gue nggak ngapa-ngapain.""Udah bantuin obati luka kaki gue sama udah jenguk, kemarin." Olivia tersenyum tulus. "Maaf kalau jadinya bikin lo repot." Kafka menggeleng. "Santai, nggak repotin sama sekali." Olivia bergerak gelisah, Kafka yang menyadari perubahan itu langsung menggeser tubuh Olivia ke tepi. "Mau ngomong sama gue?" "Hah?" "Gelisah gitu? Mau ngomong apa emang?" Ternyata ketebak, ya?Olivia menautkan kedua jarinya di belakang tasnya. "Lo sibuk abis ini?" "Nggak." Olivia menarik Kafka untuk menuju
"Daripada di kamar terus, mending di sini. Sumpek," ujar Sarah sambil lebih dulu melangkah keluar.Olivia menurut. Ia berjalan pelan menyusul Sarah, lalu berdiri di dekat pagar balkon. Angin sore langsung menyambut mereka, membawa udara yang jauh lebih sejuk dibanding di dalam kamar.Langit masih dipenuhi awan kelabu, tetapi di balik gumpalan itu, semburat jingga mulai muncul di antara celah-celahnya. Matahari yang perlahan turun membuat ujung langit berubah warna, memantulkan cahaya keemasan di atas deretan rumah yang terlihat dari balkon.Sarah menyandarkan kedua lengannya di pagar. "Bagus banget."Olivia ikut memandang ke arah yang sama. "Iya. Bahkan gue jarang banget liat sunset kalau sore dari sini.""Yah … rugi dong, kamar di lantai dua tapi nggak dipergunakan dengan baik."Untuk beberapa saat, keduanya hanya diam memandang matahari yang sudah turun dari singgasananya. Tidak ada percakapan. Hanya suara angin dan sesekali suara kendaraan yang terdengar dari jalan depan rumah.Sar
Hari pertama Olivia kembali ke sekolah terasa seperti berjalan di atas hamparan duri. Belum sampai di pintu kelas, tatapan sinis dan bisik-bisik dari murid lain sudah menyambutnya. Olivia berusaha menunduk, namun langkahnya terhenti saat sebuah tangan besar mencekal lengannya.Semua orang di korido
Sejak dua hari lalu, Olivia memutuskan untuk tidak masuk sekolah. Ia berusaha menghindari semua hal yang berkaitan dengan Kafka. Setidaknya, dua hari ini pikirannya benar-benar teralihkan meski rasa sesak di dadanya belum sepenuhnya hilang.Mamanya menyadari ada yang tidak beres dengan Olivia sejak
Taman belakang sekolah SMA Budi Karya sudah sangat lama tidak dirawat, terlihat dari kursi yang sudah mulai rusak, beberapa pot bunga yang pecah dan tanaman yang sudah layu. Udara sore ini juga tidak terlalu panas, matahari sudah mulai turun. Olivia duduk sendirian di salah satu kursi panjang yang
“Gue curiga deh sama lo, Liv.” Olivia yang merasa dituduh langsung memutar bola mata malas.“Kenapa?” ujarnya menatap Sarah. Hari pertama sudah dianggap curiga. Bagaimana besok besoknya?Sarah bergeser, berbicara pelan. “Soal Kafka narik tangan lo, itu lagi jadi bahasan di sekolah.”Gerakan tangan







