แชร์

BAB 33.

ผู้เขียน: brownies coklat
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-25 09:40:40

“Mau menjauh sampai kapan Olivia?” tanya Kafka.

Cowok itu menghampiri Olivia yang sedang merapikan buku di kelas, ujian pelajaran matematika dan kimia hari ini cukup membuat kepalanya panas.

Ia mendongak, melihat Kafka sekilas. Cowok itu berhari-hari menjauhinya, tidak ada kabar dan tiba-tiba sekarang muncul di hadapannya saat ia lelah sehabis ujian.

Olivia menghembuskan nafas panjang. “Kan lo yang nyuruh gue ngejauh, kenapa sekarang komplain?”

Kafka memajukan langkahnya, mendekati meja Olivia.
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 169.

    Setelah keluar dari toko buku, Olivia dan Kafka sebenarnya sudah berniat langsung pulang. Dua kantong berisi buku baru berada di tangan Kafka, sementara Olivia berjalan di sampingnya sambil memeriksa kembali struk belanja yang tadi dimasukkannya ke dalam dompet. Supermarket yang sebelumnya tidak terlalu ramai, kini sudah mulai penuh.Orang-orang berdatangan bersama keluarga untuk menghabiskan waktu akhir pekan, beberapa anak kecil berlarian di sekitar atrium, ada suara-suara dari berbagai arah bercampur dengan musik yang terdengar samar dari salah satu toko.Olivia melipat struk itu sebelum memasukkannya kembali ke dalam dompet. "Kayaknya gue udah cukup deh beli banyak buku. Kalau beli lagi, Mama bisa protes."Kafka melirik satu kantong yang ada di tangannya. "Nyokap lo bakal protes cuma gara-gara buku-buku ini?""Dua udah banyak buat gue," koreksi Olivia. "Lo kan cuma satu."Kafka mengangkat salah satu kantong sedikit. "Gue bisa beliin lo banyak kok, ini sama sekali nggak ada apa-apa

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 168.

    Hari Minggu membuat rumah Olivia terasa jauh lebih tenang dari biasanya. Tidak ada suara kendaraan yang tergesa-gesa sejak pagi, tidak ada seragam sekolah yang harus disiapkan, dan untuk pertama kalinya setelah beberapa hari terakhir yang cukup melelahkan, Olivia tidak memiliki alasan untuk buru-buru turun dari kamar.Sayangnya, rencana untuk menghabiskan pagi dengan tidur lebih lama harus berakhir setelah sarapan.Olivia baru saja berdiri dari kursinya ketika suara Kafka terdengar dari belakang."Olivia."Olivia berhenti di dekat tangga lalu menoleh. Kafka masih duduk di meja makan, satu tangannya memegang ponsel, sementara tangan lainnya memainkan kunci mobil yang sejak tadi tergeletak di samping cangkir."Apa?"Kafka menaikkan satu alisnya ke atas. "Temenin gue ke toko buku, yuk. Udah terlanjur juga datang ke sini." Olivia mengerutkan kening. "Sekarang banget?"Kafka mengangguk. "Iya."Olivia melirik jam yang tergantung di dinding. Baru pukul sebelas lewat sedikit. Di waktu libura

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 167.

    Pukul sepuluh lewat sedikit ketika Olivia akhirnya benar-benar terbangun. Cahaya matahari sudah menyelinap melalui celah tirai, jatuh membentuk garis-garis tipis di lantai kamar. Udara dari pendingin ruangan masih terasa dingin, membuatnya enggan meninggalkan tempat tidur. Dia mengerjapkan mata beberapa kali, kemudian mengusap wajah sebelum meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas. Layar ponselnya dipenuhi beberapa panggilan tak terjawab. Sebagian besar dari Kafka. Olivia mengernyit sambil menghitung sekilas jumlah panggilan yang masuk. Tidak sampai selesai, dia sudah lebih dulu mengunci layar ponselnya. Tidak perlu tahu sebanyak apa. Melihat nama itu saja sudah cukup membuat kepalanya kembali mengingat kejadian semalam. Ciuman di kening. Tatapan Kafka setelahnya. Lalu Mama yang tiba-tiba muncul. Olivia menarik selimut hingga menutupi wajahnya. "Ya ampun, semalam nggak sempat ngobrol sama Mama. Pasti ditanyain lagi nih nanti …" Dia mengerang pelan. Seharusnya kejadian itu ti

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 166.

    Setelah semalaman tidak bisa benar-benar terlelap, pukul enam pagi barulah Olivia berhasil tertidur. Sepanjang malam, dia hanya berpindah dari satu sisi kasur ke sisi lainnya. Kadang menarik selimut sampai ke dagu, beberapa menit kemudian menendangnya karena merasa gerah. Bantal yang semula berada di bawah kepala bahkan sudah berpindah entah ke mana. Pada akhirnya, rasa kantuk yang sejak tadi ditahannya berhasil mengalahkan pikirannya yang tidak kunjung tenang.Sayangnya, tidur yang baru saja dia dapatkan tidak benar-benar memberinya waktu untuk beristirahat.Ponsel di atas nakas kembali bergetar panjang. Layarnya menyala, memperlihatkan panggilan masuk yang belum sempat dijawab. Nama Kafka muncul beberapa kali, disusul panggilan dari ibunya sendiri. Getaran itu berhenti sesaat, kemudian kembali terdengar beberapa menit setelahnya.Olivia sama sekali tidak bergeming.Bahkan ketika ponselnya kembali bergetar, dia hanya mengernyit kecil dalam tidur sebelum menarik selimut lebih tinggi d

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 165.

    Hujan deras baru saja reda meninggalkan bekas tetesan air pada dedaunan. Aroma tanah yang masih basah menguap ke udara, bercampur dengan hembusan angin dingin pukul sebelas malam.Kafka sudah mengeluarkan motor dari basement sejak bermenit-menit yang lalu, sebelum hujan benar-benar berhenti. Olivia, gadis itu sudah mengomel lebih dari tiga puluh menit. Katanya dia akan kena omelan ibunya kalau sampai di rumah lewat dari pukul sembilan. Yang nyatanya, sekarang mereka masih setia duduk di atas motor mengarungi jalanan menuju rumah Olivia.Olivia mencebikkan bibirnya berkali-kali, enggan berpegangan. Padahal pulang diantar Kafka naik motor adalah idenya. Kafka sudah kekeh untuk mengantar dengan mobil, jadi mereka tidak akan kehujanan dan akan sampai rumah Olivia sebelum pukul sembilan. Lagi-lagi, Olivia merajuk."Masih lapar, nggak?" Suara Kafka terbawa angin. Tidak terdengar jelas oleh Olivia yang dibonceng.Olivia tetap bergeming, tidak juga menjawab pertanyaan Kafka.Kafka menolehkan

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 164.

    "Makasih, Olivia."Olivia mendongak, mendapati wajah Kafka yang sedang mengamatinya. Dia tersenyum kecil. "Makasih untuk apa? Perasaan gue nggak lakuin apa-apa."Kafka menghela napas panjang, tatapannya kembali mendongak. Melihat langit malam sudah tidak lagi cerah seperti sebelumnya, air dari langit mulai menetes sedikit demi sedikit membasahi bumi. "Makasih buat nggak membahas apapun yang lo lihat."Olivia mengerutkan keningnya, lalu menggeleng. "Bukan ranah gue buat nanya hal pribadi lo," ujar Olivia tenang. Kedua tangannya memegang tiang besi balkon, ikut menghirup udara dingin karena gerimis. "Lo nggak menceritakan ke gue, ya berarti itu hal pribadi yang nggak boleh gue tanya. Gue masih tahu batasan, Kafka. Gue juga paham, nggak semua hal bisa lo ceritakan ke orang lain.Kafka menoleh, mendapati Olivia yang sedang memejamkan mata. Dia belum benar-benar bisa menamai perasaan nyaman pada gadis di sampingnya, Cinta? Sayang? Atau hanya sekedar peduli."Kenapa lo baik sama gue?" Masih

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 5.

    Hari pertama Olivia kembali ke sekolah terasa seperti berjalan di atas hamparan duri. Belum sampai di pintu kelas, tatapan sinis dan bisik-bisik dari murid lain sudah menyambutnya. Olivia berusaha menunduk, namun langkahnya terhenti saat sebuah tangan besar mencekal lengannya.Semua orang di korido

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 4.

    Sejak dua hari lalu, Olivia memutuskan untuk tidak masuk sekolah. Ia berusaha menghindari semua hal yang berkaitan dengan Kafka. Setidaknya, dua hari ini pikirannya benar-benar teralihkan meski rasa sesak di dadanya belum sepenuhnya hilang.Mamanya menyadari ada yang tidak beres dengan Olivia sejak

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 2.

    “Gue curiga deh sama lo, Liv.” Olivia yang merasa dituduh langsung memutar bola mata malas.“Kenapa?” ujarnya menatap Sarah. Hari pertama sudah dianggap curiga. Bagaimana besok besoknya?Sarah bergeser, berbicara pelan. “Soal Kafka narik tangan lo, itu lagi jadi bahasan di sekolah.”Gerakan tangan

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 1.

    “Peraturan pertama, jangan deket-deket sama anak-anak The Syndicate. Apalagi sama Kafka. Lo gak mau kena kartu merah di minggu pertama pindah kan, Liv?"Sarah, teman sebangku Olivia, berbisik dengan nada cemas saat mereka baru saja melewati koridor utama. Hari ini adalah tepat satu minggu sejak Ol

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status