홈 / Romansa / Perjaka Desa yang Menyebalkan / 45. Suara Hati dan Belati Baru

공유

45. Suara Hati dan Belati Baru

작가: Alya Feliz
last update 게시일: 2026-11-02 08:14:27

Gemercik air sungai yang jernih berbenturan dengan bebatuan, menciptakan melodi alam yang menenangkan. Kesya melangkah perlahan di atas rerumputan basah, lalu mendudukkan diri di samping Rani yang masih menatap kosong ke arah aliran air. Kehadiran Kesya membuat Rani menoleh sekilas, menyeka sisa air mata di sudut matanya dengan ujung pakaian yang ia kenakan.

"Mbak Rani," sapa Kesya dengan lembut.

Rani tersenyum tipis. Sebuah senyuman sarat akan kelelahan, namun memancarkan kelegaan luar biasa s
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Perjaka Desa yang Menyebalkan   46. Lembaran Gelap Sang Anak Emas

    Kesya menatap layar ponselnya yang meredup dengan tatapan sedingin es. Tidak ada air mata. Rasa sakit hati yang biasanya dialami oleh korban pengkhianatan, sama sekali tidak singgah di dadanya. Justru, sebuah senyuman sinis terukir di sudut bibirnya.Sejak kecil, Kesya sudah kenyang menghadapi tabiat Diana. Kakak perempuannya itu selalu bertingkah seperti anak emas di depan Bu Sekar. Diana adalah definisi kesempurnaan di mata sang ibu—lulusan luar negeri, anggun, dan mahir bersosialisasi dengan kalangan jetset. Kesya sudah sangat terbiasa menerima ucapan pedas, tatapan merendahkan, hingga sindiran halus dari Diana yang menyebutnya tidak kompeten dan tidak pantas meneruskan bisnis keluarga mereka.Sekarang, teka-teki itu terjawab. Di balik topeng elegan dan kesucian yang selalu diagung-agungkan oleh Bu Sekar, Diana ternyata hanyalah seorang wanita murahan yang menjadi selingkuhan calon adik iparnya sendiri. Rasa jijik Kesya kepada Raka kini mencapai puncaknya. Pria itu benar-benar mons

  • Perjaka Desa yang Menyebalkan   45. Suara Hati dan Belati Baru

    Gemercik air sungai yang jernih berbenturan dengan bebatuan, menciptakan melodi alam yang menenangkan. Kesya melangkah perlahan di atas rerumputan basah, lalu mendudukkan diri di samping Rani yang masih menatap kosong ke arah aliran air. Kehadiran Kesya membuat Rani menoleh sekilas, menyeka sisa air mata di sudut matanya dengan ujung pakaian yang ia kenakan."Mbak Rani," sapa Kesya dengan lembut.Rani tersenyum tipis. Sebuah senyuman sarat akan kelelahan, namun memancarkan kelegaan luar biasa setelah lepas dari jerat keluarga Bu Ndari. "Eh, Kesya. Nyari angin segar juga?"Kesya mengangguk, lalu memeluk lututnya sendiri. "Iya, Mbak. Di dalam rumah rasanya sumpek banget. Ibu besok... ah bukan, hari ini maksudnya, mau datang menjemputku paksa pulang ke Jakarta. Aku bingung, Mbak. Di satu sisi aku nggak mau balik ke cengkeraman Raka, tapi di sisi lain, aku merasa bersalah sama orang tua."Rani mengembuskan napas panjang. Dia menatap Kesya dengan pandangan teduh yang sarat akan pengalaman

  • Perjaka Desa yang Menyebalkan   44. Dilema

    Matahari baru saja naik sepenggalah, membasuh Desa Karangmojo dengan hawa sejuk yang perlahan mengusir embun pagi. Namun, bagi Kesya, atmosfer di dalam rumah kayu milik Pak Hadi terasa menghimpit. Sejak subuh, jantungnya terus berdegup kencang. Dia sudah bersiap dengan pakaian terbaiknya, menunggu ketukan pintu yang akan menandai akhir dari pelariannya. Bu Sekar, ibunya, berjanji akan tiba pagi-pagi sekali dengan sopir pribadi untuk menyeretnya kembali ke gemerlap Jakarta.Namun, hingga jarum jam dinding berkarat di ruang tamu menunjuk angka sembilan, tanda-tanda kedatangan mobil mewah ibunya belum juga kelihatan. Kesya mengembuskan napas berat, menatap ponselnya yang bisu. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor ibunya tiga puluh menit yang lalu, berisi makian singkat karena sang sopir tersesat di persimpangan jalur lintas luar kota. Bu Sekar rupanya lupa total jalan menuju ke rumah Pak Hadi, karena belasan tahun wanita sosialita itu enggan menginjakkan kaki di rumah saudara jauh yan

  • Perjaka Desa yang Menyebalkan   43. Panggilan dari Bu Sekar

    Keheningan rumah kayu milik Pak Hadi sore itu, terasa begitu kontras dengan hiruk-pikuk yang baru saja terjadi di pelataran warung. Kesya duduk sendirian di tepi ranjang kamarnya yang sederhana. Tatapannya lurus menatap keluar jendela, menyaksikan semburat jingga yang perlahan tenggelam ditelan malam.Di sini, di rumah Pak Hadi, Kesya akhirnya bisa menarik napas tanpa perlu berpura-pura kuat. Dia sengaja menolak halus saat Bu Lastri mengajaknya singgah ke rumah keluarga Wiryo tadi. Kesya butuh jarak. Dia tidak ingin terus-menerus bertumpu pada pundak Damar, seolah-olah dia adalah gadis kota ringkih yang tidak punya arah.Pikiran Kesya mulai mengurai benang kusut yang membawanya terdampar di desa ini. Alasan utamanya melarikan diri bukanlah sekadar lelah dengan kebisingan Jakarta, melainkan untuk menyelamatkan kewarasannya sendiri. Dia melarikan diri dari cengkeraman Raka yang hampir menghancurkan harga dirinya sebagai manusia.Lalu, ada Damar.Pria desa yang di awal pertemuannya begit

  • Perjaka Desa yang Menyebalkan   42. Masa Lalu yang Mengusik

    Deru mesin motor gede 250cc milik Damar membelah keheningan sore Desa Karangmojo. Suaranya yang menggelegar membuat ibu-ibu yang tadinya menahan napas, langsung menoleh serentak. Motor hitam legam itu berhenti dengan decitan ban yang tajam, tepat beberapa meter di belakang mobil Bu Lurah.Damar turun. Jaket jins pudar yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan urat-urat tangannya yang kokoh. Wajahnya mengeras, matanya yang tajam langsung mengunci ke satu titik: Tyas yang sedang bergelayut manja di lengan Dani."Mas Dani! Lihat tuh, ibunya Mas Damar sama perempuan kota itu tiba-tiba nyerang aku! Aku difitnah, Mas!" pekik Tyas dengan suara yang sengaja dibuat bergetar, sok ringkih. Dia mempererat pelukannya pada lengan Dani, dadanya dibusungkan dengan percaya diri.Dalam otak dangkal Tyas, kedatangan Damar dan posisi Dani di sampingnya adalah sebuah trofi. [Lihat, kan? Dua cowok paling hits di wilayah ini sekarang lagi berdiri demi aku] pikirnya jemawa. Tyas melirik Kesya, mele

  • Perjaka Desa yang Menyebalkan   41. Hukum Tabur Tuai

    Kesya berdiri dengan dagu terangkat, menatap tajam ke arah kerumunan ibu-ibu yang kini mendadak ciut. Aura mandiri dan tegas memancar kuat dari tubuh mungilnya, mengunci perhatian semua orang di pelataran warung sayur tersebut."Kalau kalian mau memfitnah saya, silakan. Saya bisa terima dan saya punya seribu satu cara buat membersihkan nama saya sendiri," ujar Kesya. Suaranya lantang tanpa ragu, memecah keheningan yang mencekam. Dia kemudian menoleh, menatap lembut ke arah Bu Lastri sebelum kembali menatap beringas ke arah Bu RT dan Bu Ndari. "Tapi kalau kalian semua sudah berani bawa-bawa Bu Lastri, menghina beliau di depan umum, saya nggak akan pernah tinggal diam!"Kesya maju satu langkah, menatap lurus ke arah Bu RT dengan pandangan yang sangat menantang, menampilkan ciri khas generasi muda yang tidak lagi bisa dibungkam oleh senioritas palsu kaum kolot yang tidak sopan."Selama saya tinggal di desa ini, Bu Lastri yang memperlakukan saya dengan tulus seperti anak kandungnya sendir

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status