เข้าสู่ระบบMatahari baru saja naik sepenggalah, membasuh Desa Karangmojo dengan hawa sejuk yang perlahan mengusir embun pagi. Namun, bagi Kesya, atmosfer di dalam rumah kayu milik Pak Hadi terasa menghimpit. Sejak subuh, jantungnya terus berdegup kencang. Dia sudah bersiap dengan pakaian terbaiknya, menunggu ketukan pintu yang akan menandai akhir dari pelariannya. Bu Sekar, ibunya, berjanji akan tiba pagi-pagi sekali dengan sopir pribadi untuk menyeretnya kembali ke gemerlap Jakarta.Namun, hingga jarum jam dinding berkarat di ruang tamu menunjuk angka sembilan, tanda-tanda kedatangan mobil mewah ibunya belum juga kelihatan. Kesya mengembuskan napas berat, menatap ponselnya yang bisu. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor ibunya tiga puluh menit yang lalu, berisi makian singkat karena sang sopir tersesat di persimpangan jalur lintas luar kota. Bu Sekar rupanya lupa total jalan menuju ke rumah Pak Hadi, karena belasan tahun wanita sosialita itu enggan menginjakkan kaki di rumah saudara jauh yan
Keheningan rumah kayu milik Pak Hadi sore itu, terasa begitu kontras dengan hiruk-pikuk yang baru saja terjadi di pelataran warung. Kesya duduk sendirian di tepi ranjang kamarnya yang sederhana. Tatapannya lurus menatap keluar jendela, menyaksikan semburat jingga yang perlahan tenggelam ditelan malam.Di sini, di rumah Pak Hadi, Kesya akhirnya bisa menarik napas tanpa perlu berpura-pura kuat. Dia sengaja menolak halus saat Bu Lastri mengajaknya singgah ke rumah keluarga Wiryo tadi. Kesya butuh jarak. Dia tidak ingin terus-menerus bertumpu pada pundak Damar, seolah-olah dia adalah gadis kota ringkih yang tidak punya arah.Pikiran Kesya mulai mengurai benang kusut yang membawanya terdampar di desa ini. Alasan utamanya melarikan diri bukanlah sekadar lelah dengan kebisingan Jakarta, melainkan untuk menyelamatkan kewarasannya sendiri. Dia melarikan diri dari cengkeraman Raka yang hampir menghancurkan harga dirinya sebagai manusia.Lalu, ada Damar.Pria desa yang di awal pertemuannya begit
Deru mesin motor gede 250cc milik Damar membelah keheningan sore Desa Karangmojo. Suaranya yang menggelegar membuat ibu-ibu yang tadinya menahan napas, langsung menoleh serentak. Motor hitam legam itu berhenti dengan decitan ban yang tajam, tepat beberapa meter di belakang mobil Bu Lurah.Damar turun. Jaket jins pudar yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan urat-urat tangannya yang kokoh. Wajahnya mengeras, matanya yang tajam langsung mengunci ke satu titik: Tyas yang sedang bergelayut manja di lengan Dani."Mas Dani! Lihat tuh, ibunya Mas Damar sama perempuan kota itu tiba-tiba nyerang aku! Aku difitnah, Mas!" pekik Tyas dengan suara yang sengaja dibuat bergetar, sok ringkih. Dia mempererat pelukannya pada lengan Dani, dadanya dibusungkan dengan percaya diri.Dalam otak dangkal Tyas, kedatangan Damar dan posisi Dani di sampingnya adalah sebuah trofi. [Lihat, kan? Dua cowok paling hits di wilayah ini sekarang lagi berdiri demi aku] pikirnya jemawa. Tyas melirik Kesya, mele
Kesya berdiri dengan dagu terangkat, menatap tajam ke arah kerumunan ibu-ibu yang kini mendadak ciut. Aura mandiri dan tegas memancar kuat dari tubuh mungilnya, mengunci perhatian semua orang di pelataran warung sayur tersebut."Kalau kalian mau memfitnah saya, silakan. Saya bisa terima dan saya punya seribu satu cara buat membersihkan nama saya sendiri," ujar Kesya. Suaranya lantang tanpa ragu, memecah keheningan yang mencekam. Dia kemudian menoleh, menatap lembut ke arah Bu Lastri sebelum kembali menatap beringas ke arah Bu RT dan Bu Ndari. "Tapi kalau kalian semua sudah berani bawa-bawa Bu Lastri, menghina beliau di depan umum, saya nggak akan pernah tinggal diam!"Kesya maju satu langkah, menatap lurus ke arah Bu RT dengan pandangan yang sangat menantang, menampilkan ciri khas generasi muda yang tidak lagi bisa dibungkam oleh senioritas palsu kaum kolot yang tidak sopan."Selama saya tinggal di desa ini, Bu Lastri yang memperlakukan saya dengan tulus seperti anak kandungnya sendir
Bu Lastri menarik napas dalam-dalam. Dadanya yang bergemuruh perlahan terangkat. Sepasang mata tuanya yang biasanya memancarkan keteduhan dan rasa tidak tegaan, kini menatap lurus ke arah kerumunan ibu-ibu di warung sayur dengan tatapan yang sangat dingin, begitu asing hingga membuat Bu Parno yang sedang memegang kangkung mendadak merinding.Perempuan berhati lembut itu jika sudah sampai pada batas kesabarannya, marahnya jauh lebih menakutkan daripada raungan motor gede milik Damar."Saya benar-benar tidak menyangka..." Suara Bu Lastri mengalun pelan, namun nadanya yang bergetar menahan amarah membuat riuh tawa ibu-ibu itu seketika senyap. "Setiap dua minggu sekali, kita semua duduk bersama di musala untuk pengajian rutin. Hari Minggu pun, panjenengan semua tidak pernah absen ikut pengajian akbar di kecamatan. Tapi hari ini... saya baru tahu, ternyata jilbab panjang dan dahi yang rajin sujud itu tidak menjamin lisan panjenengan bersih dari dosa ghibah!"Bu Ndari mendengus hendak menye
Watak bebal Tyas rupanya sudah melekat kuat di darahnya. Sebagai kembang desa lulusan SMP yang dunianya hanya seputar bedak dan bagaimana cara memikat hati para perjaka, ancaman hukum dari Kesya tidak benar-benar masuk ke logikanya. Baginya, polisi hanya bertugas mengurus maling ayam atau kecelakaan di jalan raya. Mana ada orang dipenjara hanya karena omongan warung kelontong?Begitu bubar dari halaman rumah Pak Wiryo, Tyas langsung menjalankan taktik andalannya: playing victim. Sepanjang perjalanan menuju ke dusun sebelah, dia sengaja berjalan sambil menangis terisak-isak dan sesekali mengusap matanya yang sembap, untuk memancing simpati setiap warga yang berpapasan dengannya."Ya Allah! Tyas... kamu kenapa kok nangis sesenggukan begitu?" tanya Bu Parno, salah satu gembong gosip dusun, saat melihat Tyas singgah di warung sayur sore itu.Tyas langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya bergetar hebat penuh drama. "Tyas... Tyas cuma berniat baik mengingatkan Pak RT, biar des







