LOGINKesya meremas ujung kaosnya dengan canggung saat melangkah masuk ke dalam rumah joglo kayu milik keluarga Damar. Setelah insiden di warung tadi, Damar tanpa permisi langsung menarik pergelangan tangannya, menyuruhnya untuk ikut pulang ke rumah Pak Wiryo dengan alasan ketus: "Daripada kamu pingsan di jalan desaku dan bikin repot banyak orang." "Makan yang banyak, Nak Kesya. Anggap saja seperti di rumah sendiri," ujar Bu Lastri dengan senyum hangat, sembari menyodorkan sepiring ayam lodho. "Eh, terima kasih, Bu. Ini sudah cukup banget kok," jawab Kesya sungkan. Dia melirik ke ujung meja jati. Damar duduk dengan santai, mengenakan kemeja flanel longgar setelah seharian mengurus penggilingan padi milik keluarganya. Laki-laki itu makan dengan tenang, mengabaikan tatapan canggung Kesya seolah dia tidak ada di sana. Di sebelah Kesya, duduklah Rani. Kakak perempuan Damar yang berusia 35 tahun itu tersenyum lembut, lalu menyenggol lengan suaminya, Bayu. "Mas, ambilin sambalnya buat Kesya."
Kesya menatap nanar folder tersembunyi di ponselnya. Pesan beracun setahun yang lalu itu masih tercetak jelas: [Lu sendiri yang berlutut dan minta gue buat merahasiakan kejadian malam itu.] Dulu, setiap kali membaca teks itu, jiwanya lumpuh oleh rasa bersalah. Raka memang sangat ahli mencuci otak, membuat Kesya selalu meragukan kewarasannya sendiri. Dengan gusar, Kesya mematikan layar ponsel. Kejadian malam terakhir di Jakarta itu mendadak berputar kembali seperti rol film rusak di kepalanya. Malam itu hujan deras mengguyur bumi. Pertengkaran hebat pecah setelah Raka tahu Kesya tetap nekat menerima pekerjaan di luar kota. "Kalau lu pergi, jangan harap gue bakal nerima elu kembali!" bentak Raka waktu itu. "Gue nggak pergi buat kembali," balas Kesya telak sebelum melangkah keluar dari rumah terkutuk itu. Kepergiannya malam itu memang membebaskan fisiknya. Tapi ada satu insiden lain setelah detik itu. Sebuah rahasia yang membuat Kesya ketakutan setengah mati jika sampai ada orang la
Damar menatap layar ponselnya di bawah lampu neon bengkel. Ibu jarinya menggantung di atas papan ketik, berniat untuk memaki Raka, namun dia urungkan. Kalau laki-laki kota itu punya nyali, dia pasti bicara langsung saat berhadapan muka tadi, bukan malah meneror lewat pesan seperti pengecut. "Mar!" Suara Rani memecah keheningan. Kakaknya berdiri di pembatas bengkel sambil menenteng rantang makanan. Damar menerima rantang itu. "Kenapa nggak ditaruh di meja makan rumah aja, Mbak?" "Ibu yang nyuruh. Beliau tahu kamu pasti mendekam di sini kalau kepalamu lagi pusing," Rani memperhatikan wajah adiknya. "Kamu kenapa? Muka kok ditekuk begitu?" "Nggak kenapa-kenapa." "Bohong. Kalau punya masalah, biasanya mulutmu lebih banyak ngomel." Damar mengembuskan napas kasar. Dia menyodorkan ponselnya pada Rani. "Ada pesan dari laki-laki yang tadi sore datang ke rumah Kesya." Rani membaca pesan dari Raka dengan seksama. "Dia bilang jangan percaya sama Kesya? Ada alasan menjijikkan di Jakarta?"
Kesya masih berdiri terpaku di teras rumahnya. Ia menatap kedua telapak tangannya yang dingin dan gemetar. Ketakutan yang merayap di dadanya saat ini bukan karena ia takut Raka akan berbuat kasar secara fisik. Justru karena ia tahu betul, Raka tidak perlu menggunakan kekerasan untuk menghancurkan mentalnya. Pria itu hanya butuh kata-kata. Raka memiliki kemampuan manipulasi luar biasa yang bisa membuat Kesya meragukan kewarasan dan keputusannya sendiri. "Kamu mau duduk dulu?" Suara Damar memecah lamunan Kesya. Ia tersentak, lalu menoleh. Damar berdiri beberapa langkah di sampingnya. Kesya hanya mampu mengangguk lemah. Mereka berdua berjalan menuju ke kursi kayu di teras, lalu duduk dengan jarak yang cukup renggang. Untuk beberapa saat, keheningan menyelimuti mereka."Aku nggak akan bertanya apa pun kalau kamu belum siap untuk bercerita," kata Damar akhirnya."Kenapa?" "Karena sepanjang siang ini, kamu sudah cukup banyak menerima rentetan pertanyaan yang sebenarnya nggak ingin kam
Kesya baru saja selesai menyeduh teh hangat saat suara raungan mesin mobil memecah keheningan desa dan berhenti tepat di depan pagar rumahnya. Detik itu juga, jantungnya langsung berdegup dua kali lebih cepat. Tanpa perlu melongok keluar jendela pun, Kesya sudah tahu siapa yang datang.Raka benar-benar membuktikan ancamannya. Pria itu datang tanpa diundang.Kesya menarik napas panjang, mencoba meredam gemetar di tangannya, lalu melangkah menuju ke teras. Di sana, seorang pria berdiri tegap di samping mobil sedan hitam mengilap yang tampak sangat kontras dengan jalanan desa yang berdebu. Penampilannya masih sama seperti ingatan buruk Kesya: kemeja putih mahal yang pas di badan, celana kain, dan tatanan rambut klimis khas eksekutif muda ibu kota.Begitu menyadari keberadaan Kesya, sebuah senyuman tipis terukir di wajah pria itu. Senyuman yang dulu sempat membuat Kesya bertekuk lutut, namun kini justru memicu mual. "Kesya."Kesya menghentikan langkahnya tepat beberapa jengkal dari pintu.
Sejak mengetahui bahwa Raka akan datang, Kesya menjadi lebih pendiam. Bahkan ketika sedang membuat kopi di dapur, pikirannya tetap melayang kembali pada percakapannya dengan Damar. Pria itu tahu tentang Raka. Lebih buruk lagi, Damar memiliki foto lama yang seharusnya sudah terkubur dan tidak pernah muncul lagi dalam hidupnya. Kesya mengambil ponselnya, menatap satu pesan yang belum ia balas. [Jangan hubungi siapa pun soal surat itu dulu. Aku bisa mengurus masalahku sendiri.] Pesan itu terkirim. Tidak lama kemudian, sebuah balasan masuk. [Aku tahu.] Kesya mengerutkan kening. Belum sempat ia mencerna jawaban itu, pesan berikutnya muncul. [Makanya aku gak akan mengurusnya untuk kamu.] Kesya terdiam. Untuk pertama kalinya, jawaban Damar tidak terdengar seperti orang yang ingin ikut campur. Justru, kalimat itu terasa seperti seseorang yang sedang memberinya ruang untuk bernapas. Kesya meletakkan ponselnya, namun rasa penasaran di dadanya tetap tidak bisa diusir begitu saja. *** Si







