Share

Bab 3

Author: Stary Dream
last update Last Updated: 2026-01-13 07:04:00

Mayang Sari.

Santriwati di sekolah yang selalu menjadi buah bibir seantero kakak tingkat. Para santri pria yang berlomba-lomba menarik perhatian perempuan ini ketika melewati madrasah.

Bukan tanpa alasan jika Mayang begitu disukai. Perempuan ini tak hanya cantik, tapi juga memiliki kepribadian yang lembut. Dia juga terkenal cerdas di sekolahnya.

Hampir semua siswa dan guru mengenalnya dengan baik. Begitu juga dengan Aldi yang ingin sekali berdekatan dengan perempuan ini. Namun sayangnya setelah tamat sekolah, kisah cinta monyet ini kandas begitu saja..

Sudah satu bulan lebih Aldi mengantar Mayang pulang ke rumah. Tepatnya setelah perjumpaan mereka kembali setelah sekian lama.

Ada saja alasan Aldi untuk mendekati wanita itu. Dari rumah yang jauh, panas terik hingga hujan badai dijadikan tameng agar Aldi menjaga Mayang yang lama tak dijumpainya.

Padahal status mereka sudah berubah, tak hanya sebagai mahasiswa dan dosen tapi keduanya sudah menikah.

"Makasih mas sudah mengantar. Aku jadi nggak enak karena merepotkan terus." Ucap Mayang sembari melepaskan sabuk pengamannya.

"Nggak merepotkan, kok. Kan kita searah." Dalam hati Aldi jelas berbohong, rumah Mayang ada di selatan sementara dia di utara. Darimana searahnya?

Mendengar itu, senyum Mayang merekah. Lagi-lagi Aldi menahan diri agar tak jatuh hati pada istri orang lain.

"Eh.. mobil siapa itu yang terparkir di depan rumahmu?"

Mayang terkejut bukan main melihat mobil hitam familiar yang tiba-tiba datang dan masuk ke halaman rumahnya.

"Itu.. itu mobil suamiku." Jawab Mayang gugup bukan main.

"Ternyata dia baru pulang dari luar kota, ya?" Aldi tahu jika suami Mayang ini sering dinas diluar kota.

"I-iya, mas. Aku turun dulu, kamu cepatlah pulang. Terima kasih sudah mengantar." Sambung Mayang tergagap. Dia lalu buru-buru turun dari mobil dan masuk ke dalam rumahnya.

Sementara Aldi jadi keheranan akan sikap Mayang barusan. Kenapa wanita itu nampak ketakutan?

"Mungkin perasaanku saja.." kata Aldi menepis perasaan khawatir di hatinya.

Sekitar 1 jam, Aldi sampai ke rumahnya. Hari mulai gelap, adzan maghrib sebentar lagi berkumandang.

Selina yang kandungannya kini sudah menginjak 6 bulan mulai merasa lebih baik. Drama mual muntah tidak ada lagi, tapi kontraksi dan nyeri pinggang acap kali ia rasakan.

Saat mendengar deru suara mobil suaminya, ia datang ke pintu depan. Menyambut Aldi, menyalimi tangan dan membawakan tas pria tersebut.

"Mas mau makan sekarang atau nanti?" Tawar Selina.

"Aku sudah makan." Jawab Aldi tanpa menoleh.

Selina hanya bisa menghela nafas pelan. Padahal dia sudah kembali menjadi istri yang baik dengan melayani suaminya kembali.

Tapi selama satu bulan ini Aldi jarang makan malam di rumah. Katanya sudah makan diluar. Selina sendiri tak curiga, mungkin saja memang Aldi mendapatkan jatah makan dari kampusnya.

Malam menjelang, Selina menaruh pinggulnya di tempat tidur sembari memandang suaminya.

Si Aldi yang lebih suka menatap ponsel hingga tersenyum dibanding melihat wajah istrinya sendiri.

"Mas Aldi.. udah satu bulan kita nggak kontrol.. gimana kalau besok kita cek kandungan?" Tanya Selina hati-hati.

"Ada keluhan?" Tanya Aldi balik tanpa melepas tatapa mesra ke ponsel miliknya.

"Ada sih.. pinggangku masih sakit, perutku juga masih kram."

"Obatnya masih ada?"

"Sudah habis."

Aldi mendengkus kasar. "Berarti aku harus mengeluarkan uang 1 juta lagi besok untuk periksa kandunganmu! Periksa ke puskesmas aja sana!"

"Iya mas nggak masalah. Apa mas bisa nemenin aku?"

"Astaga. Cuma ke puskesmas aja minta ditemenin!" Aldi menatap istrinya dengan kesal. "Jangan manja kamu! Pergi sendiri aja."

Selina tertunduk mendengar kemarahan suaminya. "Iya, mas."

Besok harinya, Selina pergi sendiri ke puskesmas untuk memeriksakan kandungannya. Namun karena tidak ketersediaan alat yang canggih, mereka menyarankan Selina untuk pergi ke rumah sakit.

Terlebih ketika pemeriksaan oleh bidan tadi terdapat kontraksi di daerah perut bawahnya.

"Kami rujuk ke rumah sakit aja, ya." Ujar bidan tersebut menuliskan sesuatu di secarik kertas.

Selina patuh akan saran bidan tersebut. Untung saja dia memiliki asuransi kesehatan dari pemerintah sehingga tak perlu lagi mengeluarka biaya.

Namun masalahnya Selina sudah tak kuat untuk berjalan lagi, perutnya kram sekali. Ia takut terjadi sesuatu jika dia pergi sendiri dengan transportasi umum.

"Aku harus menghubungi mas Aldi," gumam Selina pelan.

Di sisi lain, Aldi baru saja mengajar di satu kelas siang itu. Sesuai jadwal, setelah makan siang dia akan mengajar di kelas alih program sampai sore.

"Hai, Mayang.." sapa Aldi ketika melihat Mayang yang seperti buru-buru menghindarinya. Keduanya bertemu ketika selesai perkuliahan pagi.

"Hai, mas." Hari ini Mayang memakai setelan masker penutup mulut dan wajah, ketika bersitatap dengan Aldi wanita ini memalingkan wajahnya.

"Aku kirim pesan semalam tapi nggak kamu bales.. kayaknya kamu seneng banget ada suamimu di rumah."

"Hmm.. iya, mas. Aku permisi dulu.." balasnya terburu-buru.

"Kenapa, May? Kamu kelihatan nggak sehat?"

"Cuma flu aja." Jawab Mayang serak. Matanya sudah memerah menahan tangis.

"Sudah minum obat?" Tanyanya perhatian.

"Sudah, mas. Aku permisi." Mayang langsung pergi setelah mengatakan itu.

Sementara Aldi jadi terkesiap. Ada apa dengan Mayang? Kenapa wanita itu seperti menyembunyikan sesuatu?

Namun dering ponsel Aldi membuatnya berdecak kesal. Apalagi ketika melihat nama si penelepon membuat Aldi jadi meradang.

"Ada apa lagi, Selin?" Bentak Aldi kesal. Padahal itu baru kali pertama istrinya menelepon.

["Mas, aku dirujuk ke rumah sakit untuk pemeriksaan lanjutan. Apa bisa kamu temani aku?"]

"Kapan?"

["Sekarang, mas.."]

"Kamu ini nggak punya otak, ya? Aku hari ini mengajar sampai sore, Selina! Sudah kubilang jangan manja. Tinggal pergi ke rumah sakit saja apa susahnya?" Aldi marah sekali.

["Tapi perutku sakit, mas.. aku takut nggak kuat kalau naik bis.."] Selina menahan isakannya.

"Naik taksi kan bisa! Masa itu aja mau diajarin!" Aldi berdecak. "Kamu yang hamil, Selina! Jadi jangan menyusahkanku dengan kehamilanmu itu!"

Mendengar itu, Selina hanya bisa menangis tersedu-sedu dari sebrang sana.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Perjalanan 30 Hari Mencintaimu   Bab 10

    "Mayang!" Aldi yang cemas menggedor keras pintu rumah wanita ini.Tanpa berpikir lagi, Aldi langsung mengemudikan mobilnya dengan cepat dan sampai di depan rumah ini. Suara histeris Mayang tadi membuatnya panik bukan main.Namun, dahi Aldi mengernyit ketika melihat keadaan rumah dalam keadaan lengang. Bahkan pintu pagarnya saja tak terbuka.Itu artinya hal yang Aldi takutkan tak terjadi. Pria sialan yang berstatus suami Mayang itu tak ada disini.Tapi.. apa yang terjadi pada Mayang? Kenapa suaranya tadi terdengar menangis? Oh.. Aldi cemas lagi.Aldi kembali mengetuk pintu secara tak sabar dengan beberapa kali memanggil nama Mayang."Mayang!" Panggil Aldi lagi."Mas Aldi.." samar-samar Aldi mendengar namanya disebut. Seperti ada bisikan yang memanggilnya dari belakang telinga.Deg!Aldi menoleh ke belakang dengan degup jantung yang kencang. Tiba-tiba saja tengkuk belakangnya sangat dingin. Membuat bulu kuduknya seketika merinding.Suara yang ia dengar tadi begitu mendayu. Terdengar sam

  • Perjalanan 30 Hari Mencintaimu   Bab 9

    Bak senandung yang menyambut, hubungan Aldi dan Mayang kian dekat semakin harinya.Aldi selalu mengantar adik tingkatnya pulang lepas perkuliahan, begitu juga dengan Mayang yang selalu memberikan bekal makanan sebagai imbalannya.Pria ini juga tak segan untuk selalu mampir. Meski Mayang pernah tak menawarinya, tapi dia senang hati untuk mengantar wanita itu sampai ke depan rumahnya."Sampai jumpa besok." Ujar Aldi ketika berpamitan."Besok? Bukannya besok libur." Mayang jadi tertawa.Aldi tergelak. "Benar juga. Aku lupa kalau besok hari minggu.""Iya, mas. Setidaknya besok kamu bisa menghabiskan waktu dengan istrimu." Sahut Mayang mengulum senyum."Kapan suamimu pulang?" Tanya Aldi mengalihkan perhatian. Dia malas jika bersinggungan dengan istrinya."Mungkin minggu depan.""Kalau begitu aku bisa meninggalkanmu dengan aman..""Aku jadi terharu karena perhatianmu, mas. Terima kasih sekali.."Aldi tersenyum ketika menatap kedua mata indah yang tampak berkaca-kaca itu. Kedua mata dari wan

  • Perjalanan 30 Hari Mencintaimu   Bab 8

    Dua tangan Aldi penuh memegang buah tangan dari Mayang. Sebab pujian Aldi tadi membuat pipi Mayang merah merona, wanita itu pun tak segan membuat pisang goreng lagi serta lauk lainnya."Ini mas untuk makan malam.." Mayang menyerahkan dua paper bag. "Ya ampun kamu repot banget.""Istrimu pasti nggak masak, kan? Nih aku buatkan mie goreng."Aldi tersenyum menerima buah tangan tersebut. Secuit perhatian ini berhasil membuatnya dada berdebar."Terima kasih." Ucap Aldi memandang wanita itu lekat.Dalam hatinya berkata, alangkah beruntung pria itu berhasil mempersunting Mayang. Wanita ini tak hanya cantik, tapi juga lembut.. tapi dengan tega pria sialan itu malah menghajarnya.Sesampainya di rumah, Aldi meletakkan dua paper bag itu di atas meja. Dia hendak ke kamar mandi dan membersihkan diri.Saat masuk ke kamar, matanya berpapasan dengan Selina yang baru terbangun."Astaga.. pemales banget kamu! Baru bangun tidur kamu jam segini?" Aldi memandang dingin."Iya, mas." Sahut Selina letih. Pe

  • Perjalanan 30 Hari Mencintaimu   Bab 7

    Pintu diketuk dengan keras di siang hari yang menyengat ini. Selina yang sejak tadi berbaring di tempat tidur terpaksa bangkit dan melihat siapa yang datang bertamu pada tengah hari begini.Sembari memegangi pinggangnya, Selina tertatih-tatih berjalan ke pintu depan. Tak salah lagi, suara panggilan itu terdengar familiar. Ternyata Husna, mertua tercintanya."Lama banget bukanya!" Gerutu Husna tak tahan. Diluar matahari bersinar terik, bukannya cepat membuka pintu rumah Selina malah berjalan seperti siput hamil."Maaf, ma." Selina memundurkan langkahnya agar Husna bisa masuk. Dengan sikap arogan seperti biasa, Husna menyapu sekeliling rumah dengan tatapan elangnya.Rumah ini tampak rapi. Tak ada pakaian kotor yang tertaruh di atas sofa. Dapur juga tampak aman.Tapi debu yang mengkilat itu tak luput dari penglihatannya."Udah berapa lama kamu nggak ngelap lemari?" Tanya Husna tajam.Selina ikut mengedarkan pandangannya pada lemari kaca yang ada di sudut ruangan."Kurang tahu juga, ma.

  • Perjalanan 30 Hari Mencintaimu   Bab 6

    Petugas yang berjaga di ruang observasi sampai kelimpungan menjelaskan kondisi pasien mereka yang bernama Selina ini.Bagaimana tidak? Pria yang mengaku sebagai suaminya ini sangat keras kepala. Aldi malah yakin jika kandungan istrinya tak bermasalah. Menolak semua hasil pemeriksaan dokter yang mengatakan jika Selina bisa dirawat di rumah.Terpaksa petugas memanggil dokter yang berjaga untuk menjelaskan kondisi Selina pada pria satu ini.Dan hal yang mengejutkan, dokter yang hendak memberikan penjelasan merupakan dokter jaga yang memeriksa Mayang tadi di igd."Jadi anda suaminya ibu Selina?" Dokter itu memastikan.Aldi langsung berdeham tak enak. "Iya, dokter. Tapi saya tetap ingin istri saya pulang saja.""Pasti anda sudah dijelaskan konsekuensinya, kan? Ibu Selina mengalami kontraksi dan perdarahan di kehamilannya yang berusia 6 bulan. Dengan dirawat, ibu Selina akan bedrest total dan diberikan obat-obatan.""Saya paham, dok. Tapi saya tetap ingin pulang saja. Lagipula saya seorang

  • Perjalanan 30 Hari Mencintaimu   Bab 5

    Aldi menggeleng kesal setelah mematikan panggilan dari istrinya."Ada-ada saja.. apa dia pikir aku mau saja dibodohinya lagi?" Ah, Aldi sudah bisa menebak drama apa yang sedang dibuat oleh Selina.Menepis perasaannya pada Selina, Aldi kembali masuk ke ruang igd dan menemui Mayang. Rupanya wanita itu baru saja selesai melakukan visum."Mari aku antar ke kantor polisi.""Kantor polisi? Untuk apa, mas?""Melaporkan kejahatan suamimu.""Apa?" Mayang terkejut bukan main karena keberanian pria ini. "Nggak perlu, mas.""Nah.. kenapa, Mayang? Kita kan baru saja melakukan visum. Ini bisa menjadi bukti kekerasan dari suamimu.""Jangan, mas. Aku..." Mayang jadi tergagap. "Masih takut.""Ada aku disini, kenapa kamu mesti takut?" Aldi memberikan senyum simpatiknya. "Aku akan menemanimu.""Kumohon, mas. Biarkan saja.." pinta Mayang memelas."Jadi maksudmu nggak mau melaporkan suamimu? Ya Tuhan, May! Suamimu itu sudah melakukan kdrt!""Nanti saja. Biarkan visum hari ini untuk berjaga-jaga.."Aldi me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status