LOGINMayang Sari.
Santriwati di sekolah yang selalu menjadi buah bibir seantero kakak tingkat. Para santri pria yang berlomba-lomba menarik perhatian perempuan ini ketika melewati madrasah. Bukan tanpa alasan jika Mayang begitu disukai. Perempuan ini tak hanya cantik, tapi juga memiliki kepribadian yang lembut. Dia juga terkenal cerdas di sekolahnya. Hampir semua siswa dan guru mengenalnya dengan baik. Begitu juga dengan Aldi yang ingin sekali berdekatan dengan perempuan ini. Namun sayangnya setelah tamat sekolah, kisah cinta monyet ini kandas begitu saja.. Sudah satu bulan lebih Aldi mengantar Mayang pulang ke rumah. Tepatnya setelah perjumpaan mereka kembali setelah sekian lama. Ada saja alasan Aldi untuk mendekati wanita itu. Dari rumah yang jauh, panas terik hingga hujan badai dijadikan tameng agar Aldi menjaga Mayang yang lama tak dijumpainya. Padahal status mereka sudah berubah, tak hanya sebagai mahasiswa dan dosen tapi keduanya sudah menikah. "Makasih mas sudah mengantar. Aku jadi nggak enak karena merepotkan terus." Ucap Mayang sembari melepaskan sabuk pengamannya. "Nggak merepotkan, kok. Kan kita searah." Dalam hati Aldi jelas berbohong, rumah Mayang ada di selatan sementara dia di utara. Darimana searahnya? Mendengar itu, senyum Mayang merekah. Lagi-lagi Aldi menahan diri agar tak jatuh hati pada istri orang lain. "Eh.. mobil siapa itu yang terparkir di depan rumahmu?" Mayang terkejut bukan main melihat mobil hitam familiar yang tiba-tiba datang dan masuk ke halaman rumahnya. "Itu.. itu mobil suamiku." Jawab Mayang gugup bukan main. "Ternyata dia baru pulang dari luar kota, ya?" Aldi tahu jika suami Mayang ini sering dinas diluar kota. "I-iya, mas. Aku turun dulu, kamu cepatlah pulang. Terima kasih sudah mengantar." Sambung Mayang tergagap. Dia lalu buru-buru turun dari mobil dan masuk ke dalam rumahnya. Sementara Aldi jadi keheranan akan sikap Mayang barusan. Kenapa wanita itu nampak ketakutan? "Mungkin perasaanku saja.." kata Aldi menepis perasaan khawatir di hatinya. Sekitar 1 jam, Aldi sampai ke rumahnya. Hari mulai gelap, adzan maghrib sebentar lagi berkumandang. Selina yang kandungannya kini sudah menginjak 6 bulan mulai merasa lebih baik. Drama mual muntah tidak ada lagi, tapi kontraksi dan nyeri pinggang acap kali ia rasakan. Saat mendengar deru suara mobil suaminya, ia datang ke pintu depan. Menyambut Aldi, menyalimi tangan dan membawakan tas pria tersebut. "Mas mau makan sekarang atau nanti?" Tawar Selina. "Aku sudah makan." Jawab Aldi tanpa menoleh. Selina hanya bisa menghela nafas pelan. Padahal dia sudah kembali menjadi istri yang baik dengan melayani suaminya kembali. Tapi selama satu bulan ini Aldi jarang makan malam di rumah. Katanya sudah makan diluar. Selina sendiri tak curiga, mungkin saja memang Aldi mendapatkan jatah makan dari kampusnya. Malam menjelang, Selina menaruh pinggulnya di tempat tidur sembari memandang suaminya. Si Aldi yang lebih suka menatap ponsel hingga tersenyum dibanding melihat wajah istrinya sendiri. "Mas Aldi.. udah satu bulan kita nggak kontrol.. gimana kalau besok kita cek kandungan?" Tanya Selina hati-hati. "Ada keluhan?" Tanya Aldi balik tanpa melepas tatapa mesra ke ponsel miliknya. "Ada sih.. pinggangku masih sakit, perutku juga masih kram." "Obatnya masih ada?" "Sudah habis." Aldi mendengkus kasar. "Berarti aku harus mengeluarkan uang 1 juta lagi besok untuk periksa kandunganmu! Periksa ke puskesmas aja sana!" "Iya mas nggak masalah. Apa mas bisa nemenin aku?" "Astaga. Cuma ke puskesmas aja minta ditemenin!" Aldi menatap istrinya dengan kesal. "Jangan manja kamu! Pergi sendiri aja." Selina tertunduk mendengar kemarahan suaminya. "Iya, mas." Besok harinya, Selina pergi sendiri ke puskesmas untuk memeriksakan kandungannya. Namun karena tidak ketersediaan alat yang canggih, mereka menyarankan Selina untuk pergi ke rumah sakit. Terlebih ketika pemeriksaan oleh bidan tadi terdapat kontraksi di daerah perut bawahnya. "Kami rujuk ke rumah sakit aja, ya." Ujar bidan tersebut menuliskan sesuatu di secarik kertas. Selina patuh akan saran bidan tersebut. Untung saja dia memiliki asuransi kesehatan dari pemerintah sehingga tak perlu lagi mengeluarka biaya. Namun masalahnya Selina sudah tak kuat untuk berjalan lagi, perutnya kram sekali. Ia takut terjadi sesuatu jika dia pergi sendiri dengan transportasi umum. "Aku harus menghubungi mas Aldi," gumam Selina pelan. Di sisi lain, Aldi baru saja mengajar di satu kelas siang itu. Sesuai jadwal, setelah makan siang dia akan mengajar di kelas alih program sampai sore. "Hai, Mayang.." sapa Aldi ketika melihat Mayang yang seperti buru-buru menghindarinya. Keduanya bertemu ketika selesai perkuliahan pagi. "Hai, mas." Hari ini Mayang memakai setelan masker penutup mulut dan wajah, ketika bersitatap dengan Aldi wanita ini memalingkan wajahnya. "Aku kirim pesan semalam tapi nggak kamu bales.. kayaknya kamu seneng banget ada suamimu di rumah." "Hmm.. iya, mas. Aku permisi dulu.." balasnya terburu-buru. "Kenapa, May? Kamu kelihatan nggak sehat?" "Cuma flu aja." Jawab Mayang serak. Matanya sudah memerah menahan tangis. "Sudah minum obat?" Tanyanya perhatian. "Sudah, mas. Aku permisi." Mayang langsung pergi setelah mengatakan itu. Sementara Aldi jadi terkesiap. Ada apa dengan Mayang? Kenapa wanita itu seperti menyembunyikan sesuatu? Namun dering ponsel Aldi membuatnya berdecak kesal. Apalagi ketika melihat nama si penelepon membuat Aldi jadi meradang. "Ada apa lagi, Selin?" Bentak Aldi kesal. Padahal itu baru kali pertama istrinya menelepon. ["Mas, aku dirujuk ke rumah sakit untuk pemeriksaan lanjutan. Apa bisa kamu temani aku?"] "Kapan?" ["Sekarang, mas.."] "Kamu ini nggak punya otak, ya? Aku hari ini mengajar sampai sore, Selina! Sudah kubilang jangan manja. Tinggal pergi ke rumah sakit saja apa susahnya?" Aldi marah sekali. ["Tapi perutku sakit, mas.. aku takut nggak kuat kalau naik bis.."] Selina menahan isakannya. "Naik taksi kan bisa! Masa itu aja mau diajarin!" Aldi berdecak. "Kamu yang hamil, Selina! Jadi jangan menyusahkanku dengan kehamilanmu itu!" Mendengar itu, Selina hanya bisa menangis tersedu-sedu dari sebrang sana.Keluarga Nisa datang ke rumah Taufan. Bukan untuk membela putrinya melainkan meluncurkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya. Tindakan Nisa sudah jauh keterlaluan. Berulang kali Nisa mempermalukan nama keluarga. Dimulai dari pembatalan pernikahan secara sepihak dengan Rama, lalu menikahi Rangga tiba-tiba. Dan kesalahan saat ini yang sungguh tak bisa ditoleransi lagi. Keluarga Nisa juga sudah mengetahui kasus yang menimpa Rangga. Dan sebagai balasan, kedua keluarga besar sepakat untuk memisahkan keduanya. Rangga sudah mengajukan perceraian, Nisa tak bisa lagi mencegah kepergian suaminya. Keduanya akan berpisah dalam hitungan waktu saja. Nisa tak mendapatkan sepeserpun harta perpisahan. Semua sudah menghilang semenjak Rangga tersandung kasus penipuan. Tak hanya itu, Rangga juga kembali melanjutkan hukumannya di penjara. Mala dan Taufan ingin hukuman Rangga di hentikan. Ya, sudah cukup tiga bulan Rangga menerima banyak pelajaran di sel penjara. Waktunya pria itu pulang ke ruma
"Abortus incomplete." Nurdhita langsung memandang Rama yang tak jauh berdiri di belakangnya. "Kita kuret sekarang." Nurdhita bangkit dari duduknya menuju meja praktek. Ia lalu menginstruksikkan asistennya untuk menghubungi ruang operasi. "OK cito ya, Rama. Masih ada jaringan yang tertinggal di dalam perut Nisa." Nisa yang sudah lemah tak bisa berpikir apa-apa lagi. Pandangannya sudah berubah gelap belum lagi dengan perdarahan di bagian intinya yang sejak tadi tak berhenti. "Jadi, Nisa benar-benar hamil, dokter?" Tanya Mala terkejut luar biasa. Sebuah plot twist dimana Nisa yang selama ini berpura-pura hamil malah memang mengandung. Nurdhita lalu memandang Rama, Taufan dan juga Mala. Ia ikut keheranan. "Apa Nisa tidak memberitahu jika selama ini dia hamil?" Rama menggeleng dan menatap tajam Nisa. "Dia pernah memberitah
Tubuh Nisa menegang seketika. Nafas itu begitu sesak dan memburu. Di atas meja ada video penangkapan dokter Adinda palsu. Dan itu terjadi pada tengah malam sesaat setelah Nisa kembali ke rumah. Dimana klinik tempat Nisa menjalani pengobatan di kepung oleh petugas. "Itu.." mata Nisa menggelepar ketakutan. "Apa artinya aku ditipu oleh mereka?" Rama sampai berdecak kesal. Rubah wanita ini malah tak mau mengaku dan bertindak sebagai korban. Oleh karena itu, Rama tak akan segan lagi. Rama mengeluarkan foto-foto serta sebuah surat. Nisa terkejut. Begitu juga dengan Selina yang baru tahu. "Hampir 3 bulan kamu mengambil peran sebagai wanita hamil. Kamu menyewa seorang wanita untuk menyamar menjadi dokter Adinda. Lalu kamu juga menyewa rumah lama di jalan karang untuk menjadi tempat prakteknya. Belum lagi plang serta peralatan palsu yang terpasang ckckckck.. kamu benar-benar terlibat dalam sindikat kebohongan
"Selina!" Mata Mala melotot seakan menuntut jawaban. Untuk pertama kalinya, Selina bisa melihat kemarahan dalam netra wanita itu. Dan kemarahan itu kini tertuju padanya. "Kemana aja, kamu? Kenapa bisa kamu lalai hingga membuat Aulia berlari dan keluar dari butik? Asal kamu tahu, jika tidak ada Nisa yang mengejarnya mungkin Aulia sudah tersambar kendaraan yang ada diluar sana." Selina tertunduk mendengar kemarahan Mala. Nadanya memang tidak terlalu tinggi. Tapi, suara itu sangat berat seakan penuh dengan penekanan. "Maaf, ma. Ini semua salahku. Tadi aku sedang sholat dan menitipkan Aulia pada mbak Nisa." Jawabnya pelan dengan penyesalan. "Kamu tahu kalau Nisa sedang hamil muda, kan?? Kenapa kamu malah menitipkan anakmu yang sedang aktif pada Nisa?" Mala menarik nafas panjang kesal. "Hari sudah malam." Sela Taufan di antara tiga wa
Selina tak bisa memutuskan. Ia menghubungi Taufan dan Mala sebagai wali dari Nisa. Keduanya yang mendengar kabar jatuhnya Nisa bergegas pulang ke kota malam ini juga. Rama pun ikut menahan proses kuretase kakak iparnya. Ia juga ingin mengetahui kondisi wanita itu yang sebenarnya. Tak hanya itu, Rama pun meminta agar Selina mengirimkan alamat klinik yang saat ini mereka datangi. "Gimana, bu? Apa sudah ada keputusan?" Tanya dokter tersebut. "Kalau kita terlambat bisa-bisa pasien kehilangan nyawanya. Darah yang keluar begitu banyak." "Tunggu sebentar. Saya tunggu mertua saya dulu." Sahut Selina gelisah. Nisa menjerit kesakitan. Selina masuk ke dalam kamar dimana Nisa berbaring disana. Wajah wanita itu tampak pucat. Bulir keringat membasahi dahinya. Ia tampak meremas ujung baju yang ia pakai. "Selina.. perutku sakit sekali.." ucapnya berurai air mata. Selina yang mendengar itu jadi t
Selina melihat jam di ponselnya. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 7 malam. Adzan sudah lama terlewat. Perjalanan pulang ke rumah bisa mencapai satu jam jika malam begini. Wanita ini mulai gusar. Dia ingin segera menghambakan diri. Layar ponsel diketuknya. Ia mengirim pesan pada Rama jika mereka belum pulang ke rumah. Suaminya itu pun membalas jika akan pulang esok hari. "Selina!" Nisa datang dengan terburu-buru. "Udah, mbak?" "Yang punya nggak ada di tempat. Kita nunggu aja dulu nggak masalah, kan?" "Memangnya mbak nggak kirim pesan tadi?" "Udah. Cuma katanya lagi kena macet." Nisa berdeham. "Lagipula baju itu limited edition. Baju yang memang mau aku pakai untuk acara empat bulanan nanti." "Oh.." Selina terperangah. Dia baru tahu jika akan ada acara empat bulanan untuk Nisa. Ya, maklum saja. Ini adalah cucu pertama mertuanya. Mereka pasti san
Dua jam lebih perjalanan dari ibu kota, pasutri baru ini tiba di villa yang berada di puncak perbukitan. Sebuah villa mirip rumah dengan pemandangan hamparan luas kolaborasi antara bukit dan perkebunan.Di depan villa ada pagar tinggi yang tertutup pintu kayu. Di dalamnya ada taman bunga
Rama melepaskan tangannya dari wajah Selina. Keduanya mendongak melihat pintu kamar yang digedor dengan hebat bak ingin dirobohkan. Sontak saja Rama dan Selina berdiri untuk mengetahui apa yang terjadi.Ceklek.Pintu kamar terbuka. Selina terkejut mendapati Aulia yang menangis t
Cincin sudah tersemat. Selina meraih tangan Rama dan menciuminya dengan takzim. Sekarang pria ini adalah imamnya. Tempat ia bergantung. Tempat ia mematuhkan diri dan berlindung. Rama tersenyum. Ia mengusap kepala Selina yang tertutup hijab. Pria ini menyentuhnya dan
Mata Rama bengkak dengan lingkaran hitam. Bukannya tertidur nyenyak semalam, Rama maalh tak bisa tidur.Begini rasanya ingin menikah? Detak jantung Rama berdegup tak karuan. Ia antusias tapi juga cemas.. bagaimana jika pernikahan hari ini berjalan tidak sesuai rencana?Semalaman







