LOGIN”Cepat keluarkan senjatamu, Wira! hadapi monster-monster belalang itu!” Bisma memegangi lengan Wira cukup kuat.
Capit-capit tiga belalang besar itu terus bergerak, terbuka dan tertutup. Suara bertemunya antar ujung capit terdengar menyeramkan dan ruangan kelas itu menjadi mencekam karena suara capit ketiga monster belalang itu.
Tiga monster belalang mulai mendekati dan tangan-tangan mereka mengarah pada para mahasiswa.
”Pergi lawan mereka, Diki. Kamu di sini satu-satunya yang mempunyai pedang!” teriak Roni sambil menepuk pundak Diki sang ketua angkatan di kelas mereka.
”Apa-apaan, bahkan pedang ini terasa berat. Aku hanya suka bermain game dengan pedang, bukan di dunia nyata. Aku takut para mereka.”
Diki ketakutan melihat tiga monster itu, bagaimana mungkin dia melawan mereka sedangkan dia tidak pernah berolahraga apalagi melawan tiga monster itu sekaligus.
”Sial! Berikan saja pedangmu itu padaku!” teriak Roni berlagak.
”Tidak! Ini pedangku! Pakai senjatamu sendiri!” timpal Diki.
Apa-apaan mereka itu!
Woooonggg!
Para mahasiswa mundur hingga ke ujung ruangan, belalang-belalang raksasa itu ternyata mampu terbang, mereka menggerakkan sayap-sayap di belakang punggung mereka dan mereka terbang di bawah atap kelas dan menyeringai dengan capit mereka.
KIEEEEKKKK!
”Siapapun! Tolong, hadapi mereka!” teriak seorang wanita.
Satu belalang terbang lebih dekat dan bersiap dengan tangan-tangannya yang tajam, saat itu juga Wira yang berada paling depan maju ke depan seorang diri. Hal itu tidak lain karena Roni yang berada di belakangnya mendorong Wira agar dia menjadi korban para monster belalang itu.
Wira terpaksa maju beberapa langkah karena didorong, dan saat itulah satu monster belalang menerjang cepat ke arahnya.
”Wira ...!” teriak Bisma khawatir.
WOOONNGG!
Mata Wira tajam melihat pergerakan belalang raksasa itu yang hendak menusuk tubuhnya dengan tangan-tangan tajamnya. Meskipun Wira sedikit kaget karena dorongan Roni, tapi dia memiliki sebuah rahasia.
Tiga tahun ini dia ditempa latihan ketat dengan kekuatan bela diri dan olah tubuh oleh paman Gani, sang petugas kebersihan kampus. Itu bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilalui oleh Wira dengan pelatihan yang penuh kedisiplinan.
Kekhawatiran Bisma pun terobati, Wira menghindari tusukan tangan belalang terbang itu dan meraih salah satu tangan belalang itu. Wira memutar tubuhnya dan membanting belalang monster itu sekuat tenaga dan jatuh menimba meja dengan keras.
BRUSH!
Salah satu pecahan kayu menusuk punggung monster belalang itu sehingga monster itu kesulitan untuk bangun.
KIEEEEEEKKK!
”Wira! pakai saja pedangku, aku belum siap memakainya!” teriak Diki sambil melemparkan pedangnya ke arah Wira.
Triing!
Pedang itu jatuh di dekat Wira, bersamaan dengan dua belalang yang kini menyerang Wira sekaligus. Pedang milik Diki berhenti tertahan di kaki Wira, dengan cepat Wira menggerakkan kakinya di dekat gagang pedang dan menendang ke atas.
Tring!
Pedang melayang dan Wira memutar tubuhnya memegang pedang itu. Serangan satu belalang monster itu melewati Wira, dan Wira dengan cepat menebas tiga tangan sebelah kiri monster belalang itu.
Brush!
Belalang itu jatuh dan darah kuning menyembur. Tersisa satu belalang yang masih terbang dan bersiap menyerang Wira dari belakang saat Wira belum siap benar.
Splash!
Serangan energi kosmik tiba-tiba datang dari arah para mahasiswa yang ketakutan, seorang wanita yang memegang tongkat sihir itu melemparkan serangan energi ke arah belalang yang hampir saja mengenai punggung Wira.
Brush!
Belalang itu terpental dan membentur dinding, terjatuh dan terluka di lantai.
Slash!
Wira diselamatkan, dia segera menebas salah satu belalang yang tangannya sudah terpotong sebelumnya. Kepala belalang itu terlepas dan menggelinding, darah kuning menggenang.
[Petualang, anda membunuh satu monster di awal kehancuran dunia. Hukuman kepada Petualang telah ditetapkan karena melanggar aturan dengan memilih dua kemampuan petualang. Senjata pembunuh tidak akan bisa muncul sebelum anda membunuh tiga monster di awal kehancuran dunia]
[Misi membunuh monster untuk mendapatkan senjata pembunuh, 1/3]
Wira harus membunuh tiga monster agar dia bisa memunculkan senjata miliknya sendiri, jadi itu yang akan dilakukannya.
”Minggir!” seseorang menyenggol Wira, itu adalah Roni dan ketiga rekan geng di belakangnya. Roni menarik pedang yang dipegang Wira begitu saja dan dia langsung menusuk monster belalang yang sudah tidak berdaya karena punggungnya tertusuk kaki-kaki meja yang membuatnya sulit bergerak.
KIEEEEKKK!
Darah kuning terlihat.
”Lihat! Aku yang membunuhnya, aku memang kuat. Wira tak bisa mencegah hal itu, dia menghela napasnya perlahan. Tersisa satu monster lagi yang sudah dilemparkan dengan sihir kosmik. Namun, saat Roni mendekati monster itu sudah tak bergerak karena serangan kosmik itu menghancurkan organ dalamnya.
Tiga monster belalang sudah dikalahkan.
Wira melihat layar kecil yang sama persis dengan layar yang ada saat memilih kemampuan. Seperti jendela status untuk player game. Jadi, hal itu berlanjut dan muncul untuk memberitahu petualang? Jadi, di dunia nyata, petualang adalah player.
”Berikan pedangku!” teriak Diki mendekati Roni, ”Aku meminjamkannya pada Wira sebelumnya karena dia harus bertarung melawan para monster itu.”
”Aku tidak akan memberikannya, pedang ini sekarang menjadi milikku. Aku suka pedang ini, kamu tidak layak memiliki pedang ini karena kamu pecundang,” jawab Roni berlagak.
”Apa kamu bilang! Itu punyaku!”
”Tidak, ini sekarang menjadi milikku!” teriak Roni kembali.
Klak!
Roni kaget, Wira dengan cepat sudah memegang lengan Roni dan memelintirnya dengan kuat. Roni merasa kesakitan dan kaget karena gerakan Wira sangat cepat.
”Kembalikan pedang itu, itu milik Diki!”
Sial! Roni menggerutu, dia melepaskan pedang itu hingga terjatuh begitu saja. Roni merasa lengah sehingga tangannya dipelintir dengan cepat oleh Wira. Roni menyimpan dendam para Wira, sosok lemah itu sekarang mulai berulah rupanya.
”Baiklah, pedang sampah begitu aku tidak tertarik. Aku akan menjadi senjata yang lebih kuat dari kekuatanku sendiri!”
Diki menurunkan mengambil pedang itu kembali, pedang itu sudah berlumuran darah kuning. Namun, itu adalah pedang miliknya.
”Terima kasih, Wira.”
Roni terlihat kesal, dia memikirkan cara untuk bisa membalas apa yang sudah dilakukan Wira padanya. Dia benar-benar dipermalukan di depan semua orang. Padahal, dulu dia sering mengganggu Wira dan dia selalu diam saja. Dan, cengkeraman tangannya tadi benar-benar kuat, bahkan dia bertarung melawan monster sendirian.
Apakah dia benar-benar kuat? Ah, tidak! Itu pasti refleks karena terpaksa saat Roni mendorongnya. Ya, itu benar! Dia pasti terpaksa dan refleks melawan monster-monster belalang itu.
Suasana kembali tenang, mereka sedang diskusi apakah mereka akan berdiam di kelas dan menunggu bantuan. Jika mereka keluar kelas, maka resikonya lebih berat karena monster belalang bahkan masuk ke kelas mereka. Artinya, di luar sana banyak monster.
Sebagian dari mereka ingin keluar dan mencari perlindungan, tapi sebagian besar ingin bertahan karena ketakutan.
”Wira, apakah kamu memiliki window seperti layar game?” tanya Bisma sambil berbisik pada Wira.
”Iya, apa kamu juga memilikinya?”
Bisma mengangguk, semua orang memiliki jendela status. Beberapa mahasiswa tidak memilikinya, hal itu karena mereka tidak memilih kemampuan saat berada di dalam ruangan dimensi untuk memilih kemampuan.
’Toloooong!”
”Toloong kami! Tolong, tidaakk!”
Suara-suara teriakan terdengar di luar kelas dan di semua tempat. Kekacauan terjadi, suara-suara minta tolong sangat mencekam.
Beberapa orang melihat ke jendela, dan mereka melihat semua hal aneh, monster terbang di angkasa. Mereka seperti bukan berada di bumi lagi, kiamat adalah jawaban yang tepat untuk menggambarkan apa yang mereka lihat.
KIEEEEKKK! KIIEEEEEEEKK!
Beberapa makhluk bersuara menyeramkan terdengar di depan pintu, makhluk-makhluk itu mencium bau makanan yaitu manusia.
”Biarkan kami yang melawan! Monster-monster lemah itu akan kami hancurkan dengan kekuatan kami!” Roni berlagak dan maju, tiga rekan satu geng ikut maju di belakang Roni. Mereka terlihat sombong dan siap melumat monster-monster yang hendak masuk ke kelas.
Dan, babak baru petualangan mereka dimulai kembali.
Delapan bentuk pedang raksasa bercahaya mengelilingi Aehtelgard, berputar dengan pelan hingga semakin cepat. Pedang – pedang itu seperti beresonansi dengan energi fisik sempurna mode tempur milik Aethelgard. Zirah tempur dan mode wujud sempurna Aethelgard membuat domain wind void milik Wira bergetar, dia mampu merasakan energi destruktif yang siap menghancurkan Wira. Sosok penguasa sejati yang selama ini menyerap energi dari dunia di semesta ini memang memiliki kekuatan yang menakutkan. Udara di dalam Bunker Inti tertekan hingga batas maksimal, memicu retakan-retakan dimensi berukuran mikro di sekitar pilar Source Core.“Kamu sangat beruntung, Manusia hina! Kamu melihat wujud tempurku yang sempurna, dan matilah dengan kebanggaan!” Aethelgard meraung dan mulai menyerang.BOOOOOOOOOOMMMM!Dua dari delapan pedang cahaya raksasa meluncur menukik dari angkasa, membelah atmosfer bunker dengan kecepatan yang melampaui logika waktu!SWISH!Wira tak mau diam saja, serangan itu sangat berbahaya
Wira di lantai kaca inti bunker menyadari rekan-rekannya dalam bahaya, jeritan Bisma terdengar meneriakkan Martha yang pastinya mereka mengalami luka. Namun, Wira di sini sedang berhadapan dengan pemimpin para dewa. Dia tidak mungkin sembarangan pergi, karena musuh yang sebenarnya, boss para dewa ada di sini. Dewa sialan! Mereka selalu saja mengatasnamakan kebaikan manusia demi kepentingan mereka sendiri.Wira merasakan energi Martha berdenyut lemah dari energi sense energi miliknya. Namun, Wira yakin mereka pasti bisa bertahan. Kini, suara dan sense Wira tidak lagi bergantung pada sistem, dia mampu merasakan energi elemental angin dengan baik. Hembusan angin dari luar inti bunker mampu dirasakan Wira dan mengabarkan apa yang terjadi para rekan-rekannya dengan baik.DRRRRTTT!Wira Bersiap dan dagger miliknya bergetar, dia tahu bahwa ketenangan ini adalah persiapan persiapan perang mati-matian melawan raja para dewa. Energi kegelapan yang menyelimuti dagger matic berdenyut, memancarkan
Ledakan energi terjadi di sekitar ruang utama inti Aethel, pertarungan dahsyat masih terjadi antara rekan-rekan Wira dan para celestial. Di sisi yang berbeda, alun-alun Kota Kristal Aethel bergetar dan berguncang hebat, hal itu karena sang raja semesta pemilik dari Aethel yang dikatakan sebagai raja dari para dewa melayang turun dan melihat Wira dan Rania sambil tersenyum sinis.Aethelgard yang selama ini menguasai dan menyerap energi dari planet-planet termasuk bumi, melayang penuh rasa sombong di hadapan Wira. Dialah yang membuat manusia di bumi memiliki kekuatan sistem yang membatasi mereka semua mendapatkan satu kekuatan saja, dan membuat mereka saling membunuh. Dialah dalangnya! Juga, dialah dalang yang mengurung ibu yang melahirkan Wira dan membuat mereka berpisah.Aethelgard mengalihkan wajahnya dari Rania dan Wira, seolah dia benar-benar meremehkan mereka. Dia kini melirik kearah bunker, dekat dengan pertarungan para manusia melawan pasukan dewa.“Serangga-serangga menyedihkan
Gemuruh suara beriringan dengan pasukan Celestial yang menyerbu kearah Wira dan rekan-rekannya. Lautan para dewa itu bagaikan air bah tsunami dan memiliki sayap-sayap keemasan yang mengepak bagaikan Cahaya dari hujan meteor yang menyerbu Wira. Mereka siap menghancurkan mahkluk rendahan yang berani menginjakkan kaki kotor mereka di tanah para dewa.WHOSH!Gideon sang penjaga gerbang Bintang 7 melihat pasukannya yang menyerbu dan mengangkat pedangnya sebagai seruan untuk membunuh para manusia yang menerobos masuk.“Bisakah kalian menahan mereka sebentar!” Martha berteriak pada Wira dan melihatnya. Wira melihat tatapan mata itu, sama seperti saat pertama kali bertarung bersama Martha dahulu. Sejak awal dia memiliki kekuatan besar dan mampu membunuh monster dengan mudah, sekarang dia pasti sudah memiliki kemampuan yang jauh lebih besar karena lama tidak bertemu.“Baik, silakan lakukan apapun yang kamu inginkan.”Martha yang merupakan salah satu petinggi dari Guardian telah mengalami banya
Seperti biasa, Wira melesat memasuki portal yang menuju para dewa. Kali ini berbeda, dia tak lagi memiliki sistem yang dulu selalu diandalkan dan mengetahui statnya. Namun, jika dia ingin melawan dewa maka dia harus melepaskan kemampuan bawaan yang diberikan mereka. Itulah yang diajarkan Pemandu Avatar. Sensasi melesat di portal kali ini lebih Panjang, seperti berputar di pusaran air dengan kecepatan tinggi. Energi di dalam portal juga membuat jiwa Wira tersedot kuat, hawa dingin ekstrem yang membekukan setiap otot di persendian. Jimat Penembus Realm yang diberikan Paman Gani cukup bermanfaat karena memberikan kehangatan pada tubuh Wira sehingga dia mampu menahan hawa ekstrem dengan mudah.WHOSH! Splash!Akhirnya selesai. Wira keluar dari portal dan menahan tubuhnya dengan sedikit turun dan menekuk satu lututnya agar seimbang saat mendarat di dunia yang berbeda. Wira melihat rekan-rekannya ada di depannya. Sudah sempurna, Bisma tersenyum seperti biasanya tak takut lagi pada apapun. Sem
Suara itu!Wira merasakan ancaman yang siap mencabik-baiknya dengan suara itu. Namun, dia juga mengingat suara itu pernah dia dengarkan saat di Asguard. Portal raksasa bergetar hebat karena kekuatan suara yang dikirimkan sang Celestial. Kekuatan sang Dewa Celestial dan perencana perombakan dunia, pasti sedang menunggu dan siap membunuh para pemberontak yang ingin bebas dari cengkeramannya.Bisma! Wira melihat Bisma memegangi kedua lututnya, dia merasakan kekuatan yang menekan hingga menembus portal. Senyuman yang dingin terlihat dari bayangan gumpalan di balik portal kea rah Aethel, siapa saja yang melihatnya mendapatkan tekanan seperti ditusuk energi jarum yang menembus seluruh tubuh.“Kekuatan yang mengerikan, apakah itu dewa yang akan kita hadapi? Kekuatannya bahkan jauh di atas kekuatan Jenderal Kastor sebelumnya.”Pangeran Harry bergumam begitu saja, dia merasakan seluruh tubuhnya gemetar dengan tekanan itu bahkan sulit digerakkan untuk beberapa detik."Makhluk Aethelgard," jawab
Tangan wanita itu memegang kepala anak kecil yang baru berumur lima tahun, dia mengecup kening bocah lelaki itu.”Wira, Ibu pergi tidak akan lama. Ibu harus menjemput Ayahmu, kamu ikut bibimu selama Ibu pergi ya.”Senyuman wanita itu menguatkan putra satu-satunya, dia harus pergi. Wanita itu, Rania
Makhluk tinggi itu datang ke arah Wira, benturan tubuh mereka terjadi dan membuat para mahasiswa lainnya ada yang menutup matanya.Slap!Brush!Wira terdorong ke belakang dan tubuh monster kurus tinggi itu menimpa Wira, suaranyanya terdengar menyayat.KUUUUKKKKK! (Sakit, sakit ....)Bruk! Kepala mo
Klap![Status petualang; Wira][Bertahan hidup adalah tujuan anda di awal kehancuran dunia. Tingkatkan kekuatan anda dan naikkan kemampuan anda untuk mempersiapkan tahap kehancuran dunia selanjutnya]Wira membaca status jendela dengan kemampuannya sebagai Petualang. Saat itu, empat orang yang sela
Kilauan cahaya menyala di langit, Wira kaget melihat pemandangan di langit. Apa yang sebenarnya terjadi?Gempa berhenti, meja yang semua saling berderak dan bertabrakan sudah kembali normal. Semua mahasiswa di kelas itu bangkit dari tiarap. Semuanya saling memandang dan kebingungan. Mereka mulai be







