LOGIN"Iya, Kai. Model yang kamu minta simpel dan polos tanpa payet. Jadi ini bisa diselesaikan dengan cepat," jawab Nakilla. "Ah, syukurlah." Kaina berkata lega, senyum manis pada nenek dan calon kakak iparnya. Namun, saat matanya bersitatap dengan kakeknya, Kaina langsung mengulurkan tangan—telapak tangan terbuka dan menghadap atas, "mau duit dong, Kek.""Hah." Kaze langsung menghela napas panjang. Dia diam pun tetap diporoti oleh cucu kesayangannya ini. Ck, untung cucu kesayangan! "Uangmu banyak, El?" tanya Kaze pada Elzeren. Nadanya rendah dan pelan—tenang. "Banyak, Kek." Elzeren menjawab santai, "Kai saja yang tidak mau minta," tambahnya sambil melirik ke arah calon istrinya. "Apalagi, Sweety? Minta uang yang banyak pada calon suamimu," ucap Kaze pada cucunya, di mana Kaina terlihat gugup sambil menatap malu-malu pada Elzeren. Elzeren menaikkan sebelah alis, menatap Kaina geli dan gemas. Hell! Ini pertama kalinya dia melihat perempuan judes ini bersikap malu-malu. Sangat menggemas
"Saingan?" gumam Kaina, mengerutkan kening sambil menatap heran pada Elzeren. Aih, asbun pria di sebelahnya ini selalu saja membuatnya pusing dan bingung. "Malas!" ketus Elzeren. Kaina kembali mengerutkan kening, menatap aneh pada Elzeren yang kini terlihat kesal. "Hai!" sapa Nakilla dengan ceria, senyum lebar sambil menghampiri Kaina dan Elzeren. Setelah di depan Kaina dan Elzeren, Nakilla malah tertawa cukup kencang dan geli. "Kakak kenapa?" tanya Kaina sambil menatap bingung pada Nakilla. Sedangkan Elzeren hanya menatap datar pada kakaknya. "Lucu saja." Nakilla menjawab pelan, meraih tangan Kaina lalu menggandengnya—membawanya masuk ke ruangannya. "Apa yang lucu?" tanya Elzeren, berjalan di belakang Nakilla dan Kaina. Setelah di ruangan Nakilla, mereka langsung duduk di sofa. Lagi-lagi Naikilla tertawa geli, menatap Kaina dan Elzeren secara bergantian. "Apa sih, Kak?" Kaina menggaruk pelipis, mendadak canggung dan kikuk karena Nakilla tersebut tertawa. "Kalian lucu banget
"Tapi karena ingin fokus pada tujuannya dia memilih memendam rasa." "Oke." Kaina bergumam pelan, lebih serius dari yang sebelumnya. "Kemungkinan paling besar bagian paling benar itu cuma di 'Fokus dan memilih memendam rasa. Selebihnya banyak cela." "Hah?" Kaina mengerutkan kening, bingung dan merasa pusing. "Begini, Beib. Orang yang memang ingin fokus pada dirinya, biasanya memang akan mengesampingkan urusan lain. Jika ada cinta, mungkin dia akan memendamnya. Namun, di sinilah letak celanya. Kita benarkan lah kalau Kak El suka pada Freza, tapi suka tidak cukup membuat Freza istimewa." "Apasih? Aku nggak paham sama sekali. Mending bahas statistik yuk," ucap Kaina sambil menggaruk kepala, pusing karena teori rumit Sera. "Hais! Singkatnya sekalipun benar Kak Eiren suka pada si Freza, tetap si Freza bukan hal penting buat Kak El. Soalnya dia bukan salah satu tujuan hidup Kak El, makanya dikesampingkan." Sera mendengus pelan. "Iya kah?" Kaina senyum cerah sambil menatap penuh ha
"Nyebut, Dewi Bulan!" ucap Kaina pada mommynya, menatap horor campur dongkol. Kaizen lagi-lagi hanya bagian menertawakan. "Siapa tahu kan, Daddy?" Aluna menatap ke arah suaminya, di mana Kaizen menganggukkan kepala sambil menatap geli pada putrinya yang terlihat menahan sebal. "Daddy dan Mommy sama-sama bikin bete," ucap Kaina berang, bersedekap di dada sambil menunjukkan ekspresi cemberut, "untung Nenek Luisa kasih teh anti bete," ucapnya kemudian, di mana wajahnya kembali sumringah ketika mengingat teh pemberian nenek Elzeren.Kaina segera mengambil teh tersebut lalu langsung menyuruh maid untuk membuatkan teh itu padanya, juga pada orang tuanya. "Apa saja sih yang Adek bawa dari rumah Paman dan Tante Aeliza?" tanya Aluna, ikut grusak-grusuk membuka barang-barang putrinya. "Ada strawberry dari Nenek, Mochi juga dari Nenek, permen dari Nenek, pokoknya segala makanan dari Nenek," ucap Kaina, membuka satu kotak strawberry lalu memberikannya pada sang Mommy. Namun, saat daddynya i
"Nenek harus sehat!""Harus! Karena Nenek ingin menyaksikan pernikahanmu dengan Mas Elzeren-mu." Luisa berkata penuh semangat. Kaina lagi-lagi cengengesan, kali ini tampak canggung dan kaku. Setelah pamitan pada nenek Elzeren, Kaina akhirnya diantar ke bandara oleh Elzeren dan orang tua pria itu. Lagi-lagi Kaina merasa sangat terharu karena dia benar-benar seperti seorang anak kandung yang ingin bepergian. ****"Ya Ampun, Kai!!" horor Aluna ketika putrinya pulang dengan segala bawaan yang begitu banyak. Mulut Aluna menganga, menatap tumpukan barang yang putrinya bawa pulang. "I-ini kamu habis liburan atau apa?""Ouh, sudah pulang ternyata," ucap Kaizen yang baru datang dari ruang kerjanya, "Daddy kira kau pulang sambil membawa cucu," tambahnya dengan nada menyindir. "Heh, Mas! Mulutnya yah!" peringat Aluna, melotot galak pada suaminya. Sedangkan Kaina, dia menatap muram pada daddynya. "Kai lagi cape, nggak ada tenaga buat berantem dengan Daddy," gumam Kaina pelan, melirik berang
"Eiren bilang Ina suka strawberry. Jadi Nenek sudah siapkan sedikit strawberry untukmu. Nah, bawa ini pulang," ucap Luisa, menyerahkan tiga kotak strawberry premium pada Kaina. Saat ini Kaina akan pulang ke kotanya. Kali ini benar-benar pulang dan dia sangat senang akan hal itu. Namun, yang membuat Kaina sakit dan terharu adalah nenek Elzeren serta orang tua pria itu datang ke sini khusus untuk bertemu dengannya sebelum benar-benar pulang. Tadi, tantenya memasak makanan kesukaannya. Katanya Kaina harus makan sebelum pulang. Setelah itu, pamannya membawakan banyak oleh-oleh untuknya dibawa pulang. Sekarang, nenek Elzeren yang tiba-tiba saja memberikan tiga kotak strawberry padanya. Ugh! Dia merasa seperti putri dari keluarga ini yang akan pergi ke luar kota untuk kuliah. Semua makanan disiapkan untuk dibawa olehnya!"Ini juga. Permen susu strawberry, coklat strawberry, keripik strawberry, dan mochi strawberry. Ina juga harus bawa ini," ucap Luisa, sibuk mempersiapkan apa saja yang K
"Karena Mas Zen sudah baik padaku, membantuku untuk mengantar bukti rekaman CCTV, hari ini aku mau masakin serba udang buat dia. Umm … sepertinya udang garlic butter enak," monolog Aluna, berjalan antusias ke dalam rumah. Dia baru pulang dari tempat kerja. Sekalipun wajahnya sudah terlihat lelah aka
Di sisi lain, Aluna yang panik langsung bersembunyi dalam selimut. Sedangkan wanita yang masuk ke kamar ini, tiba-tiba saja berlari keluar. Di dalam selimut, Aluna mencoba menangkan diri. Namun melihat pria di sebelahnya hanya mengenakan celana pendek, Aluna semakin panik. Rasa paniknya lebih tak
Kaizen segera memeriksa mobilnya, mencari keberadaan sumber suara tersebut. Saat Kaizen menoleh ke belakang mobil, dia tidak menemukan apapun. "Sssst … mmm …." Akan tetapi suara itu jelas dari arah jok belakang. Kaizen memutuskan lebih teliti memeriksa, membuka pintu jok belakang untuk melihat
"Aku sudah memasukkan obat perangsang ke dalam minumanmu, Aluna Sayang." Aluna Rasya Adam (24 tahun), melebarkan mata saat mendengar ucapan pria tersebut. Ia menatap takut campur panik pada seorang pria yang saat ini berdiri di hadapannya. Pria itu menjulang tinggi, memperlihatkan senyuman miring







