LOGIN"Kami tak melakukan kesalahan jadi Tuan tak mungkin memecat kami," jawab maid tersebut, memberi isyarat pada kedua maid untuk membawa paksa Freza ke ruang tamu. "A-aku belum makan!" pekik Freza, tak mau dibawa ke ruang tamu. Dia merasa terkucilkan karena dianggap tamu, bukan seseorang yang berhak pada rumah ini. Misal Nyonya!"Tuan dan Nyonya sudah selesai makan malam, maka kami wajib membersikan meja makan." Maid tersebut berkata tegas, "jika anda lapar, anda bisa membeli makanan di luar setelah pulang dari sini.""Ck, lihat saja nanti. Aku akan mengadukan kalian pada Elzeran," kesal Freza, namun perkataannya tersebut sama sekali tak diindahkan oleh para maid yang membawanya. ***Elzeren masuk ke kamar dan menemukan Kaina yang sedang duduk di sofa sambil membaca buku. Elzeren menghela napas, berjalan pelan menuju sofa lalu ikut duduk di sebelah istrinya."Kenapa kau tiba-tiba berhenti makan, Janu?" tanya Elzeren pelan, menatap Kaina yang terlihat serius membaca buku. "Aku sudah
"Elzeren, hiks … aku hamil!" tangis Freza sambil mengeratkan pelukannya pada Elzeren. Elzeren menatap ke arah maid, memberi isyarat supaya mereka menarik Freza yang sedang memeluknya. Para maid yang paham dengan perintah Elzeren, segera menarik Freza supaya menjauh dari Elzeran. Setelah menjauhkannya, mereka juga menahan Freza agar perempuan itu tak kembali memeluk Elzeren. "Kalian kenapa menahanku? Lepaskan aku!" pekik Freza sambil menangis tetapi menatap kesal dan jengkel pada pada maid yang menahan tubuhnya, "Elzeran, tolong katakan pada mereka untuk melepasku. Hiks … a-aku tidak melakukan apa-apa, aku cuma ingin memelukmu!" lanjutnya, kembali menangis terisak karena perasaan yang campur aduk. Elzeren menatap sejenak pada istrinya, menaikkan sebelah alis ketika melihat Kaina makan dengan lahap. Awalnya Elzeren sangat kesal pada Freza yang tiba-tiba saja datang lalu langsung memeluknya. Namun, saat melihat istrinya yang tadinya tidak berselera makan tiba-tiba makan dengan sangat
"Maaf, tadi aku tidak bisa ikut mengantar Mommy, Daddy dan Kakak ke bandara. Aku ada rapat penting yang tidak bisa ditinggal," ucap Elzeren, sedang makan malam berdua dengan istrinya. Sejak dia pulang, Kaina mendadak sangat pendiam. Kaina terus mengurung diri dalam kamar. Elzeren rasa … itu kesalahannya karena tidak ikut mengantar orang tua istrinya ke bandara. Namun, sayangnya dia baru meminta maaf karena sejak pulang dari kantor, Elzeren benar-benar sibuk oleh pekerjaan yang ia bawa ke rumah ini. "Tidak perlu meminta maaf karena Mas tidak salah," ucap Kaina pelan, makan kurang lahap karena tak ada udang dan … nafsu makannya menurun. Ini bukan masalah udang yang tak ada. Nafsu makannya memang sedang menurun. Biasanya jika ada udang, setidaknya dia masih bisa menghabiskan sepiring nasi. Namun, tanpa udang, sesendok nasi pun rasanya berat. "Kuperhatikan kau banyak diam." Elzeren berkata rendah, mengamati istrinya yang terlihat ogah-ogahan makan, "apa aku melakukan kesalahan, J
"Dan aku semakin yakin kau … sejak lama diam-diam menyukaiku." Gluk' Kaina meneguk saliva secara kasar, menatap gugup campur was-was pada suaminya. Seketika Kaina mencoba mengingat kembali obrolannya dengan Sera saat tadi malam. Kening Kaina mengerut, tetapi napasnya lebih stabil dari yang sebelumnya. Dia cukup lega, mengingat tak ada obrolan yang mengungkap kalau dia suka pada Elzeren. "Perasaan tadi malam aku dan Sera nggak bahas Mas deh. Kami ngobrol santai saja," ucap Kaina, kembali memasang wajah angkuh yang terkesan tengil sambil menatap santai pada Elzeren. Elzeren tetap menyunggingkan smirk tipis, menatap Kaina lekat dan penuh ketertarikan. "Bagaimana dengan kalimatmu yang mengatakan 'aku tak mau mendengarnya. Nanti aku tambah ge'er?" "I-itu …." Mata Kaina kembali melebar dan wajahnya kembali panik. "A-aku … Ck, mending Mas berangkat kerja deh. Nanti telat lagi," kesalnya pada akhirnya, terlalu grogi dan gugup. "Kau takut aku telat kerja atau takut semakin menyuka
Acara makan malam keluarga Kaina dengan keluarga suaminya telah selesai. Sekarang Kaina sedang di halaman belakang, bersama dengan Sera dan Nakilla. Ketiga wanita itu asyik mengobrol, tak mengenal jam yang sudah menunjukan jam setengah sepuluh. Maklum, setelah mereka punya kehidupan masing-masing, mereka jadi jarang bertemu. "Ahahaha …." Nakilla tiba-tiba tertawa, membuat Kaina dan Sera menatap aneh pada perempuan itu. "Kakak kenapa?" tanya Sera. "Kamu merasa aneh nggak sih, Ser?" tanya Nakilla sambil melirik Kaina dengan senyum jahil. "Aneh apa, Kak?" Sera memicingkan mata. "Kaina dan Elzeren." Nakilla berkata pelan, "dari dulu, mereka tidak pernah dekat tapi tiba-tiba menikah. Sekarang, baru menikah tapi sudah hamil." "Hei, a-aku nggak hamil di luar menikah yah, Kak," horor Kaina, menatap campur aduk pada Nakilla. "Ahahaha … nggak ada yang nuduh kamu loh, Dek. Panik banget sih." Nakilla tertawa cukup kencang. Sedangkan Sera senyum geli pada Kaina. Kaina menatap
Namun, baru saja dia sampai di sebelah neneknya, Elzeren tiba-tiba menggendongnya lalu membawanya dari dapur. "Nenek!!" pekik Kaina, meminta pertolongan dari neneknya supaya meminta Elzeren menurunkannya. Namun, neneknya malah tertawa geli. "Mommy … Kai ingin ikut memasak!" pekik Kaina lagi, kali ini berharap pertolongan dari mommy mertuanya. Namun, dia hanya mendapat tawa geli dari sang mommy mertua. Pada akhirnya Kaina kembali ke ruang TV, duduk kaku sambil menatap was-was pada Elzeren. "Jangan sampai aku mengurungmu di kamar, Janu." Elzeren memperingati. "Uuu … takutnya. Kurung dong, kurung dong!" tantang Kaina, terlampau kesal pada Elzeren yang membawanya kembali ke tempat ini. "Jangan tengil!" Elzeren menatap malas pada wajah tengil istrinya. Menyebalkan tetapi lucu secara bersamaan. Ah, ingin sekali dia menggigit bibir Kaina karena ekspresi tengil ini. "Diam di sini. Sebentar lagi mertuaku datang. Sambut mereka dengan baik," ucap Elzeren lagi, setelah itu pergi dari
Kaizen menatap mamanya dengan ekspresi flat, tetapi dengan sorot mata yang intens. Dia diam cukup lama untuk mempertimbangkan sesuatu hingga pada akhirnya mengangukkan kepala sebagai tanda setuju. Naia tiba-tiba membalik tubuh, wajah galaknya langsung hilang, bersama dengan senyuman senang yang m
Di sisi lain, Aluna yang panik langsung bersembunyi dalam selimut. Sedangkan wanita yang masuk ke kamar ini, tiba-tiba saja berlari keluar. Di dalam selimut, Aluna mencoba menangkan diri. Namun melihat pria di sebelahnya hanya mengenakan celana pendek, Aluna semakin panik. Rasa paniknya lebih tak
Kaizen segera memeriksa mobilnya, mencari keberadaan sumber suara tersebut. Saat Kaizen menoleh ke belakang mobil, dia tidak menemukan apapun. "Sssst … mmm …." Akan tetapi suara itu jelas dari arah jok belakang. Kaizen memutuskan lebih teliti memeriksa, membuka pintu jok belakang untuk melihat
"Aku sudah memasukkan obat perangsang ke dalam minumanmu, Aluna Sayang." Aluna Rasya Adam (24 tahun), melebarkan mata saat mendengar ucapan pria tersebut. Ia menatap takut campur panik pada seorang pria yang saat ini berdiri di hadapannya. Pria itu menjulang tinggi, memperlihatkan senyuman miring







