LOGIN"Kak Xavier, kamu nggak apa-apa?" tanya Gabby, menatap tak percaya dan sedikit cemas pada Xavier. Bukan hanya Gabby, orang-orang di sana juga sama-sama terkejut saat melihat Sera lancang melempar pasir ke wajah Xavier. Mereka semua tahu Xavier itu seperti pemarah dan mudah meledak. Di antara mereka semua, tak ada yang berani memancing kemarahan Xavier. Darian dan Xyron yang merupakan sepupu Xavier pun tak berani melakukan itu. Terlalu danger! "Memangnya aku kenapa?" tanya balik Xavier, berkata santai dan tanpa beban. Dia meraih sapu tangan lalu mulai membersihkan wajahnya dari sisa pasir. Xavier menyerahkan sapu tangan pada Aiden lalu melanjutkan langkah. Namun, sebelum itu, dia meraih koper dan tas milik istrinya yang tertinggal—membawanya ikut bersamanya. "Beruntung yah istri Kak Xavier," gumam Gabby pelan sambil menatap Xavier yang tanpa diminta oleh siapapun, bersedia sukarela membawa koper dan tas Sera. "Mereka sama-sama beruntung." Darian berkomentar, menatap santai
"Ciee … ada yang terik tetapi bukan matahari.""Apa tuh?" tanya Sera, ikut menggoda setelah dia paham apa maksud Kaina. Ouh, pria itu Gavin? Teman suaminya yang mencelakai Xavier waktu itu hanya karena mengira istri yang Xavier sembunyikan itu adalah Nakilla? Ouh, jadi pria manis ini si gila yang menginginkan Nakilla? 'Muhehehe … aku suka yang sedikit gila. Kek di novel-novel.' batin Sera, masih menatap Nakilla dengan sorot menggoda. "Apalagi kalau bukan hati seorang perempuan yang menunggu kepastian dari kekasihnya," jawab Kaina sambil menyenggol pundak Nakilla yang mendadak diam. "Cieee … Kakak." Sera dan Kaina sama-sama menyeru. "Apasih kalian berdua. Ck, nggak asyik banget," ucap Nakilla dengan ekspresi cemberut, "aku sama dia nggak ada hubungan apa-apa yah.""Cieee … namanya saja sulit untuk terucap." Kaina kembali menggoda. "Kiu … kiu … kiu …." Sera tak mau kalah. "Stop yah atau aku merajuk!" ancam Nakilla, seketika berhasil membuat Sera dan Kaina diam. "Oke deh, Kak. Lan
Sera bertopang dagu. Hei, ini saja dia sudah pusing. "Tapi kalau Nenek Nindi ini kembaran Kakek ayahnya Daddy, kenapa kamu manggil uncle pada si Paman Xyron itu? Kan harusnya panggil Kak?" tanya Sera lagi. "Nah, ini letak kerumitanya. Bersiap-siaplah kepalamu pusing, Sera." Kaina menaik-turunkan alis—Sera terlihat meneguk saliva secara kasar, "jadi Mommy itu setengah Adam setengah Azam. Ayahnya Mommy, Kakek Rama, itu dari keluarga Adam Barat yang menetap di LA. Sedangkan Mamanya Mommy, Nenek Kiky, itu berasal dari keluarga Azam. Nah, sebenarnya keluarga Adam Barat dengan keluarga Azam itu masih bisa disebut sepupuan. Jangan tanya kenapa bisa sepupuan, karena panjang ceritanya. Okey?""Oke." Sera mengacungkan jempol pada Kaina. "Di keluarga Azam, Kakek Zeeshan itu satu generasi dengan ayahnya Nenek Kiky dan ayahnya Kakek Rama. Se generasi bukan karena usia yah, tapi karena turunan. Kebetulan Kakek Zeeshan ini buyutnya berasal dari Azam gen 3 yang termuda, jadi otomatis Kakek Zeesha
"Tenang saja, teman-teman Kak Xavier itu baik," ucap Kaina pada Sera, merangkul sahabatnya tersebut dengan santai. Saat ini mereka dalam perjalanan menuju pulau pribadi keluarga Adam, mengunakan kapal yacht pribadi milik Xavier tentunya. Mereka ke pulau untuk merayakan ulang tahun Xavier, bersama teman-teman Xavier. Biasanya Xavier merayakan ulang tahun dengan keluarganya, dan selalu dengan perayaan yang sederhana. Akan tetapi, kali ini dibuat berbeda. Kebetulan, Xavier dan gengs-nya sudah jarang liburan bersama, jadi mereka menjadikan ulang tahun Xavier ini sebagai waktu tepat untuk berkumpul dan menghabiskan waktu secara bersama. Sera sendiri cukup gugup karena dia belum pernah berkumpul secara intens dengan teman-teman suaminya. Dia bahkan kurang mengenal wajah teman-teman suaminya, sebab waktu pesta pernikahannya dengan Xavier, Sera tak terlalu memperhatikan karena fokusnya banyak saat itu. "U'um." Sera menganggukkan kepala secara pelan, menatap ke arah suaminya yang saat ini
Namun …- "Argk." jerit Kaina tertahan. Tiba-tiba saja Xavier kembali menjewer telinganya. "Siapa?! Katakan siapa pria yang kau sukai agar kupenggal kepalanya! Katakan!" geram Xavier, jauh lebih marah dari yang sebelumnya. Jewerannya di telinga Kaina juga lebih kuat. "A-aaargk, sakit!" horor Kaina. Matanya sudah berair karena kesakitan, "enggak ada, Kak. Maksudnya aku ini normal lah!" pekik Kaina. Sera bangkit dari tempatnya lalu menarik tangan Xavier supaya menjauh dari telinga sahabatnya. "Mas, stop!" tegur Sera pelan, tetapi melotot penuh peringatan pada Xavier. "Huh." Xavier mendengus. Dia melepas tangannya dari daun telinga adiknya lalu duduk di kursi yang bersebelahan dengan Sera. Sedangkan Aiden, dia sudah duduk di sebelah Kaina. "Ck." Kaina mengusap daun telinganya yang sudah memerah sambil menatap kesal setengah mati pada kakaknya. Sedangkan Sera, dia meraih tasnya, mencari-cari kompres instan. Setelah menemukannya, dia menempelkannya pada daun telinga Kaina. Sa
"Ser, kamu tahu nggak kalau bentar lagi Kak Xavier bakalan ulang tahun?" tanya Kaina, di mana saat ini dia dan Sera sedang makan siang di sebuah restoran cepat saji terdekat. Sera menganggukkan kepala sambil senyum cerah. "Tahu dong! Kan suamiku, ya kali ulang tahunnya nggak aku tahu." "Semangat banget," ucap Kaina sambil melirik curiga pada Sera, "hadiah udah kamu siapain?" "Udah." Sera menganggukkan kepala secara antusias. "Awalnya aku mau kasih satu hadiah, udah aku pesan ke Ayah. Soalnya Ayah yang pergi ke acara lelang waktu kemarin." "Wow! Hadiah apa tuh sampe ke lelang dapetinnya?" gumam Kaina. "Rahasia." Sera cengar-cengir, "trus karena kebetulan … ekhem, jadi aku masukin dia ke list hadiah. Jadi hadiahku ada dua." "Ekhem? Apaan tuh?" Kaina mengerutkan kening. "Rahasia lagi." Sera cengengesan pada akhir kalimat, "eih, hadiahnya ada tiga, Pung. Satunya rekomendasi Mama mertua." "Cieee … udah panggil Mama mertua." Kaina menaik turukan alis, menggoda Sera yang terlihat
"Elleh." Sza menatap Aluna dengan mata berang, "katanya mau cerai?" ucapnya. Saat ini Aluna dan Sza berada di kursi tunggu rumah sakit. Kaizen sedang menemui dokter yang memeriksa Aluna untuk menanyakan kondisi Aluna agar lebih pasti dan meyakinkan. "Syuut! Pelan-pelan! Ada Pak Alan," bisik Aluna
"Karena Mas Zen sudah baik padaku, membantuku untuk mengantar bukti rekaman CCTV, hari ini aku mau masakin serba udang buat dia. Umm … sepertinya udang garlic butter enak," monolog Aluna, berjalan antusias ke dalam rumah. Dia baru pulang dari tempat kerja. Sekalipun wajahnya sudah terlihat lelah aka
Aluna dan Kaizen jatuhnya memang dijodohkan, karena selain insiden itu keduanya tidak pernah terikat apapun. Kaizen bukan pilihan Aluna dan Aluna juga bukan pilihan Kaizen. Keluarga mereka lah yang menentukan. Insiden itu bukan alasan mereka menikah, tetapi faktor yang menjadi alasan kuat mereka
"Kak, i-ini wanita yang tidur dengan Kaizen," bisiknya dengan nada gemetar, efek deg degkan bertemu dengan calon menantunya, sosok yang membuktikan pada dunia kalau Kaizen normal! "Hah?" Nindi menunjukan ekspresi kaget, menatap Aluna dengan raut muka kaku lalu kembali menatap adik iparnya dengan e







