เข้าสู่ระบบ"Kau!" mata Xavier melebar, menatap marah pada Kaina. Xavier segera bangkit, mendorong Kaina lalu segera memeluk istrinya dengan erat. "Menjauh dari istriku!" dingin Xavier pada adiknya. Kaina memegang pundaknya yang sebelumnya didorong oleh Xavier. Saat mendengar ucapan Xavier, Kaina langsung menganga—menatap cengang pada Xavier. Di sisi lain, Sera juga menunjukkan ekspresi wajah kaget. Bagaimana tiba? Kakak adik ini tiba-tiba bertengkar lalu mendadak Xavier memeluknya secara erat. "Kakak udah gila yah?" horor Kaina. "Mas, se-sesak. To-tolong lepaskan aku," cicit Sera pelan. "Kau lebih memilihnya, Hah?" marah Xavier pada Sera, membuat Sera kembali menunjukkan ekspresi wajah kaget. Namun, kali ini terlihat tegang. "Benar-benar gila!" ketus Kaina, mengusap wajah kasar lalu menatap julid campur kesal pada kakaknya.Dari kejauhan, tanpa mereka sadari, Kaizen dan Aluna menonton. Kaizen buru-buru pulang ke sini saat bodyguard yang ia suru melindungi Kaina secara diam-diam memberi inf
"Pa-parah?" gumam Nakilla, mendadak merasa bersalah dan tak enak hati. "Kayaknya parah. Kacanya mungkin nancem sangat dalam." Kaina menunjukkan ekspresi wajah meringis, supaya Nakilla semakin simpati dan merasa harus bertanggung jawab pada luka Aiden tersebut. Ini memang jahat. Namun, daddy-nya bilang dalam cinta, hal jahat bisa jadi jalan menuju kebenaran. Terpenting jangan kejahatan yang merusak! "Kalau begitu, aku menemui Kak Aiden dulu. Aku merasa bersalah." Nakilla berkata pelan, masih malu-malu karena insiden tadi. "Iya, Kak. Sana ajak Kak Aiden nikah … eh, maksudnya obati. Hehehe …." Kaina cengengesan kaku, melambaikan tangan pada Nakilla yang sempat kembali cemberut. Setelah Nakilla pergi, Kaina juga beranjak dari sana. Satu ikan piranha daddynya mati karena diinjak olehnya. Ck, Kaina harus mengurus bangkai piranha itu dan harus menutupi kematiannya juga supaya daddynya tidak memecatnya sebagai putri kesayangan. Sebenarnya Kaina tak masalah kalau dia dipecat sebag
"Bayar dulu baru kukasih tahu pada Kak Aiden dan Kak Nakilla." Wajah Aiden langsung muram, dia mendengus lalu menghela napas cukup panjang. Namun, sekalipun begitu, dia tetapi mengeluarkan dompet, memberikan beberapa lembar uang pada Kaina. Mata Kaina seketika penuh binar-binar, dengan cepat dia merampas uang tersebut dari Aiden. Sebelum mengatakan sesuatu, Kaina mencium aroma uang tersebut secara bolak balik. Setelahnya buru-buru dia mengantongi uang tersebut. Kaina kembali mengulurkan tangan lalu menekuk jari-jarinya, isyarat supaya Aiden dan Nakilla mendapat padanya. Setelah Aiden dan Nakilla mendekat, Kaina langsung bersuara dengan sangat pelan. "Sebenarnya keluarga Adam Timur punya sebuah kutukan aneh. Namanya kutukan pria Adam, di mana pria Adam yang sudah jatuh cinta pada pasangannya akan terkena kutukan ini." "Kutukan Adam?" Nakilla mengerjap beberapa kali, merasa aneh dan bingung. Sedangkan Aiden, sekalipun dia sudah pernah mendengar ini dari ayahnya, akan tetapi d
"Kali ini apa alasanmu, Hah?!" marah Kaizen, melayangkan tatapan membunuh dan tajam pada Xavier yang sudah mengambil posisi duduk di lantai. Ini yang ke-115 kali si Nakal memecahkan akuariumnya. Entah dendam apa yang Xavier pendam padanya! Xavier mencabut pecahan kaca di tangannya dengan santai, membuat darah bercucuran akan tetapi dia terlihat biasa saja. "Kakiku …-" "Kram?!" potong Kaizen, semakin menatap tajam pada Xavier, "kau sudah menggunakan kram sebanyak 56 kali sebagai alasan." "Besok aquarium Daddy kuganti." Xavier berkata rendah, menatap daddy-nya dengan air muka yang datar. Di sisi lain, Kaina dan Sera yang baru datang terlihat menunjukkan ekspresi yang berbeda dan tanpak kontras. Sera terlihat menganga dengan mata melotot, kaget. Sedangkan Kaina, ekspresi tak jauh berbeda dari daddy-nya—lelah dan muak. "Yaah, dia lagi," bisik Kaina pada Sera. Sera menatap Kaina sekilas lalu menatap suaminya dengan ekspresi campur aduk. Dia begitu terkejut melihat suaminya dudu
"Hehehe …." Sera cengengesan malu. Dia segera login ke sosial medianya melalui HP sang sahabat. Setelah itu dia melakukan apa yang Kaina katakan, memposting foto pernikahannya dengan Xavier lalu memberikan caption 'Tgl 18 Juni adalah hari di mana suamiku menikahiku, menjadikanku sebagai ratu yang dicintai. Namun, sampai detik ini aku merasa masih menjadi seorang ratu untuknya karena beliau seorang suami yang baik dan bertanggung jawab. Suamiku sosok yang kuhormati dan kucintai, dan rasa yang kumiliki ini muncul karena keberhasilannya sebagai suami terbaik.' Selain itu, Sera juga mengganti bio-nya dengan kalimat 'sudah menikah dengan Tuan Xavier Ghazan Adam.' "Weih … captionmu, Pung! Puitis sekali. Nggak sekalian kamu bilang 'Suamiku Xavier adalah bulan bintangku." Kaina berkata geli, menetap Sera dengan raut muka konyol campur meledek. "Emang aku harus bikin begitu yah? Berarti aku harus edit dong," ujar Sera dengan polos, berniat mengedit postingannya untuk menambahkan kalimat
"Hah? Sumpah?" Kaina terlihat kaget, melebarkan mata sambil menatap horor pada Sera. Sera menganggukkan kepala. "Jadi gini, si Bunga dan suaminya yang biadap itu … perusahaan mereka lagi kacau, beberapa investor sudah menarik saham dan mereka kehilangan beberapa proyek. Intinya sudah di fase hampir gulung tikar. Nah, entah gimana ceritanya mereka dijanjikan suntikan dana dari perusahaan Aditama. Tapi dengan satu suara, mereka harus menyerahkanku sebagai istri Rangga. Makanya si Bunga menculikku, supaya mereka memenuhi syarat dan mereka mendapat bantuan." "Gila!" Kaina langsung menunjukkan ekspresi wajah tegang, ada marah di matanya tetapi ada iba juga secara bersamaan. Ya, Tuhan! Entah kenapa nasib sahabatnya ini sangat horor. Seorang ibu seharusnya menjadi pelindung utama anak. Namun, sahabatnya tidak demikian. Ibunya adalah villain utama di hidup Sera. "Otak ibumu sepertinya ada di pantat," gumam Kaina dengan penuh perasaan kesal. "Ck, bukan ibuku dia," jawab Sera malas.
Di sisi lain, Aluna yang panik langsung bersembunyi dalam selimut. Sedangkan wanita yang masuk ke kamar ini, tiba-tiba saja berlari keluar. Di dalam selimut, Aluna mencoba menangkan diri. Namun melihat pria di sebelahnya hanya mengenakan celana pendek, Aluna semakin panik. Rasa paniknya lebih tak
Kaizen segera memeriksa mobilnya, mencari keberadaan sumber suara tersebut. Saat Kaizen menoleh ke belakang mobil, dia tidak menemukan apapun. "Sssst … mmm …." Akan tetapi suara itu jelas dari arah jok belakang. Kaizen memutuskan lebih teliti memeriksa, membuka pintu jok belakang untuk melihat
"Elleh." Sza menatap Aluna dengan mata berang, "katanya mau cerai?" ucapnya. Saat ini Aluna dan Sza berada di kursi tunggu rumah sakit. Kaizen sedang menemui dokter yang memeriksa Aluna untuk menanyakan kondisi Aluna agar lebih pasti dan meyakinkan. "Syuut! Pelan-pelan! Ada Pak Alan," bisik Aluna
"Aku sudah memasukkan obat perangsang ke dalam minumanmu, Aluna Sayang." Aluna Rasya Adam (24 tahun), melebarkan mata saat mendengar ucapan pria tersebut. Ia menatap takut campur panik pada seorang pria yang saat ini berdiri di hadapannya. Pria itu menjulang tinggi, memperlihatkan senyuman miring







