Se connecter"Kamu kenapa, Kai?" tanya Sera, meletakkan tangan di dada karena kaget mendengar jeritan Kaina. Bukan hanya dia, Daziel juga terlihat kaget. "Aku salah ketik, Ra. Huaaa … selamatkan aku!" pekik Kaina, wajahnya masih merah padam dan matanya berkaca-kaca karena ingin menangis. Dia sangat malu! "Memangnya kamu ngetik apa?" tanya Sera, di mana dengan cepat Kaina langsung menyerahkan HP-nya pada Sera. "Wow!! Primitif!" seru Sera dengan nada cengang, menatap kalimat terakhir pada teks yang Kaina kirim pada Elzeren, "ini papan ketik kamu yang jebol atau isi hati kamu yang menguar-nguar?" "Monyet!" ketus Kaina seketika, menatap berang pada Sera yang sudah tertawa geli padanya, "ya kali isi hatiku begitu." "Ahahaha …." Sera tertawa geli, lucu menatap ekspresi muram Kaina. "Jangan ketawa mulu dong. Pliss bantu aku klarifikasi," pinta Kaina, meraih tangan Sera lalu menatap sang sahabat dengan penuh permohonan. "Aih, bilang saja kalau kamu salah ketik. Trus pesan yang ini kamu hapus.
Coba saja Elzeren yang melamarnya secara inisiatif, mungkin Kaina sudah salto belakang. "Kamu kecewa yah?" tanya Sera sambil menepuk pundak Kaina secara pelan. Kaina menganggukkan kepala, wajahnya muram dan semakin sedih, "trus jadinya gimana? Tetap mau nikah dengan Kak Elzeren atau bagaimana?" "Nggak mau lah. Takutnya nanti kayak di drama-drama. Kak Eiren terus nyalahin aku habis itu dia selingkuh dengan cinta pertamanya. Hatiku nggak bakalan sanggup!" Kaina meletakkan tangan di dada lalu meremas blues yang ada dibagian tersebut—mengekspresikan rasa sakit yang mendalam. "Iya sih, jangan dilanjut. Daripada kamu menderita seumur hidup. Tapi … sebelum resmi menolak pernikahan ini, dan karena Daddy yang minta Kak Elzeren untuk melamarmu, ada baiknya kamu ketemu dulu dengan Kak Elzeren. Kamu sebaiknya bicara baik-baik dengan Kak Elzeren. Siapa tahu ada jalan tengah atau sesuatu yang kamu harapkan terjadi setelah pembicaraan kalian," ujar Sera, memberi saran pada Kaina yang terlihat f
Lagian gimana kalau setelah menikah Kak Eiren jahat padaku, terus menyalahkanku kayak dracin-dracin pendek?' "Beberapa hari ini mungkin Zidan akan kembali datang untuk melamarmu." Kaizen kembali bersuara, "tentukan pilihanmu, Nak." "Huh." Kaina mendengus pelan, "Daddy kira ini 'take me out apa?" berangnya, mengembungkan pipi sambil menatap daddynya dengan ekspresi wajah ditekuk. "Terserah." Kaizen berkata datar. "Apasih, Dad?! Terserah itu kamus perempuan," ujar Kaina pelan. "Ya, terserah," jawab Kaizen lagi, menbuat Kaina semakin bete. Pada akhirnya Kaina berdiri dari sofa, menghentakkan kaki lalu keluar dari ruangan daddynya dengan wajah murung dan cemberut. "Sepertinya Kai kita benar-benar tidak ingin menikah deh, Mas. Apa benar-benar menyimpang yah? Soalnya sudah dikasih yang setampan Eiren saja masih tetap nggak mau nikah," gumam Aluna, mendongak pada suaminya lalu menatapnya dengan penuh kekhawatiran. "Setelah menuduhku, sekarang putriku juga kau tuduh menyimpang.
"Hah?" Kaina semakin menatap cengang pada Daddynya, "a-aku menikah dua minggu lagi? I-ini Daddy nggak lagi bercanda kan?" "Apa wajah Daddy terlihat seperti sedang bercanda?" Kaizen menaikkan sebelah alis, menatap datar pada putrinya, "usiamu sudah 27 tahun, sudah sepatutnya kau menikah." "Loh, bukannya Daddy yang bilang kalau aku bebas nentuin kapan aku mau nikah?" protes Kaina, mengerutkan kening sambil menatap heran campur tak terima pada daddynya. Padahal baru kemarin daddy-nya berkata kalau Kaina punya pilihan untuk hidupnya sendiri. Akan tetapi bisa-bisanya setelah mengatakan itu, daddy-nya menerima lamaran untuk Kaina. Daddynya sedang mengkhianatinya atau membohonginya? "Kau memang Daddy berikan kebebasan. Tetapi keputusan tetap ada pada Daddy," ucap Kaizen dengan nada santai, "kau memang sudah seharusnya menikah, Nak." "Ck." Kaina berdecak pelan, "hilang saja Daddy ingin mengusirku dari rumah ini!" "Daddy hanya ingin kau selamat. Kau pikir Daddy tidak tahu apa yang te
"Ini sudah jam 12, sebaiknya kau kembali ke kamarmu. Besok kau pasti sibuk, jadi kau harus beristirahat," ucap Xavier, cukup perhatian karena di matanya Elzeren sudah seperti adiknya. "Humm." Elzeren berdehem pelan, setelah itu beranjak dari sana. Setelah Elzeren menghilang dari penglihatan, Xavier segera masuk ke kamarnya dan Kaina. Tenang, kamar hotel mereka jenis presidential suite, ada dua kamar terpisah, ruang tv dan dapur kecil. ****Hari ini Kaina dan Xavier telah pulang ke kota mereka. Pekeljaan Xavier sudah selesai dan Kaina-- jika kakaknya pulang, maka dia tentunya ikut pulang. Masalah waktu itu, dia yang dijebak oleh Vernan, kakaknya masih menanganinya. Untuk saat ini, Kaina memilih putus kontak dengan teman-temannya karena dia merasa dikhianati. Sedangkan Vernan, pria itu kabur dan saat ini orang-orang kakaknya sedang memburunya. Ternyata Supper club itu milik kakek Vernan yang memang tinggal di negara ini. Yah, Supper club itu dibangun untuk diberikan pada Vernan, ak
"A-aku nggak mau turun!" pekik Kaina, menatap horor pada Elzeren yang sudah di samping mobil—di sampingnya karena pintu di sebelah Kaina sudah dibuka dan pria ini sedang memaksanya untuk keluar. "Jangan macam-macam! A-aku bisa mengadukanmu pada Daddyku dan Kak Xavier!" pekik Kaina lagi, menolak membuka seatbelt supaya dia tetap aman di dalam mobil. "Nona Adam yang terhormat!" Elzeren berkata datar, tetapi auranya terasa dingin dan menakutkan. Dia bersedekap, menatap Kaina yang tak mau turun dari mobil dengan sangat tajam, "ini di rumah sakit, cepat turun!" tambahnya. Kaina seketika mengerjap beberapa kali, menoleh ke luar mobil dengan ekspresi cengang dan konyol. Setelah itu, dia cengengesan dan buru-buru keluar dari mobil. "Ku-kurasa aku sudah tidak kenapa-napa, Kak. Jadi sepertinya nggak usah diperiksa lagi deh," ucap Kaina malu-malu. Sial! Dia benar-benar mengira Elzeren akan membawanya ke hotel, ternyata ke rumah sakit. Haih! Apa yang dia pikirkan? Pria ini pria baik-baik,
"Kak, i-ini wanita yang tidur dengan Kaizen," bisiknya dengan nada gemetar, efek deg degkan bertemu dengan calon menantunya, sosok yang membuktikan pada dunia kalau Kaizen normal! "Hah?" Nindi menunjukan ekspresi kaget, menatap Aluna dengan raut muka kaku lalu kembali menatap adik iparnya dengan e
Kaizen menatap mamanya dengan ekspresi flat, tetapi dengan sorot mata yang intens. Dia diam cukup lama untuk mempertimbangkan sesuatu hingga pada akhirnya mengangukkan kepala sebagai tanda setuju. Naia tiba-tiba membalik tubuh, wajah galaknya langsung hilang, bersama dengan senyuman senang yang m
Di sisi lain, Aluna yang panik langsung bersembunyi dalam selimut. Sedangkan wanita yang masuk ke kamar ini, tiba-tiba saja berlari keluar. Di dalam selimut, Aluna mencoba menangkan diri. Namun melihat pria di sebelahnya hanya mengenakan celana pendek, Aluna semakin panik. Rasa paniknya lebih tak
Aluna dan Kaizen jatuhnya memang dijodohkan, karena selain insiden itu keduanya tidak pernah terikat apapun. Kaizen bukan pilihan Aluna dan Aluna juga bukan pilihan Kaizen. Keluarga mereka lah yang menentukan. Insiden itu bukan alasan mereka menikah, tetapi faktor yang menjadi alasan kuat mereka







