INICIAR SESIÓN"Pernah itu makanya Ziel bisa ngomong gitu," ujar Kaina sambil senyum penuh maksud pada Sera. "Hehehe …." Pada akhirnya Sera hanya bisa cengengesan malu. "Ya Tuhan." Aluna seketika geleng-geleng kepala lalu setelahnya tertawa geli. "Tidak apa-apa, Sayang. Santai saja. Namanya juga anak-anak, memang nakal. Tapi kedepannya harus lebih hati-hati lagi yah, Sayang." "I-iya, Mom." Sera menjawab kaku, masih cengengesan karena benar-benar malu. Tiba-tiba saja Xavier datang, langsung menghampiri Sera. Pria tampan dengan pesona yang sangat menyihir itu tak duduk, tetapi berdiri di sebelah Sera sambil meletakkan tangan di atas ubun-ubun isrtinya. "Kau kenapa, Darling?" tanyanya penuh perhatian. Dia datang ke sini memang khusus untuk mengecek istrinya yang tadi sempat ia dengar berteriak. Khawatirnya, putranya nakal dan Sera yang tengah hamil tua kewalahan menghadapi putra mereka. "Tidak kenapa-napa, Mas," jawab Sera kikuk. Kemunculan Xavier di sini malah semakin membuatnya grogi
"Sepertinya lebih menyenangkan jika kita di ranjang," ucap Elzeren tiba-tiba, menggendong Kaina lalu membawa istrinya ke atas ranjang. "Mas Eiren!" Kaina langsung menatap penuh peringatan pada Elzeren. Dia sangat hapal apa yang ada di kepala pria ini. "Hanya sebentar, Janu. Toh kita dilarang ke luar dari kamar ini. Jadi lebih baik kita bersenang-senang di sini," ujar Elzeren, sudah membaringkan Kaina di atas ranjang, "aku tahu kau bosan, KaiKu." "Ingat, aku lagi hamil, Mas." Kaina tak terlalu menanggapi ucapan suaminya. "Tentu saja aku ingat, Janu." Elzeren tiba-tiba menyunggingkan smirk tipis, "aku bahkan ingat cara membuatmu hamil." "Mas gila yah," horor Kaina, melotot shock pada Elzeren yang … demi Tuhan! Mesumnya semakin mesum sejak Kaina hamil. "Humm." Elzeren menganggukkan kepala secara pelan, terus melucuti pakaian istrinya, "dan Daddy Zen bilang, aku harus semakin gila padamu, Janu." "Ajaran sesat itu!" protes Kaina, 'Ck, si pria dingin itu lagi.' batinnya, c
"Sejak kecil, Woi!" ungkap Kaina pada akhirnya sambil menunjukkan ekspresi riang dan senang luar biasa. Sera menunjukkan ekspresi kaget campur senang. Namun, detik berikutnya dia meraih bantalan sofa lalu melemparnya ke arah Kaina. "Kan apa kubilang? Kak Eiren itu suka sama kamu!" "Ahahaha … mana kutahu! Orang kami jarang berinteraksi," ucap Kaina sambil tertawa cukup kencang. "Itu kan gara-gara kamu, Rojali! Kamunya yang … Kak Eiren dekat dikit sama kamu, kamunya langsung pindah. Ya … gimana mau berinteraksi, kamu saja menciptakan jarak." omel Sera, sesuai dugaan Kaina. "Ehehehe … udalah jangan dibahas. Malu," ucap Kaina cengengesan sambil menggaruk pipi. Tak lama, Aluna dan Kaizen datang. "Halo, putriku-putriku," sapa Aluna sambil duduk di sofa kosong, di susul oleh suaminya yang memilih duduk di sebelahnya. "Hai, Mom." Kaina dan Sera balas menyapa dengan ramah. "Gimana kencannya, Mom? Seru nggak?" tanya Kaina manis, dia senyum pada mommy akan tetapi menatap
"Jadi Rangga sudah mati?" tanya Sera, di mana saat ini dia dan Kaina hanya berdua di ruang keluarga. Elzeren sedang pergi dengan Rizon, begitupun dengan Xavier yang mengajak putranya untuk jalan-jalan sore bersemangat. "Iya." Kaina menganggukkan kepala. "Biasanya Mas Eiren itu paling anti bunuh membunuh. Dia lebih suka membuat seseorang jera dan tidak berani muncul dihadapannya. Tapi … Rangga sudah keterlaluan makanya Mas bunuh dia. Bahkan bunuh sahabatnya sendiri." "Wah …." Sera bergumam ceria, bertepuk tangan pelan sambil senyum lebar pada Kaina, "fix, cintanya Kak Eiren ke kamu luar biasa besarnya." "Hehehe …." Kaina cengengesan lalu cengar-cengir pada Sera. Ah, ingin rasanya Kaina menceritakan tentang buku rahasia suaminya yang sempat Kaina baca. Itu semua bukti jika Elzeren mencintainya, dan sudah sejak kecil. Namun, dia memilih tak menceritakan itu pada Sera. Dia takut Sera meledek dan mengomelinya karena sejak dulu Sera sudah bilang padanya jika Elzeren itu suka padan
"Humm." Elzeren berdehem rendah, "ayo berangkat," ujarnya kemudian, segera bangkit dari sofa sambil menggendong istrinya yang ketiduran. Kaina tadinya sedang menonton sambil menunggu kabar dari Rizon mengenai kepulangan mereka malam ini. Kaina memang sangat suka menonton dan dia juga kebiasaan ketiduran saat menonton. Setelah di mobil, Elzeren memilih memangku istrinya agar Kaina tetap tidur nyenyak. Bahkan saat tiba di bandara dan naik ke pesawat, Elzeren sama sekali tidak membangunkan istrinya. "Huaaa …." Kaina menguap pelan sambil menutup mulut. Dia membuka mata, langsung mengerutkan kening karena … dia di pesawat?! "Kau sudah bangun?" Elzeren sekadar basa-basi, menatap istrinya lekat dan intens. "Kita sudah di pesawat, Mas?" tanya Kaina dengan kedua alis yang naik. Dia menatap polos dan campur bingung pada suaminya. "Humm. Tadi kau ketiduran," ujar Elzeren rendah. "A-aku ketiduran yah?" Kaina kembali bertanya dan mendapat anggukan dari suaminya, "umm-- berapa jam lagi
'Oh yah, jadi kau membunuh sahabatmu sendiri demi Kaina?' Elzeren menghela napas sejenak dan cukup panjang. Dia lalu diam untuk membiarkan gejolak emosional muncul dan reda sendiri. Sejujurnya menghukum Freza bukanlah hal mudah baginya. Bagaimanapun perempuan itu adalah sahabat yang pernah menemani hari-harinya. Sebagian kisah hidupnya, diisi oleh perempuan itu. Namun, apa yang perempuan itu lakukan membuat Elzeren terpaksa menutup mata dan hati pada persahabatan mereka. Rasa kekecewaan yang ditimbulkan oleh Freza, terlalu kuat sehingga belas kasih mati dalam diri Elzeren. Ini bukan hanya tentang lebih memilih istri yang dicintai dibandingkan sahabat yang sudah lama di sisinya. Ini bukan persoalan dirinya yang lebih memihak pada istrinya—rela membunuh sahabatnya sendiri hanya demi membuktikan cinta. Tidak sama sekali! Namun, apa yang Freza lakukan baik sebagai orang asing maupun sahabat, itu tidak bisa dimaafkan bagi Elzeren. Malah rasanya sangat menyakitkan dan mengecewakan
Kaizen menatap mamanya dengan ekspresi flat, tetapi dengan sorot mata yang intens. Dia diam cukup lama untuk mempertimbangkan sesuatu hingga pada akhirnya mengangukkan kepala sebagai tanda setuju. Naia tiba-tiba membalik tubuh, wajah galaknya langsung hilang, bersama dengan senyuman senang yang m
Di sisi lain, Aluna yang panik langsung bersembunyi dalam selimut. Sedangkan wanita yang masuk ke kamar ini, tiba-tiba saja berlari keluar. Di dalam selimut, Aluna mencoba menangkan diri. Namun melihat pria di sebelahnya hanya mengenakan celana pendek, Aluna semakin panik. Rasa paniknya lebih tak
Kaizen segera memeriksa mobilnya, mencari keberadaan sumber suara tersebut. Saat Kaizen menoleh ke belakang mobil, dia tidak menemukan apapun. "Sssst … mmm …." Akan tetapi suara itu jelas dari arah jok belakang. Kaizen memutuskan lebih teliti memeriksa, membuka pintu jok belakang untuk melihat
"Aku sudah memasukkan obat perangsang ke dalam minumanmu, Aluna Sayang." Aluna Rasya Adam (24 tahun), melebarkan mata saat mendengar ucapan pria tersebut. Ia menatap takut campur panik pada seorang pria yang saat ini berdiri di hadapannya. Pria itu menjulang tinggi, memperlihatkan senyuman miring







