Se connecterPernikahan kalian akan sangat lancar, rumah tangga kalian pasti tanpa masalah besar karena kalian sendiri sudah saling memahami, terbiasa bersama, dan kalian kompak. Kalian serasi!"Mendengar itu, Freza senyum tipis. Dia merasa senang dan tersipu malu, merasa jika Luisa masih menganggapnya pasangan yang paling cocok untuk Elzeren. "Tapi setelah Eiren membawa Kaina ke hadapan Nenek, saat Ina tetap mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Nenek sambil tersenyum meskipun sebelumnya Nenek menolak keberadaannya, saat itu juga Nenek yakin dia pantas untuk Eiren Nenek. Terlebih saat Nenek tahu dia putri dari pasangan Adam yang kuat—Kaizen dan Aluna. Nenek semakin yakin dan merasa jika Ina-lah jodoh Eiren. Kenapa? Karena Ina memiliki ketenangan, emosional yang bagus, sikap yang anggun, sopan, dan paling penting dia berasal setara dengan Eiren. Keluarganya terhormat, dia seorang Adam.""Ja-jadi maksud Nenek, a-aku tidak layak karena a-aku hanya anak yatim piatu yah? Aku juga tidak set
"A-aku tidak ingin merebut Elzeren, aku hanya ingin dia melindungiku dan membantuku mendapatkan pertanggung jawaban dari Hendra.""Ini sepertinya hanya kesalahpahaman, Nak." Luisa berkata dengan suaranya yang lemah dan rendah, menatap Frezaa iba dan simpati, "Ina-ku memang sedang hamil, dan emosional ibu hamil cukup rentan. Tetapi cucu menantuku adalah perempuan yang luas hatinya. Tapi jika memang Ina melarang Eiren untuk membantumu, nanti Nenek akan bicara pada Ina supaya dia bersedia membiarkan Eiren membantumu.""Baik, Nenek." Freza menganggukkan kepala secara pelan, "oih iya, Nek. Kemarin Kaina bertemu dengan Hendra. A-aku takut dibelakangku dan El, mereka menjalin hubungan.""Overthinking-mu terlalu jauh, Nak. Ina perempuan berkelas, dia tidak mungkin melakukan hal tercela seperti itu. Lagipula Ina dan Eiren saling mencintai," Luisa menjawab dengan tenang. "Nenek, aku tak ingin meragukan Kaina. Hanya saja … dia tidak terlihat mencintai Elzeren, Nek. Sejauh ini, yang kulihat El
"Aku mencium aroma parfum pria dari tubuhmu," dingin Elzeren. Kaina mengendus tubuhnya lalu mengerjap berulang kali. Tubuhnya tidak beraroma seperti yang Elzeren katakan. Dia hanya mencium aroma parfumnya sendiri. Namun, saat dia mengendus tangannya, ternyata memang ada aroma parfum pria di sana. "Ouh, ini …." Kaina mengangkat tangan kanannya lalu mengarahkannya pada Elzeren, "tadi aku berjabat tangan dengan Kak Hendra, sebelum dia dan pacarnya pamit pulang."Elzeren mengendus aroma di tangan istrinya lalu langsung berdecak. "Ck.""Tapi ada aroma sakura juga. Pasti ini parfum pacarnya Kak Hendra," ucap Kaina lagi yang kembali mengendus tangannya. "Ada aroma udang juga pun," lanjutnya sambil menunjukkan cengiran pada suaminya, di mana Elzeren terus menatap dingin padanya. "Kau bertemu dengan Hendra?" Elzeren meraih tangan Kaina lalu me-lap-nya dengan tisu basah yang tersedia di sana. "Iya." Kaina menganggukan kepala, "Kak Hendra meminta tolong supaya aku melindunginya dari Mas Eire
"Lagipula kau berharap apa dari kehamilan harammu? Mendapat simpati dariku? Cih!" Elzeren menambahi, berkata dingin sambil menatap penuh peringatan pada Freza. Freza menatap tak percaya pada Elzeren. Air matanya mengalir deras karena sakit hati mendengar ucapan sahabatnya. Ekspektasi dan harapannya pada Elzeren putus seketika. Dia kira, setelah menceritakan kemalangannya, Elzeren akan bersimpati. Sayangnya, pria ini mengatakan kata-kata tajam yang menusuk hati. 'Kata-katanya pedas juga. Ck, padahal di geng Ano, Mas Eiren yang paling sopan. Tapi dia juga sih yang mulutnya paling pedas.' batin Kaina, mendadak kepedasan. Bukan karena rujak, tetapi karena ucapan pedas suaminya pada Freza. "El, ka-kamu kok tega mengatakan hal seperti ini padaku? A-aku memang salah, ta-tapi aku hanya khilaf. Aku sekarang sangat menyesal," ucap Freza dengan nada bergetar dan parau. Elzeren menaikkan sebelah alis, sejenak diam sambil menatap lekat pada Freza. Setelah itu, dia menghela napas cukup panjang
""E-El, a-aku melihat Hendra," ucap Freza dengan nada rendah dan serak, matanya memerah dan berair. Sepertinya ingin menangis. Freza sudah di sebelah Elzeren, bersiap-siap memeluk pria itu. Namun, Elzeren tiba-tiba berdiri dari kursi kerja lalu berjalan dengan langkah panjang menuju istrinya. Sikapnya pada Freza cukup cuek, terkesan tak peduli—sekalipun perempuan itu menunjukan ekspresi menyedihkan. "E-El …." panggil Freza dengan wajah sendu dan suara bergetar hebat, tak menyangka Elzeran akan melewatinya begitu saja dan tak simpati pada wajah sembabnya. Elzeren lagi-lagi bersikap cuek—memilih benar-benar fokus pada istrinya yang baru sampai. Dia meraih tangan Kaina lalu menggandeng istrinya untuk masuk ke ruangannya—lebih tepatnya ke sofa. "Aku sudah menyiapkan makan siang untukmu, Janu." Elzeren berkata lembut, setelah Kaina duduk di sofa dan meletakkan beberapa paper bag di atas meja. Kaina menatap Elzeren sejenak lalu mengamati makanan yang terjadi di atas meja. Seperti
"Jiwa?" Kaina mengeluarkan kening, menatap layar HP dengan ekspresi wajah tak yakin. Saat ini Kaina sedang bersantai di ruang televisi, tempat favoritnya karena Kaina memang suka menonton televisi. Sembari menonton, Kaina teringat dengan kejadian tadi malam—saat Elzeren mengatakan cinta padanya. Namun, tadi malam, Kaina tak menjawab, memilih pura-pura tidur. Akan tetapi sekarang dia teringat dengan 'Janu—panggilan dari Elzeren untuknya. Sekarang Kaina mencari tahu arti dari Janu tersebut, akan tetapi Kaina kurang yakin. Ada dua arti yang Kaina temukan, pertama panah dan yang kedua jiwa. Keduanya sama-sama tak masuk akal bagi Kaina. "Ah, sudahlah." Kaina menggaruk pelipis lalu memilih fokus menonton televisi. Namun, tiba-tiba Kaina ingin sekali makan rujak dan kue yang rasanya masam. Kaina bangkit dari sofa, segera mengganti pakaian karena dia akan keluar. Elzeren memperbolehkannya keluar, asal Kaina membawa bodyguard dan maid dengannya. ***"Nyonya, Tuan bilang supaya anda mene
Kaizen menatap mamanya dengan ekspresi flat, tetapi dengan sorot mata yang intens. Dia diam cukup lama untuk mempertimbangkan sesuatu hingga pada akhirnya mengangukkan kepala sebagai tanda setuju. Naia tiba-tiba membalik tubuh, wajah galaknya langsung hilang, bersama dengan senyuman senang yang m
Di sisi lain, Aluna yang panik langsung bersembunyi dalam selimut. Sedangkan wanita yang masuk ke kamar ini, tiba-tiba saja berlari keluar. Di dalam selimut, Aluna mencoba menangkan diri. Namun melihat pria di sebelahnya hanya mengenakan celana pendek, Aluna semakin panik. Rasa paniknya lebih tak
Kaizen segera memeriksa mobilnya, mencari keberadaan sumber suara tersebut. Saat Kaizen menoleh ke belakang mobil, dia tidak menemukan apapun. "Sssst … mmm …." Akan tetapi suara itu jelas dari arah jok belakang. Kaizen memutuskan lebih teliti memeriksa, membuka pintu jok belakang untuk melihat
"Aku sudah memasukkan obat perangsang ke dalam minumanmu, Aluna Sayang." Aluna Rasya Adam (24 tahun), melebarkan mata saat mendengar ucapan pria tersebut. Ia menatap takut campur panik pada seorang pria yang saat ini berdiri di hadapannya. Pria itu menjulang tinggi, memperlihatkan senyuman miring







