تسجيل الدخول"Cuma mau mastiin kalau kita lagi bareng," ucap Kaina pada Elzeren, sengaja berkata demikian agar Elzeren paham kalau dia butuh bantuan dari pria ini. Elzeren menatap dingin pada Kalian, akan tetapi dia tetap meraih HP Kaina dan bersedia berbicara dengan Xavier. "Kaina memang bersamaku, Kak." Elzeren berkata datar. Di sisi lain Kaina senyum semakin lebar, akhirnya dia benar-benar lolos dari kakaknya. Namun, senyumannya tersebut langsung hilang karena tiba-tiba saja jantungnya berdebar sangat kencang. Ya, dia memang sedang bersama pria yang dia sukai dan kerap kali jantungnya selalu memompa cepat jika berdekatan dengan Elzeren. Akan tetapi debarannya tak pernah sepertinya. Kali rasanya berbeda! Debarannya membuat tubuh Kaina panas dan … di-dia ingin sesuatu. 'Ini sudah jam 10 malam. Kau harus membawa Kaina pulang.' Xavier di seberang sana berkata tegas, tak ingin sesuatu terjadi pada adiknya. "Humm. Kami akan kembali ke hotel," jawab Elzeren. Setelah itu dia mematikan telep
"Jangan sembarangan, Kai!" peringat Vernan, mengatupkan rahang sambil menatap tajam pada Kaina. Dia tahu Kaina pasti asal bicara dan asal Tunjung. Vernan memang kurang mengenal siapa orang-orang di meja seberang. Bisa dikatakan dia baru di negara ini, memilih menetap di sini untuk mendapatkan wanitanya. Namun, sekalipun begitu orang-orang di meja sebelah adahal para elit yang sedang yang sedang melakukan pertemuan santai. Pria yang Kaina tunjuk, aura pria itu paling mendominasi. Sepertinya bukan sekadar golongan elit biasa. "Kamu yang jangan sembarangan!" ketus Kaina, "aku tak pernah punya hubungan denganmu, tolong jangan membuat pertengkaran antara aku dan calon suamiku!" tambahnya, berkata tegas sambil menatap tajam pada Vernan. Vernan terdiam dengan wajah kaku dan tegang. Tidak! Kaina tak mungkin punya calon suami. Sejak dulu, Kaina menolaknya karena perempuan ini gengsi. Diam-diam, dia yakin Kaina pasti menyukainya. "Dan kalian juga," ucap Kaina pada teman-temannya, "ken
Kaina terdiam setelah Elzeren berdehem. Wajahnya tampak gugup, kali ini dia tidak bisa menyembunyikannya lagi. Humm artinya apa? Kaina benar-benar tidak bisa menerjemahkan satu kata ajaib itu, sekalipun ketua geng di rumahnya gemar dan menguasai bahasa 'ham hem hum. "Kak, to-tolong jangan salah paham dan lupakan saja tadi …-" Kaina kembali berniat menjelaskan, akan tetapi tiba-tiba saja telinganya di tarik oleh seseorang. "Ahck!" ringis Kaina, menoleh cepat ke arah seseorang yang mengomelinya. "Sudah sore masih keluyuran. Kembali ke hotel!" galak Xavier, menatap Kaina dengan wajah dingin dan tatapan tajam. "Kan masih sore, bukan malam, Kak," mengerut Kaina sambil menatap muram dan sebal pada Xavier. Aih, kakaknya ini benar-benar! Datang tak diundang, tiba-tiba langsung menjewer telinga Kaina. "Melawan?!" dingin Xavier, semakin menatap tajam pada adiknya. Kaina menggelengkan kepala secara pelan lalu segara berjalan dari sana, kembali pulang ke penginapan. Xavier berdecak pelan,
"Oh." Kaina ber-oh-ria, menatap pria itu dengan wajah cukup kaku dan kaget secara bersamaan. Di sisi lain, pria itu dengan cukup lebar sambil berjalan cepat untuk mendekat pada Kaina. Pria itu adalah salah satu teman Kaina saat menempuh pendidikan S2. Wajahnya memang campuran, akan tetapi setahu Kaina dia tidak tinggal di negara ini. "Akhirnya setelah sekian lama aku bertemu denganmu, Kai." Pria itu senyum manis sambil menatap penuh maksud pada Kaina, "kau samakin cantik," lanjutnya. Vernan Grenard—pria tampan dengan wajah blasteran yang tingginya tak terlalu jauh dari Kaina. Awalnya Kaina dan Vernan cukup dekat, itu karena Vernan bisa berbahasa tanah air dan selalu pamer keahlian berbahasanya pada Kaina. Mereka saling membantu dan cukup sering belajar bersama, tapi tidak pernah berdua—selalu ada teman yang lain untuk ikut belajar bersama. Namun, saat mereka akan lulus, pria ini mengungkapkan perasaan pada Kaina melalui sebuah pesan. Kaina menolak lembut dan baik-baik. Namu
"Lagi-lagi kau pura-pura tidak mengenaliku, Hum?" Kaina berhenti melangkah, dia memutar badan—menghadap pada sosok pria yang saat ini sedang menatapnya dengan ekspresi wajah dingin dan sorot mata tajam. "Oh, hai, Kak," sapa Kaina santai, senyum tipis dan ringan. Sebisa mungkin dia menjaga gestur tubuh agar tidak memperlihatkan kegugupan sedikitpun. Elzeren melepas pelukan Freza di lengannya. Dia memberi isyarat supaya Freza, Rozen, dan yang lainnya lebih dulu pergi. Setelahnya, Elzeren mendekat ke arah Kaina. "Kau sedang apa di sini?" tanya Elzeren, menatap lekat pada Kaina yang berdiri tepat di depannya. "Liburan." Kaina menjawab santai. Namun, dia refleks melangkah mundur saat Elzeren maju dan semakin terasa dekat pada tubuhnya. "Kenapa menjauh?" Elzeren menaikkan sebelah alis, mrngamati Kaina secara dalam dan lekat, "jangan berasalan parfum lagi, Kai. Aroma parfumtku hampir sama dengan aromamu," tambahnya, berkata datar tetapi menatap penuh selidik pada Kaina. Sa
"Jangan mengajari putriku untuk sesat seperti kamu, Mas," ucap Aluna pada suaminya. Kaizen senyum tipis pada istrinya, menatap dalam pada Aluna. Setelah itu, dia kembali menatap putrinya, "Azam itu nekat. Jadi lebih baik temukan yang kau sukai, Nak." "Ini sama saja Daddy memaksaku untuk menikah," ucap Kaina berang. "Atau kau ingin Eiren?" Kaizen menaikkan sebelah alis, menatap lekat dan teliti pada putrinya. "Apalagi ini?!" Kaina kembali memutar bola mata secara jengah setelah itu menatap malas pada daddynya. Dari luar, dia mungkin tampak seperti muak dan jengah. Namun, di dalam dia begitu gugup dan jantungan. Dia tahu daddy-nya sedang mengujinya dan Kaina harus bisa menyembunyikannya sebaik mungkin. "Mommy setuju kalau kamu sama Kak Elzeren." Aluna langsung bertepuk tangan—tak menimbulkan suara karena tepukannya pelan. Senyumannya mengembang, menatap penuh binar pada putrinya, "Sera juga setuju kan kalau Kaina dengan Kak Eiren?" "Se-setuju, Mom," jawab Sera kikuk, meliri
"Kak, i-ini wanita yang tidur dengan Kaizen," bisiknya dengan nada gemetar, efek deg degkan bertemu dengan calon menantunya, sosok yang membuktikan pada dunia kalau Kaizen normal! "Hah?" Nindi menunjukan ekspresi kaget, menatap Aluna dengan raut muka kaku lalu kembali menatap adik iparnya dengan e
Kaizen menatap mamanya dengan ekspresi flat, tetapi dengan sorot mata yang intens. Dia diam cukup lama untuk mempertimbangkan sesuatu hingga pada akhirnya mengangukkan kepala sebagai tanda setuju. Naia tiba-tiba membalik tubuh, wajah galaknya langsung hilang, bersama dengan senyuman senang yang m
Di sisi lain, Aluna yang panik langsung bersembunyi dalam selimut. Sedangkan wanita yang masuk ke kamar ini, tiba-tiba saja berlari keluar. Di dalam selimut, Aluna mencoba menangkan diri. Namun melihat pria di sebelahnya hanya mengenakan celana pendek, Aluna semakin panik. Rasa paniknya lebih tak
Kaizen segera memeriksa mobilnya, mencari keberadaan sumber suara tersebut. Saat Kaizen menoleh ke belakang mobil, dia tidak menemukan apapun. "Sssst … mmm …." Akan tetapi suara itu jelas dari arah jok belakang. Kaizen memutuskan lebih teliti memeriksa, membuka pintu jok belakang untuk melihat







