หน้าหลัก / Romansa / Permainan Panas: Obsesi Dosen Killer / Berangkat Long Weekend Ke Korea Selatan

แชร์

Berangkat Long Weekend Ke Korea Selatan

ผู้เขียน: agneslovely2014
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-17 16:30:23

"Iiihh ... kok kontakku malah diblokir sama Randy sih? Apa kurangnya aku coba? Cantik, sexy, lulusan universitas luar negeri, harta warisanku juga banyak!" Raline cemberut bersedekap di tepi kolam renang rumahnya yang megah bak istana.

Pesan yang dia kirim tadi malam jelas terkirim dan dibaca oleh pemuda yang akan dijodohkan dengannya. Namun, ketika dia mengirim pesan mengonfirmasi kencan mereka justru gagal terkirim lagi.

"Hmm ... lebih baik aku mandi lalu datangi aja ke kantornya!" putus Raline. Dia segera bangkit berdiri dari tepi kolam renang dan naik ke kamar tidurnya.

Seperti biasa Randy sibuk mengurus perusahaan tambang emas dan nikel milik keluarga Cakrabirawa. Permintaan barang ekspor dari pembeli baik asing maupun domestik memenuhi alamat email perusahaan yang dia pegang saat ini.

"Toro, tolong pesankan tiket untuk tiga orang ke Seoul untuk penerbangan nanti malam!" titah Randy sambil terus membalas email klien.

Sekretaris pribadinya Juliantoro atau akrab disapa Toro pun me
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Permainan Panas: Obsesi Dosen Killer   Perfect Match (The End)

    "Candy, coba lihat ini!" Josh yang baru saja pulang dari kampus membawa sepucuk surat undangan berwarna merah maroon. Ada inisial RG dengan torehan tinta emas di sisi depan amplopnya."Undangan pernikahan? Dari siapa, Hubby?" balas Candy yang merasa mereka berdua tidak banyak memiliki teman dekat yang sama.Josh tertawa kecil lalu duduk di sofa kamar tidur bersama Candy. Dia membuka amplop undangan dan membacakan untuk istrinya, "Dengan segala kerendahan hati, kami yang berbahagia Randy Cakrabirawa dan Gisella Kartika mengundang Anda sekalian ke pesta resepsi pernikahan kami pada hari Sabtu, 20 Mei—" "Gila banget, aku nggak pernah mengira Randy bakalan ngejar Bu Gisella. Hmm ... dia bener-bener cowok bernyali!" ujar Candy agak terkejut."Sudah kuduga sih sejak di persidangan dulu. Remaja laki-laki itu nggak main-main dengan perasaan cintanya ke Gisella. See ... proven!" balas Josh. "Aku senang dengar mereka bersatu pada akhirnya, berarti bayi Bu Gisella yang diculik papanya Randy ju

  • Permainan Panas: Obsesi Dosen Killer   Kata Maaf Tak Pernah Terlambat

    Di lorong rumah sakit menjelang petang itu, langkah kaki berderap cepat menuju ke ruang bersalin. Seorang perawat menemui Randy lalu berkata, "Tolong ganti pakaian steril terlebih dahulu kalau Bapak ingin mendampingi persalinan!""Ini benar ruang bersalin yang ditempati Gisella Kartika 'kan, Suster?" tanya Randy memastikan."Iya, benar nama pasien memang Gisella Kartika. Silakan ikuti saya untuk berganti baju steril terlebih dahulu, Pak!" jawab Suster Vita.Maka tanpa berpikir dua kali, Randy bergegas mengikuti anjuran perawat. Dia pun berganti pakaian steril lalu bertanya lagi, "Apa anak pasien dan wanita yang mengantar pasien ada di dalam ruangan bersalin juga, Suster?""Maaf, tadi saya belum melihat mereka. Mungkin masih membereskan administrasi di lantai bawah ya, Pak!" jawab Suster Vita lalu mengantarkan Randy masuk ruang bersalin untuk menemui Gisella.Di dalam ruangan berpencahayaan terang berdinding putih itu Gisella setengah berbaring dengan posisi siap melahirkan. Dia meliha

  • Permainan Panas: Obsesi Dosen Killer   Berhenti Kucing-kucingan

    "Dasar jalang!" teriak Nyonya Vania Cakrabirawa seraya mengangkat tangan kanannya untuk menampar Gisella."PLAAKK!" Suara benturan dua permukaan kulit yang keras terdengar nyaring.Namun, yang kena tampar bukanlah Gisella. Suaminya maju menggantikannya. Pipi Randy bengkak memerah karena perbuatan mamanya."Randy, ngapain kamu belain perempuan murahan itu? Jangan terjebak tipu muslihatnya untuk kedua kalinya lagi!" hardik Nyonya Vania dengan nada tinggi."Mama salah menilai Gisella. Aku nggak akan pernah memilih wanita selain dia untuk menjadi pendamping hidupku!" bela Randy seraya merangkul bahu Gisella dengan protektif.Nathan juga ikut menghalangi neneknya. "Jangan sakiti mommy, Nek! Ada adikku di perut mommy." serunya berani.Pak Lukman terhuyung memegangi dada kirinya karena terkejut mendengar kabar bahwa Gisella sedang hamil."Papaa!" seru Nyonya Vania seraya menopang tubuh suaminya.Pak Lukman dibantu duduk di sofa oleh Randy dan mamanya. Gisella pun mengambilkan air mineral di

  • Permainan Panas: Obsesi Dosen Killer   Terpergok Mama Randy

    "Mom, ayo naik bianglala bertiga dengan aku dan daddy!" seru Nathan heboh di sebuah taman hiburan keluarga yang berada di daerah kota Seoul. Gisella mengangguk setuju lalu berlari-lari bersama Nathan untuk mengantre tiket naik bianglala. Dari belakang mereka Randy mengeluarkan dompetnya lalu menepuk bahu istrinya untuk memberikan lembaran uang Won Korea Selatan senilai tiga tiket yang tertera di sisi atas loket.Setelah diizinkan naik ke kompartemen bianglala dengan lampu hias terang warna-warni, keluarga kecil itu duduk menunggu roda raksasa tersebut berputar perlahan. Semakin tinggi posisi mereka maka pemandangan indah kota Seoul di malam hari semakin terlihat jelas."Wow, amazing!" desah takjub Nathan dari tempat duduknya sembari memandang ke luar kaca kompartemen.Randy mengecup pipi Gisella spontan, dia berbisik, "Aku nggak sabar buat segera pulang dan memulai bisnis kita, Sayang!""Hmm ... iya, kupikir kamu benar. Besok pagi saja kita pulang, kunjungan ke Pulau Jeju ditunda lai

  • Permainan Panas: Obsesi Dosen Killer   Memulai Bisnis Kosmetika

    Setelah penerbangan selama tujuh jam dari Jakarta, pesawat Cathay Pasific itu mendarat mulus di Bandara Incheon, Seoul, Korea Selatan. Gisella dan Nathan yang baru pertama kali berkunjung ke sana terkagum-kagum seperti orang udik. Namun, Randy memaklumi reaksi mereka.Dari bandara, mereka naik taksi ke hotel yang berada di kota Seoul. Pemandangan gedung pencakar langit yang bercahaya warna-warni dengan penataan kota yang rapi serta artistik membuat mereka tak bosan-bosannya menatap ke luar jendela kanan dan kiri sepanjang perjalanan.Akhirnya taksi berhenti di Hotel Ultimate City Park, sebuah hotel bintang lima. Sengaja Randy memilihnya agar besok pagi mereka berdua bisa bertemu dengan calon produsen kosmetik rekanan di lobi hotel. Ada area sofa yang disediakan untuk meeting para tamu hotel yang sifatnya gratis sebagai bagian fasilitas.Di lift naik ke kamar mereka di lantai 17, Randy berkata, "Kita mandi dan istirahat sebentar sebelum pergi dinner ke luar hotel ya.""Wow, asyik! Aku

  • Permainan Panas: Obsesi Dosen Killer   Kabar Buruk Di Tengah Malam Bergelora (21+)

    Candy sampai di rumah terlebih dahulu sore itu, dia mandi lalu menemani Jansen bermain di ruang anak bersama neneknya. Rupanya Josh agak sibuk hari itu dengan pekerjaan di kampus yang sempat tertunda karena sidang kasus pro bono tadi pagi di pengadilan.Setibanya Josh di rumah, dia juga langsung mandi karena seharian berkeringat serta bertemu banyak orang terkait pekerjaannya sebagai pengacara. Setelah itu barulah dia bergabung dengan keluarga kecilnya di ruang bermain Jansen. Ada Ariel juga yang baru saja selesai mandi pasca mengikuti les berenang privat bersama pelatih yang khusus dipanggil Kelly ke kediaman Wijaya untuk mengajari putranya."Wah ... rame ya di sini!" ucap Josh dengan senyuman ramah kepada seisi ruangan itu. "Hai, Om Joseph. Baru pulang kantor ya?" balas Ariel yang kini dekat dengan pamannya itu karena tinggal seatap selama berbulan-bulan."Iya nih, Riel. Papa mama kamu belum pulang?" balas Josh ringan seraya duduk bersila di samping Candy yang tersenyum penuh arti

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status