تسجيل الدخول“Tuan Daven,” Arsen memasuki area apartemen sembari membawa cup kopi yang bosnya gemari. Beruntung di SunCity ada kedai kopi yang bisa ia jadikan langganan. Daven termasuk orang yang sedikit sulit mengenai cita rasa kopi.
“Kau sudah datang?” Daven menuruni tangga dengan langkah percaya diri. Di tangannya terdapat paper bag berisi hoodie milik Josh. Sebenarnya ia masih ingin menikmati waktunya sendirian di tempat ini sebelum benar-benar kembali ke Mighatan.
<Mendengar permintaan itu, Josh tersenyum lebar. “Tentu saja!”Chris sebenarnya ingin sedikit memberi peringatan namun melihat Josh tak keberatan dan tampaknya tak ada hal yang perlu diwaspadai, Chris membiarkan pria dewasa di dekatnya itu berjongkok. Menyamakan tinggi tubuhnya dengan Josh. Lantas memberi Josh pelukan yang erat.Seolah ... mereka tak akan bertemu untuk sementara waktu.“Bersenang-senanglah di sekolah, Josh,” kata Daven sembari mengurai pelukannya. Padahal hatinya menjerit tak rela namun apa yang bisa ia lakukan?“Iya, Tuan Tampan!” Josh tertawa riang. “Kalau begitu, aku akan masuk ke dalam.” Ia menatap Daven lekat-lekat. “Sampai bertemu lagi, Tuan Daven.”Chris berdecak sebal. “Apa kau menganggapku tak ada, Josh?”Josh menjulurkan lidah. “Bye, Paman Chris. Sepulang sekolah nanti, kita bermain di Arcade lagi, ya.”“Kau tak takut di
“Tuan Daven,” Arsen memasuki area apartemen sembari membawa cup kopi yang bosnya gemari. Beruntung di SunCity ada kedai kopi yang bisa ia jadikan langganan. Daven termasuk orang yang sedikit sulit mengenai cita rasa kopi.“Kau sudah datang?” Daven menuruni tangga dengan langkah percaya diri. Di tangannya terdapat paper bag berisi hoodie milik Josh. Sebenarnya ia masih ingin menikmati waktunya sendirian di tempat ini sebelum benar-benar kembali ke Mighatan.Siang ini mereka segera menuju Mighatan. Urusan di SunCity hanya tinggal pertemuan biasa sebelum nanti pengerjaan pertama dimulai. Mungkin membutuhkan satu bulan untuk mereka kembali lagi dan melihat jalannya proyek.“Bukankah Anda meminta untuk datang lebih awal? Karena setelah bertemu Josh, Anda ingin melakukan perjalanan ke Mighatan menggunakan mobil, kan? Lagi pula ada meeting yang harus Anda hadiri secara online.”Daven berdecak sebal.“Jadi saya mem
“Jadi ... kau tahu apa yang harus dilakukan, kan?” tanya Chris menatap Josh. Pria kecil di sampingnya tertawa lebar.“Tentu saja. Aku tak mungkin mengatakan kita menghabiskan banyak waktu di arcade. Makan hamburger, lalu es krim, pizza, dan ... soda.”Chris terkikik geli. “Kau pengingat yang baik.”“Tapi Paman Chris,” Josh menatap Chris lekat. “Apa Mommy ada di rumah Grannie? Dia sedang menyiapkan makan malam, kan?”“Urusannya belum selesai, Josh.” Chris mengusap puncak kepala Josh penuh sayang. “Kau tak perlu merasa sedih. Ada Pama Chris dan Paman Cale yang menemanimu. Grannie juga sudah meminta Jack, Emma, dan Ethan untuk menginap di sini. Mungkin besok mereka sampai?”Josh yang semula tampak bersedih, kembali bersemangat. “Kalau begitu, aku tak akan kesepian.”“Kalau begitu, ayo kita temui Grannie dan GrandDad.”“Ayo!&r
“Oh, Tuhan!” lirih Althea. “Tolong lindungi Lydia. Dia sahabatku yang terbaik.” Ia menunduk sembari meremas kedua tangannya. “Bantuan dan mukjizat-MU sangat aku harapkan, Tuhan.”Entah sudah berapa kali Chase melirik Althea yang duduk di sampingnya. Sepanjang perjalanan menuju Mighatan, tangis Althea tak kunjung reda. Matanya memerah, suaranya gemetar saat mencoba bercerita pada Chase.“Aku yakin Tuhan selalu melindungi Lydia, Sayang. Aku tahu Lydia adalah wanita yang baik dan sangat memedulikanmu. Tuhan tak mungkin tak melindunginya.”Althea mengangkat pandangannya dan menoleh pada Chase yang fokus dengan setir. “Dokter bilang dia kritis, Chase. Aku takut ... aku takut kalau—”Chase mengeratkan genggaman di tangannya yang bertumpu di paha Althea. Satu tangan mengemudi, satu lagi mencoba menyalurkan ketenangan. “Itu tak akan terjadi, Sayang.” Bohong kalau Chase tak merasa khawat
Chase keluar dari restoran dengan langkah lebar, sedikit tergesa menuju mobil yang ia parkir di basement. Ia terus menahan ponselnya di telinga—bicara sembari menenangkan Althea yang terdengar panik. Chase memahami kenapa Althea bisa kehilangan kendali seperti ini.Dia juga sangat terkejut mendengar berita mengenai Lydia. Chase mengenal wanita itu dengan sangat baik. Sering juga menghabiskan waktu bersama—Lydia selalu menemani Althea dan Josh, serta orang yang mendukung langkah Chase mendekati Althea. Ketulusan Lydia juga membuat Chase peduli pada wanita itu.Ia juga berharap, Lydia baik-baik saja. Rasanya ... sangat menyedihkan jika sesuatu yang buruk menimpa Lydia.Tak butuh waktu lama sebelum mobil hitamnya melesat keluar dari area gedung. Chase berusaha untuk menyetir dalam keadaan fokus meski keinginannya untuk segera tiba di sekolah. Tangis Althea benar-benar memilukan.“Bersabarlah, Sayang. Kita akan segera menemui Lydia. Oke?&rdq
Sorot mata Chase kala bertanya, tak ada sedikit pun keraguan. Seolah pertanyaan itu memang sudah dipersiapkan saat mereka membicarakan mengenai proyek ini. Dan sepertinya, ini adalah pertukaran yang diinginkan pihak Miller—terutama Chase.Daven menarik napas pelan, lalu mengembuskannya. “Saya tidak keberatan jika itu yang Anda inginkan, Tuan Miller.”“Bagus.” Chase tersenyum, tapi matanya masih tajam menilai. “Anda cukup memahami situasi apa yang dihadapi saat itu. Dan bisa kupastikan, Kita bisa saling menguntungkan.”Chris yang sedari tadi diam—menyimak, menganalisa apa yang sebenarnya terjadi, serta merangkumnya untuk dijadikan sebuah kesimpulan. Pantas saja Chase sedikit bersikeras untuk ikut dalam pertemuan siang ini. Ternyata ada tujuan tertentu dan berkaitan dengan calon kakak iparnya. Mungkin nanti akan Chris tanya lebih detail pada Chase, apa yang terjadi.Tapi sebelumnya, Chris tak ingin menjadi pen






