ログイン“Oh, Tuhan!” lirih Althea. “Tolong lindungi Lydia. Dia sahabatku yang terbaik.” Ia menunduk sembari meremas kedua tangannya. “Bantuan dan mukjizat-MU sangat aku harapkan, Tuhan.”
Entah sudah berapa kali Chase melirik Althea yang duduk di sampingnya. Sepanjang perjalanan menuju Mighatan, tangis Althea tak kunjung reda. Matanya memerah, suaranya gemetar saat mencoba bercerita pada Chase.
“Aku yakin Tuhan selalu melindungi Lydia, Sayang. Ak
“Oh, Tuhan!” lirih Althea. “Tolong lindungi Lydia. Dia sahabatku yang terbaik.” Ia menunduk sembari meremas kedua tangannya. “Bantuan dan mukjizat-MU sangat aku harapkan, Tuhan.”Entah sudah berapa kali Chase melirik Althea yang duduk di sampingnya. Sepanjang perjalanan menuju Mighatan, tangis Althea tak kunjung reda. Matanya memerah, suaranya gemetar saat mencoba bercerita pada Chase.“Aku yakin Tuhan selalu melindungi Lydia, Sayang. Aku tahu Lydia adalah wanita yang baik dan sangat memedulikanmu. Tuhan tak mungkin tak melindunginya.”Althea mengangkat pandangannya dan menoleh pada Chase yang fokus dengan setir. “Dokter bilang dia kritis, Chase. Aku takut ... aku takut kalau—”Chase mengeratkan genggaman di tangannya yang bertumpu di paha Althea. Satu tangan mengemudi, satu lagi mencoba menyalurkan ketenangan. “Itu tak akan terjadi, Sayang.” Bohong kalau Chase tak merasa khawat
Chase keluar dari restoran dengan langkah lebar, sedikit tergesa menuju mobil yang ia parkir di basement. Ia terus menahan ponselnya di telinga—bicara sembari menenangkan Althea yang terdengar panik. Chase memahami kenapa Althea bisa kehilangan kendali seperti ini.Dia juga sangat terkejut mendengar berita mengenai Lydia. Chase mengenal wanita itu dengan sangat baik. Sering juga menghabiskan waktu bersama—Lydia selalu menemani Althea dan Josh, serta orang yang mendukung langkah Chase mendekati Althea. Ketulusan Lydia juga membuat Chase peduli pada wanita itu.Ia juga berharap, Lydia baik-baik saja. Rasanya ... sangat menyedihkan jika sesuatu yang buruk menimpa Lydia.Tak butuh waktu lama sebelum mobil hitamnya melesat keluar dari area gedung. Chase berusaha untuk menyetir dalam keadaan fokus meski keinginannya untuk segera tiba di sekolah. Tangis Althea benar-benar memilukan.“Bersabarlah, Sayang. Kita akan segera menemui Lydia. Oke?&rdq
Sorot mata Chase kala bertanya, tak ada sedikit pun keraguan. Seolah pertanyaan itu memang sudah dipersiapkan saat mereka membicarakan mengenai proyek ini. Dan sepertinya, ini adalah pertukaran yang diinginkan pihak Miller—terutama Chase.Daven menarik napas pelan, lalu mengembuskannya. “Saya tidak keberatan jika itu yang Anda inginkan, Tuan Miller.”“Bagus.” Chase tersenyum, tapi matanya masih tajam menilai. “Anda cukup memahami situasi apa yang dihadapi saat itu. Dan bisa kupastikan, Kita bisa saling menguntungkan.”Chris yang sedari tadi diam—menyimak, menganalisa apa yang sebenarnya terjadi, serta merangkumnya untuk dijadikan sebuah kesimpulan. Pantas saja Chase sedikit bersikeras untuk ikut dalam pertemuan siang ini. Ternyata ada tujuan tertentu dan berkaitan dengan calon kakak iparnya. Mungkin nanti akan Chris tanya lebih detail pada Chase, apa yang terjadi.Tapi sebelumnya, Chris tak ingin menjadi pen
“Walikota Harold mengundang Anda makan malam, Tuan Daven,” kata Arsen begitu mereka dalam perjalanan menuju gedung TnC yang ada di pusat kota. “Seperti yang Anda perintahkan, Walikota Harold saya informasikan kedatangan Anda ke SunCity siang ini.”Daven hanya mengangguk saja. Tak terlalu peduli karena Arsen pasti bisa diandalkan untuk beberapa hal. Lagi pula Arsen tahu apa yang harus dilakukan di saat Daven mulai merencanakan proyek di SunCity.Sepanjang jalan menuju TnC Grup, jalan yang mereka lakui tampak lenggang meski banyak aktivitas terjadi. Tak seperti Mighatan yang padat, SunCity bisa dibilang jauh lebih tenang dan sedikit leluasa. Setidaknya di tempat ini Daven bisa sedikit bernapas lega.Pikirannya melayang pada satu titik; pesan Vanessa. Bohong kalau Daven tidak terganggu oleh pesan itu. Wanita licik itu benar-benar luar biasa—mengancamnya tanpa rasa takut. Padahal posisi Vanessa bersalah dan seharusnya berpikir, bagaiman
“Aku akan menjemputmu tepat waktu,” kata Chase sembari menyalakan mesin mobil. Ia baru saja mengantarkan Josh bertemu Miss Spencer. Dan kali ini gilirannya mengantarkan Althea sampai sekolah.Seharusnya ia juga berkantor, mengurus beberapa berkas terkait dengan kurikulum ajar yang dikelola yayasan yang ia pegang. Sayangnya, Chase memiliki urusan yang lebih penting—bersama Chris, bertemu Daven Callister dan membahas mengenai proyek yang sempat tertunda.“Kau tak ke kantor?” Althea tampak heran karena jarang sekali Chase memiliki urusan di luar kantor.“Mungkin satu atau dua hari aku tak berkantor. Ada Nyonya Teana yang akan menggantikanku sementara.”“Kuharap urusanmu segera selesai, Chase.”“Terima kasih, Sayang,” sahut Chase sembari mengerling jahil ke arah Althea.Wanita itu sudah terbiasa dengan tingkah konyol yang Chase miliki. Jadi ia memilih untuk menikmati sisa perjalanan sebelum tiba di sekolah. Bersandar nyaman dan sedikit merileksk
Agak lama Daven mencerna ucapan asisten kepercayaannya itu. Manik mata birunya terus menatap Arsen lekat. Membuat Arsen menunduk canggung. “Jika Anda keberatan, saya segera memberi info—““Tidak,” sela Daven segera. “Hanya saja ini mengejutkanku.” Alis Daven kemudian terangkat. “James?” Nada suaranya merendah, tapi ada ketajaman di sana. “Dia pikir aku punya waktu untuk selingkuhan istriku? Benar-benar pria yang tak tahu malu.”“Saya bisa menolaknya kalau Anda mau,” ulang Arsen hati-hati.Daven diam sejenak, langkahnya kembali bergerak. “Kau tak perlu melakukannya. Arahkan dia ke kedai kopi dekat bandara. Kalau dia mau bicara, aku akan dengar.”Arsen mengangguk, walau dalam hati bertanya-tanya, apa Daven sudah kehilangan kewarasannya? Dia bahkan meluangkan sedikit waktunya untuk bertemu dengan pria, yang punya andil merusak rumah tangganya.***Kedai kopi itu tak terlalu ramai siang ini. Aroma kopi pekat bercampur dengan bunyi denting sendok







