เข้าสู่ระบบKoridor itu remang-remang, sesekali terdengar dentuman bass metal rendah dari dalam aula. Brianna keluar dari toilet dengan mata merah. Suasana hatinya buruk sekali.Sosok pria jangkung dan ramping bersandar di dinding, memainkan sebuah anting berlian. Ujung jarinya memantulkan kilau gemerlap."Sudah selesai nangis? Sudah merasa lebih baik?"Brianna secara refleks ingin menghindar, tetapi pergelangan tangannya sudah digenggam dan tubuhnya ditekan ke dinding. Dengan bantuan cahaya redup di koridor, dia melihat jelas wajah pria itu.Brianna mendongak menatapnya. Sepasang mata indahnya penuh perasaan, tetapi kata-kata yang keluar sedingin embun beku di bawah bulan. "Kamu nggak takut kakakku tahu?"Landon menahan diri dan menarik kembali tatapannya. Ujung jarinya menyeka sudut mata Brianna dengan lembut, menghapus setetes air mata. Sudut bibirnya terangkat tipis. "Aku harus takut apa?""Aku adik dari temanmu, tolong jaga batas." Mata Brianna memerah saat dia berusaha melepaskan diri dari c
Alvian meliriknya. "Kamu ini di pihak siapa? Bajingan itu jauh lebih tua dari adikku. Mau makan daun muda ya? Tega sekali."Saat mereka masih berbicara, pintu tiba-tiba diketuk. Pelayan mendorong pintu. Easton masuk dengan wajah berseri-seri, menggandeng tangan Maggie."Wah, selamat, selamat! Kami sudah lihat postinganmu, cukup pamer ya! Halo, Kakak Ipar! Nggak nyangka setelah mutar-mutar, kamu tetap jadi kakak iparku." Lucano sudah menenggak dua gelas alkohol, jadi bicaranya tak terkontrol.Easton berdecak, mengulurkan tangan mendorong Lucano menjauh, melindungi Maggie sambil berjalan masuk."Istrimu hamil?" Alvian tiba-tiba bertanya.Satu kalimat itu hampir membuat Maggie muntah darah. Di atas kepalanya seakan-akan ada petir menyambar. Ini mesin USG berjalan? Cuma lihat sekilas sudah bisa tahu?Easton mengernyit dan meliriknya. "Kenapa bilang begitu?"Maggie berusaha tetap tenang, meskipun kakinya terasa lemas. Mendengar Easton bertanya begitu, dia langsung memasang telinga untuk men
"Tsk, pantas saja ajak kita semua ke sini. Ternyata mau minta angpau ya." Alvian tertawa, lalu membuka foto itu dan melihatnya sekilas.Landon tanpa sadar mengangkat sudut bibirnya, lalu menatap Brianna.Wajah gadis kecil itu sangat masam. Bibirnya terkatup rapat menjadi satu garis lurus, sementara tangannya terkulai lemas. Lucano menyelamatkan ponselnya dengan sigap."Ada apa, Brianna? Kamu nggak enak badan? Kok wajahmu jadi sepucat itu?" Lucano berseru pelan, bahkan tak peduli lagi pada ponsel yang tadi hampir jatuh ke lantai, lalu berjalan ke sisi Brianna.Alvian juga berdiri. Ekspresinya sedikit berubah."Maaf, aku perlu ke toilet sebentar." Brianna memaksakan seulas senyuman. Tangannya sedikit gemetar.Alvian bertanya pelan, "Bagian mana yang nggak enak? Kakak antar kamu pulang.""Aku nggak apa-apa, jangan urus aku." Nada Brianna kurang bersahabat, wajahnya jelas menuliskan "jangan ganggu aku", tetapi hanya sesaat. Dia menarik napas dalam-dalam, "Kak, biarkan aku sendiri sebentar,
"Kamu galak sama aku, tapi aku nggak boleh nangis? Keterlaluan level maksimal!" Setelah ragu beberapa detik, Maggie tetap tak sanggup melakukan hal jorok seperti mengusapkan ingus ke tubuh orang lain. Dia menarik napas, semakin berbicara semakin merasa sedih.Easton belum pernah dengar kalimat aneh seperti itu. Dia menghela napas. "Aku nggak marah lagi, salahku. Jangan nangis. Nanti kalau orang lihat, dikira aku culik kamu buat dinikahin.""Jadi, kamu masih mau marahin aku?" Maggie kesal, membuka mulut, lalu menggigit cuping telinganya. Tidak keras, tetapi cukup untuk meninggalkan deretan bekas gigi kecil.Jakun Easton bergerak naik turun. Dia akhirnya mengalah. Suaranya sedikit serak. "Nggak marah lagi."Maggie tidak berbicara lagi. Dia membenamkan wajahnya di lekuk leher Easton, menghirup aroma mint dan cendana dingin dari tubuhnya.Pegawai kantor catatan sipil sedang membereskan barang. Sepuluh menit lagi jam kerja selesai. Detik sebelumnya, mereka masih membicarakan mau makan siang
Easton turun beberapa anak tangga dan berdiri di depannya, sudut bibirnya sedikit terangkat.Maggie menatapnya dengan bingung, "Kamu tersenyum apa?""Aku berharap kali ini kita bisa punya akhir yang bahagia." Easton tidak merasa menaiki puluhan anak tangga itu melelahkan. Dulu mereka sudah pernah pergi ke kantor catatan sipil. Mobil berhenti tepat di depan, lalu mereka langsung masuk.Menurutnya, seperti ini justru bagus. Tempat yang berbeda untuk mengurus prosedur, menyambut masa depan baru mereka. Easton tidak berkata apa-apa lagi, dia melangkah turun satu anak tangga."Jangan ...." Maggie langsung mengerti. Dia tahu Easton ingin menggendongnya, lalu memohon dengan suara pelan, "Banyak orang, jangan digendong."Easton membalikkan badan dan berjongkok di sampingnya, "Nggak gendong depan, aku gendong di punggung.""Hah?" Maggie berkedip. Ujung hidungnya sudah dipenuhi keringat halus. Di bawah terik matahari, dia berdiri di tempat dan saling tarik-ulur dengan Easton."Kamu sengaja? Menu
Mobil melaju dengan stabil di jalan. Tiba-tiba, Maggie menggenggam balik tangan Easton. Sentuhan dingin itu membuat kelopak mata Easton berkedut, "Dingin?"Belum sempat Maggie menjawab, Easton sudah menyuruh sopir menaikkan suhu AC.Kaeso sangat sigap. Dia segera mengambil selendang dari rak penyimpanan di kursi depan, membuka bungkusnya lalu menyerahkannya kepada Easton.Maggie tertawa getir, "Kenapa di mobil selalu ada selendang dan selimut? Kaeso seperti Doraemon saja, apa pun bisa dia keluarkan."Kaeso menyeringai. Baru saja dia menoleh, pandangannya langsung bertemu dengan sorot mata dingin dan tajam milik atasannya.Dia seketika menahan senyum, lalu kembali menjadi robot pekerja tanpa perasaan. Bibirnya bergerak teratur, mengucapkan kalimat sopan yang terdengar seperti template, "Nyonya terlalu memuji. Semua ini perhatian dari Pak Easton. Saya hanya sekadar menyampaikan."Maggie merasa ada yang aneh. Anak buah Easton kenapa semuanya seperti robot, bahkan bercanda pun tidak bisa.







