Share

Bab 149

Penulis: Emily Hadid
Hari semakin larut. Baru ketika para petugas datang untuk melakukan pemeriksaan dan pembersihan, Clara beranjak pergi.

Dalam perjalanan pulang, tiba-tiba turun hujan deras. Clara menggenggam kemudi dengan kedua tangan. Saat pikirannya melayang ke masa lalu, memikirkan pekerjaan dan proyek, ponsel yang diletakkan di samping tiba-tiba berdering.

Itu telepon dari Jonas.

Clara mengangkatnya sambil tersenyum dan menyapa, "Jonas."

Di seberang sana, Jonas berkata, "Clara, aku dengar patenmu sudah terjual dan kamu juga jadi penanggung jawab proyek. Selamat ya."

Kedua tangan tetap memegang kemudi, Clara tersenyum dan menyahut, "Kontraknya ditandatangani kemarin dengan Pak Alain. Terima kasih, Jonas."

Jonas menambahkan, "Punya awal baru dalam pekerjaan itu hal yang baik, tapi jangan cuma fokus kerja saja. Kalau ada waktu, tetap kumpul sama kami."

Clara membalas, "Oke."

Tak lama setelah menutup telepon, panggilan dari Levin pun masuk, juga untuk mengucapkan selamat kepadanya.

Setelah itu, dia ber
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 188

    Clara mengangkat kepala menatapnya. Melihat suasana hatinya tampak kurang baik dan luka di dahinya juga cukup jelas, dia berkata dengan suara lembut, "Kita nggak cocok."Selama tiga tahun ini, seberapa keras dia sudah berusaha, sekarang justru terlihat betapa mereka tidak cocok.Rendra menatap Clara begitu saja, tidak mengatakan apa-apa lagi. Keduanya pun terdiam dalam kebuntuan.Tak lama kemudian, Rendra yang lebih dulu bergerak. Dia berjalan ke meja kopi, membungkuk, lalu mematikan sisa rokok di asbak.Untuk sesaat, suasana di kamar tidur menjadi agak sesak. Clara menarik kembali pandangannya. Saat dia berbalik tanpa sepatah kata pun dan hendak pergi, Rendra maju cepat dua langkah dan langsung mencengkeram pergelangan tangannya.Clara berbalik, mendongak menatapnya. Namun saat itu juga, Rendra melepaskan tangannya.Dia memalingkan tubuh ke samping, memasukkan kedua tangan ke saku celana, dan untuk sementara tidak mengatakan apa pun.Melihat itu, Clara mengusap pergelangan tangan yang

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 187

    Saat mereka baru menikah dulu, Clara hampir setiap hari menunggunya pulang seperti ini. Namun, dia tidak pernah berhasil menunggu Rendra. Karena itu, belakangan dia tidak lagi menyiapkan apa pun.Clara pergi ke dapur mengambil peralatan makan, lalu menyerahkannya kepada Rendra. Dia melihat Rendra sudah melepas kain kasa di dahinya. Lukanya cukup besar dan cukup jelas.Menerima peralatan makan yang diserahkan Clara, Rendra berkata dengan nada datar, "Duduk."Mendengar ucapannya, Clara duduk di seberangnya, lalu kembali melirik lukanya dan berkata, "Kemarin aku memang nggak sengaja."Kemudian, dia bertanya lagi, "Kamu sudah ke rumah sakit? Sudah suntik tetanus?"Rendra menjawab, "Nggak apa-apa, nanti tinggal dioles obat saja."Kemudian, dia melanjutkan, "Bagian legal sudah menyelesaikan perhitungan aset. Nanti aku kasih satu salinan daftar untukmu, kamu lihat apa ada yang secara khusus kamu inginkan."Rendra tiba-tiba membahas hal ini. Clara langsung mendongak menatapnya. Jadi, obrolan y

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 186

    Caroline sangat cerdas. Dia pandai membaca situasi dan tahu bagaimana meredam konflik. Dia mengangkat tangan mengambil berkas di atas meja. Tangannya dengan alami terlepas dari tangan Rendra.Rendra berkata, "Kita bicarakan siang nanti, kamu pergi rapat dulu."Rendra tidak lagi menyinggung soal barusan. Caroline pun tersenyum dan berbasa-basi dengannya beberapa kalimat, lalu bangkit dan pergi.Di luar pintu, saat menutup pintu dengan pelan, Caroline tak kuasa menoleh sekali lagi. Teringat ucapan Rendra tadi yang mengatakan Clara adalah istriku, ekspresinya langsung meredup. Seluruh dirinya terasa hampa.Clara adalah istrinya, lalu dirinya ini apa? Dia sudah menunggu Rendra selama itu, lalu semua itu berarti apa?Menatap kantor Rendra dengan perasaan pilu, tangan kanan Caroline perlahan melepaskan gagang pintu. Pada akhirnya, dia tetap berbalik dan pergi.Rendra adalah miliknya, milik Keluarga Winandy.....Pada saat yang sama, Clara baru saja merapikan laporan eksperimen beberapa hari

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 185

    Menghadapi pertanyaan Caroline, Rendra tetap membolak-balikkan dokumen di tangan dengan tenang, lalu berkata dengan nada datar, "Aku sudah menyuruh Frandy menolak proyek itu."Di seberang meja kerja, punggung Caroline langsung menegak. Dengan wajah terkejut, dia menatap Rendra dan bertanya, "Kenapa? Proyek Grandis itu sangat menjanjikan dan sudah berjalan sampai tahap tertentu. Sekarang hanya kurang pendanaan lanjutan, ini sebuah peluang."Melihat ekspresi heran Caroline, Rendra meletakkan dokumen di tangannya dengan tenang, lalu mengangkat kepala menatapnya. Tatapannya datar, suaranya dingin. "Menurutmu kenapa?"Begitu tahu Rendra tidak akan berinvestasi di proyek itu, Caroline langsung cemas. Dia bertanya, "Karena Clara? Tapi ini nggak ada hubungannya dengan Clara. Dia mengerjakan penelitiannya, kita berinvestasi di proyek kita. Dua proyek sama-sama bisa menghasilkan uang. Kita cuma berinvestasi, bukan mengerjakan teknologinya."Belum sempat Rendra berbicara, Caroline sudah melanjutk

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 184

    Dia tidak berniat menyakiti Rendra.....Sementara itu, di kamar utama sebelah.Mengingat kepanikan Clara barusan, teringat bagaimana dia sampai memanggil "Kak Rendra", Rendra merasa ingin tertawa.Clara tetap sama seperti dulu. Sebenarnya, tadi dia juga tidak mengerahkan seluruh tenaganya. Kalau tidak, dia sudah berhasil menaklukkan Clara.Hanya saja, melihat Clara begitu panik, melihatnya seperti saat masih kecil dulu, Rendra sengaja menggodanya sedikit.Rendra duduk di tepi ranjang, mengangkat tangan dan menyeka darah di dahinya. Setelah itu, dia bangkit, mengambil kotak P3K, lalu masuk ke kamar mandi untuk menangani lukanya.Dia tidak membangunkan Kinara dan yang lainnya. Setelah lukanya selesai ditangani, Rendra juga mengganti seprai, sarung bantal, dan selimut di ranjang.Selesai melakukan semua itu, Rendra pergi ke kamar sebelah dan mengetuk pintu kamar Clara. "Clara, buka pintunya."Dia menambahkan, "Tadi aku yang menakutimu. Aku minta maaf. Buka pintunya. Aku mau lihat tanganm

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 183

    Clara kembali jatuh ke sofa. Dia bertanya, "Rendra, sebenarnya kamu mau apa? Lagi pula saat kamu menginterogasiku seperti ini, bukankah aku juga berhak bertanya padamu? Bukannya kamu bilang baru akan pulang dua hari lagi? Kenapa hari ini tiba-tiba pulang lebih awal?"Menghadapi kelincahan Clara, Rendra justru bertanya, "Jadi, kamu suka Alain?"Selesai berkata begitu, Rendra langsung mengulurkan tangan mengambil ponsel dari meja kecil.Melihat itu, Clara seketika merebut ponselnya. "Jangan asal menelepon! Jangan bikin lingkungan kerjaku jadi rumit! Jangan selalu samakan urusan sampahmu denganku!"Baru saja Clara selesai berbicara, Rendra tiba-tiba membungkuk dan langsung mengangkatnya ke pundak.Clara kaget setengah mati. Kedua tangannya memukul punggung Rendra. "Rendra, kamu ngapain? Turunkan aku!"Rendra sama sekali tidak mendengarkannya. Dengan tenaga tidak ringan tetapi juga tidak berlebihan, dia melemparkan Clara ke atas ranjang, lalu menindihnya dalam pelukannya. Dia sudah menahan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status