เข้าสู่ระบบ
Tepuk tangan bergemuruh saat kedua mempelai telah sah sebagai suami istri. Raut bahagia terpancar dari pengantin pria dan wanita yang serasi mengenakan busana berwarna putih. Mereka saling tatap malu-malu.
Acara itu hanya dihadiri keluarga inti saja. Pesta sederhana di pesisir pantai Bali yang eksotik. Nuansa warna putih serta krim, menghiasi hamparan pasir putih.
Di tengah kegembiraan itu, seorang pria berbusana batik hitam duduk termenung sendirian, wajahnya sedikit muram. Ia terus menatap sekeliling, takut jika majikan perempuannya tiba-tiba hadir di sana. Meskipun, tidak mungkin ada yang memberitahu tentang pernikahan suaminya.
"Tidak makan Pak?" tanya pengantin pria di belakangnya.
Ia menoleh serta kaget, lalu berkata, "sudah Tuan,saya ... Benar-benar takut."
"Tidak perlu takut, kamu cukup bersikap seperti biasa, yang saya lakukan bukanlah pembunuhan. Saya juga akan menceritakan ini semua nanti pada Andini," tukas Fahmi seraya mengeluarkan amplop coklat dari tas hitam selempang miliknya. Ia menyerahkan amplop tebal itu pada Bagas sang sopir. "Ambilah! Kalau kurang, Pak Bagas bisa minta lagi."
"Tapi Tuan ... Saya ...," ucapannya terhenti.
"Semua akan baik-baik saja," bisik Fahmi.
Bagas menerima amplop itu, tangannya gemetar. Memang ia sedang membutuhkan uang banyak untuk pengobatan sang istri di kampung. Jika hanya mengandalkan gaji bulanannya saja, tentu belum cukup.
"Sayang,"
Dari sebelah barat tampak seorang wanita melambaikan tangan. Lekuk tubuhnya selalu membuat Fahmi tergoda. Memiliki tubuh seperti jam pasir dan tinggi semampai. Rambutnya meliuk-liuk saat wanita itu setengah berlari.
"Aku cari kamu, kamu disini," keluh wanita itu manja.
"Lagi ngobrol sama Pak Bagas," jelas Fahmi mencium kening wanita yang baru saja beberapa menit lalu menjadi istrinya.
"Pak Bagas sudah makan? Muka nya pucet banget," tebak Indri mengerutkan dahi.
"Sudah," jawabnya singkat menunduk.
"Emh ... Sayang kita ngobrol di sana yuk! Sambil menikmati suara ombak," ajak Fahmi menganggandeng lengan Indri.
Kedua pengantin itu berlarian menuju tepi pantai. Sesekali ombak datang dan menyapu gaun yang dikenakan. Gelak tawa dari keduanya begitu renyah terdengar, sehingga membuat orang di sekitar lokasi pun merasakan kebahagiaan mereka.
"Aku bahagia hari ini," ucap Indri matanya menatap langit yang mulai jingga.
"Aku juga," balas Fahmi menoleh kearah Indri.
Wanita berambut lurus hitam itu berjalan sedikit, sambil menggendong kedua tangannya. "Tapi, kenapa keluarga mu tidak ada yang datang?"
"Mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing, apalagi semenjak kedua orang tuaku meninggal, aku tidak terlalu dekat dengan mereka," jelas Fahmi sedikit gugup.
Indri menatap Fahmi serius, ia memegangi dada bidang suaminya lalu memgelus perlahan. Ia meletakan kepala dan memeluk erat.
"Aku gak tau, kalau saja hari itu kita tidak bertemu, mungkin ...,"
"Jangan di ungkit lagi, aku tidak mau kamu sedih di hari bahagia kita," tutur Fahmi menyela perkataan Indri. Ia mekanjutkan, "aku akan selalu ada untukmu, sampai kapanpun."
"Terimakasih ya sayang," ungkap Indri menenggelamkan kepalanya.
"Kamu akan aman bersamaku, aku juga sudah meminta polisi untuk mencari dan menangkap mantan pacarmu itu," jelas Fahmi.
"Tapi, dia masih selalu mengancamku, setiap aku ganti nomor pasti dia selaku tau," keluh Indri.
"Tidak usah khawatir,"
Indri tersenyum mendengar kata-kata itu. Ia kembali menikmati kehangatan tubuh Fahmi di tengah semilir angin dingin.
"Tuan!" seru Bagas terengah-engah.
Fahmi menoleh kearah sopirnya itu. Bagas memberikan kode jika ada telepon masuk dari majikan perempuannya. Fahmi langsung melepaskan pelukan erat Indri.
"Sayang, aku harus menerima telepon dari client dulu ya," tutur Fahmi menjauh perlahan.
"Loh, mereka tidak tahu kalau kamu sedang melangsungkan acara," gerutu Indri.
"Mungkin ini sangat penting," ujar Fahmi menyongsong Bagas.
Ia meraih ponsel miliknya yang di pegang Bagas. Jantungnya berdegup kencang, ia menjauh dari tempat Indri berdiri.
"Hallo,"
"Kamu dimana sayang? Pak Julian mencarimu, dia bilang susah menghubungi kamu," gerutu seorang perempuan dari dalam ponsel itu.
"Aku ... Sebentar lagi pulang sayang, aku belum menemukan lokasi yang cocok untuk butik baru kamu di sini," ujar Fahmi sedikit memelankan suara.
"Sayang, aku sudah bilang tidak perlu membuka cabang di luar kota apalagi di luar pulau untuk saat ini, aku belum siap," tukasnya.
"Kamu jangan khawatir, suami mu ini kaya raya. Aku bisa menghandle segalanya, mulai dari karyawan, logistik dan semuanya," hibur Fahmi.
"Hahaha ... Kamu ini, ya sudah cepat pulang. Tidak ada kamu satu minggu membuatku kesepian," katanya terkekeh-kekeh.
"Bagaimana bisa dihubungi?" tanya Fahmi dengan nada panik, pandangannya tidak fokus berkali-kali menoleh jok belakang tempat Andini duduk. Andini menggeleng, tanpa menatap Fahmi. Ia merasa begitu bodoh, harus mengikuti permintaan Fahmi. Tidak ada suara keluar dari mulut wanita itu, sejak memasuki mobil. Ia hanya menatap ke luar jendela, memandangi jalanan Ibukota yang selalu ramai. "Sialan!" decak Fahmi menghantam stir mobilnya. "Coba pakai ponsel kamu Mas," bujuk Sintya yang duduk di sampingnya. "Tertinggal di apartemen, tapi ... aku tau, kemana dia akan membawa Indri." Fahmi memutar stir, ia berbelok menjauh dari jalan protokol. "Kalau kamu tidak memposting apapun di sosial media, ini semua tidak akan terjadi," tambah Fahmi menggerutu. "Apa aku salah jika mencari pembelaan?" "Kamu bukan mencari pembelaan, tapi mencari sensasi dan kegaduhan!" "Memangnya penculikan Indri, itu sebabku?" Andini bergejolak, ia memasang wajah garang. "Tentu saja, bisa saja ada ora
Ia membekap mulut Indri, pekikan dari wanita itu masih terdengar samar. Indri berusaha melindungi dirinya, dengan memukuli dada Alex menggunakan kedua tangannya. Ia juga hendak menendang dengan kaki, saat Alex mulai menciumi kedua pipi Indri secara paksa. Melihat itu, lelaki bertubuh lebih besar dari Indri hanya tertawa sedemikian keras, merasa puas. Namun, aksi Alex tersebut terhenti oleh suara dering dari ponsel Indri. Alex berdecak kesal, ia melepaskan tangannya dari mulut Indri. Gadis itu mencoba mengatur nafas dalam ketakutannya. "Siapa itu?" tanya Alex menoleh sedikit kearah ponsel yang digenggam Indri. "Mbak Andini," ucap Indri gemetar. Sigap Alex merebut ponsel itu, Indri berusaha merebut kembali. Namun, tenaga Alex lebih besar dari dirinya. Ia kembali dibekap sekuat tenaga saat Alex menerima telepon tersebut. "Hallo ... Ha-ha-ha, kalau kamu ingin Indri selamat, berikan uang dua miliyar untukku!" ancam Alex dengan suara keras. Mata Indri membulat lebar, dua mil
"Apa?" Fahmi tersentak dengan wajah memerah. Sialnya, dia tidak membawa ponsel. "Coba hubungi Indri," perintah Fahmi memohon. "Kamu saja yang hubungi, itu bukan urusanku." Andini melenggang begitu saja, disusul Sintya dibelakangnya. "Aku minta tolong," ucap Fahmi suaranya lirih. Mendengar itu, Andini menghentikan langkah. Ia menghela nafas berat, haruskan ia menolong orang yang telah menghancurkan rumah tangganya. Itu adalah sebuah ketidak mungkinan. "Kali ini saja, tolong ... telpon Indri, tanyakan keadaan dia," bujuk Fahmi melas. Andini menatap kearah Sintya, gadis di sampingnya itu mengangguk samar. Namun, matanya seolah berkata tidak perlu. Dilema dan bingung, masih banyak permasalahan yang harus Andini selesaikan. "Andini, tolong ini demi anakku," Fahmi memohon dengan suaranya yang gemetaran, seketika ia menangis sesegukan begitu saja. Pemandangan itu sedikit menjijikan di mata Andini, ia mendelikan mata keatas. Sambil mencibir dalam hati bagaimana Fahmi memohon. "Oke, t
"Ini semua karena postingan kamu! pak Julian dan Om Hans batal menjadi investor di perusahaanku," hardik Fahmi berjalan kearah Andini dengan bahu naik turun. Wajahnya merah, bola mata melotot seakan mau keluar. Tangannya mengepal dengan urat yang nampak. Andini tak gentar, ia menengadahkan kepala menyambut Fahmi yang kian mendekat. Kedua pasang mata mereka saling bertatapan, tak ada kata yang keluar dari keduanya. Ruangan itu kian memanas, menjadi saksi bisu ketika tangan Fahmi melayang menampar pipi Andini. Hingga, Andini tersungkur jatuh tak berdaya. Air matanya jatuh setetes, namun tidak membuat ia ciut atau takut. "Kamu harus menghapus postingan itu!" bentak Fahmi. Andini tertawa seraya menyeka air matanya dan bangkit, ia menatap tajam kearah Fahmi dan berkata, "semua orang sudah tahu kelakuan kamu, kamu harus bisa menerima konsekuensinya." "Apa yang aku lakukan bukanlah kriminal, ada banyak laki-laki yang berpoligami di dunia ini dan itu bukanlah hal ilegal," tambah Fahmi. "
"Kamu lihat! netizen sudah menghujat aku Mas!" bentak Indri menunjuk-nunjuk ke ponsel yang ia pegang. Fahmi merebut ponsel itu, ia memperhatikan dengan seksama. Beberapa DM dari pengikut Indri, hujatan dan ujaran kebencian terlontar begitu saja. Fahmi mempererat genggaman tangannya, urat di atas punggung tangannya timbul, bibirnya menutup dan giginya gemeretak. "Andini," gumam Fahmi kesal. "Aku gak mau kehilangan pekerjaan aku,yang sudah aku bangun dengan susah payah," caci Indri sesegukan. "Iya, aku akan meminta Andini untuk menghapus semua postingan tentang ini," timpal Fahmi. "Menghapus? Terlambat! Semua orang sudah tahu,dan semua orang mengira aku ini gundik! Wanita murahan! Padahal, jelas-jelas aku juga korban." Wanita itu mondar-mandir dengan menggigiti jari telunjuk. Perasaan resah dan gelisah menyelimuti tubuh Indri. "Huek! Huek ...." Indri memegangi perutnya yang terasa mual. "Sayang, kamu ...kenapa?" tanya Fahmi mendekat. "Jangan mendekati aku!" sergah Indri menepis d
"Mau apa kamu?" tanya Indri tanpa menoleh. "Hanya ingin tahu kabarmu, memastikan kamu tidak betul-betul bahagia dengan pernikahanmu! Apalagi ... kamu menikah dengan suami orang," ujar lelaki itu. Laki-laki itu berjalan mendekati Indri. Keringat dingin menyeringai di area pelipis dan kening. Indri terus memencet-mencet tombol lift di depannya panik. "Ayo buka," rintih Indri melirik sedikit kearah mantan pacarnya itu. Saat pintu terbuka, Indri buru-buru masuk untung saja dalam lift itu ada beberapa orang yang hendak naik dari basement. Ia menyelipkan diri diantara mereka. Lelaki itu hanya berdiam diri, berdecak kesal karena gagal menghampiri Indri. Ia menghentakkan kakinya ke lantai penuh emosi. "Awas kamu!" ancam lelaki itu menatap kearah lift. Dengan tergesa-gesa, Indri langsung keluar dari dalam lift setelah pintu terbuka pada lantai tujuannya. Tangannya gemetar hebat, jantungnya masih bertalu-talu. Kartu akses yang ia pegang pun sempat terjatuh. Ia terhenti di pintu, sekit
Malam itu Andini belum memejamkan mata, ia masih menatap layar ponselnya. Memeriksa CCTV yang ia pasang, meski tak sekalipun ia mendapatkan sebuah kejutan. “Mungkin benar, Fahmi ke tempat bilyard,” gumam Andini.Tak lama terdengar suara mesin mobil yang menepi di halaman rumahnya. Ia segera beranj
"Kamu main bilyard sama siapa aja?" tanya Andini sambil membetulkan jaket Fahmi. Ia meraba keseluruhan dada bidang Fahmi. Tercium aroma parfum yang begitu menyengat, sehingga Andini sedikit ingin batuk. "Seperti biasa, Aditya, Raihan ... Sebelum itu aku akan menemui pak Julian," jelas Fahmi. Andi
Lampu menyala seketika, Andini menyipitkan matanya sedikit silau. Ruangan dengan satu kamar tidur itu terasa sunyi. Andini melangkah lagi menyusuri setiap sudut di susul Sintya. "Seperti ditinggalkan sudah lama," kata Sintya seraya meletakan jari telunjuk di atas meja kayu, "berdebu." "Lihat!" tu
Hari berpindah, Andini dan Fahmi tetap menjalani hidup seperti biasa. Namun, Andini sedikit curiga pada suaminya itu. Fahmi jarang pulang, dan ketika kerumah akan tercium bau parfum yang bukan milik Fahmi. Andini juga sempat memergoki Fahmi tengah chattingan malam hari ketika Andini setengah tid







