Share

Pernikahan Rahasia Suamiku
Pernikahan Rahasia Suamiku
Author: Brown Sugar

#1 Hari pernikahan

Author: Brown Sugar
last update publish date: 2026-05-31 07:11:59

 Tepuk tangan bergemuruh saat kedua mempelai telah sah sebagai suami istri. Raut bahagia terpancar dari pengantin pria dan wanita yang serasi mengenakan busana berwarna putih. Mereka saling tatap malu-malu. 

 Acara itu hanya dihadiri keluarga inti saja.  Pesta sederhana di pesisir pantai Bali yang eksotik. Nuansa warna putih serta krim, menghiasi hamparan pasir putih. 

 Di tengah kegembiraan itu, seorang pria berbusana batik hitam duduk termenung sendirian, wajahnya sedikit muram. Ia terus menatap sekeliling, takut jika majikan perempuannya tiba-tiba hadir di sana. Meskipun, tidak mungkin ada yang memberitahu tentang pernikahan suaminya. 

"Tidak makan Pak?" tanya pengantin pria di belakangnya. 

 Ia menoleh serta kaget, lalu berkata, "sudah Tuan,saya ... Benar-benar takut." 

"Tidak perlu takut, kamu cukup bersikap seperti biasa, yang saya lakukan bukanlah pembunuhan. Saya juga akan menceritakan ini semua nanti pada Andini," tukas Fahmi seraya mengeluarkan amplop coklat dari tas hitam selempang miliknya. Ia menyerahkan amplop tebal itu pada Bagas sang sopir. "Ambilah! Kalau kurang, Pak Bagas bisa minta lagi." 

"Tapi Tuan ... Saya ...," ucapannya terhenti. 

"Semua akan baik-baik saja," bisik Fahmi. 

 Bagas menerima amplop itu, tangannya gemetar. Memang ia sedang membutuhkan uang banyak untuk pengobatan sang istri di kampung. Jika hanya mengandalkan gaji bulanannya saja, tentu belum cukup. 

"Sayang," 

 Dari sebelah barat tampak seorang wanita melambaikan tangan. Lekuk tubuhnya selalu membuat Fahmi tergoda. Memiliki tubuh seperti jam pasir dan tinggi semampai. Rambutnya meliuk-liuk saat wanita itu setengah berlari. 

"Aku cari kamu, kamu disini," keluh wanita itu manja. 

"Lagi ngobrol sama Pak Bagas," jelas Fahmi mencium kening wanita yang baru saja beberapa menit lalu menjadi istrinya. 

"Pak Bagas sudah makan? Muka nya pucet banget," tebak Indri mengerutkan dahi. 

"Sudah," jawabnya singkat menunduk. 

"Emh ... Sayang kita ngobrol di sana yuk! Sambil menikmati suara ombak," ajak Fahmi menganggandeng lengan Indri. 

Kedua pengantin itu berlarian menuju tepi pantai. Sesekali ombak datang dan menyapu gaun yang dikenakan. Gelak tawa dari keduanya begitu renyah terdengar, sehingga membuat orang di sekitar lokasi pun merasakan kebahagiaan mereka. 

"Aku bahagia hari ini," ucap Indri matanya menatap langit yang mulai jingga. 

"Aku juga," balas Fahmi menoleh kearah Indri. 

Wanita berambut lurus hitam itu berjalan sedikit, sambil menggendong kedua tangannya. "Tapi, kenapa keluarga mu tidak ada yang datang?" 

"Mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing, apalagi semenjak kedua orang tuaku meninggal, aku tidak terlalu dekat dengan mereka," jelas Fahmi sedikit gugup. 

Indri menatap Fahmi serius, ia memegangi dada bidang suaminya lalu memgelus perlahan. Ia meletakan kepala dan memeluk erat. 

"Aku gak tau, kalau saja hari itu kita tidak bertemu, mungkin ...," 

"Jangan di ungkit lagi, aku tidak mau kamu sedih di hari bahagia kita," tutur Fahmi menyela perkataan Indri. Ia mekanjutkan, "aku akan selalu ada untukmu, sampai kapanpun." 

"Terimakasih ya sayang," ungkap Indri menenggelamkan kepalanya. 

"Kamu akan aman bersamaku, aku juga sudah meminta polisi untuk mencari dan menangkap mantan pacarmu itu," jelas Fahmi. 

"Tapi, dia masih selalu mengancamku, setiap aku ganti nomor pasti dia selaku tau," keluh Indri. 

"Tidak usah khawatir," 

Indri tersenyum mendengar kata-kata itu. Ia kembali menikmati kehangatan tubuh Fahmi di tengah semilir angin dingin. 

"Tuan!" seru Bagas terengah-engah. 

Fahmi menoleh kearah sopirnya itu. Bagas memberikan kode jika ada telepon masuk dari majikan perempuannya. Fahmi langsung melepaskan pelukan erat Indri. 

"Sayang, aku harus menerima telepon dari client dulu ya," tutur Fahmi menjauh perlahan. 

"Loh, mereka tidak tahu kalau kamu sedang melangsungkan acara," gerutu Indri. 

"Mungkin ini sangat penting," ujar Fahmi menyongsong Bagas. 

Ia meraih ponsel miliknya yang di pegang Bagas. Jantungnya berdegup kencang, ia menjauh dari tempat Indri berdiri. 

"Hallo," 

"Kamu dimana sayang? Pak Julian mencarimu, dia bilang susah menghubungi kamu," gerutu seorang perempuan dari dalam ponsel itu. 

"Aku ... Sebentar lagi pulang sayang, aku belum menemukan lokasi yang cocok untuk butik baru kamu di sini," ujar Fahmi sedikit memelankan suara. 

"Sayang, aku sudah bilang tidak perlu membuka cabang di luar kota apalagi di luar pulau untuk saat ini, aku belum siap," tukasnya. 

"Kamu jangan khawatir, suami mu ini kaya raya. Aku bisa menghandle segalanya, mulai dari karyawan, logistik dan semuanya," hibur Fahmi. 

"Hahaha ... Kamu ini, ya sudah cepat pulang. Tidak ada kamu satu minggu membuatku kesepian," katanya terkekeh-kekeh. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pernikahan Rahasia Suamiku    #12 (Pov Indri) Ada hubungan apa?

    Aku merogoh ponsel yang seunyi itu, membuka kunci dan gambar pertama yang tampak adalah foto diriku dan Mas Fahmi, saat itu kami berdua tengah pre-wedding. Namun, yang aku pasang sebagai wallpaper hanya tampak punggung saja. Layar ponsel terus aku gulir ke atas dan ke bawah. Pesan masuk terakhir dari Mas Fahmi adalah empat hari yang lalu, itupun saat di Bali ketika dia berada di tempat gym. Aku mencoba menghubunginya lagi, tetap sama tidak aktif. Jantungku berdegup, takut sesuatu terjadi pada dirinya. Tidak ada kontak lain, saudara bahkan teman terdekatnya, begitupun nomor sopirnya. Bahkan, aku secara diam-diam mengunjungi apartemen tadi pagi sekali, dia tidak ada disana. "Argh!" pekik ku membanting ponsel berlogo apel itu. "Mas, kamu kemana sih?" ucap ku menutup seluruh wajah dengan telapak tangan. Ting ...! Pemberitahuan pesan masuk, segera aku mengambil lagi ponselku. Aku mulai bisa tenang, lega. Tetapi, itu bukan dari mas Fahmi, melainkan dari mbak Andini. Dia memintaku untu

  • Pernikahan Rahasia Suamiku    #11 (Pov Indri) Mulai curiga

    Setelah pulang dari menemui mbak Andini, aku langsung menuju kamar. Penjelasan dia tentang sosok suaminya itu masih terngiang-ngiang di telingaku. Aku jadi sedikit curiga pada mas Fahmi, apalagi saat hari pernikahan tidak ada satupun sanak saudaranya yang datang. Aku termenung sambil memainkan cincin nikah yang berada di dalam kotak berwarna merah. Memandangnya terus menerus, permatanya berkilau saat terkena sinar matahari. Suara ketukan pintu membuatku kaget, aku menyambut orang yang mengetuk pintu kamarku itu. Mamaku,dia berdiri di hadapanku dengan senyuman manis yang selalu aku lihat tiap saat. “Kamu baru pulang Nak?” tanya mama tersenyum. “Iya mam,” jawabku mengajak mama masuk. Kulihat matanya menyoroti setiap ruangan di kamarku, mama memang jarang masuk kesana. Apalagi, setelah aku menjadi Influencer katanya takut mengganggu saat aku sedang membuat konten endorse atau live. “Fahmi belum pulang?” mama menatapku penuh tanya. “Belum mam, dari kemarin aku belum bisa menghub

  • Pernikahan Rahasia Suamiku    #10 Curhat pada gundik

    Andini masih terdiam dalam tatapannya pada Indri. Hingga wanita berusia lebih muda darinya itu jadi salah tingkah. “Mbak Andini,” sapa Indri melambaikan tangan di depan wajah Andini dengan tatapan kosong. Sekali lagi, ia terjerat dalam pikirannya. Andini mengerjap sambil tersipu malu. “Kelihatannya Mbak Andini lagi banyak pikiran ya?” tebak Indri penasaran memiringkan kepalanya. “Iya, sedikit sih cuman … selalu kepikiran,” jelas Andini melantur. Ia beranjak menuju dispenser, jari telunjuknya menekan tombol air dingin. Hingga satu gelas penuh, Andini meneguk air putih itu hingga habis. Parinya terasa sesak,ia mengatir nafas yang tersengal-sengal itu. “Kalau Mbak mau cerita, Mbak boleh cerita sama saya,” ucap Indri agu-ragu. Ia masih memandangi Andini dengan wajah penasaran. “Memangnya kamu sanggup mendengarkan semua ceritaku,” ledek Andini memicingkan matanya, “aku takut kamu nanti malah overthinking sama suami kamu.” “Ha-ha-ha … apa hubungannya dengan suamiku?” tanya Indri bahu

  • Pernikahan Rahasia Suamiku    #9 Di interview istri sah

    “Andini, kamu kenapa?” Jessica membuyarkan lamunan Andini. Ia terperanjat dengan jantung yang berdegup kencang. “Eh, nggak.” Andini menstabilkan dirinya, “emh … Jess, aku mau interview dulu Indri, boleh?” “Boleh dong, ya udah aku keluar ya,” ujar Jessica, ia mengambil tas miliknya lalu meninggalkan ruangan itu. Hanya ada Andini dan Indri berdua saja. Ruangan itu penuh hening sebelum Andini memulai percakapan. “Kamu … udah berapa lama gabung di queen Management?” tanya Andini sedikit gugup.“Sudah hampir satu tahun Mbak, tadinya saya kerja di Malaysia jadi asisten salah satu artis di sana,” jelas Indri tatapannya penuh haru. “Oh, berarti kamu sudah paham dunia entertainment sejak kamu bekerja di Malaysia?” Indri mengangguk sambil terus menyimpulkan senyuman manisnya. Andini melanjutkan beberapa pertanyaan. “Kamu masih single atau sudah menikah? maaf ya aku tanya gini,” ucap Andini.“Its okay, Mbak aku … sudah menikah,” jelas Indri menjawab dengan ragu, “baru satu minggu yang lal

  • Pernikahan Rahasia Suamiku    #8 Aksesoris yang sama

    Cahaya matahari masuk menyorot seluruh ruangan saat Andini membuka gorden kamar. Cahaya itu menyinari sebagian wajah Fahmi yang masih tertidur setengah pulas. Sehingga, ia mengerjap karena silau. “Sayang,” kata Fahmi suaranya parau. Andini cekikikan, lalu duduk di samping Fahmi dan berkata sambil menyisir rambut, “Hari ini aku harus ke butik, ada seseorang yang ingin bertemu.” “Siapa?” tanya Fahmi seraya minum air putih yang telah disediakan Andini. “Jessica dan Influencer yang nantinya akan jadi brand ambassador sekaligus konten kreator di butik,” jelas Andini senang. “Oke, tapi kamu sarapan dulu,” perintah Fahmi mengelus setiap helai rambut milik Andini. “Sudah, sarapan untuk kamu sudah aku siapkan, baju kerja sudah, jam tangan sudah dan semuanya …,” tutur Andini. “Kenapa kamu gak bangunin aku?” Fahmi menggerakan tangannya ke atas, lalu memutar pinggang ke kanan dan kiri bergantian. Terdengar bunyi krek dari setiap persendian. “Kamu tidur pulas banget, aku gak tega bangunin

  • Pernikahan Rahasia Suamiku    #7 Gagal

    Malam itu Andini belum memejamkan mata, ia masih menatap layar ponselnya. Memeriksa CCTV yang ia pasang, meski tak sekalipun ia mendapatkan sebuah kejutan. “Mungkin benar, Fahmi ke tempat bilyard,” gumam Andini.Tak lama terdengar suara mesin mobil yang menepi di halaman rumahnya. Ia segera beranjak dari tempat tidur,melihat ke luar jendela. Setelah tahu itu Fahmi, Andini buru-buru keluar kamar dan turun ke lantai dua.Sebelum Fahmi menginjak teras depan, Andini sudah berdiri di ambang pintu. Ada sesuatu yang hendak ia tanyakan pada Bagas. Tetapi,harus menunggu dulu Fahmi masuk ke rumah. “Kamu belum tidur?” tanya Fahmi menatap Andini. “Belum, aku gak bisa tidur,” jawab Andini menyambut Fahmi lalu memeluknya.“Ya sudah, ayo masuk,” ajak Fahmi mengelus rambut halus Andini yang mengeluarkan aroma harum blossom. “Kamu duluan aja, aku mau menghirup udara segar dulu, kamu kan tahu ritual aku jika tidak bisa tidur.” Andini menempelkan kedua telapak tangannya di pipi Fahmi. Wanita itu har

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status