MasukKaterina langsung membalikkan badannya lagi, “Kamu.. Mas, tutup mata. Balik badan cepat!” ucap Katerina dengan nada yang sedikit meninggi langsung membuat Bayu membalikkan badannya.
“Kamu harusnya ketuk pintu dulu dong, Mas. Jangan asal masuk aja! Katerina kembali berbicara, kali ini dengan ketus. Kesal dengan suaminya itu. Ia cepat-cepat memakai pakaiannya.
“Kamu juga harusnya ganti baju di kamar mandi, bukan di tengah kamar begitu.” Bayu yang tak terima disalahkan akhirnya membalas ucapan Katerina.
“Sudah apa belum?” lanjutnya bertanya.
“Sudah.”
Setelahnya Bayu langsung melangkah ke arah lemari pakaian yang ada di samping tempat Katerina berdiri. Mengambil baju gantinya, Bayu cepat-cepat melangkah pergi dari kamar itu.
Mendengar langkah suaminya keluar dan pintu tertutup, Katerina langsung menguncinya dari dalam. Telungkup di atas ranjang, Katerina menendang-nendang kasurnya dan menyembunyikan wajahnya di bantal “Arrgghhhh MALUUU” jeritnya dalam hati.
Sedangkan Bayu yang sudah masuk ke kamarnya sendiri, langsung melepas beberapa kancing atas kemejanya, udara terasa panas di sekitarnya.
“Sial!”
Bayang-bayang tubuh Katerina seolah menancap di memorinya. Dia laki-laki normal, pemandangan seperti itu sungguh menggoda imannya.
Pagi harinya saat Katerina membuka pintu bersamaan dengan Bayu yang juga keluar kamar membuat Katerina urung melangkahkankan kakinya, kembali masuk ke dalam kamar dan menutup pintu. Ia belum siap satu ruangan dengan suaminya itu, kejadian semalam masih membuatnya malu. Sialan memang.
Sedangkan Bayu langsung turun ke lantai bawah, menuju meja makan. Di sana sudah ada Bi Lastri dan Ayu yang sedang menyiapkan sarapan.
“Pagi, Mas.” Sapa Bi Lastri yang melihat Bayu memasuki ruang makan.
“Pagi, Bi.” Balas Bayu sekedarnya
Bi Lastri heran melihat Bayu yang bersiap memakan sarapannya tanpa menunggu Katerina. Tapi ia tidak mengatakan apa-apa, Bi Lastri tahu Bayu bukan orang yang mudah bercerita terutama tentang hal pribadinya.
Setelah menghabiskan sarapannya, Bayu langsung bergegas pergi untuk bekerja. Dan Katerina yang mendengar suara mobil keluar rumah langsung turun ke bawah untuk sarapan, perutnya sudah lapar sekali. Gara- gara semalam sih ahh – gerutunya dalam hati.
Bi Lastri yang sedang membereskan piring bekas sarapan Bayu pun menyapa kedatangan Katerina, “Pagi, Mbak Katerin.”
“Pagi, Bi.” Balas Katerina dengan tersenyum ramah.
“Bibi sama Ayu udah sarapan belum?” Lanjut Katerina bertanya pada kedua ART rumah
“Belum Mbak.”
“Ya sudah sini sarapan sama saya.”
Kedua ART itu saling berpandangan, “Emang nggak papa, Mbak?” Tanya Bi Lastri akhirnya.
“Nggak apa-apa, Bi. Beneran.”
Akhirnya pag itu pun Katerina sarapan bersama kedua ART-nya. Menurutnya itu lebih baik daripada harus sarapan dengan suaminya.
***
Malam harinya saat Katerina sedang menonton televisi di ruang tengah, suara mobil Danu terdengar memasuki rumah maka buru-buru Katerina mematkan televisinya dan lari ke kamarnya. Sebisa mungkin ia mengindari bertemu dengan Bayu.
Hari-hari berikutnya pun seperti itu. Awalnya Bayu tak menyadari tingkah Katerina yang menghindarinya. Sampai akhirnya akhir pekan tiba dan besok mereka akan berangkat ke Prancis, Bayu baru sadar satu minggu ini tidak ada interaksi dengan Katerina sama sekali. Ia hanya ingat terkahir berbicara dengan Katerina adalah malam itu, seketika bayangan tubuh istrinya berputar lagi membuatnya langsung geleng-geleng kepala.
Mengetuk pintu kamar istrinya, Bayu akan membicarakan tentang bulan madu mereka,
Tok..tok..tok
Katerina yang sudah berbaring di ranjang, akhirnya bangun dan membuka pintu. Dilihatnya sang suami yang tengah berdiri di depannya.
“Saya mau ambil koper.” Tanpa membalas ucapan Bayu, Katerina menggeser tubuhnya mempersilahkan suaminya masuk ke kamar.
“Besok kita akan berangkat ke Prancis. Kamu nggak lupa kan rencana ‘bulan madu’ kita?”
“Aku nggak ingat, Mas.” Ucapnya dalam hati. Katerina sungguh lupa akan hal itu, ia bahkan belum mengemasi bajunya.
Tak mendengar jawaban istrinya, Bayu menoleh. Tatapannya langsung bertemu dengan Katerina, seolah bertanya “Ingat tidak?” Katerina yang menyadari hal itu, langsung mengangguk “Iya, Mas aku ingat. Ini aku juga mau packing bajuku.” Kilahnya ikut mengambil koper dan membuka lemari pakaian.
“Besok sekretaris saya yang akan menjemput kamu ke sini. Saya tunggu di bandara.” Ucap Bayu sesaat sebelum ia meninggalkan kamar Katerina.
Merebahkan dirinya di ranjang, Katerina memejamkan matanya “Anggap saja liburan gratis. Kapan lagi kan ke Prancis nggak modal, cuma bawa diri doang.” Ucapnya pada diri sendiri.
Keesokan harinya sekretaris Bayu benar-benar menjemput Katerina dan saat ia sampai di bandara, suaminya itu sudah duduk di area boarding lounge. Katerina tak menghampiri Bayu, ia lebih memilih tempat duduk yang berjarak dengan suaminya itu. Saat akhirnya mereka memasuki pesawat dan duduk bersebelahan satu pun dari mereka tidak ada yang berbicara.
Sesampainya mereka di Kota Paris, Prancis mereka menaiki taxi untuk mengantar sampai ke hotel. Dalam perjalanan itu, Katerina yang begitu kelelahan akhirnya tertidur dan tanpa sengaja menjatuhkan kepalanya ke pundak Bayu.
Bayu yang tadinya sedang memegangi ponsel tiba-tiba tersentak kaget, tapi tak menyingkirkan kepala Katerina. Di tengah keheningan taxi, diam-diam tanpa Bayu sadari jantungnya berdetak lebih cepat.
Bayu bisa melihat keterkejutan di wajah Katerina. Ia tahu kedatangannya ini tiba-tiba, pasti mantan istrinya tak pernah menduga ia akan menemuinya. Matanya lalu melihat anak kecil yang berdiri di sebelah perempuan itu, lalu tubuhnya yang mungil berangsur mundur bersembunyi di balik tubuh Katerina saat matanya tak sengaja menatap mata kecilnya. Apakah anak itu takut padanya? Tapi sepertinya tidak, ia bisa melihat anak itu curi-curi pandang ke arahnya. Lucu sekali, siapa kira-kira namanya? “Kamu mau bicara apa?” Suara Katerina mengalihkan perhatiannya, membuatnya kembali mendongak menatap mata sang mantan istri. Untuk sesaat ia terpaku, tatapan mata perempuan itu tak lagi sama. Tidak lagi memancarkan luka seperti saat terakhir kali mereka bertemu di pengadilan tiga tahun lalu, kini tatapan itu datar. Mungkin sudah tak ada perasaan apa pun lagi untuknya di hati Katerina dan itu membuat hatinya terluka. Bukankah seharusnya Bayu tak merasakan itu? Ia yang dulu menghianati perempuan itu
Katerina masih diam di tempatnya. Saat ia mulai sadar dan berniat menghampiri Daniel, anak perempuan yang bernama Riri itu justru menghampirinya."Tante, ini cilok buat Tante." Ucapnya sambil menyodorkan satu bungkus cilok tanpa sambal dan kecap."Eh, terima kasih." Balas Katerina, menerima pemberian Riri."Pasti Tante temannya Ibu, ya? Jadi aku beliin cilok juga." Lanjut Riri dengan ceria, berbanding terbalik dengan keadaan orang tuanya yang tak akur.Katerina tersenyum ramah, lalu tak lama setelahnya anak itu berbicara dengan ayahnya. Laki-laki itu lalu berpamitan pada perempuan yang duduk di sampingnya dan hanya dibalas dengan anggukan dan senyum singkat. Katerina yakin itu juga terpaksa, karena ada anak di sekitar mereka."Maaf ya, Mbak tadi jadi dengerin masalah saya. Maaf kalau buat Mbak nggak nyaman." Ucap perempuan itu pada Katerina."Saya juga minta maaf, Mbak karena jadi tahu masalahnya. Saya nggak bermaksud menguping." Katerina juga sebenarnya merasa tak enak mendengarkan p
"Terima kasih, Matt. Mari mampir dulu ke rumah kakak saya."Katerina yang akan keluar dari mobil Matthias tak lupa menawari laki-laki itu untuk singgah sebentar di rumah Andrea. Namun sayangnya tawaran itu langsung dijawab gelengan oleh Matthias."Terima kasih, Kate. Tapi mungkin lain kali saja, ya. Saya ada urusan dengan rekan-rekan pengajar."Ia pun tak memaksa dan hanya mengangguk membiarkan mobil Matthias berlalu dari depan rumah Andrea. Setelahnya ia masuk ke dalam sambil mengendong Daniel yang tidur terlelap.Membaringkan tubuh anaknya ke ranjang, Katerina tak buru-buru keluar dari kamar. Ia memandangi wajah sang anak yang sangat mirip dengan ayahnya. Tak heran jika tadi anaknya itu bertanya saat melihat Bayu, mungkin Daniel sadar dengan kemiripan mereka. Mungkinkah Bayu juga sadar akan hal itu?Jujur saja ia cemas, gelisah, dan takut jika Bayu mengetahui semuanya dan tak terima karena ia menyembunyikan anaknya selama ini. Mungkinkah laki-laki itu akan mengambil Daniel darinya?
Bayu terpaku di tempatnya. Tidak hanya pertemuannya dengan Katerina yang membuatnya terkejut, tapi juga karena anak kecil yang memanggil Katerina dengan sebutan 'Mama' sangat mirip dengannya. Apa sekarang ia sedang bermimpi?Mulutnya sudah terbuka, tapi lidahnya kelu, semua katanya seperti tertahan di tenggorokan. Jantungnya berdebar kencang, debarannya sama seperti saat ia terbangun dari mimpinya waktu itu."Mama... Mama..."Suara itu kembali terdengar, membuat Bayu terus menatap anak itu. Ia ingat di depannya ini adalah anak yang sama seperti kemarin yang hampir tertabrak mobilnya.Saat ia kembali menatap Katerina, ia melihat mantan istrinya itu masih terdiam bahkan seolah tidak mendengar suara anak yang sedang memanggilnya sampai_"Katerina."Panggil seorang laki-laki yang sedari tadi berdiri di belakang perempuan itu. Laki-laki itu juga menepuk pundak Katerina pelan hingga membuatnya menoleh.Bayu menyipitkan kedua matanya, bertanya-tanya siapa gerangan laki-laki itu? Terlihat beg
Katerina kembali ke meja di mana Daniel, Matthias, Salsa dan Ben berada di sana. Tangannya membawa dua piring berisi makanan untuknya dan Daniel. Dari kejauhan ia bisa melihat anaknya sudah kembali ceria dan kini sedang bercanda dengan Salsa. Rasa lega menyelimuti hatinya.Tidak ada hal paling membahagiakan bagi seorang ibu selain melihat anaknya tersenyum bahagia."Niel, sini makan dulu. Mama ambilin ayam kecap."Daniel memang suka sekali dengan ayam kecap. Anak itu akan makan sangat lahap jika dengan lauk itu.Kini anaknya kembali berpindah ke pangkuan Katerina, makannya minta disuapi sang ibu meski Salsa sudah menawarkan diri untuk melakukannya."Kalian ambil makan saja dulu, biar kita makan sama-sama." Ucap Katerina pada Salsa, Ben, dan juga Matthias."Untuk Ben dan Matthias, semoga makanannya cocok di lidah kalian, ya." LanjutnyaMereka tertawa mendengar apa yang dikatakan Katerina. Memang benar lidah orang Indonesia dengan orang Eropa pasti berbeda. Terlebih di hampir semua maka
"Niel digendong sama Uncle aja, mau?" Andrea mengulurkan tangannya kepada Daniel yang masih berada di gendongan Katerina. Namun anak itu menggeleng, tidak mau lepas dari gendongan sang ibu. "Biar Papa saja yang berdiri di sebelah Elsa. Kamu ke sini, Nak." Ucapnya pada Katerina yang masih melirik tajam pada Elsa. Akhirnya tanpa berkata apa-apa, Katerina berpindah tempat dengan masih menggendong Daniel. Nanti setelah acara ini selesai, ia akan membuat perhitungan dengan Elsa. Apa sebenarnya masalah perempuan itu dengannya? Sesaat setelah mereka selesai berfoto bersama, Katerina langsung turun dari panggung pelaminan dan saat akan duduk untuk memangku Daniel, suara Salsa tiba-tiba terdengar. "Hallo, ponakan Onty." Daniel yang biasanya langsung menyambut sapaan itu dengan ceria, kali ini tidak. Wajahnya masih tertekuk di pundak Katerina. Hal itu tentu saja membuat Salsa, Ben, dan juga Matthias bingung. Mereka bertiga memang datang bersama ke pernikahan Andrea. "Kenapa?" Salsa berbisi







