Share

Bab 4

Penulis: Dandelion
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-13 14:58:22

Taxi berhenti tepat di depan hotel di mana Katerina dan Bayu akan menginap. Bayu menepuk pipi Katerina supaya wanita itu bangun, tak mungkin ia akan mau menggendong wanita itu ke dalam hotel.

“Kita sudah sampai di hotel.” Ucapnya saat melihat Katerina membuka matanya.

Katerina hanya bergumam, lalu turun dari taxi mengikuti Bayu yang sudah lebih dulu memasuki hotel. Setelah proses check in selesai dan akhirnya mereka masuk ke dalam kamar, Katerina langsung merebahkan dirinya lagi di ranjang empuk mereka. Sungguh ia masih mengantuk, selama penerbangan dari Indonesia ke Prancis tidurnya tidak nyenyak sama sekali.

Katerina tidak tahu ia tidur selama berapa jam, karena saat bangun matahari sudah hampir terbenam dan perutnya sudah lapar sekali. Untungnya sudah ada makanan di meja dekat tempat tidurnya, sehingga perutnya bisa langsung terisi tanpa harus menunggu.

Namun Katerina tak melihat suaminya sedari tadi, entah pergi ke mana laki-laki itu. Katerina tidak mau ambil pusing.

“Bodo amat lah dia mau ke mana, yang penting aku nggak ditinggalkan dalam keadaan kelaparan.” Ucap Katerina sambil mengedikkan bahunya.

Namun baru beberapa detik ucapan keluar dari mulutnya, pintu kamarnya terbuka. Melihat suaminya masuk, Katerina tetap cuek saja, tak bertanya dari mana dengan siapa, Katerina tidak peduli. Matanya sempat bertemu dengan mata Bayu sebelum suaminya itu berlalu masuk ke kamar mandi, tapi hanya itu saja. Tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara.

Setelah Bayu keluar dari kamar mandi, giliran Katerina yang masuk ke sana. Badannya itu sudah terasa lengket sekali, membuatnya tidak tahan. Sedangkan Bayu kini tengah duduk di tepi ranjang, seperti tak berminat untuk memakai pakaiannya. Sesekali tangannya mengetik sesuatu di ponsel, menaruhnya lagi ke meja samping ranjang.

Sampai suara pintu kamar mandi terbuka, memperlihatkan Katerina yang memakai jubah mandi berjalan melewati suaminya. Sedangkan Bayu yang dilewati Katerina tak bisa melepaskan tatapannya dari perempuan itu. Melihat istrinya hanya berbalut jubah mandi, pikirannya mulai liar, mengingatkannya pada malam di mana ia melihat bagian tubuh Katerina yang menggoda.

Entah dorongan dari mana, ia akhirnya bangkit dari duduknya berjalan mendekati Katerina yang membelakanginya. Saat akhirnya Bayu tepat berada di belakang tubuh istrinya, ia memegang kedua bahu Katerina.

Tubuh Katerina tersentak kaget, ia merasakan hembusan nafas Bayu di area ubun-ubunnya karena tinggi badan mereka yang berbeda.

“Mas...” Suara Katerina lirih, mencoba menutupi getar yang ada di dalamnya.

“Saya boleh minta hak saya malam ini kan.”

Kalimat itu harusnya menjadi pertanyaan, tetapi nada Bayu yang begitu menekan itu seperti pernyataan yang membuat tubuh Katerina merinding seketika.

Bayu membalikkan tubuh Katerina agar menghadapnya, mengambil handuk di tangan istrinya yang belum sempat dipakai, menjatuhkannya kembali ke koper.

Katerina diam membisu, ia bingung, ia takut, tapi lidahnya pun kelu tak mampu mengucapkan kata.

Mereka saling menatap, tidak ada cinta di dalamnya. Bayu yang hanya ingin memenuhi kebutuhan biologisnya dan Katerina yang penuh kebingungan.

Namun perlahan wajah Bayu mendekat, mengikis jarak di antara mereka. Sampai akhirnya bibirnya menyentuh bibir sang istri. Tubuh Katerina menegang seketika, karena bagaimana pun ia tak pernah disentuh oleh siapa pun, tak pernah ada yang menjamah bibir dan tubuhnya.

Katerina mencoba melawan, mendorong dada Bayu, namun tangan suaminya itu seolah mencengkeram pinggangnya erat menahan tubuh mungil Katerina tetap ada di dekapannya.

Bayu yang merasakan ketegangan Katerina, menarik pinggang istrinya itu. Mengelus pelan punggung istrinya, naik turun mencoba menenangkan. Bibirnya pun melumat tanpa henti, hingga tanpa sadar Katerina menutup mata membalas ciuman suaminya. Ia terbuai dengan sensasi penyatuan bibir mereka.

Mendapat lampu hijau dari istrinya, ciuman Bayu semakin menuntut. Lidahnya menerobos ke dalam mulut Katerina, menelusuri rongga mulutnya. Katerina yang kewalahan akhirnya hanya bisa menerima, membalas dengan amatir setiap pagutan suaminya.

Katerina memukul dada suaminya karena sudah kehabisan napas. Bayu pun akhirnya berhenti, melepaskan bibir istrinya dengan tidak rela. Katerina langsung menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, namun tak berselang lama Bayu langsung menyerangnya lagi. Memagut bibir istrinya tanpa henti.

Perlahan langkah Katerina mundur karena dorongan Bayu. Tubuhnya terhempas ke ranjang, di susul Bayu yang menindihnya. Bayu mulai mencium leher istrinya, memberi kecupan-kecupan hangat. Tubuh Katerina merinding, ada sesuatu yang menggelitik dalam dirinya.

Saat tangan Bayu mulai meremas hal berharga milik istrinya, ponsel di nakas berdering satu, dua, tiga kali membuat Bayu akhirnya menghentikan aksinya. Melihat nama dan nomor yang tertera di ponselnya Bayu langsung mengangkatnya.

“Hallo, hallo, hallo.” Tidak ada jawaban dari seberang sana membuat Bayu mengerang kesal.

“Sial!”

 Laki-laki itu bergegas memakai pakaiannya, melangkah keluar kamar meninggalkan Katerina yang masih terbaring di ranjang.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pernikahan Yang Tak Kupilih   Bab 151

    Bayu bisa melihat keterkejutan di wajah Katerina. Ia tahu kedatangannya ini tiba-tiba, pasti mantan istrinya tak pernah menduga ia akan menemuinya. Matanya lalu melihat anak kecil yang berdiri di sebelah perempuan itu, lalu tubuhnya yang mungil berangsur mundur bersembunyi di balik tubuh Katerina saat matanya tak sengaja menatap mata kecilnya. Apakah anak itu takut padanya? Tapi sepertinya tidak, ia bisa melihat anak itu curi-curi pandang ke arahnya. Lucu sekali, siapa kira-kira namanya? “Kamu mau bicara apa?” Suara Katerina mengalihkan perhatiannya, membuatnya kembali mendongak menatap mata sang mantan istri. Untuk sesaat ia terpaku, tatapan mata perempuan itu tak lagi sama. Tidak lagi memancarkan luka seperti saat terakhir kali mereka bertemu di pengadilan tiga tahun lalu, kini tatapan itu datar. Mungkin sudah tak ada perasaan apa pun lagi untuknya di hati Katerina dan itu membuat hatinya terluka. Bukankah seharusnya Bayu tak merasakan itu? Ia yang dulu menghianati perempuan itu

  • Pernikahan Yang Tak Kupilih   Bab 150

    Katerina masih diam di tempatnya. Saat ia mulai sadar dan berniat menghampiri Daniel, anak perempuan yang bernama Riri itu justru menghampirinya."Tante, ini cilok buat Tante." Ucapnya sambil menyodorkan satu bungkus cilok tanpa sambal dan kecap."Eh, terima kasih." Balas Katerina, menerima pemberian Riri."Pasti Tante temannya Ibu, ya? Jadi aku beliin cilok juga." Lanjut Riri dengan ceria, berbanding terbalik dengan keadaan orang tuanya yang tak akur.Katerina tersenyum ramah, lalu tak lama setelahnya anak itu berbicara dengan ayahnya. Laki-laki itu lalu berpamitan pada perempuan yang duduk di sampingnya dan hanya dibalas dengan anggukan dan senyum singkat. Katerina yakin itu juga terpaksa, karena ada anak di sekitar mereka."Maaf ya, Mbak tadi jadi dengerin masalah saya. Maaf kalau buat Mbak nggak nyaman." Ucap perempuan itu pada Katerina."Saya juga minta maaf, Mbak karena jadi tahu masalahnya. Saya nggak bermaksud menguping." Katerina juga sebenarnya merasa tak enak mendengarkan p

  • Pernikahan Yang Tak Kupilih   Bab 149

    "Terima kasih, Matt. Mari mampir dulu ke rumah kakak saya."Katerina yang akan keluar dari mobil Matthias tak lupa menawari laki-laki itu untuk singgah sebentar di rumah Andrea. Namun sayangnya tawaran itu langsung dijawab gelengan oleh Matthias."Terima kasih, Kate. Tapi mungkin lain kali saja, ya. Saya ada urusan dengan rekan-rekan pengajar."Ia pun tak memaksa dan hanya mengangguk membiarkan mobil Matthias berlalu dari depan rumah Andrea. Setelahnya ia masuk ke dalam sambil mengendong Daniel yang tidur terlelap.Membaringkan tubuh anaknya ke ranjang, Katerina tak buru-buru keluar dari kamar. Ia memandangi wajah sang anak yang sangat mirip dengan ayahnya. Tak heran jika tadi anaknya itu bertanya saat melihat Bayu, mungkin Daniel sadar dengan kemiripan mereka. Mungkinkah Bayu juga sadar akan hal itu?Jujur saja ia cemas, gelisah, dan takut jika Bayu mengetahui semuanya dan tak terima karena ia menyembunyikan anaknya selama ini. Mungkinkah laki-laki itu akan mengambil Daniel darinya?

  • Pernikahan Yang Tak Kupilih   Bab 148 - Bayu Dan Daniel

    Bayu terpaku di tempatnya. Tidak hanya pertemuannya dengan Katerina yang membuatnya terkejut, tapi juga karena anak kecil yang memanggil Katerina dengan sebutan 'Mama' sangat mirip dengannya. Apa sekarang ia sedang bermimpi?Mulutnya sudah terbuka, tapi lidahnya kelu, semua katanya seperti tertahan di tenggorokan. Jantungnya berdebar kencang, debarannya sama seperti saat ia terbangun dari mimpinya waktu itu."Mama... Mama..."Suara itu kembali terdengar, membuat Bayu terus menatap anak itu. Ia ingat di depannya ini adalah anak yang sama seperti kemarin yang hampir tertabrak mobilnya.Saat ia kembali menatap Katerina, ia melihat mantan istrinya itu masih terdiam bahkan seolah tidak mendengar suara anak yang sedang memanggilnya sampai_"Katerina."Panggil seorang laki-laki yang sedari tadi berdiri di belakang perempuan itu. Laki-laki itu juga menepuk pundak Katerina pelan hingga membuatnya menoleh.Bayu menyipitkan kedua matanya, bertanya-tanya siapa gerangan laki-laki itu? Terlihat beg

  • Pernikahan Yang Tak Kupilih   Bab 147

    Katerina kembali ke meja di mana Daniel, Matthias, Salsa dan Ben berada di sana. Tangannya membawa dua piring berisi makanan untuknya dan Daniel. Dari kejauhan ia bisa melihat anaknya sudah kembali ceria dan kini sedang bercanda dengan Salsa. Rasa lega menyelimuti hatinya.Tidak ada hal paling membahagiakan bagi seorang ibu selain melihat anaknya tersenyum bahagia."Niel, sini makan dulu. Mama ambilin ayam kecap."Daniel memang suka sekali dengan ayam kecap. Anak itu akan makan sangat lahap jika dengan lauk itu.Kini anaknya kembali berpindah ke pangkuan Katerina, makannya minta disuapi sang ibu meski Salsa sudah menawarkan diri untuk melakukannya."Kalian ambil makan saja dulu, biar kita makan sama-sama." Ucap Katerina pada Salsa, Ben, dan juga Matthias."Untuk Ben dan Matthias, semoga makanannya cocok di lidah kalian, ya." LanjutnyaMereka tertawa mendengar apa yang dikatakan Katerina. Memang benar lidah orang Indonesia dengan orang Eropa pasti berbeda. Terlebih di hampir semua maka

  • Pernikahan Yang Tak Kupilih   Bab 146

    "Niel digendong sama Uncle aja, mau?" Andrea mengulurkan tangannya kepada Daniel yang masih berada di gendongan Katerina. Namun anak itu menggeleng, tidak mau lepas dari gendongan sang ibu. "Biar Papa saja yang berdiri di sebelah Elsa. Kamu ke sini, Nak." Ucapnya pada Katerina yang masih melirik tajam pada Elsa. Akhirnya tanpa berkata apa-apa, Katerina berpindah tempat dengan masih menggendong Daniel. Nanti setelah acara ini selesai, ia akan membuat perhitungan dengan Elsa. Apa sebenarnya masalah perempuan itu dengannya? Sesaat setelah mereka selesai berfoto bersama, Katerina langsung turun dari panggung pelaminan dan saat akan duduk untuk memangku Daniel, suara Salsa tiba-tiba terdengar. "Hallo, ponakan Onty." Daniel yang biasanya langsung menyambut sapaan itu dengan ceria, kali ini tidak. Wajahnya masih tertekuk di pundak Katerina. Hal itu tentu saja membuat Salsa, Ben, dan juga Matthias bingung. Mereka bertiga memang datang bersama ke pernikahan Andrea. "Kenapa?" Salsa berbisi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status