로그인Mentari terbangun jauh lebih awal dari biasanya keesokan paginya. Jarum jam di dinding kamarnya baru menunjukkan pukul lima pagi, saat langit di luar jendela masih tampak kebiruan dan udara pagi terasa begitu sejuk.Biasanya, pada jam-jam seperti ini, Mentari masih meringkuk nyaman di balik selimut tebalnya. Tapi kali ini, tidak ada lagi rasa mengantuk di matanya. Pikirannya sudah dipenuhi oleh percakapannya dengan Maya semalam. Kata-kata sahabatnya itu terus berputar-putar di kepalanya, menantang rasa takut yang sempat bersarang di dadanya.Meskipun di lubuk hatinya yang paling dalam Mentari masih merasa ragu dan tidak terlalu yakin apakah rencananya untuk menggoda Bramantyo secara halus akan berhasil, ia sadar satu hal, ia tidak boleh terus-terusan menyerah dan meratapi keadaan. 'Kata Maya benar,' batin Mentari sambil duduk di tepi tempat tidur dan merapikan rambutnya yang berantakan. 'Selama Pak Bram belum menikah dengan wanita itu, aku masih punya kesempatan. Kalaupun nanti akhir
Mentari menyudahi tatapannya. Ia menatap layar ponsel yang ada di tangannya. Percakapan singkat dengan Bramantyo tentang pertanyaan soal pacar tadi masih menggema jelas di kepalanya, membuat hatinya semakin tidak tenang.Rasa sesak di dadanya sudah berada di ujung tanduk. Mentari merasa ia bisa gila kalau terus memendam semua perasaan ini seorang diri. Ia tidak punya siapa-siapa di rumah ini untuk diajak bicara. Natasha membencinya, dan Bi Inah hanyalah asisten rumah tangga yang tidak mungkin ia ajak curhat soal urusan rumit seperti ini.Satu-satunya tempat ia bisa menumpahkan segala isi hatinya hanyalah Maya, sahabat karibnya sejak masa sekolah dulu.Tanpa pikir panjang lagi, Mentari membuka aplikasi WhatsApp di ponselnya. Ia mencari kontak Maya, lalu mulai mengetik pesan untuk sahabatnya itu.To: MayaMay... kamu udah tidur belum? Aku mau cerita sesuatu, tapi plis banget jangan kaget, ya. Ini sebuah rahasia besar dan aku butuh pendengar sekarang.Tidak butuh waktu lama bagi Maya unt
Jam di dinding menunjukkan pukul setengah tujuh malam ketika pintu dibuka oleh seseorang dari luar.Mentari melangkah masuk. Penampilannya tampak sangat berantakan. Rambut panjangnya yang basah kuyup karena sempat kehujanan di pinggir danau sore tadi dibiarkan tergerai lepek. Pakaiannya lembap, dan wajahnya tampak sedikit pucat. Ia berjalan pelan-pelan, berharap bisa langsung masuk ke kamarnya tanpa harus berpapasan dengan siapa pun. Ia tidak ingin ada yang melihat keadaannya yang menyedihkan itu. "Eh, Nona Mentari? Astaga, Non!"Suara Bi Inah, asisten rumah tangga yang sedang merapikan meja makan, mendadak menghentikan langkah Mentari. Wanita paruh baya itu terbelalak kaget melihat penampilan Mentari yang basah kuyup dan tampak lesu.Mentari mengerjap pelan, mencoba memasang senyuman tipis untuk menutupi rasa canggungnya. "Malam, Bi... Maaf ya bikin bibi kaget.""Non Mentari dari mana saja jam segini baru pulang? Hujan-hujanan begini lagi, nanti bisa masuk angin," ucap Bi Inah penu
Matahari mulai condong ke barat saat jam kuliah Mentari akhirnya selesai. Hari ini, suasana hatinya terasa sangat berat dan melelahkan. Alih-alih langsung naik taksi pulang ke penthouse Bramantyo, Mentari memutuskan untuk pergi ke tempat lain.Ia meminta sopir taksi mengantarnya ke sebuah danau umum yang terletak di pinggir kota. Tempat itu cukup sepi, dikelilingi oleh pepohonan rindang dan hembusan angin sore yang tenang.Sebelum turun di dekat area danau, Mentari sempat mampir ke sebuah warung kelontong kecil di pinggir jalan. Ia membeli beberapa botol air mineral ukuran sedang dan empat bungkus roti manis. Uang saku pemberian Bramantyo sebenarnya lebih dari cukup untuk makan di tempat yang lebih mahal, tapi Mentari hanya membeli seadanya, seolah nafsu makannya sudah menguap entah ke mana.Ia berjalan kaki perlahan menuju tepian danau yang sepi, lalu duduk di atas bangku kayu tua yang menghadap langsung ke hamparan air yang tenang. Mentari meletakkan kantong plastik berisi roti dan
Mobil yang dikemudikan oleh sopir pribadi Bramantyo melaju. Di kursi belakang, Bramantyo duduk berdampingan dengan Natasha yang sibuk memainkan layar ponselnya.Di tengah perjalanan, pandangan Bramantyo tiba-tiba menangkap sebuah toko kue langganan yang cukup terkenal di sudut jalan. Lelaki paruh baya itu langsung teringat pada Ajeng. Semalam, obrolan mereka di telepon terasa sangat menyenangkan, dan Bramantyo ingin memberikan sedikit perhatian kecil untuk mempererat kedekatan mereka."Pak Udin, sebentar tolong tepikan mobilnya di depan toko kue itu ya," pinta Bramantyo kepada sang sopir.Natasha yang duduk di sebelah ayahnya langsung menoleh dengan kening berkerut. "Lho, Pa? Kenapa berhenti di toko kue? Nanti Papa bisa telat rapatnya gimana?""Nggak apa-apa, sebentar saja, Natasha. Cuma mau beli beberapa potong kue buat teman kantor," jawab Bramantyo beralasan, sengaja tidak jujur kalau kue itu untuk Ajeng karena ia belum siap memberitahu Natasha sekarang. Paling tidak menunggu hubun
Malam itu berjalan begitu panjang dan menyiksa bagi Mentari. Jarum jam di dinding kamarnya terus berputar, dan sekarang bmenunjukkan pukul dua pagi, tapi matanya sama sekali tidak bisa terpejam. Ia berbaring di atas tempat tidur dengan menatap kosong ke arah langit-langit kamar.Rasa cemburu yang menggelayut di dadanya terasa bagaikan racun yang perlahan-lahan menjalar ke seluruh tubuhnya, menimbulkan rasa sakit yang luar biasa sesak. Di luar sana, di tempat yang jauh dari penthouse tempatnya berada sekarang, Bramantyo mungkin sedang tersenyum ramah, menatap wajah Ajeng dengan penuh kelembutan, dan menyerahkan buket bunga mawar merah yang dipesannya khusus untuk wanita itu.Bayangan saat Bramantyo pergi membawa bunga tersebut terus berputar-putar di kepala Mentari, membuat air matanya kembali menetes membasahi bantal."Kenapa rasanya sesakit ini..." bisik Mentari parau di dalam gelap, meremas selimutnya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih.Tapi, di tengah isakan tangisnya, Men







