Teilen

Tatapan Kagum

last update Veröffentlichungsdatum: 27.10.2026 01:21:13

Mentari sedang sibuk merapikan beberapa berkas di atas meja kerjanya ketika pintu ruang kerja Bramantyo terbuka pelan. Pria itu melangkah keluar, dan menoleh ke arah Mentari sambil merapikan jasnya.

"Mentari, rapikan catatanmu. Kita ke ruang rapat sekarang," kata Bramantyo dengan santai.

Mendengar kata 'rapat', Mentari langsung menelan ludah. Jantungnya mendadak berdegup kencang karena gugup. Ia buru-buru berdiri dari kursinya sambil memegang buku agenda kecil dan pulpen.

"R-rapat, Pak?" tanya
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Pesona Ayah Tiri   Perhatian Seperti Biasa

    Jam di dinding menunjukkan pukul setengah tujuh malam ketika pintu dibuka oleh seseorang dari luar.Mentari melangkah masuk. Penampilannya tampak sangat berantakan. Rambut panjangnya yang basah kuyup karena sempat kehujanan di pinggir danau sore tadi dibiarkan tergerai lepek. Pakaiannya lembap, dan wajahnya tampak sedikit pucat. Ia berjalan pelan-pelan, berharap bisa langsung masuk ke kamarnya tanpa harus berpapasan dengan siapa pun. Ia tidak ingin ada yang melihat keadaannya yang menyedihkan itu. "Eh, Nona Mentari? Astaga, Non!"Suara Bi Inah, asisten rumah tangga yang sedang merapikan meja makan, mendadak menghentikan langkah Mentari. Wanita paruh baya itu terbelalak kaget melihat penampilan Mentari yang basah kuyup dan tampak lesu.Mentari mengerjap pelan, mencoba memasang senyuman tipis untuk menutupi rasa canggungnya. "Malam, Bi... Maaf ya bikin bibi kaget.""Non Mentari dari mana saja jam segini baru pulang? Hujan-hujanan begini lagi, nanti bisa masuk angin," ucap Bi Inah penu

  • Pesona Ayah Tiri   Meratapi Nasib

    Matahari mulai condong ke barat saat jam kuliah Mentari akhirnya selesai. Hari ini, suasana hatinya terasa sangat berat dan melelahkan. Alih-alih langsung naik taksi pulang ke penthouse Bramantyo, Mentari memutuskan untuk pergi ke tempat lain.Ia meminta sopir taksi mengantarnya ke sebuah danau umum yang terletak di pinggir kota. Tempat itu cukup sepi, dikelilingi oleh pepohonan rindang dan hembusan angin sore yang tenang.Sebelum turun di dekat area danau, Mentari sempat mampir ke sebuah warung kelontong kecil di pinggir jalan. Ia membeli beberapa botol air mineral ukuran sedang dan empat bungkus roti manis. Uang saku pemberian Bramantyo sebenarnya lebih dari cukup untuk makan di tempat yang lebih mahal, tapi Mentari hanya membeli seadanya, seolah nafsu makannya sudah menguap entah ke mana.Ia berjalan kaki perlahan menuju tepian danau yang sepi, lalu duduk di atas bangku kayu tua yang menghadap langsung ke hamparan air yang tenang. Mentari meletakkan kantong plastik berisi roti dan

  • Pesona Ayah Tiri   Bertanya-tanya

    Mobil yang dikemudikan oleh sopir pribadi Bramantyo melaju. Di kursi belakang, Bramantyo duduk berdampingan dengan Natasha yang sibuk memainkan layar ponselnya.Di tengah perjalanan, pandangan Bramantyo tiba-tiba menangkap sebuah toko kue langganan yang cukup terkenal di sudut jalan. Lelaki paruh baya itu langsung teringat pada Ajeng. Semalam, obrolan mereka di telepon terasa sangat menyenangkan, dan Bramantyo ingin memberikan sedikit perhatian kecil untuk mempererat kedekatan mereka."Pak Udin, sebentar tolong tepikan mobilnya di depan toko kue itu ya," pinta Bramantyo kepada sang sopir.Natasha yang duduk di sebelah ayahnya langsung menoleh dengan kening berkerut. "Lho, Pa? Kenapa berhenti di toko kue? Nanti Papa bisa telat rapatnya gimana?""Nggak apa-apa, sebentar saja, Natasha. Cuma mau beli beberapa potong kue buat teman kantor," jawab Bramantyo beralasan, sengaja tidak jujur kalau kue itu untuk Ajeng karena ia belum siap memberitahu Natasha sekarang. Paling tidak menunggu hubun

  • Pesona Ayah Tiri   Berusaha Jaga Jarak

    Malam itu berjalan begitu panjang dan menyiksa bagi Mentari. Jarum jam di dinding kamarnya terus berputar, dan sekarang bmenunjukkan pukul dua pagi, tapi matanya sama sekali tidak bisa terpejam. Ia berbaring di atas tempat tidur dengan menatap kosong ke arah langit-langit kamar.Rasa cemburu yang menggelayut di dadanya terasa bagaikan racun yang perlahan-lahan menjalar ke seluruh tubuhnya, menimbulkan rasa sakit yang luar biasa sesak. Di luar sana, di tempat yang jauh dari penthouse tempatnya berada sekarang, Bramantyo mungkin sedang tersenyum ramah, menatap wajah Ajeng dengan penuh kelembutan, dan menyerahkan buket bunga mawar merah yang dipesannya khusus untuk wanita itu.Bayangan saat Bramantyo pergi membawa bunga tersebut terus berputar-putar di kepala Mentari, membuat air matanya kembali menetes membasahi bantal."Kenapa rasanya sesakit ini..." bisik Mentari parau di dalam gelap, meremas selimutnya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih.Tapi, di tengah isakan tangisnya, Men

  • Pesona Ayah Tiri   Siksa Rasa

    Ponsel di dalam tas tangan Ajeng berdering saat wanita itu baru saja keluar dari area lobi kantor Bramantyo. Sambil berjalan menuju mobilnya di parkiran, ia merogoh tasnya dan melihat nama Eva tertera di layar.Tanpa buang waktu, Ajeng langsung menggeser tombol hijau dan menempelkan benda pipih itu ke telinganya."Halo, Eva?" sapa Ajeng dengan nada suara yang masih terdengar bersemangat.Di seberang sana, suara Eva langsung menyambut dengan tidak sabar. "Halo, Ajeng! Gimana? Kamu udah ketemu sama Bramantyo? Ada kemajuan nggak dari rencana kita?"Ajeng tersenyum lebar sambil membuka pintu mobilnya, lalu duduk di kursi pengemudi sebelum menjawab. "Eva, kamu nggak bakal percaya sama apa yang baru aja terjadi barusan.""Maksudnya apa? Jangan bikin aku penasaran, deh!" desak Eva di ujung telepon, suaranya terdengar tegang. "Bramantyo marah pas kamu datang ke kantornya? Atau dia ngusir kamu?""Bukan diusir, Ev. Malahan sebaliknya," jawab Ajeng santai sambil meletakkan tasnya di kursi penump

  • Pesona Ayah Tiri   Menelan Cemburu

    Suara tawa kecil yang terdengar dari dalam ruang kerja utama membuat Mentari yang sedang duduk di meja asisten langsung mengangkat wajahnya. Jantungnya berdegup tidak karuan, seolah ada sesuatu yang tidak enak sedang merayap di dadanya.Tidak lama kemudian, pintu itu terbuka lebar.Bramantyo keluar dari ruangannya dengan langkah santai, berjalan berdampingan bersama Ajeng. Wanita berpenampilan anggun itu tampak tersenyum lebar sambil merapikan tali tas tangannya. Di sisi lain, Bramantyo menatap wanita itu dengan sorot mata yang jauh lebih hangat. Pemandangan yang belum pernah Mentari lihat sebelumnya saat bosnya itu berinteraksi dengan rekan kerja yang lain."Makasih ya, Mas Bram, udah meluangkan waktu buat ngobrol lama tadi. Obrolan kita seru banget, bikin aku bernostalgia ke masa-masa kuliah dulu," ucap Ajeng dengan nada suara yang terdengar begitu manis dan manja, memanggil pria di sampingnya dengan sebutan akrab sesuai rekues darinya.Bramantyo tersenyum ramah, menyambut ucapan it

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status