LOGINKeesokan paginya, Andi bangun tidur seperti biasa. Suara kicau burung terdengar dari setiap sudut-sudut pepohonan yang berdiri kokoh di samping kediaman rumah Mbak Maya.
Andi bangkit dari tidurnya. Dia berjalan ke arah jendela, menatap keluar di mana pohon jati berdiri kokoh di sana. "Wah, sudah pagi saja, gak kerasa sekali. Bentar, hari ini hari Minggu kan? Apa yang harus aku lakukan ya? Astaga, semoga hari libur begini tidak membosankan," katanya sambil mengulurkan tangannya ke atas untuk meregangkan otot-otot tangannya itu. Andi lalu memulai rutinitas olahraga sebelum pagi seperti biasa, lalu setelah itu keluar dari kamarnya menuju kamar mandi. Tepat saat dia berjalan menuju kamar mandi, Andi melihat sebuah pintu yang kelihatan terbuka. Dengan sedikit menyipitkan matanya, Andi bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, "Sebentar, perasaan aku baru ngeh deh kalau ternyata ada ruangan di sebelah sana. Ruangan apa ya itu kira-kira?" "Nanti deh aku periksa, aku perlu membasuh muka dulu dan menggosok gigi," lanjutnya, lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi. Setelah keluar dari kamar mandi, Andi lalu berjalan menuju ruangan yang dia lihat tadi. Setelah diperiksa oleh Andi, ternyata itu adalah ruangan tempat olahraga. Sepertinya memang sudah dipersiapkan oleh Mbak Maya untuk berolahraga untuk mengisi hari liburnya, dan karena hari ini hari Minggu, jadi ruangan itu terbuka dan tentunya pasti Mbak Maya berada di dalam. "Wah, indah sekali tempat ini. Sepertinya ini ruangan khusus deh untuk berolahraga. Astaga, andai aku tahu dari kemarin, aku bisa meminjam tempat ini buat berolahraga," gumamnya sambil menoleh ke setiap sudut tempat itu, di mana banyak sekali alat yang dipakai buat berolahraga seperti alat kardio lengkap semuanya di sana diperhatikan oleh Andi. Dan yang paling mencuri perhatian Andi adalah Mbak Maya yang sedang yoga di atas matras dengan hanya memakai baju sports bra atau tank top dengan celana leggings yang begitu ketat sekali. Andi berjalan mendekat dengan pelan sambil matanya tidak bisa lepas ke buah dada Mbak Maya yang terlihat seperti dua buah bola yang dijepit kain ketat, sampai-sampai Andi menelan air liur melihatnya saking besar dan menggoda. Kelihatan dari kulit putih Mbak Maya yang sudah kelihatan berkeringat menandakan kalau Mbak Maya sudah dari tadi melakukannya. Mbak Maya masih belum menyadari kehadiran Andi di ruangan itu. Dia masih asyik menikmati yoganya. Mbak Maya pun mulai melakukan kayang ke belakang dengan mata tertutup, membuat Andi semakin dibuat melotot melihat buah dada besar Mbak Maya yang seakan ingin jatuh saat Mbak Maya melakukan kayang. "Mbak Maya sungguh sempurna tubuhmu, dengan dada besar putih bersih sampai-sampai kelihatan merah muda begitu," gumam Andi sambil berjalan mendekat, membuat ia semakin jelas memperhatikan gumpalan besar di balik kain pakaian yang dikenakan Mbak Maya. Itu benar-benar terlihat tembus pandang sangat jelas terlihat, apalagi sudah dibasahi keringat membuatnya kelihatan semakin mengkilau. Andi jadi penasaran ingin menyentuhnya. Dengan kesadaran penuh, Andi langsung menjulurkan tangannya, memasukkan tangannya ke tengah-tengah gumpalan besar itu tanpa peduli Mbak Maya akan marah nanti atau tidak. Yang pasti Andi ingin menghilangkan rasa penasarannya dengan menyentuh benda besar tersebut. "Wah, hangat dan ini nyata," katanya sambil meremasnya. Mbak Maya yang tadinya fokus dengan posisi kayangnya langsung tersadar dan membuka matanya, seketika menyadari sebuah tangan berada di antara kedua buah dadanya. "Apa yang kamu lakukan?" marahnya, lalu langsung sampai terjatuh dari posisi kayangnya. Otomatis Andi tertarik ke depan karena tangannya terjepit oleh buah dada besar milik Mbak Maya. "Maaf Mbak, saya... saya tidak bermaksud. Saya cuma penasaran saja. Saya awalnya mengira ini cuma palsu, makanya saya sentuh langsung untuk memastikan apakah ini beneran dada beneran soalnya besar sekali," jelas Andi polos dan begitu jujur. "Andi, sebenarnya kamu sadar atau tidak sih? Kamu sedang menyentuh dada saya tanpa persetujuan saya? Artinya kamu sedang melecehkan saya dan ini tidak bisa dimaafkan," marah Mbak Maya dengan mata melotot, sementara tangan Andi masih terjepit di sana. "Serius Mbak, saya tidak bermaksud melecehkan Anda. Saya cuma penasaran, saya tidak berbohong," kata Andi berusaha agar Mbak Maya tidak marah. Dan Mbak Maya tentu saja tidak akan bisa menerima alasan seperti itu, sebab jelas-jelas Andi sudah berani menyentuh dadanya. "Saya tidak mau tahu, pokoknya kamu..." belum selesai Mbak Maya menyelesaikan ucapannya, Andi menarik paksa tangannya menyebabkan buah dada Mbak Maya langsung menyembur keluar dari sarangnya. Andi langsung kaget. Matanya melotot sambil menelan ludah. "Sungguh ini luar biasa besar dan nyata...." "Plak!" Tamparan keras mendarat di pipi Andi, membuat Andi tersadar dan kesakitan. "Aduuuduh... Mbak kenapa menampar saya sih? Sakit, Mbak," ucapnya seperti orang yang tidak bersalah. "Saya akan melaporkanmu ke polisi, ini sudah terlalu jauh," kata Mbak Maya dengan wajah marah, berbalik untuk segera mengambil ponselnya. Melihat itu, Andi langsung bergerak. Dia menahan tubuh Mbak Maya dengan cara memeluknya. "Mbak, plis jangan laporkan saya. Saya tidak bermaksud jahat atau mesum, saya cuma menghilangkan rasa penasaran saya saja, dan tadi itu tidak sengaja," ujarnya menjelaskan. "Penasaran kamu bilang? Mana ada orang penasaran, pandangannya mesum begitu, ditambah lagi kamu memasukkan tangan kamu ke tempat yang tidak seharusnya," balas Mbak Maya benar-benar sangat marah. "Mbak, plis lah. Baiklah, biar adil bagaimana dengan begini," kata Andi lalu melepas bajunya. Setelah itu dia menarik tangan Mbak Maya dan menempelkannya ke perutnya yang penuh otot berbentuk kotak-kotak. "Ayo sekarang terserah Mbak mau sentuh di mana, asalkan Mbak tidak melaporkan saya. Ayo Mbak, biar adil," kata Andi. "Andi, ini..." sekali lagi Andi tidak membiarkan Mbak Maya menyelesaikan perkataannya. Dia langsung maju ke depan dan melumat bibir Mbak Maya dengan ciumannya. "Mmmm.... Andi, kamu kurang ajar....." Mbak Maya meronta dan mendorong Andi dengan keras. Setelah itu dia mencaci maki Andi sedemikian rupa sambil mengancam Andi bahwa dia pasti akan melaporkan Andi ke polisi karena berani melecehkannya. "Mbak, kenapa harus marah? Bukankah kita sudah setimpal? Lagian kan cuma ciuman. Ayolah Mbak, jangan marah begitu." "Setimpal kamu bilang? Ini sudah terlalu jauh, kamu sangat kurang ajar...." Mbak Maya mengambil ponselnya lalu menekan nomor polisi, setelah itu menekan tombol panggilan telepon. "Mbak-mbak... plis lah, Mbak...." Andi segera menghentikan, akan tetapi Mbak Maya tidak peduli. Dia benar-benar menelpon polisi. "Halo, selamat siang?" terdengar suara seseorang dari balik telepon seperti seorang polisi. Saat itu juga Andi langsung menutup mulut Mbak Maya dengan tangannya. "Plis Mbak..." kata Andi sambil merebut ponsel itu lalu melemparnya jauh. "Andi... kamu... sialan, lepasin...." teriak Mbak Maya. "Mbak, sebenarnya Mbak kenapa sih? Apa Mbak merasa masih kurang? Saya sudah membayar semuanya loh. Lagian saya cuma tidak sengaja tadi. Oke kalau memang kurang," Andi menarik tangan Mbak Maya lalu memasukkannya ke dalam celananya, membuat tangan Mbak Maya seketika menyentuh benda yang sudah mengeras sejak awal. Di sini Mbak Maya langsung mematung. Matanya melebar menatap ke arah Andi, wajahnya juga memerah. "Bagaimana sekarang, apa sudah adil...?" tanya Andi. Tetapi Mbak Maya tidak menjawab. Dia masih sibuk dengan perasaannya saat tangannya menyentuh benda hangat di balik celana Andi. "Andi, apa ini? Apa kamu menyimpan senjata?" tanya Mbak Maya sambil menggerakkan tangannya menelusuri benda besar dan hangat itu. "Itu kejantanan saya, Mbak," jelas Andi langsung. Seketika Mbak Maya dengan kaget langsung menarik kembali tangannya. "Andi...... dasar bajingan...." teriaknya, wajah semakin memerah. "Kenapa Mbak? Bukankah Mbak masih belum puas? Jadi saya melakukan itu biar impas. Jadi sekarang gimana, kita impas kan? Jadi tolong jangan lapor polisi ya. Saya tidak mau dipenjara gara-gara hal sepele seperti ini," ujar Andi. "Apa kamu bilang? Hal sepele? Andi, di negara kita ini ada hukumnya dan kamu...." "Baik, saya tahu Mbak. Ya saya mengaku saya memang salah. Baik, terserah Mbak saja sekarang. Saya sudah pasrah. Sekarang laporkan saja saya. Saya memang pantas dipenjara, walaupun tadi saya berusaha agar kita impas, tapi Mbak memang ingin saya dipenjara saja. Ayo Mbak, laporkan saja," ucap Andi akhirnya menyerah juga dan memilih pasrah. Mendengar nada putus asa dari Andi, Mbak Maya malah merasa kasihan. Mbak Maya menoleh menatap wajah Andi, melihat wajah Andi menunduk pasrah dan sedih. "Apa aku terlalu berlebihan ya? Ya sih dia memang mesum karena menyentuh dadaku dengan berani, tapi dia tadi membiarkanku menyentuh miliknya. Kalau dipikir-pikir itu memang impas," kata Mbak Maya dalam hati, ragu buat lanjut melaporkan Andi ke polisi. "Ayo Mbak, tunggu apa lagi? Saya memang pantas dipenjara saja, sebab saya tidak pandai menjaga diri saya yang terlalu tergoda dengan tubuh molek Anda. Akan lebih baik saya membenahi diri saya di dalam jeruji besi saja," ucap Andi. Dengan pelan Mbak Maya mulai mendekat. "Andi, apa kamu benar-benar begitu tertarik dengan tubuh saya, dan apakah yang membuatmu melakukan itu karena tergoda dengan tubuh saya?" tanya Mbak Maya tiba-tiba. Mendengar pertanyaan itu, Andi mengangkat wajahnya. Dengan menyipitkan mata dia bertanya balik, "Apa maksud Anda bertanya seperti itu, Mbak? Apa Anda benar-benar tidak sadar bahwa Anda memiliki tubuh yang begitu sempurna?" "Tidak tahu. Selama ini saya selalu kurang percaya diri bahwa saya memiliki tubuh yang bisa menarik perhatian laki-laki. Saya melakukan olahraga setiap hari demi mengencangkan tubuh saya," jelas Mbak Maya. "Astaga Mbak, Anda itu sangat cantik dan sempurna. Selama hidup saya, saya baru pertama kali melihat perempuan semolek Anda dengan payudara yang begitu besar. Dan lihat saya sekarang, saya sampai lupa diri sampai saya melakukan kesalahan karena besarnya godaan yang menarik saya buat menyentuh kemolekan Anda," ungkap Andi. "Kamu tidak sedang berbohong kan?" tanya Mbak Maya. Sepertinya dia masih belum percaya secara penuh atas apa yang dikatakan Andi mengenai tubuhnya. "Tentu saja tidak, Mbak. Anda terlalu sempurna untuk disandingkan dengan perempuan lain. Bahkan hanya pria bodoh dan buta yang tidak tergoda dengan kemolekan Anda," kata Andi terus terang. "Begitu ya. Kalau memang begitu, lantas kenapa semua pria tidak menginginkan saya? Banyak yang pergi begitu saja saat saya ingin berkenalan dengannya, dan yang mau menerima saya kembali cuma mantan suami saya yang tidak saya inginkan lagi. Hal itu membuat saya berpikir kalau saya sebenarnya tidak cantik, tidak molek, dan tidak seksi seperti yang kamu katakan tadi," ujar Mbak Maya. Raut wajahnya berubah, yang tadinya kelihatan emosi berubah menjadi kesedihan tersendiri. Mendengar perkataan kurang percaya diri dari Mbak Maya, Andi jadi teringat soal perkataan Ardi kemarin, di mana Ardi memberitahu Andi bahwa Mbak Maya ini tidak akan ada yang berani mendekatinya pria sebab mantan suami Mbak Maya, yaitu Bimo, selalu mengancam mereka. "Hah..." Andi menghela napas panjang. "Mbak, kalau memang tidak ada yang menginginkan Anda, biarkan saya sendiri yang bersama Anda gimana? Saya bersedia membantu Anda untuk mengembalikan rasa percaya diri Anda bahwa Anda itu banyak laki-laki yang menginginkan, Mbak," ucap Andi sembari mendekat menyentuh tangan Mbak Maya. Mbak Maya mengangkat wajahnya, menatap wajah Andi. Melihat wajah Mbak Maya masih seperti sebelumnya, Andi pun menjulurkan tangannya meremas buah dada Mbak Maya. "Lihatlah, saya memegangnya dan saya ingin setiap hari memegangnya karena ini benar-benar sangat lembut dan nyaman. Kalau Mbak tidak keberatan, saya juga bersedia menghisapnya agar Mbak lebih percaya diri," ucap Andi. ternyata mbak maya aslinya memang sudah lama mendambakan sosok laki-laki di sampingnya, iya dia juga perempuan normal butuh sentuhan dan kehangatan, serta tempat yang nyaman, akan tetapi setiap dia menyukai pria dan ingin berkenalan dengannya pria itu justru menghilang secara tiba-tiba membuat mbak maya berpikir kalo pria itu sama sekali tidak tertarik padanya karena dia jelek dan tak memiliki tubuh yang montok. kurang percaya diri itulah yang membuat mbak maya sampai tidak menyadari bahwa sebenarnya dia memiliki kemolekan tubuh sangat jauh di atas rata-rata. coba bayangkan seorang perempuan yang memiliki kulit putih bening, buah dada yang montok dan bulat serta bokong yang besar, di tambah lagi bibir tipis, dengan lesung pipi yang manis menambahkan betapa cantiknya mbak maya ini. mbak maya sama sekali tidak tahu sebenarnya banyak pria yang menginginkannya bahkan ingin langsung menikahinya karean kecantikannya yang memikat dan tubuhnya yang montok dengan buah dada yang bulat besar tapi semua itu kelihatan tidak ada di mata mbak maya sebab itu semua pengaruh bimo mantan suaminya yang selalu mengancam siapapun yang berani mendekati ataupun merayu mbak maya tanpa sepengetahuan mbak maya membuat semua pria tak ada yang berani hingga sekarang mendekatinya. Andi terus meremas buah dadanya, sementara mbak Maya cuman menatap tangan Andi yang meremasnya. melihat Mbak Maya tidak lagi marah atau protes Andi pun menjulurkan lidahnya dan menjilatnya lalu menghisapnya dengan lembut, seperti bayi yang sedang menyusu. BERSAMBUNG...."apa yang kamu lakukan andi, ini sangat geli..." kata mbak maya, tubuhnya seakan ingin kejang-kejang saat lidah andi menjilat putingnya dan menghisapnya."itu tandanya mbak menikmatinya, buktinya mbak suka kan?" ucap andi, mbak maya diam tidak menjawab, bohong kalo dia bilang tidak, tapi dia juga malu kalo dia bilang menikmatinya, jadi dia memutuskan buat diam saja.karena tidak ada jawaban dari mbak maya di tambah lagi dari respon tubuh mbak maya andi tahu kalo mbak maya gak mungkin tidak menikmatinya, oleh sebab itu andi lanjut menghisap buah dada mbak maya."ohh...andi geli...andi..." desah mbak maya mulai mendesah sembari menarik rambut belakang kepala andi.tangan kanan andi mulai naik untuk meremas buah dada yang sebelahnya, saking besar dan bulatnya dada mbak maya tangan andi yang terbilang lebar pun tidak dapat meremas semuanya."astaga ini enak sekali, bukan cuma wangi tapi juga lembut dan halus di lidah," gumam andi sambil terus melanjutkan.andi dapat merasakan getaran tubu
Keesokan paginya, Andi bangun tidur seperti biasa. Suara kicau burung terdengar dari setiap sudut-sudut pepohonan yang berdiri kokoh di samping kediaman rumah Mbak Maya. Andi bangkit dari tidurnya. Dia berjalan ke arah jendela, menatap keluar di mana pohon jati berdiri kokoh di sana. "Wah, sudah pagi saja, gak kerasa sekali. Bentar, hari ini hari Minggu kan? Apa yang harus aku lakukan ya? Astaga, semoga hari libur begini tidak membosankan," katanya sambil mengulurkan tangannya ke atas untuk meregangkan otot-otot tangannya itu. Andi lalu memulai rutinitas olahraga sebelum pagi seperti biasa, lalu setelah itu keluar dari kamarnya menuju kamar mandi. Tepat saat dia berjalan menuju kamar mandi, Andi melihat sebuah pintu yang kelihatan terbuka. Dengan sedikit menyipitkan matanya, Andi bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, "Sebentar, perasaan aku baru ngeh deh kalau ternyata ada ruangan di sebelah sana. Ruangan apa ya itu kira-kira?" "Nanti deh aku periksa, aku perlu membasuh muka dul
"Astaga bang, aku harus pergi sekarang, aku lupa kalo hari ini aku mau mendaftar kuliah," kata Andi, dia baru teringat bahwa hari ini dia berencana untuk mendaftarkan dirinya kuliah di salah satu universitas yang menarik namanya dalam daftar mahasiswa yang mendapatkan beasiswa berupa mendaftar gratis di universitas tersebut. "Oh iya baiklah, apa perlu aku antar?" tawar Ardi. "Gak usah bang, deket kok aku juga sambilan jalan-jalan," tolak Andi. "Oke dah kalo begitu, hati-hati ya," pesan Ardi. "Siap bang," Andi pun pergi, sebelum berangkat ke kampus yang dia tuju Andi terlebih dulu kembali ke rumah mbak Maya untuk mengambil berkas-berkas yang diperlukan. Setibanya di rumah mbak Maya ternyata mbak Maya sudah ada di rumah sekarang setelah sebelumnya Andi tidak melihatnya tadi pagi. "Loh mbak, mbak sudah pulang ya?" sapa Andi. "Iya nih, maaf saya lupa menyiapkan mu sarapan tadi pagi, makanya saya kembali, tuh di meja makan saya sudah siapkan buat kamu," jawab mbak Maya. "As
"Ooaaammm..." pagi harinya Andi terbangun dari tidur nyenyaknya semalam. Dan seperti biasa setelah bangun tidur dia langsung berolahraga untuk meregangkan otot-ototnya dengan cara push up dan sit up sebanyak seratus kali, dan itu dilakukan Andi secara rutin setiap pagi setelah bangun tidur. "Huh... target tercapai, sekarang tinggal memulai pagi yang baru," katanya setelah menyelesaikan olahraga setelah bangun tidur, Andi pun keluar dari kamar itu untuk melihat suasana baru. Tapi saat dia keluar dari kamar, Andi mendapati rumah itu kosong, tidak ada mbak Maya di sana, sepertinya Mbak maya sedang keluar. "Mbak... selamat pagi mbak..." panggil Andi, berharap ada yang menjawab, akan tetapi hanya keheningan dan suara angin yang bertiup di dengar. "Sepertinya gak ada orang, mbak Maya ke mana ya? keluar kah?" gumamnya. Andi akhinya melangkah menuju ke belakang rumah di mana di sana tempat kos-kosan berada, karena tidak ada aktivitas yang dimiliki Andi pagi ini mengingat dia baru
"Apa yang kamu lakukan di sini?," Mbak Maya keluar dari kamar mandi dan mendapati Andi berdiri di depan pintu dengan wajah memerah, di tambah dengan keringat yang membasahi sekitar pelipisnya. "Ah.. ee itu aku sedang melihat-lihat isi rumah mbak, ternyata luas juga ya," jawab Andi beralasan, sambil mengetuk-ngetuk dagunya dengan telunjuk tangannya sementara kepalanya mendongak ke sudut-sudut langit-langit plafon rumah itu. "kamu gak lagi mengintip saya mandi kan?," kata Mbak Maya agak curiga, sebab Andi saat ini tepat berdiri di depan pintu kamar mandi. "Haha, gak kok, mana mungkin saya melakukan ini, gak berani lah, mbak ada-ada saja," bantah Andi, terlihat dari raut wajahnya bahwa jelas sekali kalau dirinya sedang berbohong. "Terus ada apa dengan celanamu kenapa basah begitu?," tunjuk Mbak Maya, seketika itu juga Andi langsung menutupi celananya yang basah oleh air pipisnya dengan kedua tangannya. "Astaga, ini basah kenapa ya?, serius aku habis ngompol di celana?," gumam A
"Astaga, kok aku apes banget sih? Baru saja tiba di kota ini aku main dikejar preman segala, untung aku bisa melarikan diri," dengan napas tersengal Andi duduk bersembunyi di belakang pagar halaman rumah seseorang, iya dia baru datang dari kampung merantau ke kota ini tetapi baru sesaat dia menginjakkan kakinya di kota yang masih asing baginya, dia malah mendapatkan kesialan yaitu dipalak sekumpulan preman, untungnya dia berhasil melarikan diri dan sekarang sedang bersembunyi dari kejaran mereka "Huuuhhh... sepertinya sekarang aku sudah aman, mereka tak menemukanku," helanya lega, melihat tak ada tanda-tanda preman-preman tadi yang mengejarnya ada di sekitarnya. Saat Andi baru saja merasa lega, sebuah benda terbang singgah di kepalanya membuat Andi tampak kaget, setelah diamati oleh Andi ternyata itu sebuah celana dalam perempuan yang habis diterbangkan angin dari atas jemuran dan singgah di atas kepalanya. "Hehe, wangi juga, pasti pemiliknya perempuan gak asing dari wanginya, h







