LOGIN"Astaga bang, aku harus pergi sekarang, aku lupa kalo hari ini aku mau mendaftar kuliah," kata Andi, dia baru teringat bahwa hari ini dia berencana untuk mendaftarkan dirinya kuliah di salah satu universitas yang menarik namanya dalam daftar mahasiswa yang mendapatkan beasiswa berupa mendaftar gratis di universitas tersebut.
"Oh iya baiklah, apa perlu aku antar?" tawar Ardi. "Gak usah bang, deket kok aku juga sambilan jalan-jalan," tolak Andi. "Oke dah kalo begitu, hati-hati ya," pesan Ardi. "Siap bang," Andi pun pergi, sebelum berangkat ke kampus yang dia tuju Andi terlebih dulu kembali ke rumah mbak Maya untuk mengambil berkas-berkas yang diperlukan. Setibanya di rumah mbak Maya ternyata mbak Maya sudah ada di rumah sekarang setelah sebelumnya Andi tidak melihatnya tadi pagi. "Loh mbak, mbak sudah pulang ya?" sapa Andi. "Iya nih, maaf saya lupa menyiapkan mu sarapan tadi pagi, makanya saya kembali, tuh di meja makan saya sudah siapkan buat kamu," jawab mbak Maya. "Astaga mbak, gak usah repot-repot saya jadi gak enak, ini saya baru balik dari warung dan sarapan di sana," kata Andi. "Ngomong-ngomong mbak tadi pagi ke mana ya, kok gak ada di rumah?" tanya Andi mengenai ke mana mbak Maya tadi pagi. "Pergi ke rumah sakit," jawab mbak Maya singkat sementara tangannya masih sibuk dengan laptopnya. "Loh rumah sakit, siapa yang sakit mbak?" "Tidak ada yang sakit, cuma saya kerja di sana," jelas mbak Maya. "Oh, hehe kirain, jadi mbak perawat dong, kok aku gak ngeh ya kalo mbak saat ini memakai pakaian perawat, wah mbak sangat cocok memakainya ya," ujar Andi sambil memuji, sementara mata Andi fokus menatap ke arah pakaian ketat itu di mana sisi kanan dan kiri baju terlihat saling tertarik dari penghalang kancing bajunya saking besarnya dada yang dimiliki mbak Maya. "Ya terima kasih," balas mbak Maya lagi-lagi dengan balasan singkat sebab masih sibuk mengutak atik laptopnya. "Hehe sepertinya mbak sibuk sekali, baiklah kalo begitu mbak saya permisi pergi dulu ya," kata Andi, mendengar itu mbak Maya langsung menoleh sambil bertanya, "kamu mau pergi ke mana?" "Ah itu mbak saya mau pergi mendaftar kuliah," jelas Andi. "Oh, kirain," suara mbak Maya terdengar lega mendengarnya di mana tadi dia mengira kalo Andi mau pergi dari tempat ini dan gak jadi ngekos di tempatnya. "Hehe mbak pasti mengira saya pergi dan gak jadi ngekos ya," tebak Andi setelah melihat wajah mbak Maya terlihat berbeda bahkan sampai menoleh saat mendengar kata pergi. "Gak, kamu kepedean," balas mbak Maya, sebab mana mungkin dia mengaku. "Haha, wanita cantik memang suka menyembunyikan sesuatu, baik dah kalo gitu aku permisi pergi dulu ya takut terlambat," ujar Andi lalu berbalik menuju kamarnya untuk mengambil berkas pendaftaran untuk dia bawa. "Hati-hati..." pesan mbak Maya saat Andi baru selangkah keluar dari pintu masuk rumah itu. Mendengar itu Andi menoleh dan membalas dengan senyuman, lalu lanjut melangkah keluar. "Walaupun cuek perhatian juga hehe, modal yang bagus nih," gumam Andi. Singkat cerita di sore harinya Andi pun kembali pulang ke rumah mbak Maya, setibanya di rumah Andi mendapati mbak Maya sedang berada di dapur sibuk memasak. "Wah wangi banget lagi masak apa mbak?" sapa Andi sambil basa-basi bertanya. "Ini buat makan malam," jawab mbak Maya tanpa memberitahu jenis makanan apa yang sedang dia buat. "Hehe, rasanya seperti sudah punya istri aja nih pulang ke rumah istri sedang masakin makanan," canda Andi, sengaja menggoda. Tapi sayangnya itu tidak direspon oleh mbak Maya. Karena tak mendapatkan respon ataupun balasan, dengan berani Andi mendekat dan menempelkan badannya pada punggung mbak Maya seperti sosok suami yang biasa merayu atau memeluk istrinya dari belakang yang sedang memasak makanan. Andi sengaja melakukannya mengingat Andi saat ini punya tantangan, yaitu mendapatkan hati mbak Maya, dan jika Andi menundanya Andi tidak akan bisa mendapatkan kesempatan seperti saat ini apalagi dia hanya punya waktu dua hari tinggal satu atap dengan mbak Maya, apalagi Andi tidak melakukannya lebih cepat akan sangat sulit buat Andi mendekati mbak Maya setelah dia tinggal di kosan nanti. "Andi jangan kurang ajar, jauhkan badanmu..." pinta mbak Maya langsung, sebab Andi yang tiba-tiba seolah memeluknya dari belakang membuatnya kaget. "Memangnya kenapa mbak bukannya begini lebih nyaman ya," bisik Andi di telinga mbak Maya. "Andi plis, aku teriak nanti, jadi cepat menjauhlah," ancam mbak Maya di mana dia merasa tubuhnya mulai mengirim sinyal dari sentuhan lembut Andi ditambah lagi hembusan nafas halus Andi di telinganya saat Andi berbisik. Andi tahu ini bukan usiran penolakan tapi respon malu-malu mbak Maya yang sebenarnya ingin lebih. "Ayolah mbak jangan malu-malu, aku tahu kok mbak sekarang merasa nyaman, jadi biarkan aku seperti ini ya," kata Andi di mana tangan nakalnya mulai terangkat dan mengelus bokong mbak Maya. Hal itu membuat mbak Maya memejamkan mata sambil mengeluarkan desahan halus. Andi berpikir bahwa ini akan berhasil akan tetapi baru saja dia akan merasa senang mbak Maya tiba-tiba berbalik dan langsung meluapkan emosinya memarahi Andi. Dan "plak" suara tamparan langsung menyadarkan Andi, kamu jangan kurang ajar ya, apa kamu lupa kamu sudah berjanji untuk tidak macam-macam tapi apa kamu justru menyentuh bokongku... "Ah... eee hehe maaf mbak saya... saya khilaf, mbak sih terlalu cantik membuatku jadi khilaf," ucap Andi langsung sambil meminta maaf panik, karena tidak sesuai dengan ekspektasinya di mana mbak Maya malah jadi marah padahal tadi mbak Maya dia lihat merespon sentuhan hangatnya. "Dasar, cepat menjauh sekarang, kalo tidak sutil ini akan terbang ke wajahmu," ancam mbak Maya. "Ba... baik mbak, saya... saya akan menjauh sekarang," kata Andi dengan kedua tangan dia angkat sambil mundur ke belakang seperti orang yang sedang ditodong senjata. Mbak Maya kembali berbalik untuk membalik daging yang sedang dia goreng di atas wajan, tepat saat itu Andi mengambil kesempatan dengan menepuk bokong mbak Maya lalu melarikan diri terbirit-birit keluar dari dapur itu. Sendok terbang mengejar Andi, mbak Maya lah yang melemparnya untungnya sutil itu tak mengenai Andi. "Ahhh... ku kira tadi bakalan berhasil ternyata aku salah menduga, astaga aku sampai dilempari sutil beneran loh, bagaimana ini, kayaknya susah deh." "Bentar kok mbak Maya jadi menolak ya padahal jelas-jelas dia menikmati sentuhan ku tadi, hemm ada yang gak beres ini, hehe aku punya ide buat mengetahuinya," gumam Andi. Benar saja pas malam harinya saat waktunya buat tidur Andi dengan secara diam-diam keluar dari kamarnya, lalu dia melangkah perlahan menuju kamar mbak Maya, Andi ke sana bukan untuk melakukan hal yang macam-macam, di mana Andi hanya mau memastikan apakah mbak Maya memang benar baik-baik saja setelah sentuhan hangatnya tadi. Apa yang dipikirkan Andi ternyata benar di mana saat Andi mengintip lewat lubang kunci pintu Andi melihat apa yang dilakukan mbak Maya di dalam kamar, iya mbak Maya melakukan hal yang sama seperti yang diintip Andi waktu di kamar mandi kemarin. "Nah kan dugaan ku benar, mbak Maya ini sebenarnya memiliki sisi berbeda, dia cuma kelihatannya menolak saja tapi tubuhnya gak bisa bohong kalo sebenarnya itu merespon cepat lihat dia bahkan becek sekali sekarang, astaga dia malah memilih menggunakan jarinya daripada membiarkanku melakukannya dengannya, hemm gimana ya caranya agar aku bisa menidurinya dan dia gak marah kayak tadi, aku gak boleh melakukannya dengan paksa itu sangat tidak benar, sepertinya aku harus lebih sabar deh dan membuatnya tidak bisa menolak ku," gumam Andi sambil memikirkan cara agar mbak maya nanti tidak lagi menolaknya seperti barusan. Andi berjalan kembali ke kamarnya, di kamar dia mondar mandir untuk memikirkan rencana dan cara yang manjur agar rencana dia bisa berhasil. "Astaga tantangan ini malah membuatku jadi gila, ini kayak bukan aku yang asli ya, tapi gak tahu kenapa setiap di dekat mbak Maya aku selalu terpancing buat kepikiran ke sana, ini perempuan sungguh menggoda sekali dah, jon ku jadi tidak sabar." "Ah sudahlah aku pikirin besok saja, aku jadi mengantuk sekarang... masih ada waktu buat besok, semoga besok aku lebih beruntung hehe.." BERSAMBUNG ...."apa yang kamu lakukan andi, ini sangat geli..." kata mbak maya, tubuhnya seakan ingin kejang-kejang saat lidah andi menjilat putingnya dan menghisapnya."itu tandanya mbak menikmatinya, buktinya mbak suka kan?" ucap andi, mbak maya diam tidak menjawab, bohong kalo dia bilang tidak, tapi dia juga malu kalo dia bilang menikmatinya, jadi dia memutuskan buat diam saja.karena tidak ada jawaban dari mbak maya di tambah lagi dari respon tubuh mbak maya andi tahu kalo mbak maya gak mungkin tidak menikmatinya, oleh sebab itu andi lanjut menghisap buah dada mbak maya."ohh...andi geli...andi..." desah mbak maya mulai mendesah sembari menarik rambut belakang kepala andi.tangan kanan andi mulai naik untuk meremas buah dada yang sebelahnya, saking besar dan bulatnya dada mbak maya tangan andi yang terbilang lebar pun tidak dapat meremas semuanya."astaga ini enak sekali, bukan cuma wangi tapi juga lembut dan halus di lidah," gumam andi sambil terus melanjutkan.andi dapat merasakan getaran tubu
Keesokan paginya, Andi bangun tidur seperti biasa. Suara kicau burung terdengar dari setiap sudut-sudut pepohonan yang berdiri kokoh di samping kediaman rumah Mbak Maya. Andi bangkit dari tidurnya. Dia berjalan ke arah jendela, menatap keluar di mana pohon jati berdiri kokoh di sana. "Wah, sudah pagi saja, gak kerasa sekali. Bentar, hari ini hari Minggu kan? Apa yang harus aku lakukan ya? Astaga, semoga hari libur begini tidak membosankan," katanya sambil mengulurkan tangannya ke atas untuk meregangkan otot-otot tangannya itu. Andi lalu memulai rutinitas olahraga sebelum pagi seperti biasa, lalu setelah itu keluar dari kamarnya menuju kamar mandi. Tepat saat dia berjalan menuju kamar mandi, Andi melihat sebuah pintu yang kelihatan terbuka. Dengan sedikit menyipitkan matanya, Andi bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, "Sebentar, perasaan aku baru ngeh deh kalau ternyata ada ruangan di sebelah sana. Ruangan apa ya itu kira-kira?" "Nanti deh aku periksa, aku perlu membasuh muka dul
"Astaga bang, aku harus pergi sekarang, aku lupa kalo hari ini aku mau mendaftar kuliah," kata Andi, dia baru teringat bahwa hari ini dia berencana untuk mendaftarkan dirinya kuliah di salah satu universitas yang menarik namanya dalam daftar mahasiswa yang mendapatkan beasiswa berupa mendaftar gratis di universitas tersebut. "Oh iya baiklah, apa perlu aku antar?" tawar Ardi. "Gak usah bang, deket kok aku juga sambilan jalan-jalan," tolak Andi. "Oke dah kalo begitu, hati-hati ya," pesan Ardi. "Siap bang," Andi pun pergi, sebelum berangkat ke kampus yang dia tuju Andi terlebih dulu kembali ke rumah mbak Maya untuk mengambil berkas-berkas yang diperlukan. Setibanya di rumah mbak Maya ternyata mbak Maya sudah ada di rumah sekarang setelah sebelumnya Andi tidak melihatnya tadi pagi. "Loh mbak, mbak sudah pulang ya?" sapa Andi. "Iya nih, maaf saya lupa menyiapkan mu sarapan tadi pagi, makanya saya kembali, tuh di meja makan saya sudah siapkan buat kamu," jawab mbak Maya. "As
"Ooaaammm..." pagi harinya Andi terbangun dari tidur nyenyaknya semalam. Dan seperti biasa setelah bangun tidur dia langsung berolahraga untuk meregangkan otot-ototnya dengan cara push up dan sit up sebanyak seratus kali, dan itu dilakukan Andi secara rutin setiap pagi setelah bangun tidur. "Huh... target tercapai, sekarang tinggal memulai pagi yang baru," katanya setelah menyelesaikan olahraga setelah bangun tidur, Andi pun keluar dari kamar itu untuk melihat suasana baru. Tapi saat dia keluar dari kamar, Andi mendapati rumah itu kosong, tidak ada mbak Maya di sana, sepertinya Mbak maya sedang keluar. "Mbak... selamat pagi mbak..." panggil Andi, berharap ada yang menjawab, akan tetapi hanya keheningan dan suara angin yang bertiup di dengar. "Sepertinya gak ada orang, mbak Maya ke mana ya? keluar kah?" gumamnya. Andi akhinya melangkah menuju ke belakang rumah di mana di sana tempat kos-kosan berada, karena tidak ada aktivitas yang dimiliki Andi pagi ini mengingat dia baru
"Apa yang kamu lakukan di sini?," Mbak Maya keluar dari kamar mandi dan mendapati Andi berdiri di depan pintu dengan wajah memerah, di tambah dengan keringat yang membasahi sekitar pelipisnya. "Ah.. ee itu aku sedang melihat-lihat isi rumah mbak, ternyata luas juga ya," jawab Andi beralasan, sambil mengetuk-ngetuk dagunya dengan telunjuk tangannya sementara kepalanya mendongak ke sudut-sudut langit-langit plafon rumah itu. "kamu gak lagi mengintip saya mandi kan?," kata Mbak Maya agak curiga, sebab Andi saat ini tepat berdiri di depan pintu kamar mandi. "Haha, gak kok, mana mungkin saya melakukan ini, gak berani lah, mbak ada-ada saja," bantah Andi, terlihat dari raut wajahnya bahwa jelas sekali kalau dirinya sedang berbohong. "Terus ada apa dengan celanamu kenapa basah begitu?," tunjuk Mbak Maya, seketika itu juga Andi langsung menutupi celananya yang basah oleh air pipisnya dengan kedua tangannya. "Astaga, ini basah kenapa ya?, serius aku habis ngompol di celana?," gumam A
"Astaga, kok aku apes banget sih? Baru saja tiba di kota ini aku main dikejar preman segala, untung aku bisa melarikan diri," dengan napas tersengal Andi duduk bersembunyi di belakang pagar halaman rumah seseorang, iya dia baru datang dari kampung merantau ke kota ini tetapi baru sesaat dia menginjakkan kakinya di kota yang masih asing baginya, dia malah mendapatkan kesialan yaitu dipalak sekumpulan preman, untungnya dia berhasil melarikan diri dan sekarang sedang bersembunyi dari kejaran mereka "Huuuhhh... sepertinya sekarang aku sudah aman, mereka tak menemukanku," helanya lega, melihat tak ada tanda-tanda preman-preman tadi yang mengejarnya ada di sekitarnya. Saat Andi baru saja merasa lega, sebuah benda terbang singgah di kepalanya membuat Andi tampak kaget, setelah diamati oleh Andi ternyata itu sebuah celana dalam perempuan yang habis diterbangkan angin dari atas jemuran dan singgah di atas kepalanya. "Hehe, wangi juga, pasti pemiliknya perempuan gak asing dari wanginya, h







