เข้าสู่ระบบBersambung... Bab Utama : 1/1 Selesai.
Kevin terlempar menembus pintu ruang pertemuan dan menghantam lantai marmer. Debu berhamburan, sementara darah mengalir dari sudut bibirnya.Namun, ia tidak merasakan sakit itu.Kata-kata Mikaela terus bergema di kepalanya.Ibumu sebenarnya masih hidup.Kevin mengangkat wajah. Matanya merah menyala saat menatap Mikaela Wilson, wanita yang selama ini dikenal sebagai Black Rose Angel.“Apa maksudmu?” suaranya serak. “Jangan mempermainkanku!”Mikaela berjalan mendekat sambil mengusap darah di bibirnya. Meski tubuhnya terluka, senyum dingin tetap menghiasi wajahnya. “Perempuan yang tewas dalam pembantaian keluarga Braxton bukanlah ibu kandungmu.”Dunia Kevin seolah berhenti berputar. “Apa?”“Dia hanyalah gadis biasa tanpa akar spiritual. Ayahmu menikahinya setelah meninggalkan ibu kandungmu.”Kevin menggeleng keras. “Diam!” Qi iblis bergetar di sekitar tubuhnya.Mikaela justru tertawa kecil. “Kau ingin tahu siapa ibu kandungmu yang sebenarnya?”Ia mengangkat tangan, lalu meluncurkan gelomb
Mawar hitam di telapak tangan Mikaela Wilson mekar menjadi pusaran energi gelap.Udara di ruangan itu mendadak dingin. Lampu kristal bergetar, sementara retakan menjalar di lantai marmer akibat tekanan spiritual yang dilepaskan kedua pihak.Kevin Braxton menatap kakak senior ketiganya dengan mata merah menyala.Selama bertahun-tahun, ia mencari Black Rose Angel untuk membalaskan kematian orang tuanya. Ia tidak pernah membayangkan bahwa pembunuh yang dibencinya adalah wanita yang pernah melindunginya.“Kenapa, Mikaela?” Suara Kevin bergetar menahan amarah. “Apa salah mereka sampai kau harus membunuh mereka?”Mikaela mengangkat wajah. Senyum tipis menghiasi bibirnya. “Karena mereka memilih mati daripada menyerahkanmu.”Ucapan itu menghantam Kevin lebih keras daripada pukulan mana pun. “Aku akan membunuhmu!”BOOOM!Qi iblis meledak dari tubuh Kevin. Ia melesat, menghantamkan tinju hitam ke wajah Mikaela.Namun, Mikaela menghilang sesaat sebelum serangan itu mengenai sasaran.BUGH!Tinju K
Pintu utama Istana Presiden terbuka perlahan.Kevin melangkah masuk dengan wajah dingin. Aroma kayu mahal bercampur wangi bunga segar memenuhi ruangan luas itu. Lampu kristal menggantung di langit-langit, memantulkan cahaya keemasan pada lantai marmer yang mengilap.Namun, Kevin tidak tertarik pada kemewahan tersebut.Pikirannya hanya tertuju pada satu hal: dokumen tentang pembunuhan orang tuanya telah dicuri. Seseorang mengetahui kedatangannya dan bergerak lebih cepat darinya.Eleanor Smith berjalan di depan, diikuti Ashley White dan Christina Moore. Kiara, Sasha, serta Amber mengikuti dari belakang.“Di mana orang yang menungguku?” tanya Kevin.Eleanor berhenti di depan sebuah pintu besar berukir lambang mawar.“Di dalam.”Kevin menatap ukiran itu. Sebuah mawar hitam dengan duri melingkar di batangnya.Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. Lambang itu pernah muncul dalam mimpi buruknya. Ia juga pernah melihatnya pada benda yang tertinggal di tempat kedua orang tuanya dibunuh.B
Kevin menatap Eleanor Smith tanpa berkedip.Ucapan wanita itu terus terngiang di telinganya.Orang yang membunuh mereka mungkin sedang duduk di dalam istanaku sekarang.Angin pagi berembus ke jalan yang porak-poranda. Asap dari bangkai Land Cruiser masih mengepul, membawa bau karet terbakar dan logam panas. Namun, bagi Kevin, semua itu mendadak terasa jauh.“Siapa?” tanyanya singkat.Eleanor tidak langsung menjawab. Ia melirik Ashley dan Christina yang berdiri beberapa meter di belakang Kevin.“Kau akan mengetahui semuanya. Namun, bukan di tempat terbuka seperti ini.”Kevin menyipitkan mata. “Aku sudah terlalu sering dibohongi. Kalau kau ingin aku percaya, mulailah dengan menjawab pertanyaanku.”Beberapa pengawal langsung bergerak, tetapi Eleanor mengangkat tangan untuk menghentikan mereka.“Biarkan dia.” Presiden itu kembali menatap Kevin. “Aku tidak pernah memerintahkan pasukanku untuk menangkapmu. Orang yang mengaku membawa perintahku telah menyalahgunakan wewenangnya.”Pria berbeka
DUAAAAARRR!Ledakan energi hitam mengguncang gerbang Kansas City. Debu mengepul, aspal terkelupas, dan pecahan batu berhamburan ke segala arah.Kevin berdiri di tengah kawah dangkal dengan napas berat. Darah merembes dari sudut bibirnya, sementara aura Qi iblis masih berputar liar di sekeliling tubuhnya.Di hadapannya, Ashley White dan Christina Moore terhuyung-huyung mundur. Pakaian mereka kotor oleh debu, dan napas keduanya terdengar memburu.Namun, mereka belum menyerah.Ashley menyeka darah di pipinya. “Kevin, kau benar-benar sudah berubah.”“Bagus kalau Kakak Keempat menyadarinya.” Kevin mengangkat bahu. “Sekarang, minggir. Aku tidak punya waktu untuk reuni keluarga.”Christina mengerutkan kening. “Kau pikir kami datang jauh-jauh hanya untuk mendengar ocehanmu?”“Kalau begitu, seharusnya kalian membawa makanan. Setidaknya pertemuan ini bisa sedikit berguna.”Dari kejauhan, Amber berteriak, “Setuju! Aku juga lapar!”Kevin memejamkan mata sejenak. “Kenapa setiap kali aku bertarung,
BOOOOOOM!Gelombang energi mengamuk di sepanjang jalan.Debu, pecahan aspal, dan serpihan logam beterbangan ke udara. Pohon-pohon di pinggir jalan berguncang keras, sementara kaca beberapa kendaraan yang terparkir jauh dari lokasi pertarungan bergetar hebat.Di tengah kepulan debu, tiga sosok masih bergerak.Kevin melesat ke depan.Ashley menyambutnya dengan kedua telapak tangan yang telah diselimuti es.DUAANG!Tinju dan telapak tangan bertabrakan. Dingin menusuk langsung sampai ke tulang.Kevin memutar tubuh, menghindari pukulan berikutnya, lalu menghantam perut Ashley.BUGH!Ashley terpental. Namun, sebelum Kevin mengejarnya...BRUUUK!Tanah di bawah kakinya mendadak terangkat. Sebuah tonjolan batu menghantam tubuh Kevin dari bawah.Kevin melompat.Christina sudah menunggu di udara. “Sekarang!” Tinju Christina menghantam.Kevin menyilangkan kedua lengannya.DUAAAAR!Tubuh Kevin terlempar dan menghantam permukaan jalan.Aspal retak membentuk cekungan.“Ugh…”Kevin bangkit sambil meng
Bau darah yang tipis bercampur wangi obat memenuhi ruangan luas itu.Kevin melangkah mendekat ke sisi ranjang.Gadis itu cantik.Wajahnya halus, bulu matanya panjang, bibirnya pucat hampir keunguan. Namun, seluruh kulitnya terlihat kehilangan warna—seperti bunga yang kehabisan air.Di bagian dada ki
Tatapan Cynthia tak bergeser sedikit pun dari wajah Kevin. Angin sore menyapu halaman luas kediaman Windsor, mengibaskan ujung rambutnya, tapi sorot matanya tetap tajam dan fokus.“Aku butuh bantuanmu,” ucapnya akhirnya.Suaranya lebih pelan dari biasanya. Tak lagi dominan, tak ada nada perintah. Ta
Ruangan itu langsung sunyi lagi.Arthur Windsor menatap pelayan itu lama, alisnya berkerut dalam.“Adik… seperguruan?” ulangnya perlahan, seperti memastikan ia tidak salah dengar. “Kamu yakin tidak salah orang?”Nama itu terlalu besar untuk dianggap sepele.Cynthia Spencer.CEO dari salah satu kong
Isabella tertawa kecil. Suaranya tipis dan tajam.“Ini?” ulangnya dengan nada merendahkan. “Ayah, serius?”Arthur mengernyit. “Isabella.”Namun, gadis itu tidak berhenti. Tatapannya menyapu Kevin dari kepala hingga kaki, bibirnya melengkung sinis.“Dia terlihat seperti orang desa yang kebetulan dip







