LOGINBeberapa hari kemudian...Pengadilan Negeri Jakarta kembali dipenuhi orang sejak pagi.Namun suasananya berbeda dari persidangan sebelumnya.Tidak banyak saksi yang menunggu di luar ruang sidang.Tidak ada lagi pemeriksaan panjang.Hari itu...Majelis hakim akan membacakan putusan terhadap Maudy Prameswari.Bagas berdiri di samping mobil sambil menatap gedung pengadilan.Untuk beberapa detik, dia hanya diam.Dulu...Dia datang ke tempat seperti ini dengan membawa satu tujuan.Balas dendam.Dia ingin melihat Maudy kehilangan semuanya.Seperti dirinya yang pernah kehilangan keluarga.Namun sekarang...Perasaannya sudah berbeda.Dendam itu masih meninggalkan bekas.Tetapi tidak lagi menguasai hidupnya.Sebuah tangan menyentuh lengannya."Mas."Bagas menoleh.Rachel berdiri di sampingnya.Perempuan itu mengenakan dress sederhana dan cardigan tipis. Perutnya yang semakin membesar membuat Bagas otomatis memperhatikan langkahnya."Pelan-pelan," ujar Bagas.Rachel tersenyum. "Aku masih bisa j
Dua hari kemudian... Persidangan perkara Maudy Prameswari kembali dilanjutkan. Sejak pagi, ruang sidang sudah dipenuhi pengunjung. Tidak seramai persidangan pertama, tetapi beberapa wartawan masih terlihat memenuhi bagian belakang ruangan. Mereka tahu, perkara yang sedang berjalan bukan sekadar kasus kejahatan biasa. Terlalu banyak nama besar yang terlibat. Terlalu banyak rahasia yang perlahan terbongkar. Dan hari itu... Ada satu barang bukti yang akan kembali diperlihatkan di hadapan majelis hakim. Bagas duduk di bangku pengunjung paling depan. Di sampingnya, Rachel terlihat tenang. Perempuan itu mengenakan dress sederhana berwarna biru muda. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai di bahu. Tangannya sesekali menyentuh perut yang mulai membesar. Bagas melirik, dan bertanya, "Capek?" Rachel menggeleng. "Enggak." "Yakin?" Rachel tersenyum. "Iya." Bagas mengangguk. Namun tangannya tetap menggenggam jemari Rachel. Seolah memastikan perempuan itu baik-baik saja. Di sisi lai
Sore itu, langit Jakarta mulai berubah warna.Matahari perlahan turun di balik gedung-gedung tinggi, meninggalkan semburat jingga yang memantul di kaca jendela rumah Vanila.Bagas baru saja memarkirkan mobilnya di halaman. Di tangan kanannya terdapat dua kantong belanja berukuran cukup besar.Dia berjalan menuju pintu depan. Belum sempat mengetuk...Pintu sudah terbuka.Vanila berdiri di sana. "Kamu?"Bagas mengangkat kedua kantong di tangannya."Baru pulang kerja."Vanila melirik barang bawaan tersebut."Belanja apa?"Bagas tersenyum tipis. "Barang bayi."Vanila langsung mengangkat alis. "Wah." Dia membuka pintu lebih lebar. "Masuk."Bagas melangkah masuk.Dari ruang keluarga terdengar suara televisi yang menyala pelan.Rachel sedang duduk di sofa dengan beberapa bantal menyangga punggungnya.Begitu melihat Bagas, wajahnya langsung cerah."Mas."Bagas tersenyum. "Hm."Rachel memperhatikan kantong di tangan calon suaminya itu, lalu bertanya, "Kamu bawa apa?"Bagas meletakkannya di ata
Keesokan paginya... Bagas datang lebih awal dari biasanya. Jam di dinding kantor bahkan belum menunjukkan pukul delapan ketika dia sudah duduk di depan meja kerjanya. Di hadapannya terdapat beberapa dokumen yang diberikan Hendra kemarin. Bagas membuka satu per satu, dan mulai membaca dengan teliti. Tidak ada lagi pikiran tentang Lingga. Tidak ada lagi penyamaran. Setidaknya untuk beberapa jam ke depan. Dia ingin serius dengan pekerjaan barunya. Bukan hanya karena membutuhkan penghasilan. Tapi karena untuk pertama kalinya, Bagas ingin membangun sesuatu yang benar-benar miliknya sendiri. Sekitar setengah jam kemudian, Hendra keluar dari ruangannya. "Bagas." Bagas langsung berdiri. "Iya, Pak?" "Sudah dibaca?" "Sudah." "Bagaimana?" "Beberapa bagian masih harus saya pelajari lagi." Hendra mengangguk puas. "Bagus." Bagas mengernyit. "Bagus?" "Kalau kamu bilang sudah menguasai semuanya dalam satu malam, justru saya khawatir." Bagas tertawa kecil. Hendra kem
Dua hari kemudian...Pukul tujuh pagi Bagas sudah berada di dalam mobilnya.Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia berangkat bekerja bukan untuk menjalankan sebuah penyamaran.Tidak ada identitas palsu.Tidak ada nama Lingga.Tidak ada rencana rahasia.Tidak ada target yang harus dia dekati.Hanya sebuah pekerjaan.Sederhana.Namun justru karena kesederhanaan itu, Bagas merasa sedikit asing.Dia melirik dirinya sendiri melalui kaca spion.Kemeja putih.Celana bahan hitam.Rambut yang ditata sederhana.Tidak ada lagi penampilan yang sengaja dibuat untuk menarik perhatian perempuan seperti Maudy.Bagas tersenyum tipis."Bagaskara..." gumamnya pelan.Nama yang selama berbulan-bulan hampir dia tinggalkan.Kemudian mesin mobil kembali dinyalakan.Dia melajukan kendaraan menuju kantor Hendra.---Hari-hari pertama bekerja ternyata tidak semudah yang Bagas bayangkan.Hendra benar-benar memperlakukannya seperti karyawan biasa.Tidak ada perlakuan khusus.Tidak ada toleransi hanya kare
Malam itu, setelah mengantar Rachel kembali ke rumah Vanila, Bagas tidak ikut masuk. Dia hanya memastikan perempuan itu benar-benar baik-baik saja sebelum kembali ke mobilnya. "Aku masuk dulu, ya," ucap Rachel. Bagas mengangguk. "Istirahat." "Kamu juga." Bagas tersenyum tipis. "Besok aku telepon." Rachel mengangguk, lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Sementara Bagas menunggu sampai pintu tertutup sebelum akhirnya kembali menuju mobil. Beberapa menit kemudian, mobilnya melaju meninggalkan halaman rumah Vanila. Bagas tidak menuju tempat lain. Melainkan apartemennya sendiri. --- Sesampainya di apartemen Bagas meletakkan kunci mobil di atas meja. Jas yang dikenakannya dilepas dan diletakkan di sandaran kursi. Kemudian dia berdiri cukup lama di depan jendela. Pemandangan kota terlihat ramai dari ketinggian. Lampu kendaraan bergerak seperti garis-garis kecil di bawah sana. Namun entah kenapa, malam ini pikirannya justru terasa lebih kosong. Persidangan tadi masih te
"Nikah sama Tante?" Bagas pura-pura bertanya polos, dan Maudy segera mengangguk cepat. Diusapnya bibir Maudy dengan ibu jari. "terus, suami Tante gimana?" tanyanya, seolah dia sedikit keberatan dengan status Maudy yang masih bersuami. "Kamu tenang aja, Lingga," ucap Maudy, mengecup bibir Bagas sek
"Lingga …." Desahan bernada putus asa itu lolos dari bibir wanita cantik, yang saat ini sedang berada di dalam kendali berondong bayarannya. "tante udah gak tahan." Wanita bernama Maudy itu melenguh, menahan sesuatu yang sedari tadi dia tahan.Jari-jari milik Maudy, yang dihias kuku-kuku akrilik be
Orang itu memarkir mobilnya beberapa meter dari mobil Bagas. Lantas, langsung turun dan membuntuti Bagas masuk dengan jarak yang tentunya aman. Sementara Bagas yang tidak sadar jika sedang diikuti, terus berjalan melewati lorong demi lorong tanpa merasa curiga sedikit pun. Langkahnya agak cepat
Dapat mangsa baru, temen sendiri langsung dilupakan. "Mana katanya yang tadi lagi gak mood pergi? Buktinya, dideketin mangsa baru langsung kecantol." Bagas berdecak melihat kelakuan Nathan, yang sudah terlihat akrab dengan Tante Karin. Temannya itu bahkan sepertinya sudah lupa dengan permasalaha







