ログイン"Z-Zacky... Bangun... Ini sudah pagi..." cicit Thalia lirih dengan suara khas orang baru bangun tidur.Mata cokelat Thalia perlahan terbuka saat merasakan kehangatan yang luar biasa memeluk seluruh tubuhnya. Hal pertama yang ia lihat saat terbangun, dada bidang Zacky yang terbalut kemeja hitam sedikit terbuka, serta detak jantung pria itu yang terdengar berirama teratur di telinganya.Zacky tidak langsung membuka matanya. Lengan kekarnya justru semakin mempererat cengkramannya di pinggang Thalia, menarik tubuh mungil itu makin merapat tanpa menyisakan celah sedikit pun."Sebentar lagi, Thalia..." gumam Zacky rendah dengan suara serak khas bangun tidur yang sangat sensual. Pria itu mendaratkan ciuman hangat di pelipis Thalia."Tapi ini sudah jam enam pagi, Zacky!" sergah Thalia panik, mencoba menggerakkan bahunya meski sulit. "Nanti kalau Tante Tamara atau Bi Asih ngetok pintu gimana? Aku harus bersiap-siap buat ke kantor!"
Thalia menundukkan kepalanya dalam-dalam, merasakan hembusan napas hangat Zacky yang menyapu pucuk kepalanya. Penjelasan Zacky yang begitu posesif dan penuh perlindungan selalu berhasil meluluhkan seluruh dinding pertahanan dirinya."Aku cuma... Aku cuma kaget, Zacky," lirih Thalia pelan. "Aku takut Papa Joshua makin tidak menyukaiku karena menganggap aku membawa pengaruh buruk untukmu..."Zacky menyentuh dagu mulus Thalia dengan jari telunjuk dan ibu jarinya, mengatas pandangan gadis itu agar kembali menatap manik matanya."Jangan pernah memikirkan jalan pikiran orang lain," pangkas Zacky tegas namun lembut. "Cukup lihat aku. Selama kamu bersamaku, kamu tidak perlu mengkhawatirkan penilaian siapapun, termasuk Papaku."Thalia menghembuskan napas halus, senyuman tipis yang sangat manis perlahan terukir di bibirnya. "Iya, Zacky... Maafkan aku yang selalu gampang cemas.""Tidak perlu minta maaf,"
"Z-Zacky..." cicit Thalia panik setengah mati saat mendengar pernyataan Zacky yang tiba-tiba. Ia berjinjit sedikit, berbisik sangat lirih tepat di samping telinga Zacky tidak terdengar oleh orang lain. "K-kamu jangan bercanda berlebihan di depan orang tuamu... Ini bisa jadi masalah panjang..." Zacky tidak merenggangkan cengkraman tangannya di pinggang Thalia. Pria itu menunduk sedikit, menatap manik mata Thalia dengan keseriusan yang mutlak. "Aku tidak sedang bercanda, Thalia," pangkas Zacky tegas tanpa ada keraguan sedikitpun di matanya. Pria itu kembali mendongak, menatap mamanya dan Joshua. "Malam ini kami akan menginap di sini. Dan Thalia akan tidur di kamarku bersamaku." "Zacky!" tegur Joshua seketika dengan nada berat dan alis bertaut tajam. "Jaga batasanmu. Kamu dan Thalia belum resmi menikah. Tidak pantas kalian tidur satu kamar di rumah ini!" "Pa
Thalia tersentak kecil, refleks menatap Zacky dengan rasa canggung. Menginap di mansion keluarga Alvarez tentu terasa sangat membingungkan baginya. ‘Menginap?!’ batinnya gelisah. Sebelum Zacky sempat memberikan jawaban, Sabrina yang duduk di sofa samping mendadak menyela pembicaraan dengan suara lembut yang manis. "Iya, Thalia... Menginaplah disini malam ini," ucap Sabrina tersenyum manis. "Kamar tamu di lantai dua sangat luas dan bersih. Kamarku tepat di sebelahnya, kalau kamu mau, kamu bisa tidur di kamarku saja, biar aku menggunakan kamar tamu. Aku tidak keberatan kok.." Thalia yang merasa makin tidak enak hati buru-buru menggelengkan kepalanya secara sopan. "E-eh... Nggak usah, Sabrina, Mama Tamara... Terima kasih banyak atas tawaran baiknya. Tapi Thalia rasa... Thalia lebih baik pulang ke apartemen saja malam ini—" "Kenapa harus pulang?" potong Joshua tegas dari kurs
Thalia melirik pelan ke arah Zacky yang masih menatap Sabrina dengan tatapan tajam. ‘Aku bisa, Zacky udah sangat baik padaku.. Aku ingin keluarganya juga baik-baik saja, gak ada lagi keributan gara-gara aku..’ batin Thalia penuh harap Ia menarik napas panjang, berusaha menguasai rasa gemetar di tubuhnya demi menjaga nama baik dan ketenangan di dalam keluarga Zacky. "A-aku... Aku sudah memaafkan kamu, Sabrina," sahut Thalia akhirnya dengan suara lirih namun terdengar jelas di telinga semua orang. "Semoga... Semoga kedepannya kita bisa saling menghormati." Sabrina menyunggingkan senyum lega yang nampak manis. "Terima kasih banyak, Thalia. Kamu benar-benar gadis yang sangat baik." Meski Thalia sudah mengucapkan kata maaf, Zacky sama sekali tidak merasa lega. Pikirannya yang tajam terus bekerja dan waspada penuh terhadap setiap gerak-gerik Sabrina. ‘Dia benar-benar minta maaf
Thalia berusaha tetap tenang walaupun jantungnya berdebar, kakinya melangkah mengikuti Tamara dan Zacky. ‘Semua baik-baik saja Thalia, tenang ada Zacky dan tante Tamara yang baik padamu..’ Thalia berusaha memenangkan dirinya sendiri. Mereka duduk berdekatan di sofa ruang tamu yang mewah. Tamara menanyakan beberapa hal ringan seputar kesehatan Thalia, sementara Joshua hanya diam mendengarkan dari sofa tunggal dengan wajah kaku khas pengusaha kelas atas. Tak lama kemudian, seorang kepala pelayan paruh baya melangkah mendekat dan membungkuk sopan di hadapan Tamara. "Nyonya Besar, hidangan makan malam sudah siap disajikan di meja makan," laporan bi Asih ramah. "Ah, terima kasih, Bi," sahut Tamara tersenyum. Ia menoleh menatap Thalia dan Zacky. "Ayo, Thalia, Zacky... Kita ke ruang makan sekarang. Makanan kesukaan kalian sudah disiapkan." "Iya, Ma," balas Thalia ramah seraya mulai berdiri dari duduknya. Namun, baru saja mereka hendak melangkah menuju area ruang makan keluar







