เข้าสู่ระบบKairos masuk ke dalam diri Isla dengan satu gerakan yang mantap dan dalam, membuat Isla memekik keras, menyandarkan kepalanya di bahu Kairos.Tidak ada kemarahan dalam dorongannya, hanya gerak yang teratur, tapi kuat, dan penuh gairah yang matang.Setiap kali Isla mencoba memejamkan mata, Kairos mencium kelopak mata perempuan itu, memaksa Isla untuk terus menatapnya.“Sebut namaku, Isla. Bukan nama pria yang meninggalkanmu.”Isla tidak bisa berpikir. Otaknya hanya dipenuhi gairah yang ingin dipuaskan. “Kairos ... ahh, Kairos ...” Ia merintih, tubuhnya bergetar hebat.Seketika ia tidak bisa lagi memikirkan Adrian, tidak bisa lagi memikirkan surat itu. Seluruh sarafnya hanya terfokus pada bagaimana Kairos memujanya, bagaimana lidah Kairos kini menjelajahi dadanya sementara bagian bawah mereka saling bertaut dengan panas.Kairos memainkan titik sensitif Isla dengan ibu jarinya sambil terus menghujam, menciptakan gelombang kenikmatan yang begitu intens hingga Isla merasa dunianya seolah m
Keheningan itu pecah saat Arthur Harrington berdeham sambil menatap kursi kosong di ujung meja.“Harusnya dia sudah menyiapkan laporan logistik untuk kepulangan kita ke Norwick besok pagi,” lanjutnya lagi.Alexander yang sedang memotong buah, menyahut tanpa mendongak. “Dia sudah berangkat sejak subuh tadi, Ayah. Dia meninggalkan pesan bahwa ada kendala mendadak di pelabuhan Norwick dan dia harus menanganinya secara pribadi.”Raut wajah Isla seketika berubah. Sendok yang ia pegang berdenting pelan saat menyentuh piring porselen. Berangkat sejak subuh? Kalimat Adrian di balkon semalam benar-benar bukan gertakan. Pria itu benar-benar melarikan diri darinya.“Cepat sekali,” gumam Arthur, alisnya bertaut. “Padahal aku ingin dia ikut dalam pertemuan di kediaman utama Winchester hari ini.”Leonard Winchester yang duduk di meja itu sebagai tamu kehormatan, menyahut dengan suara baritonnya yang bijak. “Biarkan saja dia, Arthur. Pria muda terkadang butuh kesibukan untuk mengalihkan pikiran. Dan
Menarik kerah kemeja pria itu dan menciumnya dengan kasar. Lebih pantas disebut sebagai serangan yang putus asa.Kairos sempat terkejut, namun ia segera menguasai keadaan. Ia meletakkan tangannya di tengkuk Isla, memperdalam ciuman itu dengan gerakan yang lebih dominan.Lidahnya menyerbu masuk tanpa ragu. Ia tahu Isla sedang melampiaskan sesuatu. Pasti rasa bersalah, kehilangan, atau kemarahan. Tapi Kairos tidak keberatan menjadi sasarannya, justru menikmati setiap detik pelepasan Isla.“Ke kamarmu, Isla. Sekarang,” bisik Kairos di sela napas mereka yang menderu, suaranya mengandung perintah yang jelas tidak ingin dibantah.Perjalanan ke kamar Isla tidak lama, sangat cepat malah. Begitu pintu kamar tertutup dengan bunyi berdebam, Kairos tidak membuang waktu.Ia mendorong Isla ke pintu, mengunci tubuh wanita itu dengan lengannya yang kekar. Bibir mereka kembali bertemu dalam ciuman yang buas, lidah Kairos menelusup ke setiap sudut mulut Isla, menghisap, mengulum, seolah ingin mencicipi
Ia menarik jarinya, lalu memposisikan dirinya di atas Ivy dengan hati-hati—selalu hati-hati karena kehamilan. Lalu menopang tubuh sang istri dengan siku agar tak menekan perut berisi penerus mereka.Penisnya yang sudah tegang dan berdenyut menyentuh pintu masuk vagina Ivy, lalu masuk perlahan, sangat perlahan, hingga seluruhnya terbenam dalam kehangatan yang begitu familiar namun selalu terasa baru.“Aaaah, Ethaan! Mmmh!” Ivy mendesah dan mengerang kenikmatan sekaligus. “Aku mencintaimu,” ucap Ethan lagi saat ia mulai bergerak, dorongannya lambat tapi dalam, penuh perasaan. “Aku mencintaimu setiap kali aku masuk ke dalam dirimu seperti ini. Merasakan bagaimana kau menerimaku meski aku pernah menghancurkanmu.”Ivy merasakan setiap inci penis Ethan mengisi dirinya, dinding vaginanya menjepit erat karena kenikmatan yang semakin memuncak. Tapi yang membuatnya melayang bukan hanya sensasi fisik itu—melainkan kata-kata Ethan yang terus mengalir, satu per satu, seperti mantra yang selama
Ivy masih terpaku, matanya mengerjap seolah sedang berusaha memproses suara yang baru saja masuk ke indra pendengarannya.Selama ini, Ethan telah memberikan segalanya. Pria itu memberikan perlindungan, kekayaan, pengabdian, bahkan mengorbankan apa pun demi dirinya. Tidak ada yang tidak Ethan berikan untuknya.Namun, kalimat tiga kata itu? Ethan selalu menyimpannya di balik tindakan-tindakannya yang luar biasa sejauh ini.“Bisa kau ulangi sekali lagi?” bisik Ivy, suaranya terdengar tidak yakin.Ethan yang tadinya hendak melanjutkan langkah sambil membawa Ivy dalam genggaman eratnya, langsung menghentikan gerakannya. Ia berbalik, menatap Ivy dengan kening sedikit berkerut. “Apa?”“Tadi ... yang baru saja kau katakan.” Ivy merapatkan diri pada Ethan, jarinya meremas ujung jas sang suami. “Katakan lagi.”Ethan menghela napas pendek, sebuah senyum tipis yang sangat langka muncul di sudut bibirnya. Seakan ia menyadari sesuatu. Sekuat apa pun Ivy Harrington di ruang rapat, saat ini Ivy h
“Maafkan aku, menantuku. Semua yang telah terjadi adalah kesalahanku yang tidak bisa dimaafkan. Rasa bersalah ini akan kubawa sampai mati ...” lirihnya parau, menatap kosong ke batu nisan, “maafkan aku juga karena baru sekarang membiarkan nama keluarga kita tersemat di belakang namamu.”Ivy dan Isla maju bersamaan, berlutut di sisi nisan. Pemandangan itu sungguh menyesakkan. Dua putri yang selama ini mengira ibu mereka meninggal dengan tragis dan hilang tanpa jejak, kini akhirnya bisa menyentuh nisan tersebut.“Ibu ... kami datang,” bisik Ivy, suaranya bergetar serak. “Sekarang aku sudah bersama Isla. Ibu tidak perlu khawatir lagi. Dan aku membawa calon cucu Ibu.”Ethan berdiri beberapa langkah di belakang mereka, memberikan ruang. Ia menatap nisan itu dengan perasaan campur aduk.Ibunya adalah alasan dan penyebab utama kenapa wanita di dalam liang lahat itu menderita.Ethan merasa ini adalah tanggung jawabnya untuk setidaknya memberikan penghormatan terakhir yang layak.Tiba-tiba







